‘ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO’ Dihidupkan lagi? Mau Balik ke Orba yang Gagal? REFORMASI HARUSNYA KEMBALI KE JALAN ISLAMNYA RASULULLAH

6 August 2011 at 17:35 Leave a comment

Saya terpana membaca artikel yang dikemas khusus sedemikian rupa, lengkap dengan foto idolanya, sehingga tampak menyolok di halaman 8 harian soreSurabaya Post, 5 Agustus kemarin. Seketika saya siapkan sms untuk meresponnya sebagai berikut:

“Ide ‘Islam Yes, Partai Islam No’ dinilai brillian karena setelah ada Partai Islam (Partai berAsas Islam) ternyata negara ‘tak juga mampu bangkit dari keterpurukan’ (Surabaya Post 5Agt hal 8). Astaghfirullah. SALAH! Perubahan negara itu oleh KEBIJAKAN Pemerintah, dan di era reformasi sejauh ini Partai Islam belum menjadi pengendali Pemerintahan. Yang menang pemilu masih Partai Sekuler! Mengapa? Karena umat sudah tersekulerkan dalam Orde Baru! Maka Ulama-Da’i harus kerja keras membalikkan visi umat agar berislam tidak hanya ritual-akhlak saja tapi wajib syar’i memilih Partai Islam dalam Pemilu”.

Tidak satupun respon teman yang saya kirimi sms di atas yang menolak pendapat saya, malah ada yang meminta mengirimkannya ke harian yang memuat artikel tersebut dengan kata-kata ‘tajam’. Alhamdulillah.

Tidak terduga bahwa di awal Ramadhan ini saya banyak mendapat sms tentang Partai Islam dan Politik Islam yang berujung menjadi dialog-dialog menarik. Saya berprinsip bahwa pada bulan suci Ramadhan, dalam keadaan berpuasa, kita harus banyak-banyak beraktifitas yang membawa kebaikan, tidak harus tentang masalah ibadah mahdhah saja. Kebaikan yang dilakukan di bulan suci ini insyaAllah akan memperoleh berkah dari Allah SWT berlipat ganda dibanding dengan yang akan diterima jika dilakukan di bulan lain. Itulah sebabnya saya bersemangat jika ada teman yang mengajak untuk kebaikan-kebaikan itu, apalagi di bidang politik yang memang menjadi sumber  berbagai kerusakan umat di dalam dan luar negeri.

Saya menerima sms dari beberapa teman yang jadi pengurus HTI dan JAT tentang materi bagaimana Nabi mengawali proses perubahan pengelolaan negeri yang semula Sekularistik menjadi pengelolaan negeri yang Islami. Memang masih banyak kontroversi tentang masalah ini sehingga muncullah berbagai variasi seperti apa perjuangan politik umat Islam itu seharusnya: apakah Konstitusional, Revolusi, Perang, Demokrasi, atau malah anti Demokrasi dalam bentuk menolak Parpol & Pemilu, dll. Maka saya uraikan bagaimana proses sosial-politik yang dilakukan Nabi pada periode waktu “antara setiba beliau di Madinah dalam proses hijrah sampai beliau menjadi Kepala Negara Madinah al Munawwaroh”. Periode itu tidak banyak dibahas dalam sejarah Islam secara rinci sehingga terjadilah berbagai kontroversi tersebut. Saya paparkan  proses itu sebagai berikut:

“Pentahapan proses politik Nabi, mulai awal tiba di Madinah sampai beliau menjadi Kepala Negara, dapat diuraikan sebagai berikut:

  1.  Setelah datang di Madinah beliau lalu menerima Kepemimpinan Suku ‘Aus dari Pemimpin sebelumnya yakni Sa’ad bin Mu’ads yang telah menjadi seorang muslim sewaktu Nabi masih di Mekah (melalui Baiat Aqobah)
  2. Lalu dilakukanlah ‘lobi-lobi” ke suku-suku lain yang ada di Madinah, termasuk pada kelompok Yahudi dan Nasrani tentang permasalahan Negara Madinah itu.
  3. Ujung proses lobi/perundingan itu disetujuilah suatu kesepakatan politik secara tertulis dan disebut sebagai ‘Piagam Madinah’ yang inti isinya menetapkan Nabi sebagai Kepala Negara Madinah dengan berbagai macam kewenangan politiknya, termasuk kewajiban semua kelompok di Madinah jika ada serangan musuh dari luar (selanjutnya silahkan membaca isi keseluruhan Piagam  Madinah itu dari buku teks sejarah Islam)
  4. Maka berlakulah pengelolaan Negara secara Islami di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Dari proses politik seperti yang diuraikan di atas nyata sekali bahwa peralihan kekuasaan dari pengelolaan Sekularistik ke pengelolaan Islami di Madinah bersifat: 1). Damai dan demokratis (dialogis dalam bentuk perundingan/perdebatan politik antar berbagai pimpinan suku/kelompok; 2). Berbagai Suku yang berperan dalam proses politik itu  merupakan wadah sosial-politik penduduk Madinah, yang analog dengan Partai Politik di masa sekarang; 3). Suku ‘Aus dan Khajraj  di Madinah mewakili kelompok yang sudah muslim dengan misi Islam politiknya, analog dengan Partai berAsas Islam di masa kini; 4). Melalui proses dialog yang di dalamnya tentu ada perbedaaan pendapat dan diperdebatkan maka lahirlah Piagam Madinah yang menjadi kesepakatan bersama bagaimana cara mengurus Negeri.

Analoginya di masa sekarang adalah: Dibentuk ‘Partai berAsas Islam’ yang memiliki misi mengelola negara sesuai dengan tuntunan Allah SWT, mengikuti PEMILU untuk mengukur kemampuan dan besarnya dukungan penduduk akan misi politik tersebut, melahirkan Wakil-wakil yang representatif bagi umat pendukungnya di Lembaga Negara di mana oleh Wakil-wakil tersebut dilakukan lobi, perundingan, perdebatan tentang cara pengelolaan negera yang terbaik, termasuk siapa yang harus menjadi Kepala Negara; akhirnya disepakatilah perubahan dari cara pengelolaan negeri yang SEKULARISTIK ke Pengelolaan Negeri secara ISLAMI.

Mari cara itu diikuti”.

Uraian proses politik di atas saya kirimkan dalam bentuk sms (lebih ringkas, 3 laman) ke banyak teman juga selain mereka yang memperdebatkan bagaimana perjuangan awal nabi sehingga menjadi Kepala Negara Madinah. Menyusul sms saya tentang proses peralihan tadi kemudian datanglah sms teman lain (seorang gurubesar dari sebuah PTN) yang berbentuk pertanyaan kongkrit sebagai berikut:

“Soal Islam Politik, saya ada beberapa pertanyaan:

  1. Apakah Pancasila bisa disetarakan dengan Piagam Madinah? Apakah Pancasila bisa dijadikan Azas?
  2. Apakah menempatkan Islam sebagai azas Parpol tidak keliru secara konsep? Bukankah Islam adalah rumah bersama, di manapun?”

Saya menjawab pertanyaan itu sebagai berikut:

  1. Dalam Piagam Madinah ditegaskan bahwa Kepala Negara itu haruslah Nabi (analognya: PEMIMPIN UMAT ISLAM).  Maka jika suatu dokumen tidak seperti itu tentu TIDAK SETARA.
  2. Selama tidak jelas ketentuan Islam menjadi panduan dalam pengelolaan negara maka diperlukan “Parpol berAsas Islam” untuk menandingi Parpol Sekuler yang beda ideologinya (mengelola negara tanpa panduan tuntunan Islam terkait poleksosbudhankam). Islam baru nyata menjadi PAYUNG SEMUA WARGA NEGARA JIKA ADA KESEPAKATAN YANG SETARA PIAGAM MADINAH dalam sebuah negeri plural, seperti halnya Madinah yang penduduknya ada Yahudi, Nasrani, dll.”

Setelah beberapa waktu yang bersangkutan mengirim lagi sms:

“Baik, bolehkah saya berkesimpulan bahwa perjuangan umat Islam Indonesia adalah:

  1. Memastikan bahwa Konstitusi dan Peraturan perundangan  di bawahnya diilhami oleh al Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
  2. Menyiapkan kader-kader Pemimpin Politik dan Ekonomi yang memahami dan mempraktekkan Syariat Islam.”

Saya jawab:

“Benar, itu yang dicontohkan Nabi. Caranya konstitusional melalui Partai berAsas Islam”

Demikianlah dialog tersebut berlangsung.

Berikutnya datang pula sms dari teman yang pernah saya kenal aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bergerak dalam politik. Nadanya  berbeda dengan yang pertama tadi tapi substansinya juga menarik.

“Apa upaya anda mengkampanyekan Partai Islam tidak sia-sia? Tahukah anda bahwa krisis dalam politik kita adalah bersumber pada telah meratanya politik transaksional (uang) yang melanda seluruh masyarakat dan dimulai oleh partai-partai termasuk partai Islam? Ini tercermin pula pada Muktamar Partai Islam. Anda sulit mau memperjuangkan nilai Islam dengan kendaraan partai sekarang. Di samping itu kenapa kita berorientasi pada simbol atau  bendera bukan pada substansi. Bikin gerakan sendiri dengan mengumpulkan teman seideologi untuk menyetop keadaan sekarang. Sanggup? Salam”

Saya berikan jawaban sebagai berikut:

“Nampaknya anda patah arang dengan institusi Partai padahal dalam tatanan tertib sosial, institusi politik (partai) adalah mutlak supaya tidak ‘chaos’. Dalam revolusi apapun, setelah ribut-ribut tentu kembali ke partai, mengapa yang sudah ada kini akan didelegitimasikan? Maka perbaikilah partai yang ada dengan memperkuatnya dalam sisi SDM (‘untuk partai Islam tentunya diperlukan Aktifis Islam yang berkualitas bagus pada semua dimensi keislamannya, yakni dalam ritual, akhlak, wawasan keIslaman politik & manejemen’) dan prasarananya. Atau buat baru yang ideal bila partai yang ada dianggap tidak cocok (jika mampu). Setuju?”

Esoknya dia mengirim lagi sms:

“Bukan sekedar SDM partainya yang rusak tapi tatanan politiknya yang terlanjur rusak. Setiap partai yang ingin exis harus ikut tatanan ini. Anda tidak tahu banyak tentang realitanya karena bergelut dalam tataran wacana saja. Anda sebutkan partai Islam yang mana yang tidak larut, bahkan yang predikat dan simbul Islamnya paling keras, justru paling pragmatis. Yang dibutuhkan tokoh-tokoh kuat yang pribadinya menjadi teladan, yang bersama dapat menghentikan kerusakan tatanan ini. Sanggupkah anda menjadi teladan?”

Saya respon lagi sebagai berikut:

“Pada era ini, wni yang baik tentu harus berusaha menjadi teladan untuk menyelamatkan negeri, tapi tentu harus melalui Mekanisme Sosial yang baku. Jika orientasinya ingin memperbaiki lewat KEKUASAAN  ya harus lewat PARTAI, jangan lewat lembaga lain seperti Ormas-LSM-Profesi-Ekonomi-Seni dll, nanti jadi KACAU. Sejauh ini sistem politik melalui kepartaian sudah sesuai kaedah ilmiah, agar tidak chaos, tinggal menata ‘rule of the game’ nya. Sumber masalah manusia itu pada dasarnya KUALITAS SDM,  terutama si Pemimpin. Lihatlah blog saya.”

Teman tersebut tidak merespon lagi, saya anggap sudah faham/sepakat.

Berikut ini datang pula sms dari seorang muballigh yang isinya mirip dengan sebelumnya tapi memfokus pada pertanyaan mana yang lebih penting simbul atau substansi:

“Dalam kasus NKRI mana yang lebih tepat, Islam dipergunakan sebagai simbul atau nilai-nilai Islam yang dipergunakan dalam kehidupan bernegara”

Saya jawab agak panjang supaya jelas:

“Dalam era di mana dunia muslim terpuruk oleh hegemoni Sekularisme, maka HARAM menjadi ‘taqiyah’ menyembunyikan identitas Islam dalam berpolitik. Bagaimana Islam bisa bangkit? Islam itu mengajarkan simbul dan isi. Mana rasional dari ungkapan2 berikut: ‘Jangan mengutamakan simbul, yang penting isi; Islam ibarat garam yang tidak kelihatan tapi selalu terasa; Tidak perlu tampak tapi ada di mana-mana’. Kan MALAH MUDAH DIKOOPTASI oleh Sekularisme. Itu melanggar al Qur’an (salah satu ayatnya berbunyi: ‘wa anaa minal muslimiin’). Tanpa identitas Islam maka umat kehilangan Entitas, Arah, dan Eksistensi”.

Berikutnya sms dari seorang tokoh Ormas Islam yang masih bernada amat pesimis  terhadap Partai Islam.

“….Partai2 Islam yang ada sekarang cenderung amat praktis (mungkin maksudnya pragmatis) dan kelihatannya kehilangan orientasi (mungkin maksudnya pada misi Islam Politik). Mudah2an Pemimpin Partai menyadari itu dan bisa memperbaikinya”.

Saya jawab:

“Banyaknya salah langkah oleh Partai2 Islam itu tidak terlepas karena ‘Aktifis2 Islam yang Bagus/Idealis’ tidak mau memperkuat Partai Islam dari dalam sehingga Partai Islam banyak diisi figur2 yang lemah kualitasnya. Namun dari sisi STRATEGI PERJUANGAN, harus ada Partai Islam,  dan oleh Partai Islam itulah dilakukan berbagai aktifitas pendidikan/pengkaderan, komunikasi, koordinasi umat tentang materi Islam Kaffah, termasuk materi Islam Politik, tidak cukup ada Ormas-LSM Islam saja. Ujungnya, pergantian kekuasaan dari Kelompok Sekuler, demi keselamatan umat-bangsa, dilakukan secara damai-konstitusional seperti yang dicontohkan Nabi sewaktu di Madinah”.

Itulah dialog-dialog menarik yang berlangsung di bulan suci Ramadhan sejauh ini, insyaAllah bermanfaat.

Sekali lagi ‘Selamat Beribadah Puasa’, semoga diterima oleh Allah SWT. Amien.

Indonesia, hari ke 6 Ramadhan 1432H

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , .

PUASA DAN ZAKAT, IBADAH RITUAL YANG BERDIMENSI SOSIAL ISLAM POLITIK Mengubah ‘NOKTAH’ RUSAK MENJADI ‘MERCU-SUAR’ DUNIA. Bisakah Indonesia Menirunya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: