GERAKAN DAKWAH ITU BAIK TAPI TIDAK CUKUP UNTUK MEMBAWA KE KEJAYAAN ISLAM DAN KEMULIAAN KAUM MUSLIMIN

8 July 2012 at 16:24 2 comments

Dalam Pelatihan Muballigh di Mesjid al Hilal kemarin dengan peserta sekitar 100 orang da’i dari berbagai kalangan, ada peserta yang mengungkapkan pendapat bahwa jawaban satu2nya untuk membawa kejayaan Islam dan umat adalah gerakan dakwah. Saya katakan itu keliru besar karena dua alasan syar’i, yakni: 1). Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam sehingga berhasil membawa kejayaan Islam dan kemuliaan umatnya TIDAK HANYA DENGAN DAKWAH SAJA; dan 2) Bahkan dalam skala  individualpun dakwah bisa terhalang oleh hati manusia yang sudah tertutup rapat yang tidak akan bisa menjadi sadar oleh nasehat  apapun (surat al Baqarah ayat 6 yang maknanya bahwa orang kafir itu akan tetap saja kafir walau diingatkan bagaimanapun).

Kedua fakta di atas sering dilupakan umat Islam dalam upayanya menyebarkan kebenaran yang diajarkan Allah SWT, apalagi jika sedang berada dalam tekanan berat lawan Islam dalam skala makronya (pemerintahan yang tidak Islami). Memang banyak kalangan Islam yang menganggap  hanya dengan gerakan dakwah  akan tercapailah cita-cita izzul Islam wal Muslimin, lalu mengabaikan/meninggalkan cara-cara lain yang dicontohkan nabi, sehingga umatnya  menjadi terperangkap  pola pikir keislaman yang salah dan  hidupnyapun terperosok dalam keterpurukan.

Lalu apa selain dakwah yang diperlukan umat dalam upaya  mencapai kejayaan Islam dan kemuliaan hidup mereka di masa DAMAI? Rasulullah jelas menunjukkan caranya, yakni POLITIK, gerakan yang bertujuan mengendalikan tatanan negara agar sesuai tuntunan Allah SWT sehingga tidak dimanfaatkan orang untuk dieksploitasi dan dibawa ke arah kedholiman yang membawa kerusakan umat manusia. Dengan lingkungan makro (negara) yang dikelola/terkendali sesuai  tuntunan Allah SWT maka manusia  (bangsa yang plural) akan tersejahterakan serta terselamatkan dari kerusakan akhlak, dan umatpun termuliakan. Itulah sebabnya di masa Nabi, Islam bukan hanya sebagai gerakan dakwah tapi juga sebagai HIZB, institusi Partai Politik yang mengusung Ideologi Islam, berhadapan dengan Ideologi Sekuler yang dibawa Yahudi, Nasrani, Musyrikiin. Ideologi Islam itu tidak mungkin bisa direalisir oleh gerakan dakwah yang NETRAL TERHADAP POLITIK PRAKTIS. Gerakan dakwah baru berhasil membawa kejayaan Islam dan umatnya jika bersama dan berfihak pada Partai Politik Islam yang mengusung misi IDEOLOGI ISLAM. Itulah hakekat POLITIK sebenarnya. Sungguh menyesatkan umat jika tegas menolak untuk berpolitik praktis, namun ternyata MEMBIARKAN SAJA UMAT MEMILIH PARTAI POLITIK SEKULER yang tidak memperjuangkan ideologi Islam dalam menjalankan kekuasaan negara. Gerakan dakwah yang dimensinya memberikan nasehat ritual plus akhlak pribadi dan ajakan beramal sosial tentu baik saja, namun tidak akan mampu membawa ke kejayaan Islam dan kaum muslimin. Namun perlu difahami pula jika upaya dakwahnya mengajarkan umat untuk NETRAL dalam politik praktis maka itu sudah berdampak kontra-produktif terhadap perjuangan tercapainya izzul Islam wal muslimiin. Dan apabila dakwahnya malah mengajak umat Islam mendukung Partai Sekuler naka pasti itu melawan syariat dan terkena adzab Allah SWT. Sungguh disayangkan bahwa banyak Ormas-LSM Islam di Indonesia yang bergeraknya hanya  gerakan dakwah terbatas pada ritual dan amal sosial saja sehingga negerinya tetap dikelola secara sekularisktik selama berpuluh tahun merdeka. Ujungnya? Penilaian PBB di tahun 2012 menyatakan bahwa negeri ini masih menjadi atau mendekati ‘Negara Gagal’. Astaghfirullah.

Terkait dengan masalah Dakwah dan Politik ini saya jadi teringat pada Tanwir Muhammadiyah 21-24 Juni 2012 yang lalu di Bandung (lihat Republika 23, 24, 25 Juni 2012). Bahasan-bahasan di sana  bisa menjadi pelajaran bagaimana sebuah Ormas Islam besar di negeri ini  berfikir tentang  Dakwah, Politik, Lingkup gerak organisasi, dan Pandangan tentang negerinya. Di sana ada bahasan variatif sekali, mulai dari upaya membangun Syarikat Saudagar Muhammadiyah, evaluasi aktifitas ekonominya yang sedang bangkit dengan aset di bank lebih dari 20 Triliun, Gerakan Udara Bersih, masalah Pelayanan kesehatan-pendidikan, serta konsep Dakwah dan Politik.

Terkait dakwah misalnya diberitakan perlunya mengembangkan peningkatan KUANTITAS pendakwah/muballigh untuk mengatasi penurunan jumlah muballigh, melalui produk Fakultas Ilmu Agama dan Pondok Pesantern yang dikelola Muhammadiyah. Tidak ada bahasan tajam tentang apa MATERI DAKWAH yang seharusnya disampaikan muballigh Muhammadiyah ke umat. Apakah sebatas materi tauhid, ritual (menurut keyakinan Muhammadiyah), akhlak pribadi, dan amal sosial, ataukah harus menyentuh materi Ideologi Islam, seperti Kepemimpinan dalam Negara (termasuk Partai Politik yang harus dipilih atau Kepala Negara/Daerah yang harus dipilih dalam pemilu dan pilkada), Kebijakan Ekonomi yang harus diterapkan, Hukum yang harus dibuat-ditegakkan demi ketenteraman-ketertiban negara.

Terkait program pelayanan kesehatan dan pendidikan yang merupakan basis aktifitas sosial Muhammdiyah malah sempat ada ‘keluhan’ bagaimana ekspansi lembaga pendidikan pemerintah di sejumlah daerah ditengarahi  mematikan institusi pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah  padahal aktifitas Muhammadiyah di bidang itu justru sangat meringankan tugas pemerintah. Disarankan pemerintah meningkatkan sinergi dengan ormas-ormas Islam besar seperti Muhammadiyah karena dua entitas ini (Pemerintah dan Ormas Islam) sama-sama mempunyai tujuan mencerdaskan bangsa dan menyejahterakan rakyat. Jika tidak ormas yang ikut membantu maka beban negara tentu sangat berat. Begitukah pola pikir yang berkembang, bukannya mencermati bagaimana Pemerintah, yang memang harus bertanggung jawab untuk menyejahterakan bangsanya, mengurus bangsa dengan benar agar kewajibannya terpenuhi dengan baik?

Dalam forum itu juga  keluar bahasan tentang IDEOLOGI MUHAMMADIYAH.  Luar biasa, sebuah Ormas memiliki ideologi, padahal ideologi itu terkait tata pengelolaaan bangsa-negara. Bagaimana itu?  Diuraikanlah panjang lebar tentang ideologi Muhammadiyah tersebut dengan jargon-jargon kekinian yang membuat awam jadi tidak faham atau malah bingung. Dinyatakan bahwa ideologi Muhammadiyah itu adalah ‘Ideologi Islam yang berkemajuan’, yakni Islam sebagai dienul hadlarah, yang mengandung tentang kemajuan untuk mewujudkan  peradaban umat Islam yang utama, memandang tajdid sebagai pembaharuan kembali pada al Qur’an dan Sunnah dengan mengembangkan ijtihad yang menampilan corak purifikasi dan dinamisasi untuk mewujudkan Islam sepanjang zaman, bercorak reformis-dinamis yang memiliki sifat wasithiyah (tengah, moderat). ‘Ideologi Muhammadiyah’ ini katanya membedakan dengan ideologi2 lain yang besifat serba ekstrem, mengedepankan prokemajuan anti kejumudan, properdamaian dan anti kekerasan, prokeadilan dan anti penindasan, pro kesamaan dan antidiskriminasi. Begitulah gambaran ideologi Muhammadiyah. Aneh, jelas diskripsi itu menyimpang dari makna ideologi pada umumnya yang dikaitkan dengan ketata-negaraan. Pernyataan itu lebih mirip FAHAM ISLAM  daripada penjabaran suatu ideologi. Islam sebagai ideologi seharusnya membahas bagaimana cara mengelola negara itu sesuai tuntunan Allah SWT terkait pengelolaan negeri, termasuk materi Hukum serta cara membuat dan melaksanakannya, kualitas Pemimpin dan cara pemilihannya, Kebijakan Ekonomi yang diterapkan, Budaya luhur yang  dikembangkan, dan  bagaimana negeri itu dibuat aman dan berdaulat, tidak didekte asing.

Kemudian juga ditampilkan KHITTOH MUHAMMADIYAH. Khittah tersebut ternyata berkait dengan pemahaman politik untuk warga Muhammadiyah.  Ijtihad Politik Muhammadiyah diberitakan akan lebih memilih strategi perjuangan pembinaan masyarakat dan tidak menempuh perjuangan politik praktis dalam ranah kekuasaan negara. Khittah tersebut didasarkan pada pandangan bahwa politik itu urusan duniawi yang format dan strateginya merupakan ranah ijtihad, namun tidak mengandung makna antipolitik dan apolitik. Muhammadiyah memosisikan politik dalam makna yang luas, yakni sebagai aspek dan sarana perjuangan membangun kehidupan bangsa-negara. Pernyataan tersebut terkesan amat generik,  membuat orang bertanya-tanya, apakah yang dimaksudkan dengan semua itu adalah bahwa   Muhammadiyah tidak perlu memiliki idealisme bagaimana seharusnya negeri ini dikelola (supaya jalannya sesuai tuntunan Allah SWT) dan berupaya merealisirnya, juga bagi Muhammadiyah tidak masalah siapapun yang akan memimpin negeri (mukmin, muslim, sekuler)?

Dalam penutupan tanwir itu lalu dikemukakan berbagai hal menyangkut kehidupan berbangsa-bernegara, bagaimana Muhammadiyah memandang perlunya langkah-langkah ‘penyelamatan bangsa melalui kepemimpinan dalam politik nasional’. Disampaikanlah kriteria Pimpinan Negara (tentunya termasuk atau yang utama adalah Presiden) agar memenuhi 7 syarat: 1) Visioner (visi yang sesuai dengan cita-cita bangsa nasional para pendiri bangsa); 2). Nasionalis-Humanis (komitmen kebangsaan yang kuat dan mendorong nilai kemanusiaan yang luhur); 3). Mampu membangun solidaritas bangsa yang majemuk; 4). Risk taker (berani ambil resiko); 5). Decisive (mampu mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan tegas); 6).Problem solver (memecahkan masalah bangsa); dan 7). Memiliki integritas moral yang tinggi  Apakah ke tujuh kriteria Pimpinan Negara oleh Muhammadiyah tersebut dimaksudkan sebagai elaborasi atau penyelarasan dengan kondisi kualitas dan kebutuhan pemimpin Indonesia masa kini dari kriteria Pemimpin Islam yang selama ini banyak disosialisasikan Muhammadiyah sendiri, yakni: Siddiq (bersikap benar, jujur, tidak dusta), Amanah (memenuhi amanah jabatan yang didudukinya, tidak menyalahgunakan dan korupsi), Fathonah (cerdas dan trampil dalam membuat dan melaksanakan kebijakan yang dibuat secara kreatif dan proaktif sesuai rambu Islam), dan Tabligh (memiliki misi menebar kebenaran Islam, bukan menebar  kemaksiatan dan kedholiman). Tujuh kriteria Pemimpin Nasional di atas terasa amat longgar dimensi keislamannya dibanding Empat kriteria kepemimpinan Islam yang jelas acuannya dalam sunnah nabi. Lalu dengan kriteria seperti itu Muhammdiyah berharap ketika menjabat mereka tidak menjadi pemimpin yang korupsi?

Muhammadiyah juga mencermati memburuknya Indonesia yang masuk dalam kategori ‘Negara Gagal’ (MENURUT INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DARI PBB). Dinyatakan bahwa kegagalan itu nampak jelas dari indikator: distribusi kekayaan negara yang tidak merata, merajalelanya korupsi, penguasaan negara oleh segelintir elite, dan dominasi asing di segala bidang strategis. Mengapa Muhammadiyah tidak membahas mengapa status negeri menjadi seperti itu, di mana letak kesalahan, siapa bertanggung jawab, dan bagaiamana jalan keluarnya supaya umat segera bisa ikut mengoreksi?

Ujung sekali juga dinyatakan kehendak/harapan bahwa Muhammadiyah bermaksud mengembangkan kemandirian dan independensi (dari apa?) sehingga mampu mengoptimalkan potensinya dan menjadi kekuatan yang dahsyat  Tentu saja ikut didoakan semoga harapan tersebut cepat tercapai. Amien.

Begitulah ‘resume’ gambaran pola pemikiran Muhammadiyah sebagai Ormas Islam di Indonesia terkait dakwah, amal sosial, politik, dan kondisi negerinya. Apakah itu sudah ideal untuk mencapai kejayaan Islam dan kaum muslimin? Silahkan dilihat pula artikel saya no. 56 terkait Muhammadiyah di  blog ini.

Rasanya memang cukup banyak (kalau tidak bisa disebut semuanya) Ormas dan LSM Islam di Indonesia yang memiliki pola pemikiran Islam seperti yang tergambar di atas, yakni: bergerak dalam  dunia sosial kemasyarakatan saja, netral dalam politik praktis (namun tidak ingin disebut sebagai apolitik atau antipolitik), berharap pemerintah (siapapun atau partai apapun pengendalinya) mendukung organisasinya dalam hal dana-fasilitas, berusaha menjadi semakin kuat kemampuan finansielnya, memberi saran-saran pada pemerintah (dengan penuh keikhlasan: tidak masalah dipakai atau tidak, ikut dilibatkan mengerjakan atau tidak),  dan berharap menjadi kekuatan dahsyat.

Model pemikiran dan aktifitas Ormas-LSM Islam Indonesia seperti digambarkan tersebut jelas berbeda diametrikal dengan ‘Ormas” Ikhwanul Muslimin di Mesir. Ikhwanul Muslimin, yang sejak awal berdirinya sudah berorientasi menjadi pemegang kekuasaan negara, selalu aktif mengemban Ideologi Islam. Dalam sejarahnya sempat dilarang dan dikejar-kejar penguasa militer mulai dari zaman Nasser sampai dengan Mubarrak, namun tetap saja teguh dengan ideologi politiknya, bekerja terus mengincar pemerintahan Mesir, dan akhirnya kini berhasil memenangkan kursi Presiden dan mayoritas Parlemen Mesir. Sepertinya dulu Ormas2 Islam besar di negeri ini pernah tegas menjadi bagian dari Partai Politik Islam di Indonesia, yakni era Masyumi. Namun begitu Masyumi dibubarkan (?) Bung Karno, menjadi partai terlarang disertai berbagai ancaman dan dikejar-kejar, maka lalu banyak Ormas-LSM Islam kehilangan semangat Islam Politiknya. Hasyrat menjadi pemimpin negeri dengan Ideologi Islam pelan2 terkikis padam, berubah menjadi sudah puas dengan gerakan dakwah ritual dan amalan sosial. Bahkan sewaktu suasana politik negerinya sudah berubah oleh reformasi dengan legalnya perjuangan Ideologi Islam melalui Partai Politik berAsas Islam sekalipun mereka tetap terpuaskan dengan lingkup kegiatannya di bidang dakwah belaka. Mengapa bisa begitu? Keberhasilan misi non-Islam dalam menaklukkan Islam?

Mana Islam bisa menjadi rahmat bagi alam semesta, membawa kesejahteraan dan keadilan  menyeluruh bagi umat manusia jika tanpa Islam Politik memegang kekuasaan negara? Bukankah dari masa nabi Muhammad SAW pun sudah diberi contoh kongkrit bahwa Islam perlu memegang kekuasaan negara untuk mendatangkan rahmat bagi dunia? Kini banyak Ormas-LSM Islam maunya netral, tidak memihak ‘partai politik manapun’, walau sudah ada Partai Islam yang membawa ideologi Islam Politik dengan misi menerapkan kebijakan nasional yang Islami. Tidak bisa terbayangkan betapa akan rusaknya umat dan negeri dengan Ormas Islam yang tetap netral dalam politik praktis seandainya ada partai semacam seperti PKI. yang memenangkan pemilu dan lalu memegang kekuasaan disertai dengan kebijakan2 nasional yang menghancurkan Islam secara brutal (ingat era Mao di Cina dan Lenin-Stalin di Sovyet).

Mari diwaspadai bahwa Kekuasaan Sekuler (bisa bernama macam-macam: Komunis atau Kapitalis atau Nasionalis) jika sampai menang dalam pemilu dan memegang kekuasaan negara jelas berharap saingan mereka Islam Politik akan kalah, nilai non-Islami yang akan dikembangkan sehingga akhlak/moral umat rusak, banyak  pemurtadan, kekayaan negeri akan terhisap asing, dan rakyat pada umumnya tetap terpuruk. Bahkan untuk bisa terus berkuasa, kekuatan sekuler tidak mustahil akan mengkerdilkan bahkan membubarkan organisasi Islam dengan berbagai alasan.

Ideologi itu adalah cita-cita spesifik cara pengelolaan suatu negeri. Ideologi itu esensinya hanya ada dua, yakni Sekuler dan Islam (cara mengelola negeri sesuai dengan Allah SWT yang tertera di al Qur’an dan Sunnah Nabi). Ideologi itu milik dan hanya bisa diemban oleh Partai Politik. Ormas-LSM Islam harusnya bersama Partai Politik yang mengusung Ideologi Islam, bukan jadi Netral, apalagi mengusung Partai Sekuler.

Semoga bermanfaat.

Indonesia, menjelang Ramadhan 1433 H

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: .

ENVIRONMENT AND HEALTH NEEDS ASSESSMENT IN POST DISASTER SITUATION (Principles for Reconstruction) KESUCIAN DARAH UMAT ISLAM, Sebuah Renungan Ramadhan

2 Comments Add your own

  • 1. Muhsin MK  |  21 July 2012 at 18:11

    Ormas Islam tidak dapat menggerakkan kekuasaan pemerintah untuk merubah keadaan bangsa ke arah yang lebih baik, apalagi yang sejalan dengan syariah, karena itu sebaiknya Ormas Islam memberikan dukungan nyata kepada Parpiol Islam. Pandangan Mas Fuad agar Ormas Islam mewaspadai kekuasaan sekuler perlu mendapat perhatian yang besar dan ke depan Ormas Islam harus besinergi dengan Parpol Islam guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

  • 2. srengengekawula  |  27 July 2012 at 05:53

    Sy melihat bhw pokok-pokok pikiran di tulisan ini sdh mengarah pd apa yg saat ini sedang diperjuangkan oleh teman-teman dr HTI. Kalo sdh begitu kenapa masing-masing kemudian tdk duduk bersama kemudian saling merendahkan diri dan kemudian membangun sebuah sinergi?yg jelas yg paling dirugikan dr sinergi ini adalah kaum ”lan tardho” dan yg paling diuntungkan adalah umat Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: