KESUCIAN DARAH UMAT ISLAM, Sebuah Renungan Ramadhan

24 July 2012 at 19:15 2 comments

Judul di atas adalah judul ceramah taraweh yang dimintakan oleh sebuah mesjid besar di Surabaya untuk saya kupas. Karena saya anggap tema tersebut tidak biasa dan penting untuk diketahui oleh banyak kalangan maka saya tulis dan sampaikan dalam blog ini.

Ramadhan dikenal sebagai bulan suci oleh umat Islam. Banyak diketahui bahwa di bulan ini Allah SWT melimpahkan berkah luar biasa bagi umat Islam, di mana ‘pahala’ diberikan melebihi dari bulan-bulan lain. Ada hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa ibadah sunnah di bulan Ramadhan dihitung pahalanya setara pahala ibadah yang berkategori wajib, sedang ibadah wajib dihitung 70 kali lipat pahalanya  dari pahala yang sama jika dilaksanakan di bulan lain. Allahu akbar.

Tentunya permasalahan pahala ini tidak bisa diukur secara matematik murni, juga tidak layak diasosiasikan dalam bentuk ukuran materiel-keduniaan. Hanya Allah jua yang tahu secara tepat bagaimana besar kredit positif yang di dapat umat Islam jika banyak melakukan kebajikan di bulan suci ini, baik kebajikan dalam kategori ibadah ritual (seperti shalat fardhu, taraweh, berbagai ritual lain seperti tadarus dan iktikaf) maupun pahala yang akan diperoleh jika melakukan kebajikan non-ritual (ghoirul mahdhah) seperti menolong kesulitan orang lain, infaq-shadaqah, bersikap  jujur, ikhlas, tidak korup-bohong-khianat, dan lainnya. Keistimewaan berkah di bulan Ramadhan begitu besarnya sampai-sampai secara awam bulan ini sering disebut sebagai bulan suci, bulan yang bisa untuk menyucikan diri karena besarnya ampunan Allah pada hambanya. Mungkin itulah yang dimaksudkan oleh Pengurus Masjid terkait dengan judul ceramah teraweh yang diberikan pada saya.

Bagaimana hakekat kualitas kesucian diri itu?  Apa bersih dari ‘dosa’padahal dimensi dosa itu sendiri adalah sesuatu yang tergolong abstrak, tidak bisa diukur atau ditimbangMungkinkah manusia itu dapat bebas sekali dari dosa yang kita tidak bisa secara empiris mengetahuinya (lalu bersikap berlebihan sepertinya kita sudah menjadi suci, bersih dari segala dosa ibarat bayi yang baru lahir, yang juga jangan lupa bahwa bayi baru lahir itu walau tidak ada dosa tapi juga tidak ada prestasi pahalanya). Apa  kesucian diri seperti itu? Janganlah umat mudah berspekulasi dalam mengukur hal2 abstrak dalam dirinya.

Kalau bulan Ramadhan disebut bulan suci dan di bulan itu dimaknai terbukanya kesempatan untuk menyucikan diri, bagaimana pula bentuk operasional proses penyucian diri itu sehingga mudah difahami? Di sinilah tampak pentingnya  penggunaan kategorisasi kualitas umat Islam sesuai penilaian Allah SWT. Bulan Ramadhan perlu dipakai untuk mecapai kualitas  yang lebih baik sebagai hamba Allah. Maka mari dicermati firman Allah  yang tercantum dalam surat al Hujurat ayat 14 dan 15 yang artinya sebagai berikut:

“(Tatkala) seorang Arab (menghadap Rasuilullah) menyatakan dirinya  berIMAN, (maka Allah menyampaikan pada Rasulullah) katakanlah (padanya) ‘Kamu itu belum beriman, namun sebut saja dirimu itu telah berISLAM, karena iman itu belum masuk ke dalam hati-nuranimu’. (Walau demikian) apabila kamu menaati Allah dan RasulNya maka Allah tidak mengurangi sedikitpun amal kebaikanmu. Allah itu maha Pengampun dan Penyayang.”

     “Sesungguhnya yang (layak berkategori/dinamakan)  orang  berIMAN itu adalah jika dia yakin seyakin yakinnya terhadap Allah dan RasulNya, tanpa keraguan sedikitpun (untuk mengikuti tuntunan2Nya) dan dia berJIHAD di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, barulah dia benar pernyataannya (untuk disebut sebagai orang berIMAN

Dari ke dua ayat tersebut jelas sekali bahwa kualitas berIMAN itu di atas kualitas berISLAM. Memang mudah untuk difahami bahwa ada orang yang sepertinya sudah melakukan berbagai tuntunan Islam seperti shalat, berpuasa, berdoa, berhaji, berumrah dan semacamnya namun bukan oleh keyakinan hati yang mendalam bahwa Allah itu  Penciptanya dan  untuk ditaati semua tuntunanNya yang akan membawa keselamatan-kesuksesan hidupnya. Bahkan banyak umat Islam yang melakukan shalat, puasa, haji, umrah berkali-kali tapi ternyata hanya karena ikut-ikutan saja, diajak orang di sekitarnya, bukan karena motif mendalam di hati-nurani untuk melakukan perintah Allah SWT secara sungguh-sungguh dan menyeluruh. Mereka yang seperti itu lalu dengan mudahnya mengabaikan tuntunan Allah lain yang tidak diajakkan-diajarkan oleh temannya, guru ngajinya, ustadnya, kyainya, ulamanya yang memang hanya ‘sempat’ mengajar sebagian kecil saja tuntunan Allah, padahal dia bisa membaca sendiri al Qur’an & Hadits (kini amat banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para ahli). Jika dia memang yakin seyakin-yakinnya bahwa tuntunan Allah SWT itu harus dipatuhi karena IMANnya bukankah dia lalu akan dengan mudah mendapati dari bacaan al Qur’an dan Haditsnya itu bahwa kewajiban seorang muslim tidak hanya sekedar beribadah ritual dan berakhlak pribadi saja. Karena ketidak aktifannya dalam PENCARIAN tuntunan Allah SWT tersebut maka dia ceroboh: ‘memilih Pemimpin tidak sesuai tuntunan Allah, memilih  Organisasi dan Partai tidak sesuai  tuntunan  Allah, mendidik-menyekolahkan Anak tidak sesuai tuntunan Allah, mengadili Perkara tidak sesuai tuntunan Allah, membuat Kebijakan ekonomi-politik-budaya tidak sesuai tuntunan Allah, membuat Hukum dan menjalakannya tidak sesuai dengan tuntunan Allah, dan lain-lainnya. Asatghfirullah. Tuntunan yang jelas-jelas sudah diperintah Allah SWT saja tidak dilakukannya hanya karena tidak diajarkan oleh  ulama, kyai, guru ngaji, ustadnya,  padahal sudah tertera dengan jelas (muhkamat) di al Qur’an dan Hadits, maka apa layak orang seperti itu disebut berkualitas berIMAN? Namun lumayanlah jika sudah mau shalat, puasa, haji, umrah, berdoa dan ibadah mahdhah lain dari pada tidak sama sekali. Karena motifnya yang lemah dalam pencarian akan tuntanan Allah SWT, sekedar hanya mendapatkan  tuntunan agama dari yang diajarkan ustadnya, itupun kalau sempat, insyaAllah dia sudah masuk dalam kategori berISLAM walau  tentu belum bisa disebut sebagai berkategori berIMAN.

Dalam surat al Hujurat di ayat tersebut jelas sekali disebutkan secara eksplisit salah satu indikator berIMAN, yakni mau melakukan JIHAD di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Apa maknanya? Banyak orang salah mengartikan jihad. Ada 2 bentuk kesalahan dalam memaknai jihad yang bisa mengantar orang berkategori berIMAN, yakni: 1). Menganggap jihad itu berarti berperang fisik saja dan karena kini dalam keadaan damai maka tidak perlu jihad; dan 2). Jihad itu dimaknai sekedar bersungguh-sungguh (karena asal kata jihad dikatakan adalah JAHADA yang artinya bersungguh-sungguh) sehingga dengan enaknya dikatakan usaha apa saja yang bersungguh-sungguh  sudah masuk kategori berjihad. Astaghfirullah. Kedua penafsiran tersebut  bukan saja keliru tapi juga menyesatkan. Mana mungkin di masa damai tidak perlu jihad. Mana mungkin aktifitas puasa bersungguh2 disebut jihad. Namanya ya tetap puasa. Shalat bersungguh2 lalu disebut jihad? Namanya ya tetap shalat. Bekerja di kantor bersungguh2 juga disebut jihad? Namanya ya tetap kerja, kerja profesional.

Jihad yang banyak disebut dalam ayat al Qura’an itu asal katanya bukan JAHADA-YAJHADU, tapi JAAHADA-YUJAAHIDU yang artinya ‘berjuang untuk kejayaan Islam dengan sungguh-sungguh’. Maka makna JIHAD terkait dengan keIMANAN tersebut adalah AKTIFITAS MEMBESARKAN, MENYEBAR-LUASKAN, MEMPROMOSIKAN, MEMBELA ISLAM, dengan berbagai cara. Jika dalam keadaan perang maka juga termasuk berperang fisik. Namun dalam kondisi ‘damai’ pun tetap melakukan jihad dalam bentuk perlawanan terhadap rongrongan-pelecehan-pelemahan-penindasan terhadap Islam dan umat Islam melalui berbagai aktifitas seperti: berdakwah dengan lisan dan tulisan, berpolitik melawan politisi yang memusuhi Islam, amar makruf dan nahi mungkar, serta aktifitas penyebaran-penguatan Islam lainnya seperti upaya keras aplikasi syariat dalam pengelolaan bangsa-negara. Jihad seperti itulah yang insyaAllah akan dihitung oleh Allah SWT sebagai aktifitas yang bisa mengantar dirinya dalam kategori berIMAN, bukan hanya berISLAM. Maka di bulan suci Ramadhan seharusnya umat Islam banyak melakukan JIHAD, tidak hanya beribadah mahdhah. Dengan begitu maka kualitas akan bisa naik menjadi kategori beIMAN dan akan menjadi ‘tersucikan’ di bulan suci Ramadhan, suci hatinya, suci fisiknya, dan suci ‘darahnya’.

‘Kesucian darah’ sering diasosiakan dengan penumpahan darah atau pembunuhan. Dalam al Qur’an, Allah SWT tegas menunjukkan bagaimana nilai kesucian darah seorang yang beriman, sebagaimana tertera dalam surat an Nisa’ ayat 93 yang artinya;

“Barang siapa yang membunuh orang berIMAN dengan SENGAJA, maka balasannya adalah NERAKA JAHANNAM yang DIA AKAN KEKAL DI DALAMNYA, Allah memurkainya, laknat Allah bersamanya, dan dia tertimpa  adhab yang maha berat.”

Jelas sekali pembunuh orang barIMAN itu akan mendapat 4 dampak besar, yakni neraka jahannam, dalam murka Allah, dilaknatNya, dan memperoleh adhab (duniawi) yang besar. Naudhubillah min dhaalik.

Marilah kita selalu berupaya mencapai kualitas untuk bisa disebut sebagai orang berIMAN, tidak hanya berISLAM, apalagi berkualitas rendah sekedar mengaku muslim tapi perilakunya malah merusak agama dan umat Islam.

Semoga artikel ini bisa menjadi pencerah di dalam bulan suci Ramadhan ini.

Indonesia, awal Ramadhan 1433H.

Entry filed under: Pemikiran. Tags: .

GERAKAN DAKWAH ITU BAIK TAPI TIDAK CUKUP UNTUK MEMBAWA KE KEJAYAAN ISLAM DAN KEMULIAAN KAUM MUSLIMIN BAGAIMANA MEKANISME MENCARI KEBENARAN DARI SUMBER AL QUR’AN? (Narasi Menyambut Nuzulul Qur’an)

2 Comments Add your own

  • 1. gajuh  |  25 July 2012 at 08:41

    Assalaamu ‘alaikum wr. wb.
    Alhamdulillah, insya Allah saya dapat menangkap esensi materi artikel Bapak dengan jelas dan baik. Insya Allah pula mudah2an saya bisa aplikasikan sesuai dengan bidang dan keilmuan yang saya miliki.

    Yang masih jadi kendala saat ini adalah banyaknya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan org Islam seringkali kukuh pada persepsinya dan berseberangan dgn yg lainnya sehingga seringkali pula membiaskan tuntunan yang ada. Sebagai contoh: Penentuan tgl 1 ramadhan atau 1 syawal. Sebagai umat mayoritas yang notabene menterinya juga beragama Islam, Tapi kenapa kita tidak bisa menentukan “Hari Raya” kita sendiri???? Dimana Mujaahada kita ?

    Jazakallahu khoiran katsiro, jika Bapak bisa membantu memberikan pencerahan yang lebih konkrete atas polemik yang ada…..bukan berarti pencerahan konseptual tidak penting lagi……

    wassalam
    Gajuh NTT

  • 2. fuadamsyari  |  15 August 2012 at 19:47

    Silahkan baca artikel berikutnya. Ws

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: