MENGAPA AGAMA ISLAM TERUS DISERANG, TIDAK SEPERTI YANG LAIN?

25 March 2012 at 18:46 1 comment

Serangan pada agama Islam berjalan simultan pada dua sasaran, yakni terhadap institusi keislaman dan umatnya. Kasus internasional seperti Salman Rusydi dengan ‘Satanic Verses’ nya, Wilder di Belanda, Pernyataan Paus, Pembakaran al Qur’an, juga kasus nasional seperti Nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW, al Qur’an sebagai produk budaya, berhaji tidak harus di Arofah dan tidak pada 09 Dhulhijah, pengingkaran Hadits, dan semacamnya adalah bentuk serangan pemikiran pada institusi Agama Islam, baik terhadap aqidah maupun syariah. Pada sisi lain serangan fisik militer terhadap umat Islam, apakah skala komunitas maupun negeri muslim terus berlangsung, seperti penaklukan Pemerintahan Islam di Afganistan, diteruskan ke serangan pada negara Iraq dengan alasan penuh fitnah dan kebohongan, Pergolakan sosial yang membuat porak-porandanya Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Syria oleh kelompok dalam negeri namun dikendalikan dan dipersenjatai oleh asing jelas merusak/menghancurkan kekuatan umat Islam. Palestina yang terus menerus diperangi secara politik dan  milter sehingga gagal menjadi negara merdeka berdaulat adalah contoh  pelemahan umat bentuk lain. Sikap permusuhan terhadap Iran yang mau mengembangkan kemampuan nuklir untuk kepentingan damai begitu sistematis dan agresif, bahkan diancam serangan militer setelah memperoleh berbagai sanksi ekonomi dari PBB oleh inisiatif Barat, jelas bukti lain lagi betapa agama Islam dan umatnya terus mendapat permusuhan. Ironisnya, sebagian pemeluk agama Islam malah ikut melemahkan agamanya baik dalam hal mengacaukan pemikiran keislaman maupun ikut menghancurkan kekuatan umat Islam sendiri. Sebagian lain membantu musuh Islam melalui cara tidak langsung, samar, seperti menyebut tidak ada serangan pada agama Islam, bahwa pertikaian pemikiran itu adalah hikmah dan penyerangan fisik-militer seperti kejadian di atas tidak ada kaitannya dengan agama. Astaghfirullah. Tidak sadarkah (tokoh) umat Islam seperti itu bahwa mereka akan dikenai adzab Allah SWT yang menimpanya dunia-akherat sesuai sunnatullah?

Sebagaimana sudah banyak difahami, Islam sebagai tuntunan cara hidup (‘way of life’) haruslah dipatuhi secara keseluruhan (‘kaffah’), tidak sepotong-sepotong, supaya hidup manusia berhasil dunia akherat.  Cara hidup Islami itu memang khas, beda dengan cara hidup penganut keyakinan yang bukan berasal dari Islam. Cara hidup Islami acuannya juga jelas yakni al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Agama Islam tidak hanya memandu cara hidup terkait masalah ibadah ritual (‘mahdhah’) seperti sembahyang (dalam Islam disebut shalat), puasa, atau doa saja, namun juga memberi tuntunan bagaimana mengurus keluarga, mengelola masyarakat- bangsa-negara. Agama Islam juga memberi panduan bagaimana cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang benar dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana memahami hakekat alam semesta, dan memberi makna yang tepat terhadap sains (ilmu pengetahuan) dan teknologi yang semakin pesat perkembangannya di dunia. Begitu utuh lingkup agama Islam, menyentuh seluruh  aspek kehidupan manusia, sehingga manusia sesungguhnya tidak memerlukan sumber acuan lain lagi untuk bisa hidup benar dan berhasil di dunia fana ini. Sains-teknologi yang selama ini banyak dituhankan manusia dan dianggap panduan hidup paripurna ternyata sarat dengan kekeliruan manusiawi, apalagi jika sudah menyangkut permasalahan sosial, sehingga bisa membawa manusia ke jurang kerusakan-kehancuran. Islam memasukkan sains-teknologi sebagai bagian dari Islam di mana kekeliruan-kekeliruan yang terjadi akan dikoreksi oleh sumber wahyu yang dituntunkan Allah SWT melalui jalur langsung ke nabi Muhammad SAW. Umat Islam wajib mendalami dan mengembangkan sains-teknologi namun dalam koridor naungan payung dan koreksi oleh al Qur’an dan Sunnah (silahkan  rinciannya bisa dilihat di artikel lain BLOG ini).

Dilihat dari begitu maraknya serangan pemikiran dan fisik-militer terhadap agama Islam dengan umatnya maka fakta tersebut sungguh mengherankan serta patut menjadi pertanyaan besar mengapa agama ini amat deras diganggu, berupaya dilemahkan, dan dimusuhi. Jika mau sedikit merenung saja sesungguhnya jawabannya tidak rumit. Seandainya agama Islam hanya mengajarkan cara yang spesifik bagaimana manusia harus menyembah tuhannya saja (ritual), tentu tidak akan banyak orang peduli, silahkan semau mereka (orang Islam itu). Namun begitu agama Islam juga memberi tuntunan bagaimana  manusia harus mengelola masyarakat-bangsa-negara supaya terwujud kesejahteraan dan ketenteraman bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin) maka otomatis orang lain (penentang Islam) yang di benaknya memiliki kehendak berbeda dalam mengurus masyarakat-bangsa-negara tentu menjadi tersaingi. Mereka memiliki cara sendiri (non-Islami) bagaimana harus mengelola masyarakat-bangsa-negara di dalam mana mereka berkepentingan. Oleh sebab itu pada  skala masyarakat-bangsa-negara yang penduduknya pasti plural umat Islam lalu berhadapan dengan berbagai macam penganut ideologi yang bersifat non-Islami, seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, hedonisme, dll (sebut saja ideologi SEKULER). Berhadapan tentu saja tidak harus dalam artian berbeda pendapat begitu saja, namun di dalamnya terkandung tantangan serius “jangan cara Islami yang dipakai dalam mengurus masyarakat-bangsa-negara”. Proses persaingan itu lalu berwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari benturan pemikiran, perdebatan, tekanan ekonomi dan kekuasaan, bahkan sampai memerangi secara fisik-militer. Di sinilah sesungguhnya masalah pokok yang terjadi dalam dunia manusia: persaingan, persaingan,  dan persaingan tentang cara mana yang akan dipakai dalam mengelola sebuah masyarakat plural, apakah pada skala komunitas kecil atau skala bangsa-negara, bahkan skala yang lebih luas lagi, yakni dunia internasional. Dalam kehidupan sosio-kultural manusia, bahkan di dunia makhluk hidup pada umumnya, berlaku kaedah ekologi sebagai sunnatullah bahwa  makhluk yang berada dalam spesies yang sama (manusia tergolong satu spesies: homo sapien), akan mengalami interaksi kompetisi (persaingan) karena memiliki kebutuhan hidup yang sama. Manifestasi interaksi kompetisi tersebut  bentuknya bisa bermacam-macam namun esensinya adalah persaingan. Di sinilah hakekat permasalahannya, tidak bisa ditolak atau dinafikan, tapi harus dihadapi, di selesaikan oleh umat Islam.

Mengapa cara Islami dalam mengelola masyarakat-bangsa-negara yang plural harus ditentang atau bahkan dimusuhi? Jawabannya juga sederhana: mereka yang tidak sefaham dengan cara Islami memiliki kepentingan pribadi dan kelompok terkait  masalah memperoleh kebutuhan hidupnya (mereka). Di satu sisi ada yang khawatir jika cara Islami dipakai mengelola masyarakat-bangsa-negara maka kelompok mereka tidak akan mendapatkan kebutuhan hidupnya secara memadai. Mereka yang masuk kelompok ini tidak mau secara jernih melihat substansi ajaran sosial-kenegaraan Islam yang jelas2 amat rasional menjamin mampu menyejahterakan semua warga negera apaun agama yang dipeluknya tanpa pilih kasih. Di sisi lain ada yang memang memiliki motivasi buruk, yakni mau mengeksploitasi sebanyak-banyaknya kekayaan dunia untuk dinikmati sendiri semaksimal mungkin senyampang mereka hidup, yang apabila cara Islami yang diterapkan maksud tersebut akan terhalang. Mereka berfikir jika cara Islami yang dipakai untuk mengelola masyarakat-bangsa-negara maka mereka tidak mampu merealisir  agenda terselubungnya karena cara Islami memang tegas untuk memberantas perbuatan jahat dan eksploitatif (ingat kasus penjajahan), menindak perilaku/budaya tidak beradab termasuk kebrutalan, porno, dan perzinahan, menjaga kekayaan tanah air agar tidak diekspoitir fihak asing dan akan dikelola efisien untuk kepentingan masyarakat luas terutama untuk memberdayakan  mereka yang sedang kekurangan, hukum akan menjerakan bagi penjahat dan diberlakukan tanpa pandang bulu, pemimpin harus hidup sederhana sesuai dengan tingkat kehidupan rakyat pada umumnya, tidak lagi bisa menimbun kekayaan,  kekuasaan akan diberikan pada orang yang berkualitas baik dalam hal agama, keilmuan, dan manajemen sehingga para munafik, penipu, korak, pembohong akan tersisih dalam pemerintahan. Semua aspek pengelolaaan masyarakat-bangsa-negara seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, ketertiban (poleksosbudhankam) sudah dituntunkan oleh Allah SWT melalui sumber acuan al Qur’an dan Sunnah, bersifat amat spesifik, dan berbeda nyata dengan cara pengelolaan masyarakat-bangsa-negara yang non-Islami (SEKULER). Di sinilah sesungguhnya sumber utama dari semua masalah gangguan, penentangan, dan permusuhan pada agama Islam.

Upaya penentangan dan  permusuhan terhadap agama Islam bisa berwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari yang amat kasar seperti penjajahan atau pendudukan wilayah atau penyerangan secara fisik-militer, sampai ke cara yang amat halus yakni mengacaukan pola pikir umat Islam melalui upaya penyesatan  pemikiran keislaman di kalangan umat Islam sendiri. Hal terakhir inilah yang sering disebut sebagai perang pemikiran. Perlawanan terhadap agama Islam bukan saja berskala lokal namun sudah  merambah ke skala nasional dan internasional.

Untuk mengatasi segala bentuk penentangan dan permusuhan terhadap agama Islam seperti disebutkan di atas maka umat Islam dituntut harus kuat, baik dalam hal keyakinan keimanannya, keyakinan akan benar dan baiknya syariat Islam di semua dimensi kehidupan, juga harus unggul dalam pemikiran, serta kokoh secara  sosial-fisiknya.

Kekuatan keyakinan harus terus dibina dengan pemantapan tauhid, yang salah satu kaidahnya adalah kemantapan hati bahwa tidak akan terjadi kejayaan di dunia-akherat tanpa Islam (“laa izzata illa bil Islam”). Kekuatan pemikiran harus terus dimantapkan dengan menambah kemampuan olah pikir, penguasaan sains-teknologi, dan kecerdasan menjawab segala bentuk serangan yang mengarah pada pelecehan substansi ajaran syariat. Jawaban  secara ‘naqli’ (alasan nash al Qur’an-Hadits) dan ‘aqli’ (alasan rasional yang sehat) terhadap argumen kelompok pendukung faham sesat seperti Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme, dan musuh Islam secara luas, termasuk masalah peraguan akan keabsahan al Qur’an-Hadits, tuduhan Radikalisasi dalam Islam, dan penyimpangan makna Rahmatan lil ‘Alamin harus terus dikembangkan. Argumentasi yang berdasarkan naqli dan aqli perlu terus proaktif disiapkan mengantisipasi kreatifitas serangan pemikiran fihak lawan. Materi jawaban diperlukan untuk menanggapi pemikiran menyimpang sebagaimana yang sering dilontarkan oleh pendukung faham liberalisme, sekularisme, pluralisme, dan lainnya yang gencar beroperasi di negeri ini, termasuk polemik keabsahan Akhmadiyah, upaya pembubaran Ormas Islam yang menonjol seperti MUI, alasan pembatalan perundang-undangan terkait penodaan agama, promosi tokoh aliran sesat internasional yang mau disusupkan ke tengah umat Islam Indonesia, adu domba sesama  madhab, dan permasalahan pertarungan pemikiran lain-lain terkait agama Islam. Ulama, mubaligh, dan cendekiawan muslim perlu memperkaya diri dalam  menambah bahan untuk menangani tantangan pemikiran sesat yang terus menerus dilontarkan para penentang dan musuh Islam, yang selanjutnya perlu diteruskan ke umat yang awam agar tidak mudah terpengaruh dan menjadi goyah keimanan mereka.

Kemampuan sosial dan fisik umat juga harus dikembangkan melalui pembinaan kekuatan organisasi, khususnya kekuatan organisasi politik (Partai Politik berAsas Islam) yang memikul tanggung jawab untuk memenangkan persaingan dalam perebutan kekuasaan formal negara agar bisa dibentuk dan diterapkannya  Pemerintahan dan Kebijakan Nasional yang Islami. Di samping upaya memperkaya diri dengan berbagai argumentasi dalam  menjawab serangan pemikiran menyimpang yang dilontarkan musuh Islam seperti yang diuraikan sebelumnya, tentunya umat juga harus difahamkan akan pentingnya masalah kemampuan untuk bertahan dan memenangkan pertarungan “non-pemikiran”. Perlu diketahui bahwa perang pemikiran akan terus berlangsung bahkan bisa mendominasi wahana sosial umat Islam di sebuah negeri muslim apabila kekuasaan formal pemerintahan negeri tersebut memberi hati pada para pengikut faham sesat Islam itu. Pendukung faham sesat Islam pasti tidak henti-hentinya akan terus melakukan serangan pada substansi keimanan dan syariat Islam melalui berbagai forumnya dengan dukungan dana dan fasilitas dari kelompok di dalam dan luar negeri. Oleh sebab itu umat Islam harus disadarkan secepatnya bahwa perlu segera memiliki Pemerintahan Negara yang Islami yang proaktif menindak perilaku warga negara yang bermaksud menodai ajaran agama Islam. Untuk mencapai tujuan mulia dan strategis ini harus digunakan cara efektif-efisien, yakni umat beramai mendukung kekuatan politik (Partai Politik) yang memiliki visi menegakkan Pemerintahan yang Islami. Umat perlu faham bahwa dukungan seperti itu merupakan kewajiban syar’i bagi dirinya sebagai orang Islam. Jangan sampai umat Islam dibiarkan tidak peduli pada kegiatan politik praktis sehingga lalu bersikap netral saja (menjadi golput) dalam pemilu memilih pemimpin, apalagi jika sampai mendukung  Figur-Partai Politik Sekuler yang tidak memiliki visi syar’i dalam mengelola Indonesia. Ulama, mubaligh, dan cendekiawan muslim selain perlu canggih dalam menjawab pemikiran menyimpang terhadap ajaran Islam, juga seharusnya mengajarkan Islam Politik pada dakwah-dakwah mereka, tidak hanya mengajari ritual dan akhlak pribadi Islam saja.

Semoga umat Islam Indonesia memperoleh petunjuk dan kemudahan dari Allah SWT dalam upayanya membuat negerinya menjadi negeri “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”, aman sejahtera dalam berkah dan ampunan Allah SWT, melalui kesadaran untuk memenangkan pertarungan pemikiran dan pertarungan politik di negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.

Surabaya, akhir Maret, 2012

Entry filed under: Pemikiran, Sosial Budaya, Syariat Islam. Tags: , , , , , .

MEWASPADAI ‘DEMOKRASI’ SEBAGAI SELUBUNG MENEBAR KEKUASAAN BUKAN KESEJAHTERAAN. KASUS BBM MENUNJUKKAN RINGKIHNYA KEBERSAMAAN ANTAR PARTAI ISLAM. Kurang teguh Berideologi / Kurang Bersilaturahmi / Sedang Terperangkap?

1 Comment Add your own

  • 1. Ainul Yaqin  |  28 March 2012 at 15:03

    Islam adalah ya’luu walaa yulaa alaih, karena itulah banyak yang cemburu. Penolakan Barat terhadap Islam bukan karena Islam jelek, tetapi karena Barat cemburu pada Islam, seperti juga penolakan orang kafir Qurays pada Nabi juga karena hal yang sama. Hati kecil Goldziher dalam memandang Islam sama dengan hati kecil Abu Jahal melihat Nabi Muhammad, keduanya sama-sama kagum sekaligus iri. Yang aneh adalah para muslim pengasong liberal, kenapa bisa ikut-ikutan jalannya orang yang sakit hati seperti ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2012
M T W T F S S
« Jan   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: