MELALUI HIJRAH NABI MENGAJARI UMAT UNTUK HIDUP DALAM NAUNGAN NEGARA YANG ISLAMI (Mewaspadai Strategi Penguasa Sekuler agar Umat tidak Berpolitik dan hanya berOrmas-LSM belaka)

26 November 2011 at 07:52 2 comments

Setelah mengenalkan Islam melalui pendekatan orang per orang, dari rumah ke rumah, mengenai prinsip keimanan untuk hanya bertuhankan Allah SWT dan melakukan perbaikan akhlak pribadi, Rasulullah lalu melangkah mengajarkan dimensi Islam yang luas, yakni bagaimana umat harus bersikap terhadap sistem kenegaraan, cara mengelola bangsa-negara secara Islami. Itulah hakekat pesan utama hijrah.

Dalam kenyataan hidup di dunia fana memang sejarah menunjukkan umat Islam akan selalu mendapat tekanan berat dari para Penguasa Sekuler, penguasa yang menganggap mengelola bangsa-negara HARUS TERLEPAS DARI TUNTUNAN ALLAH SWT. Agama hanya urusan individu dan akherat, sekedar ritual dan ajaran akhlak pribadi. Negara atau Pemerintah tidak perlu membina keimanan penduduknya secara benar, membiarkan keyakinan yang salah berkembang biak di masyarakat manusia, dikemas atas nama HAM. Perlu diketahui bahwa justru keyakinan yang salah tentang makna hidup, khususnya pedoman yang harus diikuti dalam mengurus kehidupan sosial-kenegaraan itulah yang akan membuat rusaknya peradaban manusia.

Peristiwa Hijrah menunjukkan bahwa Nabi dalam mengajarkan agama Islam melangkah cepat yakni setelah umat manusia (SEBAGIAN KECIL SAJA) sudah memiliki keimanan pada Allah SWT, bukan tuhan latta-uzza, maka Nabi lalu mengajarkan bagaimana seharusnya umat Islam mengurus negara. Wahyu al Qur’an justru amat banyak turun di masa Madinah itu dan umumnya mengenai masalah bagaimana manusia mengelola bangsa, seperti bagaimana membuat kebijakan politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pertahanan-keamanan. Lihatlah isi al Qur’an, bukankah semua masalah poleksosbudhankam itu ada tuntunanNya? Justru ajaran ritual dalam al Qur’an amatlah sedikit petunjuk tehnisnya. Apakah isi al Qur’an seperti itu  layak diabaikan umat, apalagi oleh ulama/tokoh Islam?

Umat Islam yang hidup di bawah kekuasaan sekuler jelas amat menderita, bukan hanya sering diintimidasi karena dinilai merupakan ancaman hegemoni kekuasaan mereka, juga terus berupaya dikerdilkan aqidahnya, yakni makna agama terus dipaksakan hanya sekedar ketuhanan secara umum dan ritual-akhlak pribadi belaka. Di samping itu umat juga dilemahkan kemampuan fisik-materielnya seperti ekonomi, budaya, dan peran politiknya. Di era Mekah zaman nabi sekalipun jelas sekali betapa umat Islam diremehkan, dihina, dicemooh, ditindas, bahkan disiksa-disakiti majikan musyrik saat kekuasaan sedang dipegang penguasa musyrik.

Hijrah Rasulullah ke Madinah menandai perubahan besar nasib umat Islam dari umat yang terpuruk dan terintimidasi menjadi umat yang mulia dan sejahtera, menebar peradaban tinggi manusia. Kekuasaan Romawi dan Persiayang arogan, penebar paganisme dan hedonisme, akhirnya tersadarkan kekeliruannya, berubah  menjadi negeri yang tahu diri tidak semena-mena pada umat manusia. Itulah Islam yang benar, tidak hanya mengajarkan ketuhanan yang umum dan ritual-akhlak pribadi, tapi mengajarkan bagaimana seharusnya sebuah tatanan bangsa-negara dikelola dengan tuntunan Allah SWT  sehingga menjadi bangsa-negara yang mulia, damai, sejahtera, mercusuar kebaikan dan kebenaran hidup untuk masyarakat luas di  negeri negeri lain.

Jika umat Islam hanya berkutat pada masalah keimanan yang sempit, mengutamakan dimensi individu, terutama ritualnya, membiarkan negerinya dikuasai dan dikelola orang yang tidak mengerti keberadaan tuntunan sosial-kenegaraan yang diajarkan al Qur’an maka hidup umat secara umum akan menderita, dicurigai, dituduh berbuat onar, berusaha makar, teroris, dll. Di dalam  negeri yang dikuasai Figur Sekuler keberadaan umat Islam masih mungkin, beberapa malah bisa memperoleh posisi sosial lumayan, bahkan ada yang berhasil tersejahterakan ekonominya, tapi perhatikan secara keseluruhan, tentu umumnya umat relatif amat tidak berdaya, masih lemah secara sosial-politik, miskin, sakit, tertinggal pendidikannya, serta sering terintimidasi baik skala kelompok maupun skala nasional. Pada lingkup dunia, kekayaan tanah air negeri muslim akan tergerus semakin habis untuk kepentingan asing yang dibantu penguasa sekuler setempat yang haus akan sumber daya alam demi kenyamanan fisk duniawi yang tiada batas kepuasannya.

Dalam proses pelemahan global seperti itu banyak ulama dan tokoh umat justru terperosok dalam rekayasa Penguasa Sekuler melalui pemberian kelonggaran untuk boleh aktif bergerak dalam masyarakat namun hanya sekedar mengerjakan kegiatan sosial dan ritual, seperti boleh aktif mendirikan rumah ibadah dan kegiatan sosial umum seperti pendidikan-kesehatan-panti asuhan dan semacamnya. Sering ulama dan tokoh Islam sudah merasa berbangga hati dengan beraktifitas sosial tersebut sepertinya dengan begitu dia sudah punya andil besar menyejahterakan umat dan bangsanya padahal Penguasa Sekuler negeri muslim tersebut dengan diam-diam serba rahasia terus mengeruk kekayaan alam tanah air untuk kepentingan pribadi-kroninya bekerja sama dengan kekuasaan sekuler asing. Selanjutnya Penguasa Sekuler itu juga mengumpulkan kekuatan fisk-materiel, dibantu kekuatan sekuler asing, untuk terus bisa berkuasa di negeri tersebut. Ulama dan Tokoh Islam akan datang silih berganti namun tetap saja sekedar menjadi tokoh sosial dengan umatnya yang terus terpinggirkan dalam kehidupan nyata.

Bukan begitu contoh Nabi. Beliau setelah berhasil menyadarkan manusia akan keimanan dan ketaqwaan yang benar, tidak menunggu semua muslim menjadi mukmin yang sempurna,  Rasulullah segera melakukan lompatan perjuangan Islam dengan mengambil alih secara politik pengelolaan negeri sebagai Kepala Negara Madinah demi menyelamatkan umat manusia yang selama itu terpuruk dan tereksploitir oleh Penguasa Sekuler. Bisakah ulama dan tokoh Islam negeri ini, tanpa menunggu semua umat Islam Indonesia menjadi sempurna keimanan-keislamananya, lalu mengajak umat untuk terjun ke dunia politik supaya negerinya segera dikelola secara Islami sesuai tuntunan Allah SWT agar bangsa-negaranya segera terlepas dari hegemoni kekuasaan sekuler asing yang arogan dan tamak akan kekayaan alam tanah-airnya?

Kegiatan yang hanya bersifat sosial-kemasyarakakat umum apakah namanya Ormas atau LSM atau apapun istilahnya tidak akan mampu membuat prestasi besar, malah bisa masuk perangkap orang lain di mana kekuasaan dalam kehidupan berbangsa-bernegara tetap berada di tangan Figur Sekuler, dalam pengaruh Kekuasaan Sekuler asing. Sudah saatnya umat Islam Indonesia keluar dari perangkap APOLITIK orang lain karena Rasulullah mengajarkan bahwa berIslam itu harus secara utuh/penuh, ya lingkup pribadi, berkeluarga, dan mengelola bangsa-negaranya secara Islami. Umat Islam Indonesia tidak boleh hanya sekedar berislam secara ritual- akhlak pribadi saja. Ulama-tokoh Islam Indonesia sudah waktunya memobilisasi umat untuk terjun ke kancah politik nasional agar bisa menjadi penguasa negeri yang lalu mengelolanya dengan syariat kenegaraan demi menyelamatkan aqidah umat, melindungi kekayaan tanah-air dari jarahan asing, menyejahterakan bangsa, dan menjadi motor terbentuknya peradaban mulia  manusia di dunia.

Indonesia, Tahun Baru Islam 1433H.

Entry filed under: Pemikiran, Politik, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , , .

NEGARA PALING ISLAMI? INDONESIA atau SELANDIA BARU atau LUXEMBURG? ‘SPRING’, ‘FALL’, ATAU ‘DARKNESS’, Komparasi Huruhara yang terjadi Arab dan Indonesia

2 Comments Add your own

  • 1. Bambang Poernomo S.  |  30 November 2011 at 13:53

    Di negara paternalistik seperti Indonesia barangkali perlu contoh nyata – bukan sekedar slogan – pemimpin Indonesia yang berakhlak Islam dan sukses memimpin kelompoknya dengan cara Islami. Masalahnya pemimpin yang berhasil dalam kelompok kecil sering mengubah tuhan-nya ketika memimpin kelompok yang lebih besar, yaitu dari bertuhan kepada Allah swt, menjadi bertuhan kepada duit, harta, dan kekuasaan (Bambang Poernomo S.)

  • 2. supriyadi slamet  |  30 November 2011 at 14:20

    penguasa sekuler merasa lebih pintar dan hebat dari Alloh sehingga sanggup membuat aturan yang lebih relevan dan kredibel dari agama. faktanya, mengatur rumah tangganya sendiri semrawut. selamat berjuang Bapak. Baarokallohu fiikum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: