DENGAN SEMANGAT BERKORBAN MARI BERITTIBA’ NABI YANG MELEPASKAN UMAT ISLAM DARI HIDUP DI BAWAH TATANAN SOSIAL SEKULARISTIK

31 October 2011 at 12:11 Leave a comment

(KHOTBAH IEDUL ADHA 1432H)

Dr. Fuad Amsyari

(Dewan Pembina ICMI Pusat)

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,

Ifititah

Allaahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Setelah  memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat karuniaNya yang terlimpah tiada putus-putusnya dan menyampaikan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mari kita menyambut hari raya Iedul Adha, 1432H dengan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Dzikir kepada Allah bukan saja membaca lafaz takbir dan tahmid, namun kita juga harus melakukan amalan yang bernilai keimanan dan ketaqwaan secara nyata. Salah satu tuntunan Islam terkait Iedul Adha adalah disunnahkan, sebagian ulama malah menganggap wajib, bagi mereka yang berkecukupan ekonominya untuk menyembelih korban dan dagingnya dibagikan ke masyarakat, khususnya mereka yang sedang kekurangan. Penyembelihan korban itu bisa dilakukan sampai hari tasyrik, yakni 3 hari setelah hari raya Iedul Adha. Silahkan Saudara seiman yang merasa berkecukupan ekonominya tapi belum berkorban tahun ini masih punya waktu untuk menunaikan amalan tersebut dalam 3 hari mendatang.

Allahu Akbar,

Berkorban seperti itu memiliki nilai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi karena mengisyaratkan kesediaaan umat untuk mengorbankan barang berharga miliknya untuk sesuatu yang bersifat kepatuhan pada perintah Allah SWT. Essensi prosesi pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS  atas Nabi Ismail AS adalah bahwa memenuhi perintah Allah itu segala-galanya. Jangankan harta benda yang masih bisa dicari nanti bahkan pada percontohan Nabi Ibrahim AS mengorbankan anak lelaki satu-satunya yang sudah lama  diharap-harap kehadirannyapun sama sekali tidaklah ada keberatan jika demi memenuhi perintah Allah SWT. Iman dan ketaqwaan mana yang lebih hebat dari itu?

Allahu Akbar,

Perintah berkorban dalam Iedul Adha sesungguhnya terletak pada nilai agar umat Islam selalu ingat bahwa yang maha penting dalam hidup ini adalah memenuhi perintah Allah SWT dengan pengorbanan berapapun sebagaimana kasus NabiIbrahimAS.Memang untuk melakukan perintah Allah itu (termasuk meninggalkan hal-hal yang dilarangNya) harus ada ‘cost’ atau harga yang dibayarkan, mengorbankan apa yang sudah menjadi miliknya, apakah waktu, harta, bahkan jiwa sekalipun. Pesan keharusan umat untuk mau berkorban tersebut diulang-ulang oleh Allah SWT dalam kaitan dengan perintah JIHAD,  aktifitas  menyebarkan dan menegakkan syariat Allah, dengan berbekal ‘amwal’ atau harta benda dan ‘anfus’ yakni jiwa. Iedul Adha adalah momen pengingat kepada umat Islam agar selalu siap berkorban demi memperoleh ridho Allah karena melaksanakan tuntunan-tuntunanNya.

Allahu Akbar.

Melaksanakan tuntunan Allah itu bukan untuk kepentingan Allah maupun UtusanNya, namun untuk kepentingan manusia dan masyarakat itu sendiri agar hidup nereka selamat-sejahtera dunia-akherat. Tuntunan Allah melalui Rasulullah Muhammad SAW yang dikenal sebagai Agama Islam justru untuk kebaikan umat manusia dan lingkungannya. Axioma inilah yang dikenal dengan pernyataan bahwa Islam itu ‘Rahmatan lil ‘alamiin’, memberi rahmat bagi alam semesta seisinya jika diterapkan tuntunan Islam itu. Kalau memang begitu makna Islam tersebut maka mengapa justru umat Islam sendiri banyak yang menolak datangnya rahmat itu  dengan  mengabaikan tuntunan Islam dalam proses kehidupannya sehingga dunianya lalu sarat dengan tipu daya, kejahatan, kecurangan, dekadensi akhlak, eksploitasi, penindasan, dan serangan militer termasuk pengeboman yang memakan korban ratusan ribu umat manusia, terutama kaum muslimin di negeri muslim? Bukankah semua itu jelas bentuk malapetaka di mana dunia muslim, tereksploitasi kekayaan alamnya, terporak-porandakan kehidupannya, umat diperlakukan sebagai orang suruhan, dijadikan tenaga kerja murah untuk keuntungan luarbiasa bagi pemilik modal yang telah kaya raya, diperlakukan sebagai bangsa tidak berharga yang dintimidasi, bahkan juga diduduki dan dibombardir seenaknya. Sadarkah umat Islam terutama para ulama dan tokoh-tokohnya, mengapa semua itu bisa terjadi?

Allahu Akbar,

Seharusnya dengan Islam, seorang individu muslim itu akan hidup terteram penuh kecukupan, sebuah keluarga muslim itu rukun, harmonis penuh kasih sayang, dan sebuah bangsa-negara yang mayoritasnya muslim itu menjadi negara beradab, mulia, maju, aman, sejahtera, penuh keadilan, dan menjadi pengayom dan mercusuar dunia? Bukankah kondisi itu yang telah terjadi di masa Rasulullah sewaktu di era Madinah, yang terus menjadi berkembang di era sesudahnya, yakni masa Khulafaaur Rasyidin?

Kondisi di masa Madinah tersebut jelas berbeda dengan kondisi saat Rasulullah masih di Mekah, di mana individu dan keluarga muslim hidupnya sarat intimidasi, diancam aqidahnya, dimiskinkan ekonominya, dieksploitir, bahkan terusir dari negerinya, dan dihinakan serta diperlakukan semena-mena oleh orang lain? Mari direnung dengan pikiran jernih mengapa umat Islam di era Mekah menderita, dicemooh, dihina, dimiskinkan, dan setelah era Madinah maka umat Islam amat  dihargai, disanjung, dan menjadi mercusuar dunia, bahkan akhirnya meruntuhkan kesombongan negeri besar, superpower Romawi dan Persia?

Allah berfirman dalamsuratal Kautsar:

“Sesungguhnya telah banyak karunia Allah yang telah kamu terima. Oleh sebab itu shalatlah hanya karena Allah dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang memusuhimu itu pasti akan kecewa.”

Firman Allah ini sungguh memberi pesan amat penting, hanya saja umat Islam tidak mengerti atau mengabaikannya. Asbabun nuzul (latar belakang) turunnya surat tersebut adalah derasnya hinaan ditujukan pada umat Islam, disepelekan, dipandang rendah, diejek, dimiskinkan, bahkan diteror dan diisolasi dari masyarakat pada umumnya, termasuk dihalangi/diboikot untuk dapat membeli barang kebutuhan hidup seperti bahan makanan dan obat-obatan. Umat Islam di saat berada dalam tatanan sosial sekuleristik itu hidupnya jelas tertekan. Sungguh berat kehidupan umat Islam yang hidup dalam tatanan sosial sekularistik. Di tengah pelecehan dan hinaan tersebut maka turunlahsuratal Kautsar.

Pada ayat  pertama di surat itu Allah SWT mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh lupa bahwa mereka sebenarnya telah banyak memperoleh karunia dari Allah, di mana karunia yang  tertinggi nilainya bagi manusia, yang tidak dimiliki kaum kafirin dan musyrikin, adalah hidayah IMAN kepada yang sebenar-benar Pencipta manusia dan alam semesta, yakni Allah SWT, bukan Latta-Uzza. Karunia tersebut amat luar biasa, yang akan mampu menjadi sumber kekuatan guna mengangkat kualitas hidup pemeluknya, baik di dunia maupun di akherat nanti. Iman itulah yang akan menghantar umat Islam menapak dengan benar dalam proses kehidupannya di dunia dan  mendatangkan kesuksesan hidup, terhindar dari pelecehan dan penghinaan.

Tentu kaum kafirin dan musyirikin (dan konyolnya sebagian umat Islam sendiri) tidak mengerti bagaimana IMAN pada Allah SWT bisa membawa mereka kepada sukses hidup, termasuk di dunia fana ini. Bagaimana bisa, begitu kiranya pikiran mereka yang tidak bisa menangkap makna yang benar dari IMAN KEPADA ALLAH SWT. Di sinilah Rasulullah lalu menunjukkan prosesnya, mencontohkan jalan/cara memproses IMAN kepada Allah SWT menjadi variabel pengubah kehidupan dari yang terhinakan menjadi kehidupan yang mulia!! Hanya dalam hitungan belasan tahun umat Islam YANG SEMULA DIHINAKAN menjadi umat yang MULIA & JAYA, mengalahkan adikuasa lokal, para majikan kafir di Mekah-Madinah dan bahkan secara internasional umat Islam mampu menghentikan kedholiman pemegang adi kuasa masa itu, yakni Romawi danPersia. Allahu Akbar. Bagaimana itu? Apa yang dikerjakan Rasulullah?

Bagimana umat yang dihinakan bisa menjadi umat yang disegani, berpengaruh besar, bahkan menjadi kokoh kuat dalam hampir semua bidang kehidupan duniawi, apakah harta benda,  keilmuan, dan kemampuan militernya? Firman Allah dalam surat al Kautsar itu menjadi kenyataan, di mana dalam ayat penutupnya Allah secara tersirat menginformasikan: “Sesungguhnya musuh kalian yang semula menghina, mengejek, meremehkan, dan menindas kalian itu menjadi terputus kejayaan mereka, keangkara-murkaan mereka, kesombongan mereka, terkalahkan oleh kalian wahai umat Islam, yang memegang IMAN kepada Allah SWT secara BENAR”.

Allahu Akbar.

Di sinilah lalu perlu didalami bagaimana mekanismenya agar umat Islam yang semula lemah dalam harta, lemah dalam ilmu, lemah dalam kekuatan fisik/militer, lemah dalam semangat, lemah dalam berbagai ukuran duniawi  pada umumnya berubah menjadi pemenang terhadap musuh-musuhnya, mengalahkan keangkara-murkaan kaum kuffar dan musyrik, para penindas, penyerang, yang kebanyakan adalah majikan-majikan tamak, pongah, sombong,  dan eksploitatif pada kaum lemah.

Allahu Akbar,

Hadirin Jamaah sholat Ied yang berbahagia,

Kenyataan hidup yang sedang dihadapi umat Islam di dunia pada umumnya dan diIndonesiakhususnya jelas amat memprihatinkan. Penduduk Indonesia yang mayoritasnya muslim misalnya, sering terhinakan hidupnya di dunia internasional, dilihat dengan sebelah mata oleh bangsa lain karena utang yang menumpuk, pendidikan yang rendah, moral yang rusak, dan banyak pergi ke luar dari negerinya hanya menjadi tenaga kerja bergaji murah yang mengerjakan pekerjaan yang penduduk lokal keberatan melakukan. Apakah kita masih mempunyai muka menganggap kita ini umat Islam yang berhasil hidupnya di dunia fana? Apakah kita juga berani menjamin bahwa nanti setelah mati akan masuk surga?

Kita sedih, kita prihatin melihat nasib umat Islam di negeri ini yang sebagian besarnya  hidup pas-pasan bila tidak bisa disebut melarat, selalu was-was karena di sekitarnya tidak cukup aman dari kejahatan para penjahat-pencoleng-pemerkosa, menderita tuduhan sebagai teroris sehingga lalu berusaha keras membersihkan diri sampai-sampai mau merubah perilaku keislaman yang sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RasululNya. Konyolnya lagi kita juga merasa hebat oleh sedikit umpakan negeri lain bahwaIndonesiaini sudah menjadi menjadi negara demokratis, meningkat pendapatan per kapitanya, walau kenyataannya demokrasi yang dijalankan melenceng dari tuntunan syariah, pendapatan nasional yang meningkat ternyata didominasi oleh segelintir orang. Marilah umat IslamIndonesia, khususnya ulama, pejabat, dan tokohnya, tidak mempan ternina bobokkan oleh umpakan kosong dari orang lain yang memiliki kepentingan mereka sendiri untuk mendominasi dunia.

Allahu Akbar,

Kalau dicermati dengan hati tenang dan pikiran jernih bagaimana Rasulullah mampu membawa umat Islam yang terpuruk, dihinakan, dilecehkan semasa di Mekah menjadi umat yang bermartabat, dihargai, bahkan mampu mengalahkan kaum kuffar yang sombong, materialistik, hidup bermegah-berfoya di atas penderitaan orang lain,  ternyata berbekal pada dua modal utama: 1). Hidup secara menyeluruh sesuai tuntunan Islam, baik dalam skala pribadi, keluarga, dan berbangsa-bernegara, hanya untuk memperoleh ridha Allah semata; dan 2) Hidup dengan semangat berkorban yang luar biasa untuk agama yang dipeluknya yakni Islam yang menjamin terrealisirnya rahmat bagi alam seisinya. Ke dua dalil itu tersirat tegas dalamsurat al Kautsar, yakni pada ayat keduanya. Menjalani hidup menyeluruh semata karena Allah, yang diwakili oleh perintah ‘fashalli li rabbika wan khar’ kemudian  dicontohkan nabi dengan sejelas-jelasnya. Bagaimana itu?

Dari sisi yang pertama jelas menunjukkan bahwa Nabi berislam tidak hanya shalatnya bukan? Rasulullah dalam hal pribadi seperti ibadah mahdhah, makan-minum, berpakaian yang menutup aurat, kebiasaan-kebiasaan hidup lain yang sehat jelas sesuai dengan ajaran al Qur’an. Rasulullah membangun keluarganya juga secara Islami. Kemudian setelah itu, di sini titik kunci suksesnya,  Rasulullah lalu  membangun jaringan organisasi sosial-politik yang juga Islami. Justru dari organisasi sosial-politik itulah Rasulullah lalu bisa memimpin dan mengelola wilayah negarinya secara benar, secara Islami, baik dari aspek hukum yang diberlakukan, kebijakan ekonomi yang dibuat, pembangunan kekuatan  keamanan dan militer yang dikembangkan. Semuanya itu sesuai tuntunan al Qur’an. Jangan hanya ibadah ritualnya saja yang Islami, mengurus keluarga saja yang Islami, namun berorganisasi-berpolitiknya jauh dari nilai Islami. Organisasi sosial politik yang dikembangkan  Rasulullah itu disebut di dalam al Qur’an sebagai ‘HISBULLAH’, Partai Allah, Partai Islam, Partai yang asasnya tegas Islam dan misi perjuangannya tegas menegakkan syariat Islam untuk kemuliaan, kejayaan, dan kemajuan bangsa (surat al Maidah ayat 56).

Allahu Akbar,

Dengan kekuatan Partai Islam yang dikelola secara Islami itu maka Rasulullah lalu berhasil dikukuhkan sebagai Kepala Negara Madinah al Munawaaroh, yang kemudian diurus beliau secara syar’i walau di wilayah itu ada Yahudi, Nasrani, Majusi, dan berbagai jenis kepercayaan rakyat lainnya. Negeri Madinah itulah yang kemudian berkembang semakin besar karena  diatur dengan nilai dan konsep Islam. Nilai Islam antara lain  keadilan, kejujuran, dan kesederhanaan hidup para Penguasanya. Konsep Islam yang diterapkan antara lain memilih oarang baik sebagai pejabat negara, hukum yang ditegakkan adalah hudud-qisas-ta’zir, kebijakan ekonomi yang dijalankan adalah anti riba dan  larangan komoditas maksiyat, budaya yang dikembangkan adalah budaya yang bermartabat jauh dari pornografi dan kebrutalan. Dengan nilai dan konsep Islam itulah maka akhirnya umat Islam mampu mengatasi tekanan adidaya Romawi danPersiayang kuffar, arogan, penyerang, penjajah, dan eksploitatif pada kekayaan alam negeri lain. Dengan melalui pembentukan Negeri Madinah yang Islami itulah maka umat Islam mampu mengatasi hinaan, pelecehan orang-orang kafir, baik dari unsur internal dalam negeri maupun ekternal luar negeri. Itulah hakekat penutupsuratal Kautsar diwakili ayat “Inna syaniaka huwal abtar”.

Allahu Akbar.

Dari sejarah Rasulullah dan sesuai alur pikir yang logis-rasional, orang  Islam hanya akan mampu menjadi jaya, terbebas dari hinaan, pelecehan, eksploitasi, serangan dan penindasan orang lain jika mereka mampu menyelenggarakan negeri sesuai dengan tuntunan syariat.  Tanpa adanya negeri yang dikelola secara Islami maka umat akan tetap terpecah, diadu domba, diintervensi semena-mena oleh musuhnya, dieksploitir kekayaan tanah airnya. Jika umat Islam hidup di dalam negeri yang dikelola secara sekularistik (apakah berbentuk kapitalisme, komunisme, sosialisme, dan lain-lain penamaan), umat Islam akan mudah di lemahkan aqidahnya, disusupi faham Islam sesat, dibenturkan satu dengan lain, dan akhirnya porak poranda seperti buih di tengah lautan. Seharusnya umat Islam hidup dalam sebuah negeri yang juga dikelola secara Islami, ibarat ikan hias di akuarium yang jernih airnya,  membentuk bangunan yang kokoh menjulang tinggi mampu mengatasi badai dan topan, bertahan dari serangan orang lain, baik yang halus maupun kasar. Dalamsuratas Shaff bangunan itu disebut Allah SWT sebagai “Bunyaanun Marsus’, bangunan yang kokoh kuat. Selengkapnya ayat 4 darisuratas Shaff itu berbunyi:

“Allah mencintai/menyayangi umatNya yang berjuang menegakkan kebenaran di jalan Allah (syariat Islam) dalam barisan yang seperti bangunan yang  kokoh-kuat”.

Allahu Akbar,

Bangunan sosial apa yang bisa kokoh kuat itu? Apa sekedar lembaga swadaya masyarakat (lsm) Islam atau ormas Islam atau partai Islam? Jelas bukan itu semua. Bangunan sosial yang utuh pada dasarnya adalah negara, bukan sekedar organisasi politik apalagi hanya organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. Bangunan kokoh sebagai instrumen menegakkan kebenaran yang efektif adalah sebuah tatanan sosial dalam bentuk negara yang dikelola sesuai syariat Allah terkait bidang kenegaraan. Mana ada organisai politik, apalagi ormas atau lsm yang memiliki perangkat perjuangan yang seutuh sebuah negeri yang berdaulat dan lengkap instrumennya itu?

Allahu Akbar.

Sayangnya, banyak umat Islam termasuk sebagian ulama dan tokoh Islam yang begitu sederhana cara berfikitnya, menganggap berislam itu cukup beribadah mahdhah dengan membangun rumah masjid dan surau, berakhlak baik agar tidak menyakiti hati tetangga dan teman, berkeluarga harmonis dengan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rohmah. Bagaimana dengan ibadah mahdhah atau keluarga sakinah mampu menolak ancaman dari luar yang begitu dahsyatnya? Bukan begitu yang dicontohkan Rasulullah! Janganlah berislam dengan begitu sederhananya sehingga membiarkan negerinya dikelola secara tidak Islami, disusupi orang jahat dengan ide-ide sesat, budaya maksiyat menjamur berkembang biak, dieksploitasi kekayaan tanah airnya sehingga negerinya semakin lemah, rakyat banyak tetap miskin dan semakin miskin, kekayaan tanah airnya semakin tipis dan terus menipis, budayanya rusak dan semakin rusak,  kemampuan militernya kian redup dan semakin redup seadanya, yang itupun amat bergantung pada pemberian/pilihan orang lain. Mana negeri seperti itu mampu menjadi negeri penuh kemuliaan, jaya, maju, besar menebar keadilan, kejujuran, kedamaian, dan kebaikan di dunia internasional? Umat Islam, dipimpin ulama dan tokohnya, wajib membawa umat dan bangsanya mencapai status memiliki negeri yang dikelola secara Islami menjadi bangunan kokoh-kuat berstatus ‘baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafiuur’, ibarat Madinah di era Nabi dan khulafaur rasyidin.

Allah Akbar.

Aspek kedua yang dilakukan Rasulullah dalam mengatasi penghinaaan, pelecehan, eksploitasi, dan bebagai permusuhan pada umat Islam oleh kaum kuffar adalah kesungguhan dalam  ‘berkorban’ untuk perjuangan menegakkan kebenaran Islam. Dalam merayakan Iedul Adha hal itu diwakili dalam bentuk menyembelih korban dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. Jangan sampai umat lalu keliru bahwa berkorban bagi yang mampu setiap tahun itu hanya merepresentasi nilai sosial belaka. Jika hanya sekedar membuat orang Islam miskin mendapat daging korban setahun sekali pasti itu tidak akan membuat umat Islam terentas dari kelemahan mereka yang dijadikan sasaran ejekan, pelecehan, dan penindasan oleh musuh Islam. Bahkan jika penyembelihan korban sekedar dianggap ritual Islam maka bisa dijadikan bahan olokan baru  oleh musuh Islam, yakni tuduhan bahwa umat Islam itu haus darah, ajarannya menunjukkan kesadisan dengan menyembelih hewan. Allahu Akbar, begitulah hinaan bertubi-tubi yang ditujukan pada umat Islam yang lemah. Benarkah ulama dan tokoh Islam tidak tahu hinaaan semacam itu? Kalau sudah pernah tahu mengapa tetap diam saja tidak menggerakkan umat agar bergeliat maju memperbaiki diri, berkorban untuk membangun tatanan negeri yang kokoh kuat karena dikelola sesuai syariat Allah SWT? Mengapa mereka hanya sekedar mengajari umat ibadah mahdhah, berakhlak baik,  dan membangun keluarga sakinah, tidak mengajari dan menggerakkan umat untuk berkorban harta benda dan jiwa  membela dan menerapkan ajaran Islam secara benar sesuai ittiba’ Rasulullah, membangun tatanan sosial Islami? Dalam surat al Kautsar Allah tegas menyuruh umat Islam untuk ‘berkorban’ yang berdampak membuat musuh Allah menjadi kecewa karena gagal dalam upayanya untuk melemahkan umat dan menjadikan bulan2an ledekan dan cemoohan. Mari umat Islam bangkit mengatasi kelemahan di semua bidang kehidupan melalui menyusun kekuatan sosial politik Islam yang mampu merubah negerinya dari tatanan sekuler ke tatanan yang dikelola sesuai dengan syariat kenegaraan Islam agar umat dan seluruh rakyat penghuni negeri menjadi termuliakan, termakmurkan, berkeadilan, sejahtera, harmonis, dan maju menebar kebaikan dan kedamaian ke seantero dunia.

Allahu Akbar,

Hadirin Jamaah Sholat Ied yang saya muliakan,

Bagaimana jika umat Islam mengabaikan tuntunan sosial-politik Islam tersebut. Mari kita perhatikan peringatan Allah SWT pada umat Islam yang lalai akan tugas sosial politiknya itu dan membuat Allah menjatuhkan adzabnya.

Allah SWT antara lain dalamsuratSaba’ ayat 16 memberi peringatan dengan contoh untuk bangsa di negeri Saba’ yang artinya:

“(Penduduk Negeri Saba yang secara alami tanahnya subur ternyata tidak bersyukur) dan  ingkar akan tuntunan Allah SWT (mengelola negerinya tidak syar’i), maka Allah mendatangkan adzan dalam bentuk banjir besar dan mengakibatkan kebunnya yang semula subur berubah menjadi berbuah pahit dan tanahnya gersang”

Dalam suarat al A’raf  ayat 96Allah juga menyatakan:

“…tetapi jika mereka ingkar akan syariat Allah maka akan ditimpahkan pada mereka musibah karena ulah mereka yang ingkar itu”

Dalamsuratal Maidah ayat 49  Allah juga mengancam:

“….Jika mereka ingkar ketahuilah maka Allah akan mendatangkan musibah besar karena perbuatan  mereka sendiri”

Marilah umat Islam di negeri ini menjadi  sadar dan bangun, bahwa Islam itu harus dipraktekkan secara utuh, tidak hanya ibadah mahdhah dan berkeluarga sakinah belaka, tapi negerinya juga harus dikelola secara Islami supaya datang kesejahteraan yang menyeluruh bagi umat dan bangsa. Janganlah terperangkap memahami Islam sebagai ajaran sepotong untuk ritual dan akhlak belaka dan umat lalu hidup dalam tatanan sosial sekularistik sehingga umat mudah tergerus aqidahnya, menjadi lemah dalam sosial-ekonominya, dan menjadi bahan hinaan, cemoohan, dan pelecehan.

Allahu Akbar,

Hadirin Jamaah shalat Ied yang berbahagia,

Berkorban yang diunggulkan oleh ajaran Islam melalui simbul menyembelih korban di hari raya Iedul Adha yang dagingnya dibagikan kepada fakir-miskin adalah bukti betapa ajaran Islam menyuruh umatnya untuk siap merelakan apa yang dicintainya guna menegakkan kebenaran yang diajarkan oleh Allah swt. Mari kembali diingat bagaimana bentuk pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS hanya karena untuk memenuhi perintah Allah SWT.

Kita sungguh diberi Allah wahana pengingat setahun sekali yakni hari raya Iedul Qurban ini untuk melakukan telaah diri atau introspeksi mengapa kita umat Islam Indonesia dan umat Islam di dunia ini masih saja lemah, dihina, dicemooh, berada di bawah terus, dilecehkan, difitnah dan terpuruk. Kita bangsaIndonesiayang mayoritas penduduknya muslim harus memiliki negeri yang dikelola secara syar’i sehingga menjadi negeri yang penuh kemuliaaan, kejayaan, dan kemajuan. Kita sudah merdeka lebih dari 66 tahun dan dipimpin oleh bangsa sendiri yang umumnya juga umat Islam namun cara mengelola negeri masih jauh dari tuntunan Allah SWT terkait kehidupan berbangsa bernegara.

Allah memperingatkan umat Islam betapa bila suatu negara itu terpuruk, bila tatanan bangsa-negara itu gagal  maka semua warga-negara yang berada di negeri itu akan ikut terpuruk, bukan hanya para pencoleng, koruptor, dan penjahatnya saja. Allah berfirman dalamsuratal Anfal ayat 25:

“Takutlah kalian (wahai umat Islam) akan musibah yang jika telah didatangkan oleh Allah (karena negeri itu dikelola dengan mengingkari syariat sosial-kenegaraanNya), bukan hanya akan menimpa orang jahat belaka. Dan ketahuilah bahwa Allah itu amat keras siksaanNya”.

Para ulama, cendekiawan muslim, kyai, da’i, muballigh, ustad, guru ngaji, dan orang-orang baik lainnya di negri itu pasti akan ikut menderita bila tatanan sosial kenegaraan di mana mereka tinggal telah terpuruk karena salah kelola, tidak dikelola sesuai dengan syariatNya, sehingga jauh dari perlindungan dan ampunan Allah SWT.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Adha 1432H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah pertolonganMu agar kami tidak keliru dalam mengartikan keimanan-ketaqwaan kami itu sehingga kami ini tidak menjadi  tersesat setelah kami beriman.

Ya Allah, kami ini memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana.

Ya Allah, tambahkanlah ilmu kami, kuatkanlah iman kami, dan kokohkanlah ketaqwaan kami. Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Surabaya, 10 Dzulhijah 1432 H,

Khotbah Iedul Adha

di Mesjid al Ikhlas, Tenggilis, Surabaya

Entry filed under: Agenda, Pemikiran, Syariat Islam. Tags: , .

FAITH OVERRULES SCIENCE, WHY NOT? *) NEGARA PALING ISLAMI? INDONESIA atau SELANDIA BARU atau LUXEMBURG?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: