HISTERIA ‘RESHUFFLE’ KABINET, ADAKAH AGENDA TERSELUBUNG DAN APA MANFAATNYA BAGI BANGSA?

1 October 2011 at 11:48 Leave a comment

Kualitas politik masyarakat termasuk persnya bisa dilihat dari kasus  ‘reshuffle’ kabinet. Umumnya semua orang tahu, apalagi pers,  bahwa Personalia Kabinet itu sepenuhnya tanggung jawab Presiden dengan diberi istilah keren ‘hak prerogatif’, tapi mengapa kenyataannya terus saja bergunjing tentang reshuffle atau pergantian sebagian menterinya, sepertinya dengan gunjingan itu Presiden lalu gamang dan mengganti sebagian menteri oleh suara-suara vokal yang diulang-ulangi di masyarakat atau pers. Jelas ini mengherankan dari tinjauan asumsi bahwa era reformasi membuat masyarakat dan pers Indonesia matang/dewasa dalam berpolitik/ berdemokrasi. Mengapa tidak membiarkan saja masalah kabinet itu pada Presiden sepenuhnya, dirubah (sebagian/semua) atau tetap dipertahankan. Bukankah telah difahami bahwa hak Presidenlah menentukan menteri-menterinya, tidak memerlukan persetujuan kabinet atau siapapun. Apakah ada rekayasa tersembunyi melalui corong media untuk menekan Presiden agar mengganti personalia kabinetnya karena agenda/kehendak tertentu oleh tokoh atau yang berada di belakang Pers? Bukankah Presiden tidak memerlukan dukungan pers sebagai legitimasi melakukan reshuffle dengan target politik tertentu, walau memang diperlukan untuk mengoreksi kekeliruan politik yang dilakukannya masa lalu? Jika pers atau siapapun tokohnya memang menghendaki perubahan tersebut mengapa tidak melalui jalur politik biasa, yakni partai politik atau koalisi partai politik yang lagi berkuasa, tidak perlu ramai-ramai terus diberitakan sehingga membawa bising dan meresahkan?

Kehidupan negeri ini jelas amat ditentukan oleh kebijakan Pemerintah yang dipimpin seorang Presiden. Baik buruknya negara pada hakekatnya berada di tangan Presiden yang telah dipilih melalui Pemilu/Pilpres (terlepas apakah pemilu itu berlangsung jurdil atau tidak dengan kenyataan telah diterima). Maka masyarakat dengan pers yang dewasa mestinya akan membiarkan Presiden bersama Kabinetnya bekerja maksimal (sesuai dengan kualitas, kemampuan, dan kompetensinya) dan bangsa-negara  tinggal menunggu hasil dalam bentuk apakah bangsa-negara semakin maju, tetap, atau malah mundur statusnya. Masyarakat dan pers yang dewasa tidak seharusnya jadi histeria, heboh terus menerus membincangkan pergantian menteri tertentu karena semua itu menjadi hak dan tanggung jawab Presiden. Jika tidak puas dengan kinerja Pemerintah seharusnya yang disalahkan adalah Presiden, bukan malah ‘mendikte’ Presiden untuk mengganti menteri ini dan itu.

Terkait dengan prestasi pemerintahan Kabiner Indonesia Bersatu jilid 2 tersebut banyak sms masuk ke saya antara lain dari seorang Rektor Perguruan Tinggi Swasta dengan ungkapan keprihatinan tinggi terkait luasnya pengaruh asing terhadap kebutuhan rakyat sehari-hari. Dia menggambarkan bagaimana untuk kebutuhan Iedul Fithrie masyarakat Indonesia bergantung pada peran asing banyak sekali seperti: Garam dari India, Ayam dari Amerika, Sapi dari Australia, Handphone dari Cina, jaringan telekomunikasi dari Malaysia, disebar oleh satelit Palapa yang dibeli Singapura dari Indonesia dan kini sudah dijual ke Timur Tengah, dsb.  Saya jawab sms keprihatinan tersebut, termasuk tentang histeria reshuffle KIB2 sebagai berikut:

 “Mengapa harus histeria untuk reshuffle kabinet? Bukankah reshuffle itu hak prerogatif Presiden? Serahkan saja semua kepadanya. Apakah pergantian beberapa menteri membuat negeri akan berubah ‘signifikan’  (kemiskinan-pengangguran-korupsi-kejahatan turun, akhlak-kehormatan bangsa naik, kekayaan tanah air terselamatkan dari jarahan asing, ketaatan beragama rakyat meningkat)? Dari visi Islam, reshuffle TIDAK AKAN BISA MENGATASI KETERPURUKAN BANGSA karena pengelolaan negeri tetap saja SEKULARISTIK, sarat dengan ‘errors’ dalam kebijakan nasionalnya karena mengabaikan tuntunan Allah SWT dalam bidang poleksosbudhankam. Perbaikan nasib bangsa hanya akan terjadi jika ada perubahan CARA Pengelolaan negara dari sekularistik ke Islami yang hal itu baru akan terjadi jika PARTAI-FIGUR NON-SEKULER bisa menang dalam Pemilu. Siapkah umat-bangsa menguatkan dan mendukung Partai-Figur Non-Sekuler dalam kancah politik nasional termasuk pemilu sehingga negeri secepatnya menjadi maju-jaya, penuh berkah dari Allah SWT?”

Minggu lalu saya berdialog dengan Steven Fish (Profesor Politik dari California University) di acara ‘DIALOG KHUSUS’ JakTv yang ditayangkan Rabo 28 September jam 17.30-18.30. Saya cukup terkejut saat  dia dalam dialog itu menyatakan bahwa seharusnya Partai Islam seperti Partai Bulan Bintang yang teguh memegang ideologi Islam Politik mendapat simpati masyarakat luas dan bisa menang pemilu karena partai-partai sekuler (dia eksplisit menyebut nama beberapa partai besar yang ada di negeri ini) tidak tegas ideologi politiknya, mengandalkan ketokohan/ketenaran figur saja. Sayang sekali pendapat politik rasional seperti ini tidak banyak difahami oleh Ulama dan Muballigh di negeri muslim Indonesia sehingga dakwah mereka umumnya hanya mengajarkan ritual-akhlak Islam saja dan umatpun terjebak memilih partai-figur sekuler dalam pemilu, meninggalkan ideologi Islam Politik yang diemban Figur-Partai Islam yang bersaing dalam pemilu. Kapan datang kesadaran ulama-muballigh Islam sehingga mau berdakwa tentang Islam secara utuh, khususnya Ideologi Islam Politik yang diajarkan Rasulullah sehingga umat Islam lalu menjadi faham untuk bersikap benar dalam pemilu dengan memilih Partai-Figur Non-Sekuler?

Indonesia, akhir Syawal 1432H.

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , , , .

KOMPETENSI KEMENTERIAN AGAMA DAN PEMERINTAH RI DALAM PEMECAHAN PERMASALAHAN UMAT FAITH OVERRULES SCIENCE, WHY NOT? *)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: