BAGAIMANA MEKANISME MENCARI KEBENARAN DARI SUMBER AL QUR’AN? (Narasi Menyambut Nuzulul Qur’an)

6 August 2012 at 20:34 Leave a comment

Dalam melangkah sehari-hari manusia mestinya selalu waspada agar langkahnya itu ‘benar’ sehingga membawa kemanfaatan bagi hidupnya. Kewaspadaan itu bukan hanya saat akan menggapai tujuan yang besar seperti memilih pasangan hidup atau mencari pekerjaan, namun juga untuk hal-hal lebih sederhana seperti membelanjakan uang, mengikat janji, dan semacamnya. Jika langkah itu benar maka keberuntungan yang akan diperoleh, dan sebaliknya jika keliru melangkah maka akan ditemui banyak kesulitan bahkan kekecewaan, kesedihan. Begitulah hidup itu, senantiasa berhadapan dengan tantangan-tantangan yang harus direspon dengan benar. Bagaimana bisa mendapatkan ‘kebenaran’ itu sehingga berhasil menjadi manusia yang beruntung?

Secara sepintas sepertinya kebenaran itu mudah diperoleh dari produk ilmu pengetahuan atau sains. Bagaimana membangun rumah yang kokoh, berobat yang menyembuhkan penyakit yang sedang diderita, atau menentukan sekolah guna mecari ilmu dan menggapai profesi. Bisa mudah difahami manusia sering mendapat petunjuk apa yang benar untuk dilakukan itu dari sumber ilmu pengetahuan. Sayangnya tidak semua kebutuhan hidup manusia bisa didapat dari sains walau sudah dibolak balik semua pustaka di perpustakaasn. Mengapa bisa begitu? Karena sains hanya bisa menjawab kebenaran terhadap hal-hal yang bisa diobservasi melalui indra atau instrumen yang dikembangkan. Di samping itu tidak semua produk sains pasti benarnya, apalagi jika sains bidang sosial sepetti ekonomi, politik, budaya, yang obyek pengamatannya amat kompleks, yakni masyarakat. Sebagai suatu mahhluk hidup manusia dalam skala individu saja sudah rumit perilakunya, lebih2 lagi jika sudah berkumpul dalam sebuah kelompok, apalagi jika jumlahnya besar seperti suatu ras, suku, dan bangsa. Oleh sebab itu dalam dunia sains, khususnya sains sosial ada anekdot yang berbunyi: “berilah pada 10 pakar sosial sebuah masalah, maka tidak mustahil akan keluar lebih dari 10 solusi”. Selain itu sains pasti tidak bisa mendapat kebenaran jika dihadapkan pada kebutuhan spiritual (hal-hal ghoib atau non-empiris), seperti bagaimana cara yang benar untuk menyembah tuhan, bagaimana bentuk surga, bagaimana cara syetan mengganggu manusia, dan lainnya Hal-hal di atas memang bukan ranah sains namun dibutuhkan manusia sehingga sains tidak mungkin bisa mendapat kebenaran untuk dijalankan. Maka sumber apa yang bisa dipakai untuk memperoleh kebenaran semacam itu (ritual, perilaku, dan kaedah sosial) supaya langkah manusia nanti tidak keliru sehingga terperosok ke jurang? Umumnya orang lalu menjawab: mencarinya dari tuntuan AGAMA. Bagimana sisi tehnisnya?

Di era di mana Nabi masih hidup maka dengan mudahnya manusia langsung bertanya kepada nabi tersebut yang dipercayai memperoleh kebenaran untuk melangkah dari tuhan Sang Maha Pencipta. Tatkala nabi sudah tidak ada lagi maka dari mana mendapatkan solusi? Jawaban yang umum adalah dari Kitab Suci dan para Ahli Agama. Bagaimana dalam agama Islam?

Sumber agama Islam adalah al Qur’an dan Hadits Nabi.  Maka jawaban atas pertanyaan dari sumber mana manusia  (umat Islam) mendapatkan kebenaran untuk melangkah dalam menjalani kehidupannya? Jawabannya menjadi dua, yakni dari SAINS dan al QUR’AN-HADITS. Apakah dengan begitu sudah terselesaikan masalahnya? Ternyata belum. Masih tersisa problematika besar, bagaimana mengintepretasi produk sains dan makna ayat al Qur’an. Bahkan akhir-akhir ini justru umat Islam banyak dan sering dihadapkan pada polemik: ‘boleh saja ada keyakinan bahwa kebenaran itu dari Allah namun apa benar intepretasi  terhadap  makna suatu ayat’? Terjadilah kebuntuan solusi padahal masalah sudah di depan mata untuk segera dipecahkan.

Pada suatu forum kajian Imtaq di Fakultas Kedokteran Unair seorang guru besar menyampaikan permasalahan yang sama disertai contoh soal tentang penentuan awal bulan suci Ramadhan yang kali ini memang ada perbedaan antara tanggal 19 dan 20 Juli 2012. Saya diminta memberikan jawabannya. Maka secara ringkas saya sampaikan sebagai berikut:

  1. Dalam mencari kebenaran dari sumber al Qur’an tampak sudah diberikan caranya oleh Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 7 yang maknanya sebagai berikut: “Dialah yang menurunkan Kitab (al Qur’an) kepadamu (Muhammad) di mana di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat (jelas maknanya) yang merupakan pokok-pokok isi kitab itu dan sebagian lain ayat-ayat  mutasyabihat (samar-samar maknanya). Maka adapun bagi orang-orang yang hatinya cenderung sesat dia akan menggunakan ayat-ayat  mutasyabihat untuk mendatangkan fitnah (kerusakan) dan menduga-duga tafsirnya, padahal hanya Allah yang sesungguhnya mengetahui tafsir (ayat mutasyabihat) itu…”. Dari ayat ini mudah difahami bagaimana mekanisme pencarian kebenaran dalam al Qur’an, yakni umat tidak akan mendapat kesulitas memperoleh kebenaran dari al Qur’an selama dia berorientasi pada ayat yang bersifat jelas (muhkamat), tanpa meragukan maknanya. Banyak ayat muhkamat dalam al Qur’an yang seketika bisa dipakai sebagai panduan untuk melangkah dalam kehidupan secara benar. Diantara ayat muhkamat masih mungkin ada yang perlu penjabaran lebih tehnis, seperti ayat perintah untuk ‘menegakkan shalat’. Shalat jelas sekali merupakan perintah muhkamat, tapi tehnis  cara melakukan tidak dicantumkan dalam al Qur’an. Untuk itu maka bisa dilihat dari hadits nabi karena di sana ada hadits shaheh yang menyatakan “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku (Nabi) shalat”. Begitulah prosedurnya. Ada pula ayat yang jelas maknanya (muhkamat) seperti dalam surat al Ghosiyah yang artinya “Mengapa tidak kalian kaji bagaimana onta itu hidup, langit menggantung, gunung tegak, dan bumi terhampar”. Dari ayat ini ada tugas nyata umat untuk melakukan kajian, yakni untuk mengetahui bagaimana manusia memahami onta (mahluk hidup), langit, gunung, dan bumi. Penjabaran tehnisnya manusia harus mendapatkan dari sains yang berupaya menemukan ketentuan tuhan (sunnatullah) akan struktur dan karakter ciptaanNya. Maka kini mudah difahamai bahwa dalam ayat al Qur’an banyak yang jelas maknanya, tidak meragukan, bahkan sampai detail (seperti tentang waris, hukum pidana bagi penjahat, kriteria pemimpin, mahram, dll). Ada pula ayat muhkamat namun memerlukan penjabaran dari ayat lain atau dari hadits, dan ada yang memerlukan penjabaran dari produk sains. InsyaAllah dengan prosedur seperti itu sudah cukuplah terpenuhi semua kebutuhan manusia,  apakah kebutuhan pribadi (misalnya ritual), kebutuhan berkeluarga, maupun kebutuhan bermasyarakat, berbangsa, bernegara.
  2. Dalam masalah sosial, seperti penentuan 1 Ramadhan, di sisi hadits sesungguhnya tidak ada khilaf (perselisihan faham), khususnya cara penentuan melalui penampakan bulan secara wujud fisik, karena itulah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Hanya saja kemudian beberapa ulama ada yang mengembangkan penentuan cara lain yakni hitungan kapan sebuah bulan hijriah itu dimulai (dihitung bulan berada di atas ufuk berapapun ketinggiannya setelah terbenamnya matahari). Dalil pun tentu bisa saja di dapat. Dari analisis ini jelas peselisihan tentang awal bulan tidak termasuk bagian dalam ayat muhkamat namun dari sisi hadits. Ada kasus sejenis, yakni tentang masalah shalat. Beberapa aspek shalat juga ada perbedaan antara beberapa ulama dan dikenal sebagai perbedaan madzab, seperti perlu niat dijaharkan (ushalli) atau perlunya qunut di sahalat subuh. Perbedaan cara shalat itu dikenal sebagai masalah khilafiah yang tidak berdampak sosial karena sifatnya individual. Namun ujungnya juga bisa menjadi permasalahan sosial luas dan berat jika dilakukan di tempat publik, seperti di Masjidil Haram. Dulu pernah terjadi 4 kali macam  shalat fardhu setiap datang waktu shalat di sekeliling ka’bah karena adanya 4 madhab dalam Islam (Hanafi, Maliki, Syafii, Hambali). Kelihatannya lalu aneh dan tidak kompak. Namun untuk hal-hal seperti itu ternyata dalam Islam ada solusi tegas yang tercantumg dalam kaedah “Amrul Imami yarfa’u Khilafa” (Keputusan Pemimpin akan menyelesaikan perbedaan). Maka saat Raja Saudi dipegang Raja Abdul Aziz maka ditetapkan bahwa di Mesjidil Haram hanya ada satu jenis shalat fardhu dan alhamdulillah berlangsung sampai sekarang ini. Semuanya lalu beres, umat tidak protes, dan persatuan umat terjaga. Seharusnya juga ada Kepres yang sejenis terhadap penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dhulhijah untuk Indonesia yang harus ditaati semua fihak, dan bagi yang menyimpang akan dikenai sanksi tegas. Kapan itu terjadi? Jika Pemimpin NKRI bervisi menjaga persatuan-kerukunan umat.

Demikianlah mekanisme yang ditetapkan Islam dalam memperoleh kebenaran. Tidak sulit, mudah, tinggal menjalankannya. Islam sebagai agama yang sempurna, memenuhi semua kebutuhan hidup manusia, sebagai pribadi, keluarga, bangsa-negara untuk bisa dikelola secara benar demi  mencapai kesejahteraan, dan kehidupan selamat dunia akherat. Sayang hanya sedikit umat Islam yang memahami mekanisme itu, tidak membaca habis isi al Qur’an (walau terjemahannya)  dan menganggap Islam hanya mengajarkan masalah ritual (ibadah mahdhah) dan akhlak pribadi saja, sehingga nasib umat tidak seperti umat yang termuliakan di masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin.

Semoga Allah  SWT memberi kemudahan pada umat Islam dalam mencari  kebenaran.

Medio Ramadhan 1433H

Entry filed under: Pemikiran. Tags: .

KESUCIAN DARAH UMAT ISLAM, Sebuah Renungan Ramadhan DOSA DAN TAUBAT, Bagaimana Empirisasinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: