PUASA DAN ZAKAT, IBADAH RITUAL YANG BERDIMENSI SOSIAL

30 July 2011 at 07:22 Leave a comment

Islam memberi manusia petunjuk hidup yang lengkap. Pertama: Untuk mengisi kekosongan jiwa maka diajarkan ajaran ritual-spiritual. Kedua: Untuk mengisi kemampuan akal-fikiran-intelektualitas maka diperintahkan berpikir rasional, dan menimba berilmu pengetahuan. Ketiga: Untuk aspek perilaku maka dituntunkanlah  ahklakul karimah. Keempat: Untuk mengisi semangat hidup berkelanjutan maka diajarkan jihad fi sabilillah agar proses perjalanan-perjuangan hidupnya tidak membosankan dan  tidak melenceng pada kesesatan-kedholiman yang merusak kehidupan masyarakat.

Muslim yang ideal adalah manusia yang bersih jiwanya oleh tauhid, cerdas pikirannya oleh ilmu dan teknologi, berbudi luhur dalam perilaku kesehariannya, dan menggelora semangat jihadnya menegakkan kebenaran yang diajarkan oleh Allah SWT. Dari sisi ini lalu bisa dikaji apa makna Puasa dan Zakat, suatu syariat Islam yang amat penting, bagian dari rukun Islam yang lima itu.

PUASA wajib (bukan puasa sunnah) dalam Islam dilakukan di bulan Ramadhan, bulan suci, sebulan penuh 29 atau 30 hari. Dalam bulan itulah Allah menurunkan banyak berkah dan ampunan, melebihi bulan-bulan lainnya. Oleh sebab itu bulan Ramadhan tidak boleh disalah artikan hanya sebagai bulan menguatkan satu sisi saja dari kebutuhan hidup manusia, yakni sisi jiwa belaka. Masalah jiwa tidak boleh dipisahkan dari sisi jasmaniah karena keduanya memang saling mempengaruhi. Menghadaplah ke cermin besar dan tunjukkan muka masam disertai marah-marah sekitar 10 menit di depan cermin tersebut, maka hati ini akan ikut menjadi merasa kecut dan bergejolak karenanya. Hal itu membuktikan bahwa jiwa kita dipengaruhi oleh status jasmaninya, tidak hanya jasmani yang dipengaruhi oleh kondisi jiwa kita. Oleh sebab itu di bulan Ramadhan kita harus mengisi rohani dan jasmani kita dengan nilai Islam secara simultan.

Sungguh keliru jika di bulan Ramadhan kita asyik melakukan ibadah mahdah (ritual-spiritual) saja seperti memperbanyak shalat, wirid, umrah, dan doa melulu di samping berpuasa di siang harinya, tapi lalu menelantarkan pengisian pikiran dengan ilmu pengetahuan, mengabaikan pembinaan ahklak dengan latihan berbudi pekerti mulia, dan membiarkan semangat jihad fie sabilillah atau berjuang menyebar-luaskan kebenaran Islam luntur hanya dengan tidur sepanjang hari, acuh terhadap kemaksiatan yang meraja rela di sekitarnya. Ingatlah bahwa Nabi juga berperang di bulan Ramadhan. Sebaliknya, di bulan Ramadhan itulah tersedia hari-hari yang terbaik untuk menambah ilmu pengetahuan, berlatih ahklak mulia, dan memperbanyak aktifitas untuk amar makruf nahi mungkar, di samping tentu saja tekun berpuasa menahan lapar-dahaga, mengerjakan shalat, termasuk taraweh-witir, membaca al Qur’an beserta mendalami makna yang dikandungnya, dan berdoa. Inilah hakekat ibadah puasa di bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah dan maghfirah, bulan untuk berprestasi meningkatkan kualitas kemanusian kita secara utuh. Maka menjadi jelas bahwa karena puasa itu tidak hanya menahan lapar dan dahaga namun harus disertai peningkatan ibadah mahdhah, akhlak mulia, menimba ilmu, dan berjuang menegakkan kebenaran ilahi maka puasa di bulan Ramadhan memiliki implikasi sosial yang besar, menginduksi keakraban sosial, kehangatan bersaudara-berteman, mengikis perbuatan maksiat dan berlomba berbuat kebajikan, yang keseluruhannya membuat kondisi sosial-kemasyarakatan menjadi suatu kondisi yang sejuk, nyaman, dan harmonis. Lingkungan sosial seindah itu  seharusnya terus dipertahankan setelah habis masa bulan Ramadhan tersebut, namun sayangnya kebanyakan umat Islam Indonesia tidak menyadari misi sosial jangka panjang dari ibadah puasa Ramadhan di atas.

ZAKAT adalah ibadah yang diwajibkan bagi kaum muslimin yang mampu dan umumnya juga dilakukan di bulan Ramadhan walaupun juga bisa dibayarkan di bulan lainnya. Zakat adalah memberikan sebagian harta milik untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan, yang dikenal sebagai 8 asnaf zakat yang tertera dalam surat at Taubah ayat 60. Ke delapan penerima zakat itu adalah: orang fakir, miskin, pengelola zakat, mualaf, pemerdekaan budak, orang yang sedang berhutang, untuk perjuangan di jalan Allah, dan untuk para musafir yang sedang dalam perjalanan. Zakat di zaman Rasulullah dan para Khalifahurrasyidin selalu ditarik oleh pemerintah kemudian dijadikan bagian kekayaan negara (baitul mal) untuk dibagikan kepada yang berhak. Proses seperti itulah sesungguhnya yang efektifuntuk mendatangkan kemanfaatkan maksimal dari ibadah zakat. Pemerintah Islami memiliki kepedulian nyata kepada kaum fakir-miskin dan orang yang sedang memiliki beban ekonomi. Mereka menjadi prioritas pemerintah untuk mengangkatnya dengan cara antara lain diambilkan dari uang zakat itu. Namun pada situasi di mana Pemerintah tidak memiliki otoritas mengambil zakat umat Islam karena Pemerintah tersebut tidak menjalankan syariat sosial-kenegaraan  Islam maka setiap muslim yang berkemampuan tentu harus tetap  membayarkan zakatnya tetapi dilakukan secara individual atau kelompok terbatas bukan ditarik pemerintah.

Dari analisis kemanfaatan sosial tentu saja pengelolaan zakat yang terbaik harusnya dilakukan fihak Pemerintah karena memang begitulah yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Khulafaurrasyidin, namun pemerintahan itu haruslah pemerintahan yang memiliki komitmen untuk menegakkan syariat Islam. Pemerintahan sekuler tentu saja tidak berhak menarik zakatnya orang Islam yang menjadi waga-megaranya dan kaum muslimin itu sendiri yang harus mengorganisir pelaksanaan zakatnya. Namun manapun proses pengelolaan zakat yang dipakai, melalui pemerintah atau individual-kelompok,  jelas bahwa ibadah zakat langsung memberi implikasi sosial kemasyarakatan secara nyata, mengangkat kefakiran-kemiskinan, menolong orang yang dililit hutang, membantu memerdekakan orang yang diperbudak orang lain, dan mendanai program sosial untuk menegakkan kebaikan-kebenaran dan menangkal kemungkaran-kemaksiatan.

Zakat adalah suatu praktek ekonomi yang menjadi contoh bagaimana orientasi operasional ekonomi Islam itu,  yakni suatu model ekonomi yang berorientasi atau mengutamakan proses ‘riel’ atau nyata mengangkat derajat kehidupan rakyat secara langsung. Model ekonomi Islam seperti ini pasti berbeda dengan ekonomi sekuler kapitalis yang umumnya mengutamaan transkasi maya seperti jual-beli saham-obligasi dan bisnis valuta dan berharap memberi tetesan ekonomi ke rakyat jelata dengan teori ‘trickle down efect’ nya itu yang ternyata ‘maya’  juga. Ekonomi Sekuler Kapitalis malah membuat ‘kapitalis’ atau pemilik modal raksasa semakin tamak menumpuk kekayaan, mengeksploitasi sumber daya alam negerinya dan negara-negara lain dengan segala cara sehingga manusia tidak mampu atau rakyat miskin di banyak negarapun  semakin  tereksploitir dan termiskinkan.

Rasulullah jelas memberi contoh nyata bagaimana memanfaatkan bulan Ramadhan. Beliau bukan hanya memperbanyak shalat dan doa tapi juga tetap giat memecahkan berbagai masalah sosial-kenegaraan, beramal sosial nyta, dan tetap berjihad menegakkan kebenaran bahkan sampai ke tingkat memimpin perang fisik melawan musuh Islam. Untuk mengerjakan itu semua maka Rasulullah memberi contoh berpuasa secara ideal, yakni bersahur di akhir waktu dan berbuka di awal waktunya dengan asupan bergizi baik, yang tidak harus bermewah dan mahal. Dengan cara berpuasa seperti itu tidak layak ada keluhan bahwa bulan Ramadhan membuat tubuh tidak berdaya untuk melakukan tugas normal sehari-hari, belajar giat menambah ilmu, atau lalu meliburkan diri dari perjuangan menegakkan kebenaran Ilahi Robbi.

Selamat beribadah puasa di bulan suci Ramadhan, dan membayar zakat bagi yang mampu.

 

Indonesia, menjelang awal Ramadhan 1432H

Entry filed under: Syariat Islam. Tags: , , , , , , , .

RESPON SALAH TERHADAP KRISIS BANGSA, Lari dari Politik, Menyibukkan Diri pada Prestasi Amal Sosial-Kemasyarakatan dan atau Iptek-Akademik Belaka ‘ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO’ Dihidupkan lagi? Mau Balik ke Orba yang Gagal? REFORMASI HARUSNYA KEMBALI KE JALAN ISLAMNYA RASULULLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: