KONDISI FITHRAH MEMBERI TENAGA BARU UNTUK MENGGAPAI CITA-CITA ISLAM (Khotbah Iedul Fithrie 1433H/2012M) Disampaikan oleh: DR. FUAD AMSYARI (Dewan Kehormatan ICMI Pusat)

15 August 2012 at 17:52 Leave a comment

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,

(Iftitah)

Allaahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Alhamdulillah, kita kembali bersyukur ke hadirat Allah swt atas nikmat karuniaNya yang dilimpahkan pada kita tiada putud-putus, termasuk bisa bersama-sama melakukan sholat Ied menyambut hari raya Fithrie kali ini. Alhamdulillah, kita juga sudah menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang baru saja kita lalui. InsyaAllah banyak berkah Allah yang sudah kita dapat dan ampunan Allah yang sudah kita peroleh selama bulan Ramadhan ini. Amien.

Dari semua berkah dan karunia Allah tersebut yang tertinggi nilainya adalah hidayah iman, keyakinan hati bahwa kita ini makhluk yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta, Allah swt, pemilik tuntunan hidup yang akan membawa kebaikan bagi kita yang mau mengikuti tuntunan itu. Allah swt tidak hanya sebagai Sang Maha Pencipta yang harus diyakini existensinya, namun juga telah memberi panduan  bagi manusia agar tidak disesatkan oleh iblis, laknatullah. Tidaklah cukup manusia itu hanya mengakui adanya Allah dengan sifat-sifat utamanya  sebagaimana disebut dalam al Qur’an surat al Ikhlas:

“Katakanlah Dia itu Allah yang Esa, tempat seluruh makhluk bergantung, tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada satupun yang menyamainya”

Tidak cukup hanya meyakini adanya Allah dengan sifat keagungannya seperti tertera dalam surat itu. Perlu diketahui bahwa ‘asbabun nuzul’, riwayat turunnya surat tersebut adalah karena Rasulullah ditantang oleh kaum musyrikin Mekah untuk menyebutkan bagaimana sifat-sifat tuhan yang dikenalkan oleh nabi kepada penduduk Mekah yang saat itu bertuhankan berhala latta-uzza. Juga tidak cukup untuk meyakini eksistensi Allah dengan nama-nama mulianya, asmaul khusna. Seorang muslim seharusnya meyakini bahwa ALLAH SWT yang mencipta alam semesta juga menurunkan TUNTUNAN HIDUP bagi manusia untuk panduan dalam menjalani kehidupannya supaya manusia selamat dari kekeliruan melangkah dan mencapai kejayaan dunia akherat. Inilah kunci iman bagi umat Islam, tidak sekedar mengakui adanya Allah tapi juga meyakini adanya tuntunan Allah yang akan mengantar dirinya berhasil dalam kehidupannya. Hakekat keimanan seperti inilah yang lalu disarikan dalam kaedah tauhid:

“Tidak akan tercapai kejayaan kecuali jika manusia mengikuti tuntunan Islam”

Allahu Akbar,

Islam adalah tuntunan hidup dari Allah swt untuk diketahui, difahami, dan dipraktekkan supaya manusia selamat dunia akherat, mencapai keberhasilan dan kesejahteraan. Tauhid tidak cukup hanya mengakui eksistensi Allah swt namun juga mengakui keberadaan tuntunan Allah swt yang akan membawa  kebaikan bagi manusia itu sendiri.

Allahu akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Iblis itu menjadi makhluk yang sesat, hidupnya dalam murka Allah, dan di akhir zaman akan menjadi penghuni neraka jahannam dan kekal selamanya di dalamnya bukan karena tidak mengakui adanya Allah namun karena tidak mau melaksanakan perintah Allah. Nabi Adam as dan isterinya Siti Hawa juga diusir dari surga yang penuh kenikmatan dan dibuang ke bumi dengan berbagai tantangan hidup yang berat bukan karena tidak mengakui akan eksistensi Allah namun karena melanggar perintah Allah swt. Kitapun juga akan mengalami nasib yang serupa jika hanya mau mengakui keesaan tuhan namun menolak melaksanakan tuntunanNya, maka hidup di dunia menjadi penuh ketimpangan, kegelisahan, kekurangan, dan kecemasan sedang di akherat nanti akan menjadi penghuni neraka. Naudhubillahi min dhalik.

Hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan yang baik ini kita juga menyampaikan salam dan selawat kepada Nabi Muhammad saw, sebagai ungkapan kecintaan kita pada beliau dan penghormatan yang tiada berhingga atas segala perjuangan dan pengorbanannya dalam menyampaikan TUNTUNAN ALLAH SWT ke umat manusia, sehingga telah sampailah risalah itu ke tangan kita. Alhamdulillah. Risalah tersebut berupa tuntunan hidup yang sempurna,  meliputi semua dimensi kehidupan manusia, yakni kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat-bangsa-negara. Itulah hakekat dari MISI ISLAM, yakni menerapkan tuntunan Allah swt pada semua dimensi kehidupan.

Wahyu Allah yang turun secara bertahap selama sekitar 23 tahun berisi berbagai tuntunan hidup dari Allah swt untuk diketahui, diyakini kebenarannya, dan diterapkan oleh umat manusia dalam menjalani kehidupan mereka terkait berbagai permasalahannya. Pada ujung proses penyampaian rentetan wahyu itu  maka turunlah  wahyu terakhir yang tercantum dalam surat al Maidah ayat 3:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu, Aku cukupkan nikmatKu kepadamu, dan Aku telah ridho Islam sebagai agamamu.”

Ditegaskan pula dalam firmanNya di surat al An’am ayat 115:

“Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

Begitulah proses turunnya tuntunan Allah swt untuk manusia guna menata kehidupannya. Tuntunan itu bersifat pari-purna,  sudah disempurnakan oleh Allah, yang di dalamnya mengandung segala hal terkait kebutuhan dasar kehidupan manusia, yakni permasalahan pribadi seperti bagaimana cara menyembah Allah, berdoa, berpuasa, dan semacamnya; bagaimana mengelola rumah tangga yang benar seperti cara memilih pasangan hidup, pergaulan antara suami-istri, hubungan orang tua dengan anak, sikap terhadap tetangga, dan lainnya; serta bagaimana mengelola masyarakat-bangsa-negara seperti hukum yang harus ditegakkan terkait kecurangan, kemaksiatan, dan kejahatan, pengaturan ekonomi negara supaya membawa kesejahteraan rakyatnya, yang antara lain perbankan tanpa riba dan larangan perdagangan komoditas merusak/haram, budaya yang harus dikembangkan yang antara lain kebijakan melarang pornografi dan pornoaksi berorientasi menjaga aurat, mukhrim, serta kriteria pemimpin negara yang harus dipilih umat  dan proses pemilihannya yang jujur tanpa suap dan manipulasi suara.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya muliakan,

Sedemikian sempurnanya tuntunan Allah itu sampai hal-hal detail juga diberikan, khususnya bagi permasalahan yang rumit seperti pembagian waris, ketentuan siapa yang haram untuk dijadikan pasangan hidup, masa idah, pembagian zakat, dan lainnya. Tuntunan Allah dalam al Qur’an juga mengandung perintah agar manusia  mengkaji ilmu pengetahuan atau sains agar manusia semakin memahami sunnatullah (karakteristik alam semesta ciptaanNya), serta tegas memerintahkan agar manusia menjaga kualitas lingkungan hidupnya, tidak mencemari dan merusaknya.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Banyak orang beranggapan bahwa memahami isi al Qur’an itu sulit padahal tidak. Bahkan Allah menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 7:

“Dia menurunkan padamu Kitab (al Qur’an) yang di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat (jelas maknanya) yang mengandung pokok-pokok isi kitab dan ayat-ayat mutasyabihaat (samar artinya). Adapun orang-orang yang hatinya cenderung sesat mereka menggunakan ayat mutasyabihat untuk membuat fitnah dan mereka-reka takwilnya, padahal hanya Allah yang memahami takwil ayat mutasyabihat itu.”

Begitulah hakekat cara memahami substansi al Quran, tidak perlu merasa bingung, sulit, dan ragu karena pada ayat yang bersifat muhkamat sudah tidak diperlukan lagi takwil-takwil karena jelas dengan sendirinya. Jika ada ayat muhkamat yang memerlukan penjabaran, seperti misalnya perintah menegakkan shalat maka cukup dilihat dari hadits Rasulullah yang shahih. Untuk ayat muhkamat terkait memahami sunnatullah alam semesta, seperti perintah untuk mengkaji onta, langit, gunung, dan bumi maka penjabarannya bisa  diperoleh dari produk-produk sains yang dikembangkan oleh manusia dengan cara yang benar, bukan tipuan atau manipulasi. (Terkait ini silahkan melihat artikel khusus di blog ‘fuadamsyari.wordpress.com’)

Allahu Akbar,

Disebutkan dalam hadits bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Setiap manusia lahir dalam keadaan fithrah. Orang tuanyalah yang membikin dia berkembang menjadi (manusia yang berkarakter) yahudi, nasrani, atau majusi”.

Pada dasarnya kita lahir dalam kondisi fithrah, kondisi bersih, kondisi dimana ruh kita yakin seyakinnya akan adanya Allah swt untuk ditaati seluruh perintahNya. Dalam proses tumbuh-kembang manusia maka masuklah pengaruh lingkungan ke dalam diri manusia, dimulai dari peran orang tua, lalu teman, dan akhirnya kondisi masyarakat luas di mana dia hidup. Dari ke tiga unsur itu yang dominan sebagai penentu adalah peran orang tuanya karena orang tua itulah yang membentuk sejak awal, termasuk mengoreksi siapa teman pergaulan si anak dan di lingkungan bagaimana mereka tinggal. Jika tidak waspada maka peran orang tua dan lingkungan itulah yang lalu merubah manusia yang semula bersifat fithrah, bersih, berubah menjadi tidak lagi fithrah, menyimpang jauh dari status fithrah. Umat Islam tidak hanya harus kuat menghadapi lingkungan yang merusak tetapi juga wajib (sesuai dengan kemampuan masing-masing) merubah lingkungan sekitarnya agar tidak menjadi lingkungan yang rusak.

Allahu Akbar,

Puasa selama bulan Ramadhan seharusnya membawa umat Islam bisa  kembali ke kondisi fithrah itu. Dengan berpuasa Ramadhan sebulan penuh kita bisa mempertajam keyakinan hati ini bahwa kita adalah makhluk ciptaan Allah dan cepat atau lambat kita juga pasti kembali ke hadiratNya. Dengan puasa Ramadhan kita bisa meningkatkan kesadaran yang mendalam bahwa tuntunan hidup yang diberikan oleh Allah melalui Rasulullah Muhammad saw akan membawa kesuksesan hidup, kejayaan Islam, kemuliaan umat, keadilan-kesejahteraan masyarakat, dan mendatangkan rahmat bagi alam semesta. Tuntunan Allah itu bukan saja untuk mencapai keberhasilan hidup pribadi di akherat nanti namun juga amat bermanfaat untuk mencapai keberuntungan hidup selama berada di dunia ini dan membawa rahmat bagi alam seisinya. Begitulah hakekat misi Islam itu.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Sasaran misi Islam itu pada dasarnya ada 3 bentuk, yakni: 1). Keberhasilan pribadi; 2). Kesuksesan dalam berkeluarga; dan 3). Kesejahteraan dan kedamaian dalam hidup bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Ke tiga misi itu wajib diperjuangkan oleh umat Islam secara simultan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan yang dimiliki masing-masingnya.

  1. Keberhasilan Pribadi:

Setiap insan beriman pasti berharap hidupnya berhasil, bukan hanya di dunia ini namun juga di akherat nanti. Untuk mencapai itu Islam sudah memberikan panduannya, yakni syariat terkait masalah pribadi (as Syariatu fil masa’alati bis Syakhsiyah). Komponen penting untuk mencapai misi ini adalah syahadat, melakukan ibadah mahdhah dengan tertib dan benar, seperti shalat, puasa, dzikir, zakat-shadaqah-infaq, dan haji-umrah jika mampu, serta menjaga akhlak pribadinya sesuai tuntunan Islam seperti jujur, amanah, suka menolong, hidup sederhana, bekerja keras, rajin tidak bermalas-malas. Banyak ayat al Qur’an yang terkait kesuksesan pribadi ini seperti dalam surat al Baqarah ayat 277

“Sesungguhnya orang yang beriman dan beramal shaleh, menegakkan shalat dan membayar zakat, maka dia akan memperoleh keberuntungan dari Allah dan hatinya akan tidak terlanda ketakutan dan kekecewaan”

Dalam Surat at Thalaq ayat 2-3 Allah juga menjamin:

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membukakan baginya jalan keluar (bagi setiap kesulitannya) dan Allah akan memberi rizki baginya dari jalan yang tidak mereka sangka. Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah maka Allah akan melindungi-memeliharanya.”

Keberhasilan pribadi akan bisa dicapai oleh setiap muslim walaupun dia berada di tempat yang buruk sekalipun asalkan dia mau beriman sesungguh-sungguh iman dan bertaqwa sesuai tuntunan syariat syakhsiyah tersebut.

2.     Kesuksesan berkeluarga

Sering sebagai individu seorang muslim bisa berhasil, namun tidak jarang menemui kegagalan dalam berkeluarga. Kasus ini akan terjadi jika sebuah keluarga muslim tidak dikelola sesuai tuntunan Allah terkait berkeluarga  (as Syaariatu fil mas’alati bil A’ilah). Banyak sekali ayat Allah dalam al Qur’an yang terkait dengan masalah berkeluarga ini, belum lagi percontohan Rasulullah yang dimuat dalam Hadits shahih. Dalam al Qur’an ditegaskan bagaimana misi Islam tentang membangun keluarga ini, seperti yang tercantum dalam surat ar Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaannya, Dia menciptakan untuk kamu isteri dari jenismu supaya kamu tenteram bersamanya. Dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir”.

Mudah sekali untuk digahami bahwa pencapaian misi Islam seperti itu hanya akan tercapai jika sebuah keluarga menerapkan syariat Allah terkait keluarga. Bagaimana pergaulan suami-isteri tercantum jelas dalam al Qur’an antara lain di surat al Baqarah ayat 222-223, surat an Nisa 34 dan 128, surat al Ahzab ayat 32-35. Hubungan orang  tua dan anak antara lain tercantum dalam surat al Baqarah ayat 233, surat al Isra’ ayat 23-24, hubungan antar keluarga antara lain tercantum dalam surat an Nur ayat 27-29, surat al Ahzab 53. Begitu lengkapnya tuntunan Islam dalam membina keluarga sehingga tinggal menerapkannya saja untuk mecapai keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

3. Kesejahteraan-kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara.

Misi ke tiga dari agama Islam adalah terwujudnya kehidupan masyarakat-bangsa-negara yang adil makmur dalam ridho Allah swt. Misi inilah yang paling rumit dan berat pencapaiannya walau bukannya tidak mustahil untuk digapai. Dalam keyakinan Islam, sebuah bangsa-negara baru akan bisa mencapai kesuksesan, yakni membawa rakyatnya yang plural (berbagai agama, suku, ras, dan penggolongan lain) menjadi sejahtera secara adil-merata, penuh kedamaian dan keharmonisan hidup bersama, jika menerapkan tuntunan Allah terkait pengelolaan bangsa-negara (as Syariatu fil mas’alati bil Jam’iyah wad Daulah). Mengapa misi Islam terakhir ini rumit dan berat? Rumit karena mengurus sebuah bangsa-negara itu tidak mudah, banyak hal yang harus ditangani secara simultan berkait kelindan satu dengan yang lain, aspek politik, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, lingkungan, keamanan-ketertiban, dan lainnya. Keseluruhan proses pengelolaan itu pasti kompleks, tidak sesederhana jika dibanding dengan pengelolaan sebuah keluarga, apalagi mengelola diri pribadi. Di samping itu juga disadari bahwa cita-cita Islam untuk bisa mengelola suatu bangsa-negara dengan syariat Allah swt terkait kenegaraan bukanlah yang mudah didapat karena akan berhadapan dengan visi Non-Islam yang menghendaki cara lain dalam pengurusan sebuah negeri yang sama-sama dihuni. Tantangan atau persaingan dengan kelompok penganut visi Non-Islam itu bahkan sering bukan saja berskala nasional namun juga melibatkan bangsa-negara lain yang tidak sejalan dengan misi Islam. Pada proses persaingan itu bisa saja manifes dalam bentuk penentangan keras bahkan pertikaian fisik. Mengenai tantangan berat yang dihadapi umat Islam dalam menghadapi persaingan dengan Non-Islam  oleh Allah swt dicantumkan dalam  al Qur’an surat al Baqarah ayat 120

“Orang-orang Yahudi dan Nashara itu tidak akan pernah menerima/ridho sampai kalian mengikuti millah/sistem mereka’

Sebagai muslim yang beriman dan bertaqwa, serumit dan berat bagaimanapun, misi Islam dimensi ini tetap harus dilaksanakan demi melaksanakan perintah Allah swt. Apabila berhasil mengatasi tantangan dan memenangkan persaingan dengan penganut visi Non-Islam dalam pengelolaan sebuah negeri maka akan mencapailah cita-cita mulia umat mewujudkan negeri yang aman, sejahtera, adil, dan makmur dalam lindungan dan ampunan Allah swt, tidak terintimidasi dan dieksploitasi  (Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur). Keberhasilan seperti itu telah pernah terjadi dan terbukti mencapai sukses besar menjadi mercusuar peradaban dunia, yakni di masa awal Islam, mulai zaman Rasulullah saw yang diteruskan dalam masa kepemimpinan khulafaur Rasyidin.

Allahu akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Sesungguhnya masalah kerumitan pengelolaan negeri sesuai syariat itu mudah diatasi karena secara tehnis metoda pengelolaan Islami memang telah tertera di al Qur’an dan dicontohkan Rasulullah sewaktu memimpin negara Madinah, tinggal menerapkannya saja. Apalagi jika kewenangan formal untuk mengelola negara sudah berada di tangan umat Islam maka prosesnya tentu akan lancar karena  ditunjang sumberdaya manusia dan alam yang melimpah di negeri bersangkutan. Jadi  yang justru harus menjadi perhatian umat untuk menggapai misi Islam ketiga ini terletak pada tantangan yang dihadapi dari fihak penganut visi Non-Islam yang berhasrat  mengelola negeri tidak sejalan dengan syariat Allah swt. Ironisnya, bahkan sebagian orang yang mengaku muslim sendiri ikut-ikutan mendukung visi Non-Islam dalam pengelolaan sebuah negeri.

Orang-orang yang beragama Islam maupun bukan yang menganut  visi Non-Islam dalam mengelola negeri disebut sebagai pendukung Ideologi Sekuler, sedang mereka yang mendukung visi Syariat dalam mengelola negeri disebut sebagai pendukung Ideologi Islam. Kedua kelompok pendukung ideologi yang berbeda diametrikal itu akan saling berebut pengaruh mendapat dukungan rakyat negeri (yang plural), agar berhasil memiliki kewenangan formal dalam mengelola negera. Di sinilah kemudian muncul pentingnya keberadaan ‘lembaga/institusi’ yang menjadi wadah para pendukung ideologi (Islam/Sekuler), yakni Partai Politik. Dalam al Qur’an, partai politik disebut sebagai HIZB, sedang partai politik yang mengusung penegakan syariat Islam dalam pengelolaan negara disebut HIZBULLAH. Partai Islam atau hizbullah inilah yang lalu akan berhadapan dengan Partai Sekuler untuk mendapat dukungan sebanyak-banyaknya dari rakyat.

Allah menegaskan di dalam al Qur’an surat al Maidah ayat 56:

“Barang siapa yang menjadikan Allah, RasulNya, dan orang mukmin  sebagai pemimpin, maka (mereka tersebut yang bergabung dalam) HIZBULLAH (partai Islam) itu akan menang (dalam perjuangan politiknya)”.

Adapun bagi orang Islam namun  malah menganut ideologi sekuler bukan ideologi Islam  Allah memperingatkannya dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 85:

“Apakah kalian hanya mau beriman pada sebagian ayat Allah dan menolak ayat lainnya? Jika demikian perilaku kalian maka tidak ada balasan yang layak kecuali kehinaan hidup di dunia dan siksa yang pedih di akherat nanti”

Juga diperingatkan dalam surat al Maidah ayat 51:

“Wahai orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashara sebagai pemimpin, sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain. Dan barang siapa diantara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia (orang Islam itu) termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dlalim”.

Dari melihat peran partai politik atau hizb yang sejelas itu, yakni bermisi menerapkan syariat Allah untuk mengelola bangsa-negara demi kebaikan bangsa-negara itu sendiri, maka Partai Politik  Islam itu memiliki posisi khusus, tidak bisa disamakan dengan organisasi Islam lainnya di kalangan umat Islam, seperti Ormas, Paguyuban, LSM Islam, dan lainnya Organisasi sosial-kemasyarakatan tersebut umumnya bergerak hanya sekitar aktifitas sosial-kemasyarakatan seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, menyantuni anak yatim, peribadatan ritual, dan semacamnya, tidak terkait sama sekali dengan perjuangan cara pengelolaan bangsa-negara. Oleh sebab itu umat Islam, selain boleh saja memiliki organisasi kemasyarakatan, tetap harus berfihak, mendukung, dan menguatkan hizbullah atau Partai Islam, tidak menjadi pendukung Partai Sekuler, supaya tidak melanggar tuntunan Allah swt. Jika mengelola negara secara syariat itu bersifat wajib, maka keberadaan dan dukungan pada Partai Politik Islam yang menjadi persyaratan untuk mewujudkan tujuan itu juga menjadi wajib syar’i bagi umat Islam.

Dalam proses memenangkan perjuangan menegakkan ideologi Islam jelas diperlukan pengorbanan materi dan non-materi. Perjuangan mulia dan berat ini masuk dalam kategori JIHAD Islam yang juga menjadi salah satu kewajiban syar’i umat. Jihad  dalam bentuk perjuangan politik Islam itu berbeda dengan aktifitas dakwah pada umumnya yang mengajak manusia untuk beribadah ritual, berakhlak baik, dan lain-lain amal sosial. Walaupun begitu apabila dakwah mau menyeru  umat agar mendukung hizbullah atau Partai Islam maka dakwahnya telah bisa disebut memenuhi kewajiban membawa misi Islam yang ke tiga ini. Perlu disadari bahwa perjuangan ideologi Islam itu sendiri tidak sebatas menyeru umat untuk mendukung Partai Islam namun juga membentuk dan menguatkan hizb/partainya, menggerakkan partai itu, memenangkannya dalam pemilu, serta mengelola negeri sesuai syariat Islam jika berhasil menang dalam persaingannya dengan  pengusung ideologi sekuler.  Begitulah hakekat kaitan antara dakwah dengan politik Islam, dan antara organisasi sosial kemasyarakatan Islam dengan Partai Politik Islam.

Aktifitas dakwah Islam dan aktifitas politik Islam memang memberi dampak berbeda dalam mengangkat misi Islam. Dari sejarah perkembangan Islam di masa Rasulullah terbukti sekali bagaimana peran politik Islam dalam mengangkat Islam dan memuliakan umat. Tatkala Rasulullah berdakwah di Mekah selama 13 tahun hasilnya menyadarkan sekitar 300 orang memeluk Islam namun kondisi masyakarat Mekah tetap rusak-terpuruk. Begitu perjuangan Islam masuk ke tataran politik bahkan Rasulullah menjadi Kepala Negara Madinah yang lalu dikelola beliau secara syariat maka  dalam waktu yang hanya sekitar 10 tahun seluruh jazirah Arab menjadi muslim dan rakyatpun lalu tersejahterakan, hidup penuh kehormatan, bebas dari penindasan dan eksploitasi asing.

Akhirnya sebagai catatan pamungkas khutbah pagi ini mari kita perhatikan peringatan Allah swt dalam surat Ali Imron ayat 142:

“Apakah kalian mengira sudah pasti akan masuk surga padahal belum tampak jelas di sisi Allah jihad  dan sikap sabar kalian!”

Allaahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1433 H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah perlindunganMu agar kami tidak lagi tersesat setelah kami beriman.

Ya Allah, murnikanlah tauhid kami, kuatkanlah iman kami, kokohkanlah ketaqwaan kami, dan tambahkanlah ilmu dan kemampuan kami dalam menjalani kehidupan sesuai dengan syariatMu.  Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Khotbah Iedul Fithrie

1433H/2012M

di

Perguruan Muhammadiyah

Sidoarjo.

Entry filed under: khotbah, Pemikiran. Tags: , , , , , , , , , , , , , .

DOSA DAN TAUBAT, Bagaimana Empirisasinya? DEMOKRASI ATAU REVOLUSI (Sanggahan terhadap Pemikiran Abdul Qadim Zallum yang mengharamkan Demokrasi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2012
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: