ISLAM POLITIK Mengubah ‘NOKTAH’ RUSAK MENJADI ‘MERCU-SUAR’ DUNIA. Bisakah Indonesia Menirunya?

22 August 2011 at 19:00 Leave a comment

(Khotbah Iedul Fithrie 1432H/2011M)

Disampaikan oleh:

DR. FUAD AMSYARI

(Dewan Pembina ICMI Pusat)

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,

(Iftitah)

Allahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Alhamdulillah, pagi ini kembali kita bersyukur ke hadirat Allah SWT karena bisa bersama-sama melakukan sholat Ied menyambut hari raya Iedul Fithrie tahun 1432 H, setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui. Sungguh banyak sekali karunia Allah yang kita terima, dari waktu ke waktu dari saat ke saat tiada putusnya. Dari  semua ni’mat karunia itu yang tertinggi nilainya adalah hidayah dalam bentuk iman, yang membukakan hati ini menjadi hati yang mengenal hakekat diri sebagai ‘Makhluk’ yang diciptakan oleh ‘Khalik’nya, Allah swt. Dengan iman itu harusnya kita berteguh hati tidak bisa diperdaya syetan yang menyesatkan. Jika manusia setelah diberi hidayah iman, lalu bisa bertahan tidak tergoda syetan, selalu hidup sesuai dengan tuntunan Allah SWT, maka dia akan menjadi manusia yang sukses hidupnya di dunia dan akherat. Namun mengapa  banyak manusia yang setelah diberi hidayah iman ternyata hidupnya tidak berhasil? Jawabnya mudah: ‘dia tidak mampu bertahan dari penyesatan oleh syetan’ sehingga imannya menjadi amat tipis, lebih percaya kepada selain dari Allah dalam proses menjalani kehidupannya sehari-hari, dalam beribadah, berbisnis, dan bekerja-beraktifitas. Mereka tidak mau/mampu untuk hidup sesuai tuntunan Allah SWT, sesuai syariatNya. Naudhubillahi min dhalik.

Allahu Akbar,

Kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai ungkapan kecintaan dan penghormatan yang tiada berhingga atas segala perjuangan- pengorbanan beliau dalam menyampaikan risalah Illahi Rabbi sehingga telah sampailah risalah itu (al Qur’an dan Sunnah) ke tangan kita untuk digunakan dalam mengurus diri-pribadi, keluarga, dan masyarakat-bangsa-negara. Hanya dengan mengikuti cara hidup yang dicontohkan oleh Rasulullah tersebut maka hidup ini akan mencapai keberhasilan, baik sebagai pribadi sehingga menjadi tenang-tenteram, tanpa kesedihan-ketakutan, la tahzanun walaa khaufun, sebagai keluarga menjadi sakinah-mawaddah-warahmah, penuh keharmonisan-kecintaan, dan sebagai masyarakat-bangsa-negara yang ‘baldatun thoyibah wa rabbun ghafur, maju-aman-sejahtera dalam lindungan-ampunan Allah SWT. Tapi mengapa banyak insan muslim yang hatinya selalu bergolak, gelisah, penuh nafsu iri dengki, tanpa keteduhan-kebahagiaan? Mengapa pula banyak keluarga muslim yang selalu bertikai, jauh dari kecintaan, kerukunan, dan kehamonisan? Mengapa juga banyak negeri muslim (mayoritas penduduknya muslim) namun ternyata negeri itu terlanda berbagai krisis sosial, banyak kejahatan, tereksploitir kekayaan tanah airnya oleh bangsa lain sehingga semakin termiskinkan menuju kebangkrutan? Jawabnya juga amat mudah: ‘karena pengurusan diri-pribadinya, keluarganya, dan masyarakat-bangsa-negerinya jauh dari tuntunan Allah SWT, tidak seperti yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW’. Mereka terhanyut oleh tipu-daya syetan sehingga mencari cara hidup selain tuntunan syariat Islam walau mereka mengaku sebagai muslim. Naudzubillahi min dzalik. Pengetrapan syari’at Islam di semua tatanan kehidupan manusia akan membawa keselamatan dan keberhasilan hidup, sedang penolakan terhadap syari’at Islam akan mengakibatkan keterpurukan dan kegagalan, membawa kerusakan, kehancuran, dan malapetaka dalam kehidupan dunia.

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Puasa Ramadhan, dengan segala syarat dan rukunnya, termasuk memperbanyak amalan-amalan terpuji dan menghindari perbuatan maksiat sebulan penuh adalah suatu metoda yang diajarkan Islam agar manusia kembali ingat hakekat dirinya sebagai makhluk Allah SWT yang wajib tunduk pada syariatNya jika ingin berhasil dalam kehidupannya di dunia-akherat. Puasa yang berhasil akan membuat seorang muslim kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT di hari-hari berikutnya. Itulah hakekat tujuan berpuasa, agar manusia menjadi manusia yang bertaqwa. Makna bertaqwa itu amat jelas: ‘mengikuti syariat Allah dalam menjalani kehidupannya, sebagai apapun perannya di dunia, apakah warga biasa, kepala keluarga, Pimpinan Perusahaan, Ketua Organisasi, Kepala Wilayah-Negara. Semuanya berkewajiban menjalankan peran mereka sesuai dengan syariat Islam terkait masing-masing peran itu. Syariat Islam meliputi semua bentuk kebutuhan hidup manusia. Puasa tidak satu-satunya perintah Allah SWT yang harus diikuti supaya tergolong menjadi orang yang bertaqwa. Puasa berperan menjadi proses penyadaran diri terus menerus selama sebulan bahwa dirinya wajib menjalankan perintah Allah walaupun tidak bisa diketahui orang lain apakah dirinya puasa atau tidak. Puasa menjadi pengingat muslim bahwa dirinya wajib taat menjalankan syariat Islam secara ikhlas.

Allahu Akbar,

Sayangnya banyak umat Islam yang salah faham, dianggapnya syariat Islam itu hanya  beribadah ritual, termasuk berpuasa Ramadhan, dan akhlak pribadi saja, sehingga sewaktu berkeluarga dan mengurus masyarakat-bangsa-negara mereka tidak menggunakan syariat Islam. Di sinilah sesungguhnya syetan berperan, terus menerus  meniupkan bisikan di nurani manusia untuk menafikan keberadaan syariat Allah terkait cara mengurus keluarga dan masyarakat-bangsa-negara. Syetan menghembuskan bisikannya, kadang berbentuk perasaan hati, kadang lewat tulisan yang dibaca, kadang lewat ceramah yang didengar, bahwa sebagai orang Islam sudah cukup jika hanya berritual dan berbuat baik pada orang lain. Syetanlah yang membisikkan di hati bahwa tidak perlu mengurus keluarga atau masyarakat-bangsa-negara sesuai dengan tuntunan Allah karena tidak ada tuntunan Islam untuk itu atau  memang ada tuntunan  tersebut tapi bukan untuk kita yang hidup di zaman modern sekarang. Astaghfirullah. Oleh bujukan syetan tersebut maka banyak keluarga muslim jadi berantakan dan banyak negeri muslim pun menjadi kacau, tereksploitasi, terjajah, tertimpa  krisis sosial dan musibah.

Perlu kiranya diingat firman Allah sewaktu menutup wahyu al Qur’an kepada Rasulullah SAW dengan Surat al Maidah ayat 3:

            “Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu, Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan Aku telah rela Islam sebagai agamamu.”

Ayat tersebut menjelaskan kesempurnaan Islam sebagai agama terakhir, bukan hanya menuntun manusia cara beribadah ritual dan berakhlak baik belaka, tapi juga sudah memberi tuntunan untuk semua kebutuhan hidup manusia, termasuk bagaimana cara berkeluarga yang benar dan cara mengelola masyarakat-bangsa-negara yang penuh berkah.

Allahu Akbar

Apabila puasa seseorang itu benar maka dia akan kembali ke kondisi fithrie, kondisi berislam seutuhnya, di mana cara hidupnya secara totalitas kembali ke jalan Allah SWT. Ibadah ritualnya, akhlaknya, cara mengelola keluarga, cara berbisnisnya, cara mengurus organisasinya, cara mengelola masyarakat yang dibebankan kepundaknya, tentu akan disesuaikan dengan tuntunan Allah SWT terkait masing-masing. Jika puasanya tidak atau kurang berhasil tentu dia tidak mampu kembali ke kondisi fithrie tersebut, masih compang-camping dalam mengetrapkan syariat Islam. Jika status ketaqwaannya setelah Ramadhan masih seperti itu tentu dia perlu secepatnya bertaubat karena jika tidak maka dirinya, keluarga, dan masyarakat yang berada di bawah tanggung jawabnya akan memperoleh berbagai kesulitan, penderitaan, dan musibah. Allah mengingatkan itu dalam Surat al Baqarah ayat 85:

            “Apakah kalian hanya mau mengetrapkan sebagian saja tuntunan Allah dan menolak tuntunan lainnya. Bila begitu perilaku kalian maka akan terhinakan semasa hidup di dunia (dieksploitir orang/bangsa lain), sedang di akherat nanti akan menerima siksa yang pedih.”

Dalam Surat al Anfaal ayat 25 Allah juga mengingatkan:

               “Hendaknya kalian takut bahwa (jika musibah itu telah dijatuhkan oleh Allah terhadap suatu negeri maka) musibah itu tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat dosa saja. Ketahuilah sesungguhnya hukuman Allah itu amat berat.”

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Keharusan berislam secara utuh atau kaffah telah difirmankan oleh Allah SWT dalam al Qur’an Surat Al Baqarah  ayat 208:

            “Wahai orang yang beriman, berislamlah kalian secara utuh, dan jangan mengikuti bujukan syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata”.

Keutuhan dalam berislam itu bisa dirinci sebagai berikut:

1. Dalam kaitannya dengan masalah ibadah mahdhah harus dilakukan dengan tertib, tidak boleh mengada-ada. Banyak sekali ayat dan hadits tentang perintah untuk menegakkan shalat, membayar zakat, haji,  berpuasa, dan berdoa.

2. Dalam kaitannya dengan keharusan untuk berakhlak mulia antara lain Allah berfirman dalam Surat Ali Imran 34:

            “(Orang yang bertaqwa itu) adalah orang yang selalu menginfaqkan sebagian rizkinya baik ketika sedang dalam keadaan berkelebihan maupun sedang dalam keadaan kekurangan, dan mereka mampu menahan amarah, serta mudah memaafkan bagi sesamanya, dan Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan.”

3. Dalam kaitannya dengan berkeluarga di samping banyak hadits tentang itu juga Allah berfrman dalam Surat  at Tahrim ayat 6  dan ar Ruum ayat 21

          “Wahai orang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari adhab api neraka”

           “(Berkeluarga itu) untuk menjadi tenteram dan saling mencintai, mengasihi”.

4. Dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara banyak sekali hadits tentang itu bahkan juga percontohan Rasulullah sewaktu mengelola negara Madinah sebagai Kepala Negara.  Allah berfirman dalam banyak ayat, antara lain pada Surat al A’raf  ayat 97

             “Apabila penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa (mengetrapkan syariat Islam dari Allah) maka Allah akan menurunkan karuniaNya dari langit dan bumi (sehingga mereka akan menjadi makmur, sejahtera-lahir bathin). Namun jika mereka itu ingkar (terhadap tuntunan Allah) maka akan ditimpakan pada mereka berbagai kesulitan hidup karena perilaku mereka sendiri (yang mengingkari syariat Islam itu).”

Dalam Surat an Nahl ayat 90 Allah juga berfirman:

            “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, menyantuni duafa’, serta melarang perbuatan keji, mungkar, dan  permusuhan.”

Sebuah hadits menjelaskan tentang pentingnya peranan kekuasaan dalam kehidupan di dunia berbunyi sebagai berikut:

             “Sesungguhnya kekuasaan (sulthan) itu merupakan payung Allah dan ujung tombakNya di muka bumi”

Berislam dalam kaitannya dengan lingkup  terakhir di atas, yakni lingkup masyarakat-bangsa-negara, tidak boleh diabaikan sebagaimana juga terhadap lingkup lainnya. Lingkup tersebut merupakan dimensi sosial politik dari ajaran Islam. Umat Islam juga diperintahkan untuk mengikuti/mematuhi ajaran Islam tentang bermasyarakat-berbangsa-bernegara, yang dikenal sebagai Islam Politik, tidak hanya berRitual Islam atau berAkhlak Islam belaka. Namun dalam kenyataan di lapangan, justru Islam Politik itulah yang malah banyak diabaikan umat Islam sehingga berakibat rusaknya tatanan sosial di dunia muslim dan berdampak pada kehidupan umat Islam secara menyedihkan.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Mari kini kita telaah lebih jauh tuntunan Islam Politik itu. Dalam bulan Ramadhan umat Islam Indonesiajuga memperingati Nuzulul Qur’an, hari turunnya wahyu yang pertama. Sayangnya dalam berbagai acara peringatannya tidak banyak dibahas mendalam bagaimana latar belakang turunnya al Qur’an padahal di situlah terdapat ibrah penting atau keteladanan utama Rasulullah yang bisa ditiru umat Islam.

Di masa sebelum turunnya al Qur’an kondisi penduduk dan masyarakat Mekah amat memprihatinkan, baik perilaku pribadi maupun tatanan sosialnya. Secara ritual orang Mekah menyembah Latta-Uzza, patung yang mereka buat dengan tangan sendiri lalu dimuliakan dan disembah-sembah meminta pertolongan dan berkah. Dalam hal akhlak  mereka memperlakukan orang lain tidak manusiawi, menjadikan budak, menganggapnya seperti binatang piaraan yang diperjual-belikan. Perempuan dihinakan, bahkan tidak segan-segannya seorang ayah membunuh bayi perempuan yang dilahirkan isterinya karena malu memiliki anak perempuan, tanpa ada tindakan apapun dari fihak penguasa negara.  Tatanan sosial-politik masyarakat Mekah amat feodalistik, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mengeksploitir yang miskin. Kondisi sosial Mekah penuh ketimpangan, penindasan, pemerkosaan, korupsi, dan kejahatan-kekejaman luar biasa.

Di tengah masyarakat sakit seperti itu hadir seorang pemuda bernama Muhammad yang batinnya gelisah melihat masyarakatnya. Sebagai warga Mekah dia yakin bahwa bangsa dan negerinya menuju kehancuran, kebangkrutan, bahkan kepunahan jika kondisi tersebut dibiarkan terus berlangsung. Namun sayangnya dia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mungkin saja di Mekah saat itu ada juga pemuda lain yang prihatin namun derajat keprihatinannya tidak begitu mengusik dia sehingga mau berupaya memperbaiki kondisi masyarakat itu dengan serius, sepenuh hati. Malah banyak pemuda gagah perkasa dengan fisik kuat dan harta melimpah di sana justru menikmati kondisi masyarakat rusak tersebut  karena dia bisa hidup nyaman di dalamnya dengan status sosial yang dimilikinya. Muhammad sebagai pemuda jelas berbeda, walau dia sehat dan mapan secara sosial-politik namun hatinya penuh gejolak, bersemangat tinggi ingin menyelamatkan masyarakat-bangsa-negaranya yang rusak terancam kehancuran. Karena belum mendapatkan jalan keluar bagaimana mengatasinya, dia lalu melakukan perenungan, kontemplasi, menyendiri pergi ke tempat sunyi dari hikuk-pikuk keduniaan, mencari inspirasi bagaimana pemecahannya. Demikian itulah sesungguhnya jiwa dan semangat seorang  Pahlawan, Patriot bangsa sejati.

Setelah secara rutin menyendiri, yang berlangsung sampai lebih dari satu tahun, dilakukannya  di gua Hira’, maka suatu malam di bulan Ramadhan datanglah peristiwa istimewa itu, AWAL PROSES PENYEMBUHAN masyarakat yang sakit. Proses itu selanjutnya bisa disebut sebagai Reformasi Sosial yang dimulai dengan menyentuh hakekat sebab-musabab kerusakan bangsa-negara, yakni pemahaman terhadap Sang Maha Pencipta yang salah, bukan patung Latta Uzza, tapi yang benar adalah Allah SWT, disertai dengan tuntunan operasional cara hidup dariNya yang bisa membawa kemuliaan, keharmonisan,  dan kesejahteraan Dengan wahyu pertama dibukalah pintu gerbang penyelesaian krisis sosial yang merusak masyarakat-bangsa-negara. Pengenalan adanya Sang Maha Pencipta, Allah SWT, disertai perintah pertama untuk memperhatikan dan peduli pada kondisi lingkungan jelas tertera dalam Surat al ’Alaq ayat 1-7:

          “Bacalah, bacalah demi nama Tuhanmu Yang Maha Pencipta. Tuhan yang menciptakan manusia dari ‘alaq’. Bacalah, dan Tuhanmu itu maha Mulia, yang mengajarimu dengan kalam, mengajarimu tentang apa yang tidak kamu ketahui. Ketahuilah, sesungguhnya manusia sering melampaui batas, karena ia melihat dirinya telah mampu/berkecukupan“.

Setelah pengenalan awal akan hakekat manusia sebagai makhluk dengan Sang Maha Pencipta, sebagai khaliq, Allah SWT, maka tidak lama kemudian turunlah wahyu berikutnya yang berisi tuntunan lebih tehnis operasional untuk mulai memperbaiki kerusakan masyarakat, yakni Surat al Mudatsir ayat 1- 6:

      “Wahai orang yang (diam) ‘berselimut’, bangun dan bekerjalah! Muliakanlah Tuhanmu, (Allah SWT)! Bersihkanlah dirimu! Hancurkan segala berhala! Jangan sekali kali kamu berbuat kebaikan untuk berharap mendapat imbalan! Bersabarlah dalam menjalankan tugas dari Tuhanmu”!

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Begitulah proses yang terjadi, lalu berturut-turut datanglah petunjuk/tuntunan hidup dari Allah SWT yang dengan dilaksanakannya itu terbukti bisa menyelesaikan kemelut/krisis sosial yang terjadi.  Tuntunan tersebut amat lengkap, mulai dari cara mengelola diri pribadi termasuk melakukan komunikasi langsung kepada Allah dalam bentuk ibadah mahdhah/ritual, lalu petunjuk tentang cara mengelola keluarga agar menjadi sakinah-mawaddah-rohmah, dan akhirnya cara mengelola masyarakat-bangsa-negara dalam bentuk kebijakan politik, ekonomi, hukum, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan, yang kesemuanya dipraktekkan sebagai contoh nyata oleh Rasulullah SAW. Setelah 23 tahun berjalan maka jadilah masyarakat Mekah dan sekitarnya yang semula rusak berantakan menjadi masyarakat unggul membawa kemuliaan peradaban dunia. Dari sebutir noktah rusak di padang pasir yang tidak ada artinya berubah menjadi Negeri Adidaya penuh berkah, baldatun thoyyibah, mengoreksi kekuasaan kafir Romawi dan Persia yang sekuler eksploitatif. Untuk bisa mengobati kerusakan itu ternyata bekal Rasulullah hanya satu: TUNTUNAN ALLAH SWT, khususnya ISLAM POLITIK, tuntunan Allah yang terkait dengan masalah kemasyarakatan dan kenegaraan!

Allahu Akbar.

Untuk mengobati kerusakan suatu tatanan sosial dalam skala bangsa-negara pasti yang diperlukan bukan sekedar keimanan yang mendalam tentang adanya Allah SWT  dalam bentuk praktek cara menyembahnya sebagai ibadah ritual. Juga tidak cukup jika hanya pribadi yang berakhlak mulia yang memperlakukan orang lain dengan manis, hormat, sopan santun. Jangan lupa iblis justru amat tinggi kualitas imannya, dalam artian mengetahui eksistensi Allah SWT yang Esa dan Maha Kuasa secara ‘ainul yakin-haqqul yakin, namun iblis justru membuat kerusakan dalam dunia manusia dengan ajarannya. Berislam secara kaffah berarti mengetrapkan tuntunan Allah SWT dalam semua dimensi kehidupan manusia, yakni dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, dan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Justru tuntunan Allah terkait pengelolaan masyarakat-bangsa-negara itulah yang efektif membuat masyarakat menjadi maju-adil-sejahtera, membawa keharmonisan-ketenteraman dunia. Syariat itulah yang disebut sebagai ISLAM POLITIK, ajaran Islam mengenai bagaimana manusia harusnya hidup dalam bermasyarakat-berbangsa-bernegara.

Allahu Akbar

Tuntunan ’Islam Politik’ memiliki dua dimensi, yakni:

1. Dimensi Kekuatan Politik (‘Political Power’), yakni tuntunan Islam terkait keharusan umat di manapun dan kapanpun bergabung dalam WADAH pendukung syariat Islam terkait kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara, yang disebut sebagai ‘HIZBULLAH’, yakni Partai yang bertujuan mengetrapkan  Syariat Allah SWT dalam kenegaraan demi kemajuan dan kejayaan bangsa. Setiap individu muslim wajib hukumnya mendukung, memilih, dan membesarkan partai ini, termasuk sewaktu memilih Pemimpin di tingkat manapun. Allah tegas menyatakannya dalam Surat al Maidah ayat 55-56:

       “Pemimpin kalian itu adalah Allah, RasulNya, dan Orang yang beriman, yakni mereka yang sudah menegakkan shalat, membayar zakat, dan taat syariat. Jika kalian  berperilaku seperti itu maka tentulah HIZBULLAH (Partai Allah, Partai yang bermisi menegakkan syariat Islam) akan memperoleh kejayaan”.

Dimensi pertama dari Politik Islam ini mengikat semua muslim menjadi satu kekuatan sosial-politik yang kokoh. Setiap muslim  yang hidup dalam suatu negara tentu tidak bisa terlepas dari politik, karena tentu ada aktifitas hidupnya yang terkait politik. Walau secara formal ada beberapa kelompok penduduk yang tidak dibolehkan menjadi anggauta partai politik (antara lain PNS dan TNI untuk Indonesia saat ini) namun dalam kenyataan sehari-hari tiap warga negara akan terlibat dalam politik, seperti saat menyumbang atau bergabung dalam organisasi, atau saat memilih Pimpinan Wilayah dan P:impinan Negara dalam pemilu. Mana ada warga negara suatu negeri yang dalam hidupnya tidak terkait dengan memilih pemimpin, memilih organisasi? Di sinilah makna dimensi pertama dari Islam Politik, yakni menyadarkan setiap muslim untuk memihak, mendukung, bergabung, memilih WADAH yang berorientasi menegakkan syariat sosial-kenegaraan Islam. Wadah tersebut namanya bisa bermacam-macam namun yang pokok adalah bahwa Asasnya tegas Islam dan Tujuannya menegakkan syariat untuk mengelola bangsa-negara demi kemajuan-kejayaan bangsa-negara bersangkutan.

2. Dimensi Substansi Kebijakan (‘National/Regional Policy’) dalam mengelola masyarakat-bangsa-negara. Islam mengajarkan bagaimana seharusnya substansi kebijakan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial-budaya, pertahanan-keamanan (poleksosbudhankam). Kebijakan yang Islami di bidang kehidupan berbangsa-bernegara ini pada dasarnya adalah  Metoda Islam yang diturunkan Allah SWT agar manusia mampu membuat masyarakat-bangsa-negara menjadi ‘baldatun thayibah’ dalam berkah ampunanNya. Dimensi Substansi Kebijakan dari Islam Politik ini merupakan tanggung jawab orang Islam yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan negara, seperti mereka yang sedang duduk di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif di semua tingkat pemerintahan, untuk melaksanakannya. Dimensi kedua dari Islam Politik memang dibebankan kepada mereka yang memiliki kewenangan formal sebagai pemimpin, seberapa besarpun kewenangan yang dimilikinya. Itulah sebabnya setiap umat Islam di manapun dan kapanpun wajib memilih pemimpin yang benar dalam proses kehidupannya karena pemimpin itulah yang ujungnya memiliki hak/kewenangan membuat kebijakan yang mengikat mereka dan berdampak pada kehidupan bersama di wilayah kekuasaannya.

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Dari uraian tentang Islam Politik dan proses sosial-politik yang terjadi di Jazirah Arab di awal kehadiran Islam, bisa difahami bagaimana oleh Islam Politik maka sebuah masyarakat kecil yang rusak dan sarat krisis kemanusiaan bisa menjadi negara adidaya membawa kemuliaan peradaban dunia. Proses itu diawali dengan Pengenalan tentang makna manusia secara benar, sebagai makhluk ciptaan Tuhan semesta ‘alam, Allah SWT, dilanjutkan dengan datangnya tuntunan hidup secara bertahap dari ibadah mahdhah atau RITUAL, lalu AKHLAK MULIA, dan ujungnya adalah tuntunan ISLAM POLITIK dalam arti bagaimana keharusan umat bersikap yang benar dalam hidup bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Dengan proses itu maka jadilah noktah rusak, Mekah-Madinah, berubah dalam waktu singkat menjadi mercusuar dunia, menerangi peradaban manusia, mendatangkan kesejahteraan dan keadilan. Kini setelah seluruh tuntunan Allah SWT tersebut lengkap berada di tangan umat, tentu menjadi kewajiban umat Islam untuk melaksanakan KESELURUHAN tuntunan itu, tidak hanya sepotong ajaran saja, supaya umat bisa berperan membimbing dan membawa umat manusia ke arah kemuliaan, kesejahteraan, kerukunan, dan keharmonisan hidup. Ajaran Islam tidak menghalangi  manusia menganut keyakinan agamanya masing-masing, namun juga tegas melarang jika  Islam dan umat Islam dilecehkan, dihujat, dikebiri hanya untuk berritual belaka. Justru dengan tuntunan sosial-politik dari ajaran  Islam atau Islam Politik maka umat Islam akan mampu mendatangkan kedamaian dan kesejahteraan dunia yang plural, yang dalam kontek negara akan membawa keamanan-kesejahteraan-kemajuan bangsa.

Allahu Akbar,

Setelah memahami bahwa sedemikian sempurna dan lengkap tuntunan agama Islam itu, bagaimana sikap umat Islam Indonesia terhadap tuntunan agama Islam yang telah berada di tangannya? Amatlah menyedihkan jika umat Islam di sini hanya berislam dalam aspek ritual-akhlak saja dan membuang atau mengabaikan tuntunan Islam Politik. Justru Islam Politik itulah yang akan mampu membawa negerinya yang sedang terlanda berbagai krisis nasional akan bisa menjadi negeri yang maju-aman-sejahtera, menjadi mercusuar dunia. Untuk mencapai itu diperlukan PAHLAWAN-PATRIOT ISLAM yang bekerja keras menyadarkan umat Islam di negeri ini untuk kembali ke ajaran Islam Politik demi kemajuan-kejayaan umat dan bangsanya, keluar dari krisis multi dimensi dan keluar dari eksploitasi bangsa penjajah. Islam Politik yang harus ditegakkan harus meliputi kedua dimensinya, yakni membangun Kekuatan Politik Islam melalui mobilisasi umat untuk mendukung dan memperkuat Wadah Politik yang bertujuan mengetrapkan syariat untuk membanguan bangsa, dan mengetrapkan Kebijakan Nasional Islami dalam mengurus negeri. Dalam kondisi keterpurukan bangsa seperti sekarang di mana kemiskinan melanda mayoritas penduduk, kejahatan-kemaksiatan merajalela, kekayaan tanah air terkuras oleh bangsa lain, serta akhlak bangsa sudah amat rendah derajatnya, amatlah ironis jika masih ada Ulama dan Cendekiawan Muslim yang malah mengajak umat hanya berislam untuk ibadah ritual dan akhlak saja, apalagi jika  menjerumuskan umat untuk mendukung Kekuatan Politik Sekuler, mendukung Figur Sekuler untuk menjadi pimpinan Wilayah dan Negara yang ujungnya akan membuat kebijakan nasional yang jauh dari tuntunan Islam. Jika itu yang terus dilakukan Ulama dan Cendekiawan muslimIndonesia maka sunnatullah akan berlaku, yakni kehinaan dan bahkan kehancuran umat dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara, serta adzab pedih yang dirasakannya di akherat nanti.  Nauudzubillahi min dzalik.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Dari keseluruhan pembahasan di atas kini bisa kiranya disimpulkan  perlunya 3 hal pokok yang perlu segera diupayakan kaum muslimin di negeri ini, yakni:

  1. Menguatkan barisan yang mengusung Islam Politik dalam dimensi kepartaian yang disebut Allah sebagai HIZBULLAH, Partai yang akan menegakkan syariat Allah terkait masalah berbangsa-bernegara.
  2. Mengupayakan secepatnya agar pengelolaan masyarakat-bangsa-negara berada di tangan Pemimpin yang memiliki ketaatan akan ajaran Allah swt secara kaffah sehingga kebijakan yang akan diambilnya sesuai dengan tuntunan Allah dalam bidang poleksosbudhankam
  3. Untuk mempercepat tercapainya kedua sasaran di atas diperlukan hadirnya Pahlawan-Patriot Islam (sebagaimana peran sahabat Nabi di era permulaan Islam) yang teguh memperjuangkan Islam Politik di samping ritual dan akhlaknya yang baik yang akan berperan menjadi ujung tombak perubahan nasib negeri mencapai status mercusuar peradaban dunia.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1432 H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah perlindunganMu agar kami tidak tersesat oleh rayuan-godaan syetan setelah kami beriman.

Ya Allah, kami ini memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga,  dan masyarakat-bangsa-negara melalui jalan Islam, termasuk Islam Politik yang Engkau tuntunkan.

Ya Allah, kuatkanlah iman kami, kokohkanlah ketaqwaan kami, tambahkanlah ilmu kami, dan mantapkanlah kesehatan kami. Ampunilah segala kesalahan kami dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Indonesia, menjelang Iedul Fithrie, 1432H

Entry filed under: Pemikiran, Syariat Islam. Tags: , , , , , , .

‘ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO’ Dihidupkan lagi? Mau Balik ke Orba yang Gagal? REFORMASI HARUSNYA KEMBALI KE JALAN ISLAMNYA RASULULLAH KOMPETENSI KEMENTERIAN AGAMA DAN PEMERINTAH RI DALAM PEMECAHAN PERMASALAHAN UMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: