NEGARA PALING ISLAMI? INDONESIA atau SELANDIA BARU atau LUXEMBURG?

10 November 2011 at 13:23 5 comments

Kalau orang Islam di dunia, yang awam sekalipun, ditanya negeri mana yang paling Islami rasanya akan menjawab Arab Saudi atau Kuwait atau Mesir atau Indonesia atau Pakistan atau negeri yang mayoritas penduduknya muslim seperti itu. Mereka tentu akan bilang ‘lucu, aneh bin ajaib’ atau bisa juga bilang ‘bodoh’ jika disebut Selandia Baru atau Luxemburg sebagai negeri paling Islami di dunia. Tetapi bisa saja ada orang dengan enaknya bilang negeri paling Islami di dunia adalah Selandia Baru, Luxemburg,  negeri sekuler, negeri ‘kafir’ mana saja karena ada agenda tertentu, dengan dicarikan alasan-alasannya. Di Kompas baru-baru ini ada artikel terkait itu yang membawakan dan membahas hasil penelitian sosial yang dilakukan peneliti dari perguruan tinggi di Amerika Serikat. Alih-alih mengkritik nilai ilmiah penelitian tersebut malah sepertinya si penulis terjebak masuk ke dalam alur pikiran si peneliti.

Sebelum mengulas lebih lanjut, mari direnungkan dengan jernih dan ilmiah (tidak subyektif dan beragenda lain) beberapa istilah baku, yakni definisi operasional ISLAM, KAFIR, SYARIAT, dan NEGERI ISLAMI agar jelas duduk perkaranya. ISLAM dalam kontek agama adalah ajaran yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW dengan dua acuan pokok al Qur’an dan Hadits tentang masalah kehidupan manusia yang meliputi konsep tentang alam semesta, cara beribadah, berperilaku, berkeluarga, bernegara, dll. ORANG ISLAM (disebut juga MUSLIM)) adalah pemeluk agama Islam. KAFIR adalah orang yang menolak ajaran Islam, memeluk agama atau kepercayaan lain. Islam mengajarkan tentang cara hidup yang benar (disebut SYARIAT) yang harus dilaksanakan manusia agar selamat dunia akherat. Dalam kehidupan berbangsa-bernegara, sebuah negeri yang melaksanakan syariat kenegaraan yang diajarkan Islam dalam proses pengelolaannya disebut sebagai NEGERI ISLAM (I). Dalam percontohan Nabi dijelaskan bahwa Madinah itu baru menjadi NEGERI ISLAMI karena KEPALA NEGARAnya adalah TOKOH ISLAM (Nabi Muhammad sendiri), HUKUM yang diberlakukan sesuai ajaran Islam (Hudud, Qisas, Ta’zir), kebijakan EKONOMI yang dilakukan juga sesuai tuntunan Allah SWT seperti anti Riba dan peredaran komoditas maksiat, kebijakan BUDAYA yang dikembangkan adalah budaya sesuai ajaran Islam yakni sopan, menutup aurat, menolak pornografi, free sex, kebrutalan, dan kekejaman. Bagaimana bisa disebut sebagai Negeri Islam (i) jika ketentuan2 seperti di atas diabaikan, diambil seenaknya saja beberapa aspek sosial Islam lalu dijadikan kriteria menilai kualitas Islaminya sebuah Negeri? Mana ada ketentuan ilmiah seperti itu, asal saja memberi label tanpa acuan baku? Konyol dan naif bukan? Bukankah juga bodoh jika ada orang yang hanya karena berkerudung  tertutup auratnya lalu disebut muslimah padahal dia tidak bersahadat apalagi menjalankan rukun Islam lainnya? Tidak begitulah cara memberi kriteria dalam sebuah kajian ilmiah.

Dalam penelitian tersebut yang dijadikan variabel hanya beberapa ajaran Islam terkait masalah kenegaraan secara umum seperti prinsip keadilan, hubungan internasional dan masyarakat non-muslim, perilaku ekonomi non-spesifik, HAM, tidak mengacu variabel syariat kenegaraan yang khas sesuai al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Maka hasil penelitianyapun jelas salah konklusi dan tampak lucu. Dikatakan bahwa negeri paling Islami adalah Selandia Baru sebagai urutan pertama, disusul Luxemburg yang kedua, Kanada urutan ke 7, Inggris ke 8, Australia ke 9, Amerika Sekat ke 25, sedang untuk 56 negara anggauta OKI malah menempati di bawah urutan 130 antara lain Arab Saudi urutan ke 131 dan Indonesia di urutan ke 140. Sungguh penelitian yang bias ditinjau dari kacamata ilmiah dan bagi saya tidak layak dipublikasi serta disebar-luaskan karena menyesatkan. Bagaimana sebuah negeri yang dipimpin oleh Non-Muslim, dengan Hukumnya tidak sesuai al Qur’an dan Sunnah, kebijakan Ekonominya menerapkan riba dan peredaran komoditas maksiat, budayanya vulgar serba permisif sarat pronografi disebut negeri yang Islami? Apalagi penduduknya yang muslim juga minim. Astaghfirullah. Hendaknya intelektuil muslim selektif dalam membaca jurnal internasional, memantapkan pola-pikir ilmiah Islamnya agar tidak mudah disesatkan oleh ‘penelitian’ tidak ilmiah dan tidak Islami seperti itu.

KESALEHAN SOSIAL yang juga banyak dikritisi harusnya dikaitkan dengan pengelolaan negara secara Islami, tidak hanya sekedar akhlak individual yang ‘bagus’ seperti mau antre, suka menolong, jujur, hidup bersih, dan semacamnya. Perlu difahami bahwa Islam tidak hanya mengajar ketaatan pada perilaku sosial berdimensi individu tapi juga perlu taat pada ajaran sosial-politik terkait ranah publik, termasuk cara mengelola bangsa-negara. Orang miskin karena dieksploitasi penjajah atau penguasa dholim (atau apapun julukan indah yang diberikan) akan cenderung tidak bisa hidup bersih dan banyak menolong karena untuk hidup sehari-hari saja kurang. Mengatasi eksploitasi oleh penjajah atau penguasa-pengusaha tamak hanya bisa dilakukan melalui kebijakan negara yang sesuai tuntunan Allah SWT. Apa dikiranya ideologi sekuler-kapitalistik bisa membawa kesejahteraan yang adil untuk seluruh penduduk? Lihat saja sekarang baru terbuka  betapa penduduk Amerika sendiri memprotes dominasi para orang kaya yang didukung pemerintah di negerinya. Bisa saja protes itu diredam dengan cara halus atau kasar namun pasti akan kembali muncul protes karena adanya ketidakadilan yang semakin merusak dan menyesakkan. Dari sisi axioma Islam hal itu pasti akan terjadi karena berani meninggalkan tuntunan Allah SWT dalam membuat kebijakan hukum, ekonomi, budaya. Kebijakan dalam kehidupan berbangsa-bernegara yang tidak sesuai tuntunanNya, kebijakan SEKULARISTIK,  akan membuat  masyarakat banyak menderita dan itu pasti bukan bentuk dari negeri Islami. Oleh sebab itu perlu difahamkan bahwa mengajar Islam tidak cukup tentang ibadah mahdhah dan perilaku individu yang baik, tapi menata kehidupan berbangsa-bernegara juga harus sesuai ajaran Islam. Jepang yang dulu dipuji setinggi langitpun kini hilang dari acuan negeri sukses. Mari waspada, begitu banyak negeri kaum muslimin yang tidak dikelola secara Islami sehingga kemudian rusak tereksploitir kekayaan alam dan termiskinkan penduduknya tetapi lalu dengan entengnya divonis karena mereka tidak melakukan ‘kesalehan sosial yang dimensi pribadi’, hanya mengutamakan ritual. Pernyataan seperti itu akan menjadi bumerang, membuat umat lalu menganggap ritual tidak penting lagi dan kesalehan sosiallah yang utama, padahal mereka mengartikan kesalehan sosial sekedar mau antre, hidup bersih, suka menolong, dan akhlak pribadi lainnya, tidak terkait pada keharusan pengelolaan bangsa-negara sesuai tuntunan kenegaraan Islam. Kesalehan sosial berdimensi pribadi seperti itu bagi umat yang lemah pasti sulit melakukannya karena termiskinkan, sehingga ujungnya semakin  habislah praktek keislaman umat, ritual jadi makin ditinggalkan, akhlak pribadi tidak kunjung baik, negarapun tetap diurus tidak sesuai ajaran Islam, kekuasaan dipegang figur dan partai non-Islam, dan masyarakat muslimpun akan semakin terpuruk.

Perlu ditekankan di sini bahwa rusaknya masyarakat muslim di negeri muslim karena berislamnya hanya berdimensi individual seperti ritual dan akhlak pribadi, sedang negerinya dibiarkan dikelola tidak sesuai tuntunan Islam terkait kenegaraan sehingga negeri jadi rusak dan dirusak orang. Oleh sebab itu obat yang harus diberikan adalah menyadarkan umat, selain harus terus tekun beribadah ritual dan berakhlak pribadi yang baik, juga wajib  mendukung Partai yang bermisi mengetrapkan syariat Islam dalam berbangsa-bernegara agar partai itu bisa menang Pemilu dan bangsa-negarapun lalu dikelola sesuai tuntunan Allah SWT. Kalau di negerinya ada partai Islam yang belum Islami karena ulah beberapa orang tokohnya (AD/ART sudah sesuai syariat)  maka umat hendaknya memperbaiki partai Islam itu secepatnya, atau membuat Partai berAsas Islam baru yang lebih baik, bukan malah lari ke Partai Sekuler (non-Islam) atau menjadi apatis netral/golput.

Semoga bisa mencerahkan.

Indonesia, di hari pahlawan 2011

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , .

DENGAN SEMANGAT BERKORBAN MARI BERITTIBA’ NABI YANG MELEPASKAN UMAT ISLAM DARI HIDUP DI BAWAH TATANAN SOSIAL SEKULARISTIK MELALUI HIJRAH NABI MENGAJARI UMAT UNTUK HIDUP DALAM NAUNGAN NEGARA YANG ISLAMI (Mewaspadai Strategi Penguasa Sekuler agar Umat tidak Berpolitik dan hanya berOrmas-LSM belaka)

5 Comments Add your own

  • 1. Momon Sudarma  |  29 November 2011 at 05:54

    Selama ini, kita memang sering disuguhi penjelasan-penjelasan mengenai nilai-nilai Islami, dan bukan Tatanan Islam. Nilai Islam bisa tumbuh dalam diri manusia –siapapun dia, tetapi belum tentu Muslim. Ekstrimnya, hewan dan benda alam pun memiliki sifat2 islami (misalnya tunduk patuh). Kedua sisi kehidupan ini,kadang memesona kita, walau potensial melahirkan kesalahpahaman…
    karena itu, memang membutuhkan penjelasan lanjutan, dan sekaligus melakukan kajian-kajian kritis terhadap Islam empirik yang ada di negeri kita atau belahan bumi lainnya….

  • 2. anindyumi  |  16 March 2012 at 11:26

    Karena negara2 seperti Selandia Baru yang terbukti bisa menyejahterakan rakyatnya..
    Sistem Islam tidak mampu menawarkan hal semacam itu di zaman modern, maka timbul lah apa yang disebut dengan klaim sepihak, mengakui keberhasilan sistem lain sebagai bagian dari keberhasilan apa yang ia yakini..

    Seperti halnya Muslim yang mengakui bahwa Majapahit adalah Kesultanan Muslim, atau klaim Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman..
    Sebenarnya hal seperti itu sungguh memalukan, karena bukannya mengajarkan untuk introspeksi diri melainkan membenarkan diri sendiri dari kebenaran pihak luar..

  • 3. asbani  |  2 May 2012 at 08:30

    Islam sebagai konsep sudah tidak diragukan lagi karena sistem ini datangnya dari Allah swt , tetapi implementasinya masih jauh dari semestinya , pendapat saya adalah sah – sah saja penelitian tersebut dan harus diakui bahwa di Indonesia kebersihan , kejujuran masih kurang , bukankah hal tersebut merupakan sebagian dari iman ? mungkin kita masih dalam taraf ngaku ngaku beriman ? wallahu alam bishawab

  • 4. Abdillah Akbar  |  7 September 2012 at 15:52

    Masyarakat kita, memang senang mendengarkan cerita, dongeng dongeng yang turun temurun, dan sudah menjadi kebiasaan, coba kita lihat disekitar kita, masyarakat lebih senang mendengarkan ulama atau Usdatad berceramah dari pada membaca sendiri (tentunya harus berguru) Al Qur’an dan Sunnah Rosullullah (Hadist) sehingga yang mereka fahami adalah apa yang mereka dengar dari Ustadz atau Ulama tersebut, dan enggan untuk membaca dan mempelajari isi dari Al Qur’an dan Hadist yang menjadi pedoman umat Islam diseluruh dunia

  • 5. ozii  |  12 October 2012 at 11:08

    ijin share ya gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: