DOSA DAN TAUBAT, Bagaimana Empirisasinya?

12 August 2012 at 16:17 1 comment

Saya diberi judul “Dosa dan Taubat” pada ceramah subuh di bulan Ramadhan oleh Masjid Akbar Surabaya. Judul itu menarik karena jelas dimensinya non-empiris, ghoib, tidak bisa diukur secara matematis empiris namun terkait erat dengan berbagai aktifitas kita dalam hidup ini. Pertama sekali yang teringat saya saat mendapat judul itu adalah bagaimana supaya  tidak berlebihan dalam menelaah, baik sisi dosa  maupun sisi taubat. Urusan ghoib memang tidak mudah untuk penilaiannya, sehingga sepenuhnya harus diserahkan kepada Allah swt, manusia tinggal menerima hasil evaluasi olehNya. InsyaAllah cara penyerahan total seperti itu akan memudahkan manusia bertindak dan menyiapkan diri sebaik-baiknya.

Banyak kandungan al Qur’an dan hadits yang menyatakan bahwa bulan Ramadhan bulan penuh berkah dan ampunan. Salah satu hadits menyatakan kebaikan yang dilakukan di bulan ini akan memperoleh pahala 70 kali lipat dibanding jika dilakukan di bulan lain. Demikian pula ampunan Allah swt terhadap taubat yang dilakukan hambaNya atas dosa-dosa yang pernah dilakukan Sekali lagi seberapa banyak dosa yang diampuni juga tidak mungkin diketahui secara empiris oleh kita. Di sinilah sesungguhnya makna upaya empirisasi, yakni melakukan saja sebanyak mungkin taubat dan perbuatan baik (yang bisa dihitung secara empiris). Namun upaya maksimal dengan hitungan empiris seperti itu perlu disertai penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, tanpa bertepuk dada atau ‘claim’ bahwa pahala yang didapat sudah banyak sekali, dan semua dosapun sudah terampuni, sehingga dirinya kini menjadi manusia bersih ibarat bayi baru lahir plus tabungan pahala cukup berlebih untuk menghadapi kematian. ‘Claim’ semacam itu malah menyesatkan diri sendiri karena dia akan cenderung ceroboh lalu berbuat seenaknya, mengabaikan sisi dosa-dosa baru dan lupa bertaubat.

DOSA bermakna pelanggaran terhadap tuntunan Allah, yang mana saja. Dosa akan terbentuk jika ada kewajiban dari Allah swt untuk dilakukan namun tidak dikerjakan, atau jika ada larangan melakukan sesuatu namun malah dilanggar. Kewajiban ritual seperti shalat dan puasa Ramadhan misalnya jika diabaikan pasti akan memproduksi dosa. Melakukan perzinahan, pencurian, dan korupsi yang jelas dilarang Allah pasti berbuahkan dosa. Berapa besar kuantitasnya? Allah jua yang tahu, Allahu a’lam.

Permasalahan terkait dosa ini sering menjadi lebih kompleks tatkala berada dalam batas yang samar apakah sesuatu perbuatan itu merupakan kewajiban atau larangan dari Allah swt. Dalam kasus pelaksanaa shalat fardhu misalnya bisa saja terjadi perbedaan faham apakah dengan mengucapkan niat (ushalli) atau cukup diniatkan dalam hati; pada saat takhiat apakah menggerakkan jari atau jari tetap tenang, dalam bercelana apakah harus dilipat di atas mata kaki atau dibiarkan sampai bawah, pada shalat subuh apa harus qunut atau tidak, dan masih banyak lagi hal-hal tehnis lain yang bisa saja tidak satu pendapat. Sebagian ulama ada yang menganggap bahwa itu semua perbedaan kecil saja sehingga bisa diabaikan dan sering disebut masalah khilafiah, namun ada pula ulama yang membesarkan masalahnya sehingga disimpulkan jika tidak seperti yang diajarkan maka shalatnya menjadi tidak sah. Apa arti shalat tidak sah? Tentu identik dengan tidak shalat, maka berdosalah yang melakukan shalat tidak seperti yang diajarkannya. Benarkah begitu? Bisa benar bisa salah, sekali lagi tergantung faham ulamanya. Permasalahn seperti itu juga berlaku pada kasus penentuan awal Ramadhan, Iedul Fithrie, Iedul Adha. Perselisihan umumnya terkait karena beda cara menentukan awal bulan hijriah, pakai khisab atau ru’yah. Perbedaan dalam hal inipun bisa mendatangkan perpecahan umat dan saling menyatakan bahwa merekalah yang benar sedang yang lain salah, seperti tuduhan ‘tidak lengkap’ puasanya karena kurang hari atau ‘haram berpuasanya’ karena sudah masuk Iedul Fithrie. Kasus seperti inilah yang kemudian bisa menimbulkan berbagai perpecahan di tengah umat, dan ternyata sudah manifes dari fakta keberadaan berbagai madhab, berbagai kelompok organisasi Islam dengan  penganut masing-masing. Adakah solusi untuk itu?

Jika terkait dengan aspek dosa atau pahala yang bersifat ghoib tampaknya relatif  muda, yakni  dikembalikan saja pada Allah yang menentukan ada atau tidaknya dosa, besar  atau kecilnya kuantitas dosa. Bagaimana jika dikaitkan dengan aspek perpecahan umat yang ditimbulkannya? Jika si fulan melakukan shalat dengan cara A karena ajaran guru tertentu, maka guru itu pula yang harus bertanggung jawab akan benar atau salahnya cara shalat yang diajarkan. Allah akan membuat hitungan dosanya si Fulan dan si guru tadi jika mengajar cara salah dalam bershalat. Begitu pula kasus perbedaan awal Ramadhan dan Iedul Fithrie. Di sinilah titik kritis adanya proses berantai pertanggung jawab pada Allah, yang ditanggung-renteng dengan guru yang mengajar atau  pemimpin yang mengambil keputusan sehingga umat melakukan kesalahan dalam menjalankan kewajiban agamanya.

Guru dan Pemimpin itu memiliki tanggung jawab dalam proses mengajar dan memimpin apakah si murid atau yang dipimpin melakukan kebaikan atau melakukan kekeliruan dalam beragama. Pemimpin memperoleh dampak atas kepemimpinannya,  yang akan dihitung Allah sebagai kebaikan atau pelanggaran, pahala atau dosa. Dan sebagai ujungnya adalah setiap individu akan memperolah neraca antara besarnya dosa dan pahala, dan akhirnya Allah jua yang akan menetapkan bagaimana nasibnya  di dunia dan akherat. Dalam surat Yasin ayat 12. Allah menegaskan adanya tanggung jawab terhadap perolehan dosa atau pahala dari langkah kebijakan pemimpin dalam memimpin umat maupun rakyat. Dosa yang ditanggungnya adalah dosa diri sendiri dan bagian dosa yang diterima orang lain akibat dampak  pengajaran atau keputusan/kebijakan yang dibuatnya.

Karena dosa ini adalah masalah ghoib maka manusia hanya bisa mendapat  penjelasan yang benar dari sumber al Qur’an dan Hadits Nabi, tidak dari sumber sains apalagi jika hanya kira-kira belaka. Jangan hendaknya ada yang sepertinya sok tahu segalanya tentang masalah dosa sehingga berani menetapkan bahwa seseorang sudah bersih atau belum bersih dari dosa, atau menetapkan dosa mana yang sudah dihapus dan doa mana yang masih tersisa. Sikap seperti itu jelas menyesatkan. Maksimal manusia yang menerima curahan isi hati dari orang lain hanya ikut mendoakan semoga Allah swt mengampuni dosa yang sudah dibuat oleh yang bersangkutan.

Dari sisi ayat al Qur’an dapat diketahui bahwa dosa yang tidak bisa medapat ampunan dari Allah swt adalah dosa menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain (syirik). Ditegaskan oleh Allah akan hal itu dalam surat an Nisa ayat 48. Selain dosa syirik maka Allah masih bisa mengampuni jika dikehendakiNya. Pada surat yang sama di ayat 31 juga disebutkan bahwa jika manusia mau meninggalkan dosa ‘besar/berat’ maka Allah akan meniadakan dosa oleh kesalahan (kecil). Dari ke dua ayat tersebut tergambarkan  secara empiris bahwa manusia sama sekali tidak boleh berbuat syirik, dan terhadap dosa oleh pelanggaran ‘kecil’ bisa diampuni jika dia berhasil meninggalkan pelanggaran berat. Apa dosa yang tergolong pelanggaran berat itu? Dalam surat al Baqarah ayat 219 disebutkan bahwa  Khamr dan Judi itu tergolong dosa besar (ismun kabir). Pembunuhan juga masuk  dosa besar sebagaimana disebut dalam surat al Isra’ ayat 31 (khit’an kabir). Memakan harta anak yatim juga dosa besar dalam surat an Nisa ayat 2. Hadits Rasulullah bisa dijadikan acuan pula dalam hal menentukan kategori dosa besar  walau di sini ulama bisa berselisih faham. Sesungguhnya kata kuncinya mudah, yakni jauhi semua saja hal-hal yang potensial menjadi dosa. Akhirnya, terkait semua permasalahan dosa ini perlu perlu ada catatan tambahan yakni hitungan dosa yang diuraikan di atas tidak berlaku bagi non-muslim. Bagi mereka berlaku ketentuan lain sama sekali (antara lain surat  al Bayyinah ayat 6)..

Di sisi lain, TAUBAT adalah permohonan ampun atas kekeliruan atau pelanggaran yang dibuat oleh manusia. Allah mewajibkan umat untuk bertaubat seperti yang tercantum dalam surat at Tahrim 8 dan an Nur 31. Pada surat al Hujurat ayat 11 malah Allah memvonis dholim bagi mereka yang tidak mau bertaubat.

Kalau kekeliruan/pelanggaran yang dikerjakan itu jelas sifatnya maka akan lebih mudah prosesnya, tinggal melakukan permohonan taubat dan meninggalkan kekeliruan/pelanggaran yang sebelumnya diperbuat, tidak mengulangi kembali. Sebagai contoh misalnya seorang muslim yang tidak atau jarang shalat, dosanya pasti banyak menumpuk, maka dengan bertaubat dan kembali atau memulai shalat secara benar dan tertib insyaAllah dia bisa dimasukkan ke dalam kategori yang di kurangi/dihapus dosanya. Atau pada kasus individu muslim yang sering pergi ke lokasi pelacuran dan melakukan perzinahan yang jelas bentuk pelanggaran dan hukumannya (hudud) maka dengan melakukan taubat disertai berhenti melakukan zina insyaAllah akan mendapat ampunan pula dari Allah swt. Bagaimana untuk kasus  Pemimpin yang melakukan kesalahan dalam memimpin rakyat/umatnya? Tentu juga berlaku hal sama  selama dia mau bertaubat dan berhenti membuat kebijakan salah atau memulai membuat kebijakan benar yang selama ini dia alpa memproduknya. Bagaimana jika sampai akhir masa jabatannya si Pemimpin yang bersangkutan tidak  berhenti membuat kebijakan salah atau tidak mau  membuat kebijakan yang bisa menyelamatkan rakyatnya dari perbuatan maksiat dan kemungkaran? Dosa pemimpin seperti itu pasti amat besar sekali. Apa bisa diampuni? Asalkan dia tidak menjadi murtad, tidak mengakibatkan rakyatnya murtad dalam kepemimpinannya, dan tidak membuat diri dan rakyatnya berbuat syirik selama kepemimpinannya, lalu dia memohon ampun, bertaubat pada Alah terus menerus, insyaAllah masih ada jalan keluar baginya. Hanya Allah yang Maha Tahu statusnya.

Indonesia, penghujung Ramadhan 1433H

Entry filed under: Pemikiran, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , .

BAGAIMANA MEKANISME MENCARI KEBENARAN DARI SUMBER AL QUR’AN? (Narasi Menyambut Nuzulul Qur’an) KONDISI FITHRAH MEMBERI TENAGA BARU UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA ISLAM (Khotbah Iedul Fithrie 1433H/2012M) Disampaikan oleh: DR. FUAD AMSYARI (Dewan Kehormatan ICMI Pusat)

1 Comment Add your own

  • 1. Leo Hendroyono  |  14 August 2012 at 09:54

    “Ya Allah, Engkaulah Sumber Kebahagiaan kami. Tolonglah kami, kuatkan kami dg cintaMu, menjadi sadar akan cinta kami, kehilangan kami, kedukaan kami, mengatasi perasaan marah, kecewa, luka perih dihati, agar kami rela menerima ketetapanMu yg membentuk pribadi kami menjadi lebih kuat & sabar dlm menjalani kehidupan ini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: