PENISTAAN AKAN DATANG BERTUBI-TUBI, VULGAR, DAN AGRESIF PADA MEREKA YANG LEMAH DAN SEDANG DILEMAHKAN

4 October 2012 at 19:51 Leave a comment

Saat Nabi Muhammad dan umat Islam masih lemah di Mekah, penistaan datang bertubi-tubi, bukan hanya pada isi ajaran Islamnya namun juga pada pribadi Rasulullah. Nabi dicacimaki sebagai pembawa sihir-gila-dll, dillempari kotoran-batu, serta berbagai macam hinaan lain. Vulgar, agresif, terbuka, dan bertubi-tubi. Hal itu terjadi saat umat Islam lemah dan sedang dilemahkan oleh lawan keyakinannya, sedang dalam bayangan kekuasaan orang kafir dan musyrik. Respon Nabi dan umat Islam masa itu tentu amat rasional,  menerima pelecehan dengan kesabaran, mengusap dada, istighfar, serta mendoakan semoga orang kafir-musyrik diberi hidayah oleh Allah SWT, namun secara simultan juga terus berjuang menebar kebenaran dan memperkuat barisan Islam.

Saat Nabi sudah menjadi Kepala Negara Madinah, umat Islam bersatu padu memperkuat negeri muslim (kecuali yang Munafik), tuntunan Islam dijadikan acuan dalam mengelola kehidupan sosial-politik, maka hilanglah semua penistaan, pelecehan, dan penghinaan pada Islam dan Nabi itu. Kaum munafik dan kafir bisa saja maunya terus menista dan menghina karena kecemburuan dan kebodohannya namun dilakukan sembunyi-sembunyi, tidak bertubi-tubi, tidak vulgar, tidak terbuka. Mereka takut terancam  hukuman tegas menjerakan karena menebar kemungkaran dan mengancam berkembangnya peradaban luhur manusia.

Bagaimana yang terjadi masa-masa kini? Tayangan YouTube “Innocence of Muslims” yang  bisa diunduh dalam skala dunia jelas merupakan serangan bersifat global pada Islam dan umat Islam. Penghinaan pada pribadi nabi Muhammad SAW, nabi yang amat dimuliakan oleh umat berjumlah sekitar 2 milyar orang, pemeluk agama terbesar di bumi, jelas amat tidak masuk akal sehat. Mudah sekali diingat bagaimana serangan pada Islam datang secara beruntun, terus menerus bergelombang, dengan ciri yang serupa:  melecehkan ajarannya, kitab sucinya, dan menghinakan nabinya. Katakanlah mulai dengan Salman Rusydi dengan buku ‘Satanic Verses’ yang melecehkan isi kitab suci umat Islam, al Qur’an. Penulisnya lalu dilindungi oleh Pemerintah Inggris, disembunyikan dari kejaran umat Islam yang ingin membunuhnya. Pemimpin Pemerintahan Islam Iran masa itu, yakni Ayatullah Khomeni mengeluarkan fatwa bahwa darah Salman Rusydi halal untuk dibunuh karena menghina Islam. Fatwa tersebut sampai kini belum dicabut, Salmanpun terus disembunyikan, dilindungi, sampai kapan, wallahu a’alam.

Kasus Salman Rusydi nampaknya menjadi inspirasi baru musuh Islam dalam memusuhi Islam, yakni menyerang umat Islam langsung dari sisi ajaran Islam serta kitab suci dan Nabinya. Setelah ‘Satanic Verses’ sebagai triger penyerangan terbuka, dan ternyata umat Islam tidak bisa berbuat banyak oleh adanya perlindungan kelompok negara Non-Islam, tidak berselang lama muncul kartun  di Denmark yang menggambarkan secara visual pribadi Nabi dengan pencitraan penghinaan pada pribadi beliau. Memvisualisasikan nabi saja dalam Islam sudah dilarang apalagi jika dikartunkan dengan penggambarkan perilaku jahat dan tercela. Luarbiasa penghinaaan itu. Kembali umat Islam di dunia tidak berdaya karena Pembuat kartun juga mendapat perlindungan pemerintahan negerinya dengan alasan kebebasan berekspresi, tidak peduli apakah ekspresi itu menusuk hati milyaran penduduk bumi. Manusia memang diberi Allah SWT kemampuan berfikir luarbiasa, sehingga mudah untuk membuat alasan pembenar dan melindungi kejahatan kemanusiaan, bisa berjuta macam. Gema kartun belum hilang muncul pula pernyataan Paus (yang baru terpilih pengganti Paus lama yang meninggal) tentang sejarah Islam dengan nada sinisme. Pelecehan Islam kemudian berlanjut dengan pernyataan oleh Wilders, anggauta DPR Belanda, dilengkapi dengan pembuatan film pendeknya berjudul ‘FITNA’ yang kembali menghina Nabi Muhammad SAW dan ajaran al Qur’an. Walau sempat diadukan  ke pengadilan Belanda namun ternyata diputuskan tidak bersalah. Kembali ada perlindungan, kali ini menggunakan sisi hukum, untuk melepaskan penista Islam oleh negara Non-Islam. Astaghfirullah, pelecehan pada Nabi Muhammad dan penghinaan pada agama Islam  berlangsung deras dengan perlindungan oleh pemerintahan non-Islam, negeri non-muslim.

Belum habis gaung dan rasa sakit hati umat Islam oleh Wilder datanglah provokasi untuk membakar al Qur’an oleh pendeta Terry Jones yang walau batal dilakukan saat itu namun beberapa waktu kemudian menjadi kenyataan dalam bentuk pembakaran  kitab suci Islam oleh militer Amerika di negeri taklukannya, Afganistan. Dan kini yang terbaru, di tengah suasana panas oleh terjadinya kemelut politik berkelanjutan, termasuk penggunaan kekuatan militer, di banyak negeri muslim (Iraq, Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Syria) muncullah sesuatu yang terasa kian dahsyat, menyakitkan hati umat Islam, yakni teror penghinaan kembali terhadap Nabi Muhammad SAW melalui media yang bisa diakses di seluruh penjuru dunia dan dilakukan oleh warga negera sebuah negeri yang selama ini memang dianggap terlibat dalam semua kekacauan di negeri muslim. Berita Republika 19 September menyebutkan bahwa ada perilaku menyembunyikan produsen film ‘Innocence of Muslims’ tersebut oleh polisi setempat ke tempat rahasia agar tidak diserang; bukannya  dia ditangkap untuk diadili terkait perbuatan penistaannya pada Islam. Sekali lagi kembali dipakai alasan hukum dan kebebasan berekspresi untuk melindunginya. Umat Islam seduniapun tidak bisa berbuat banyak pula kecuali sabar, mengelus dada, dan berdoa semoga Allah SWT membuka hati mereka yang mendholimi Islam. Sebegitukah memang lemahnya umat Islam di kancah internasional?

Sesudah kasus film dengan biaya jutaan dolar itu apa pula  kiranya yang akan muncul untuk menghujat Islam dan melecehkan Nabi Muhammad SAW? Di mana ujung semua serangan terhadap kehormatan Islam dan umatnya  tersebut?

Reaksi umat Islam terhadap Penistaan agama Islam dan pelecehan pada Nabi Muhammad SAW bisa diklasifikasi dalam beberapa kategori, yakni:

1).  Sasaran Reaksi: a). Penghujat; dan b).  Pemerintahan Negara di mana penghujat itu menjadi warga-negara.

2).  Bentuk Reaksinya: a). Fisik; b). Upaya hukum; dan  c). Protes verbal.

3). Pelaku Reaksi: a) Individu muslim; b). Organisasi Islam; dan c). Pemerintahan negeri muslim.

Dengan menggunakan kategorisasi di atas kini bisa dianalisis kualitas dan efektifitas reaksi umat Islam terhadap adanya penistaan pada agama dan Nabinya. Khomeini telah membuat reaksi menggunakan kapasitas pemerintahan untuk menghukum fisik pribadi pelaku penghinaan, yakni Salman Rusydi. Upaya itu tidak berhasil dieksekusi karena berhadapan dengan pemerintahan negeri lain (non-Islam) yang justru melindungi dan menyembunyikan pelakunya. Umat secara beramai merespon pernyataan Paus tentang Islam sehingga membuat Paus melakukan klarifikasi dan tidak ada lagi pernyataan negatif pada Islam. Proses hukum oleh kelompok umat di Belanda ternyata gagal membawa hasil, Wilder tetap tegar dengan pernyataannya. Protes demo massa yang berlanjut dengan terbunuhnya Dubes Amerika Serikat di Libya bisa dikategorikan sebagai satu-satunya bentuk reaksi fisik terhadap Perwakilan suatu Pemerintahan yang dinilai membiarkan atau melindungi penghujat yang menjadi warga negaranya. Protes masa  pada pembuat kartun di Barat juga tidak memberi hasil, kartun baru bahkan muncul sesudah film ‘Innocence of Muslims’.

Respon terhadap pelecehan agama Islam memang tidak ada yang dilakukan invidu muslim karena memang  masalah ini bukan ranah individu lagi namun sudah ranah sosial-politik. Koreksi terhadap pelecehan itu minimal harus dilakukan oleh kelompok umat, apakah kelompok dengan kemampuan terbatas seperti Partai Politik, Ormas, Lsm Islam, atau kelompok dengan kekuatan sosial-politik berkedaulatan, yakni Negara-Pemerintahan yang melindungi kesucian  agama Islam. Fenomena yang mengherankan adalah begitu sedikitnya respon oleh negara yang selama ini banyak disebut sebagai pembela dan pelindung  Islam dan umat Islam.

Protes oleh kelompok Islam saja tidak berhasil menghentikan pelecehan, apalagi oleh invidu. Bahkan protes oleh Pemerintahan Islampun seperti pada kasus Salman Rusydi juga tidak berhasil dilaksanakan karena perlindungan Pemerintahan Non-Islam. Kini ada upaya membawa kasus pelecehan terhadap Islam di forum PBB dalam bentuk menyusun Protokol PBB untuk mengatasi Penistaan Agama. Banyak yang pesimis terhadap upaya itu karena sudah pernah diupayakan oleh Negeri Islam Pakistan namun hasilnya nihil karena adanya penolakan oleh Pemerintahan Negara non-Islam yang kini sedang mendominasi kebijakan PBB. Upaya Presiden Indonesia yang kali ini mengusung kembali dibuatnya Protokol Anti Penitaan Agama oleh PBB diperkirakan juga akan sia-sia walau upaya tersebut sedikit banyak bisa menghibur sesaat kegundahan hati umat Islam di negerinya, …. sampai datang kembali penistaan-penistaan baru.

Bentuk reaksi umat terhadap penistaan Islam yang paling memprihatinkan adalah sekedar menyerukan umat untuk sabar dan toleran. Di Surabaya sempat muncul baligo iklan besar berbunyi “Makin dihina Kami makin Cinta”. Juga amat  menyedihkan jika ada tokoh Islam yang berpendapat biarkan saja pelecehan2 itu, nanti akan berhenti sendirinya. Atau biar saja mereka gila kita jangan ikut-2 berbuat gila. Atau selalu mengacu respon Nabi di era Mekah saja, itupun diterjemahkan dengan salah yakni sekedar diam dan berdoa, lupa gelora semangat untuk terus membesarkan dan menguatkan Islam. Apakah umat Islam kini begitu lemahnya ibarat umat di masa awal Islam di Mekah yang berjumlah hanya sekitar 100 orang berhadapan dengan seluruh penduduk Mekah yang masih musyrik/kafir? Allah juga yang akan memberi balasan bagi individu muslim namun hatinya begitu lemah sehingga tidak ‘marah’ terhadap penghinaan pada agama dan Nabinya. Mereka lupa bagaimana sikap Nabi sewaktu di Madinah, sewaktu umat Islam sudah memiliki posisi politik dan sosial yang kuat. Lihat bagaimana sikap nabi saat utusannya dilecehkan, saat ada penduduk muslim yang dihinakan. Lihat surat al Baqarah ayat 190 &194, dan perhatikan hadits shohih tentang bagaimana harus merespon jika menemui kemungkaran.

Jika dalil HAM kebebasan berekspresi atau berpendapat boleh dipakai dan  bahkan digunakan Pemerintah Negara untuk melindungi para penista Islam mengapa di Barat ada larangan berkampanye Komunisme. Bagaimana jika ada orang  menista dan penghina tokoh-kitab suci agama atau Pahlawan Negeri mereka dengan tuduhan keji, melecehkan? Apakah pemerintahan setempat diam atau  umat agama yang terkait diam, warga negara terkait diam? Perlu diingat bahwa provokasi2 skala internasional seperti itulah yang membuat meletusnya Perang Dunia pertama dan kedua, apakah memang ada kecenderungan melakukan provokasi untuk meletupkan Perang Dunia ke tiga melalui pelecehan2 terhadap agama Islam yang bertubi-tubi?

Adakah skenario besar dibalik pelecehan2 terhadap agama Islam yang dilakukan oleh dunia Barat disertai perlindungan intensif  pada para pelakunya?

Penistaan terhadap Islam yang datang bertubi-tubi itu bisa diterangkan dalam beberapa kemungkinan, yakni:

1). Pelakunya murni individu yang memahami bahwa Islam itu amat buruk dan berkampanye penuh kebencian supaya dunia tahu bahwa Islam itu buruk. Dia sakit, perusak peradaban dan kemanusiaan.

2). Bukan lagi tindak personal namun ada JARINGAN Anti Islam, bekerja sistematik melakukan propaganda memusuhi Islam dengan cara naif, memancing emosi umat Islam supaya menjadi marah, beringas, brutal  sehingga Islam di mata masyarakat dunia lalu jatuh citranya dan tidak berkembang. Mereka melihat Islam sebagai pesaing, mengancam eksistensi keyakinan/kepercayaan mereka. Kelompok ini bekerja dengan koordinasi rapi, menginduksi dan memanfaatkan berbagai kebijakan pemerintahan, antara lain jargon kebebasan berekspresi agar mendapat perlindungan negara setempat

3). Bukan lagi bersifat individual atau kelompok masyarakat terbatas namun sudah menjadi Skenario Global untuk menekuk Islam sebagai pesaing Ideologi Politik. Mereka memakai tangan-tangan non-pemerintah namun siap untuk memberi perlindungan negara. Skenario semacam ini telah disinyalir oleh Huntington dalam tulisannya ‘Clash of Civilization’ di mana setelah kejatuhan  Komunisme maka musuh/pesaing Barat berikutnya adalah dunia Islam. Mereka melakukan kampanye global secara sistematis untuk menghancurkan kekuatan Islam dari dalam melalui perusakan Islam sebagai Ideologi Politik. Mereka menggunakan dua strategi, yakni: a). merusak Aqidah dengan membeayai propaganda Islam Liberal, Islam Sekuler, Islam Toleran, dan Pluralisme; dan 2). penghancuran moral umat melalui cara merusak kebanggaan umat, khususnya kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan kemurnian-keotentikan-keunggulan al Qur’an. Mereka berharap dengan dua strategi itu akan mampu  membuat umat menjadi lemah. Strategi ini bisa dikategorikan sebagai serangan non-fisik atau non-militer untuk menguasai dunia di mana Ideologi Islam adalah pesaingnya.

4) Skenario terburuk terkait adanya penistaan Islam bertubi-tubi adalah jika itu merupakan bagian dari strategi perang global terhadap Islam (suatu ‘software’ dari strategi militer). Penistaan Islam disulut untuk memicu memanaskan suasana dunia sehingga akhirnya umat Islam terpancing melakukan perlawanan fisik militer padahal kemampuan militer umat Islam masih jauh tertinggal sehingga akan mudah untuk dihancurkan sama sekali, suatu skenario annihilasi Islam sebagai alternatif peradaban dunia. Musuh Islam sudah  siap untuk itu  walau harus dengan resiko berkobarnya perang dunia ke tiga. Islam akan ditaklukkan secara global senyampang kekuatan politik-ekonomi-militernya jauh dibawah kekuatan non Islam.

Bagaimana cara memilah berbagai alternatif kemungkinan di atas? Sebenarnya tidak sulit. Jika pemerintah di Barat mengambil tindakan tegas/jelas, khususnya menangkap para pembuat dan penyebar tulisan/ gambar/klip yang menista Islam  tersebut, mengadilinya secara jujur dengan standar internasional dalam menghormati agama, memberikan sanksi tegas karena merusak kedamaian hidup bersama, maka akan selesailah permasalahannya. Namun jika Barat yang umumnya non-muslim itu membiarkan warga negaranya berperilaku sebrutal apapun terhadap agama Islam, apalagi jika terkesan melindungi, maka jelas di belakangnya  tentu ada skenario lain yang harus diwaspadai umat Islam.

Jawaban dari keseluruhan kemelut penistaan agama Islam itu adalah umat Islam harus kokoh-kuat dalam seluruh aspek kehidupan, bukan saja aqidahnya namun juga sisi kehidupan duniawinya, dalam ekonomi, sosial-politik, keilmuan, teknologi, dan militernya. Umat perlu segera menyadari bahwa bisa saja  ada perbedaan dalam praktek individu dalam beribadat mahdhah/ritual, namun perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi pertikaian sosial. Perbedaan dalam bermadhab Sunni-Syiah misalnya, atau di dalam Sunni sendiri ada madhab Syafei, Hambali, Maliki, Hanafi  tidak perlu menjadikan umat bertikai sehingga melemahkan kekuatan Islam. Hal-hal bersifat ritual itu seharusnya dikembalikan saja kepada Allah SWT yang akan mengukur ketepatan beritual dan keihlasan melaksanakannya.

Sebaliknya dalam menghadapi tantangan dari luar, khususnya  ancaman terhadap aqidah dan kehormatan Islam maka umat justru harus bersatu mengatasi intervensi musuh. Islam. Islam sebagai Aqidah dan Ideologi memang akan menghadapi tantangan secara global karena musuh Islam tidak rela tersaingi baik dalam keyakinan maupun cara mengelola bangsa/negara/dunia (dengan penduduk yang tentu majemuk/heterogen) Aqidah dan Ideologi Islam itu harus dipertahankan oleh umat Islam secara bersama-sama walau  diantara mereka ada perbedaan dalam peribadatan mahdhah/ritual.

Pertarungan Islam dan Non-Islam dalam masalah Ideologi (cara mengatur tatanan bangsa-negara-dunia) adalah pertarungan abadi sampai akhir zaman. Ideologi Non-Islam, apapun nama yang dipakai (Nasionalisme, Komunisme, Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme, Sekularisme, dll) jelas berbeda diametrikal dengan Ideologi Islam. Setiap ideologi akan diperjuangkan penganutnya secara maksimal, termasuk upaya untuk menjatuhkan ideologi lawan sehabis-habisnya. Islam sebagai ideologi saat ini sedang dihantam secara kasar dan halus dengan mempropagandakan Liberalisme- Sekularisme Islam, supaya Islam hanya tertinggal sisi ritualnya belaka dan menyerahkan pengelolaan-pengendalian bangsa/negara/dunia pada ideologi non-Islam. Permasalahan mendasarnya adalah  apakah Ideologi Non-Islam (Sekuler) itu memang bisa menghantarkan dunia  kepada keadilan, kejujuran, keharmonisan, keluhuran budi, kesejahteraan umat manusia? Bukankah ideologi non-Islam itu ternyata agresif mengeksploitasi kekayaan alam dan umat manusia untuk kepentingan segelintir manusia saja  dan mengakibatkan kemiskinan masif, penindasan, ketidak-adilan, kerusakan moral/akhlak, dan kekerasan/kekejaman di mana-mana? Umat Islam harus teguh memegang Islam sebagai Ideologi, tidak sekedar ritualnya saja.

Penistaan terhadap Islam  yang bertubi-tubi tidak mustahil sebagai bagian dari pertarungan ideologi untuk mengelola dunia. Jika itu kasusnya, maka umat Islam harus berfikir ke arah yang benar, yakni memfokuskan diri berupaya maksimal merealisir Ideologi Islam, yakni bisa mengelola negerinya masing-masing dengan cara Islam. Jangan sampai umat terjebak/ terperangkap mengikuti propaganda musuh  Islam untuk mengelola negerinya dengan cara sekuler, atau apapun nama yang diberikan mereka. Negeri2 yang mayoritas penduduknya muslim seharusnya memulai proses ke arah itu, serta lalu menguatkan negerinya dengan metoda syariat dalam seluruh aspek kehidupan negerinya, apakah ekonomi, politik, sosial-budaya, dan kekuatan militernya. Hanya dengan pengelolaan negeri sesuai Ideologi Islam maka umat Islam, pelan tapi pasti, akan mampu menghalau kepicikan musuh Islam yang melakukan penistaan-penistaan yang tidak beradab. Masalah utama yang kini sedang dihadapi umat Islam di dunia pada umumnya adalah banyak negeri dengan mayoritas penduduk muslim masih dikuasai partai politik yang mengusung Ideologi Non-Islam (sekuler) sehingga dengan mudahnya  jatuh kepelukan pengaruh musuh Islam. Di samping itu banyak  pula negeri  muslim bertikai internal berebut kekuasaan sesama muslim tanpa mengkaitkannya dengan Ideologi Islam. Mereka mudah di adudomba musuh Islam, menjadi lemah,  dan jatuh dalam kekuasaan ideologi non-Islam.

Kasus Indonesia seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi  banyak negeri muslim di dunia. Negeri ini pernah jatuh dalam cengkeraman penjajah yang mengelola negeri secara Sekuler dan kekayaan tanah airnya lalu terkuras ke negeri penjajah. Sesudah merdeka negeri ini juga masih saja dikelola dengan  cara non Islami walau pengelolanya beragama Islam sehingga kekayaan negeripun terus terkuras ke negara lain. Negeri terlemahkan oleh kebijakan2 sekuleristik, bangsa yang mayoritasnya muslim tetap menjadi bangsa miskin, ringkih. Dengan Sistem Sekuler maka hanya sebagian kecil penduduk  yang bisa hidup layak, mayoritas masih miskin/pas-pasan,  dengan sebagian  lain yang teramat sedikit malah bergelimang kemewahan-kemegahan duniawi, suatu ciri khas negeri yang dikelola dengan ideologi sekuler. Setelah ada reformasi dan boleh berdiri Partai  berAsas Islam masih banyak saja rakyat yang memilih Partai Sekuler karena pemahaman keislamannya sebatas aqidah dan ritual, mengabaikan kewajiban untuk mentaati dan membela ideologi Islam. Di sisi lain banyak pula tokoh Partai Islam yang dengan entengnya mengabaikan misi ideologisnya dan mau partainya tersubordinasi pada ideologi sekuler dengan imbalan sedikit.

Kasus Iran seharusnya juga bisa menjadi pelajaran bagi banyak negeri muslim di dunia. Negeri yang semula dikelola secara sekuler sehingga tetap melarat dan terkuras kekayaan tanah airnya akhirnya mampu berubah menjadi negeri yang dikelola dengan Ideologi Islam (walau secara ritual umumnya rakyat bermadhab Syiah). Negeri tersebut sedang berusaha keras membangun-menguatkan kondisi sosial-ekonomi-militernya, namun segera saja mendapat gangguan/permusuhan terbuka oleh negeri yang menjadi penganut  Ideologi Sekuler (non_Islam). Negeri Iran bahkan sudah diboikot secara ekonomi-militer agar tidak berhasil menjadi negeri kuat hanya dengan alasan mengembangkan teknologi nuklir yang diperlukan untuk tenaga listrik dan medis. Iran kini malah diancam untuk diserang secara militer. Itulah contoh vulgar bagaimana pertarungan Ideologi  Islam vs Non-Islam dalam dunia internasional.

Kasus Madinah di masa Rasulullah seharusnya juga menjadi pelajaran bagi banyak negeri muslim. Negeri itu yang semula dikelola secara jahiliyah (penyebutan sekuler masa itu) mampu berubah menjadi negeri yang dikelola sesuai Ideologi Islam oleh Rasulullah dan umat Islam. Walau terus dimusuhi oleh lawan  Islam namun  akhirnya Negeri Madinah mampu mengatasi  dominasi negeri adikuasa masa itu, Romawi dan Persia yang menganut ideologi sekuler. Ujungnya adalah bahwa Madinah menjadi mercusuar dunia, tidak lagi  Islam dinista dan diremehkan. Jelaslah terbukti bahwa hanya dengan Islam Politik, mengelola sebuah negeri dengan syariat maka Islam bisa menjadi jaya dan umatnya termuliakan, terbebas dari penistaan dan penghinaan.  

Indonesia, awal Oktober 2012

Entry filed under: Internasional, Pemikiran, Politik, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , .

DEMOKRASI ATAU REVOLUSI (Sanggahan terhadap Pemikiran Abdul Qadim Zallum yang mengharamkan Demokrasi) BERJUANG DENGAN BERKORBAN AKAN MENJAGA IMAN TIDAK TERGERUS KEDUNIAAN (KHOTBAH IEDUL ADHA 1433H) DR. Fuad Amsyari, Dewan Kehormatan ICMI Pusat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2012
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: