BERJUANG DENGAN BERKORBAN AKAN MENJAGA IMAN TIDAK TERGERUS KEDUNIAAN (KHOTBAH IEDUL ADHA 1433H) DR. Fuad Amsyari, Dewan Kehormatan ICMI Pusat

21 October 2012 at 20:13 1 comment

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,

Iftitah

Allaahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Pertama kali marilah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk limpahan rahmat pada pagi hari ini, hari yang cerah, sejuk, dan segar. Dari semua karunia itu, karunia terbesar dari Allah swt adalah hidayah yang telah membuka hati kita menjadi hati yang beriman, yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT tuhan kita dan tuntunan Allah adalah cara hidup yang benar dan baik untuk keselamatan di dunia-akhirat.

Selanjutnya kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, khususnya sebagai ungkapan kecintaan dan penghormatan kita pada beliau. Rasulullah dengan berbagai upaya serius- kreatif-inovatif, telah berjuang dan berkorban untuk menyampaikan risalah Ilahi Rabbi ke umat manusia. Alhamdulillah telah sampailah risalah itu ke tangan kita untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, juga untuk keselamatan kita sendiri.  Marilah kita selalu menjaga iman kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar iman yang dengan iman itu  kita akan terdorong terus mencari apa gerangan tuntunan2Nya dan  lalu menerapkannya sesuai dengan kemampuan-kewenangan yang kita miliki. Hanya  dengan begitu kita akan amat berhasil dalam kehidupan ini.

Allah SWT berfirman dalam Surat Hujurat ayat 13:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling kuat ketaqwaannya”

Allaahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Keimanan pada Allah dan ketaqwaan melaksanakan tuntunan2Nya, atau dengan kata lain ‘beragama secara benar’, kini mendapat tantangan yang luarbiasa kuatnya. Tantangan itu bukan hanya dari sisi kemiskinan pribadi jika menimpa seperti yang disinyalir oleh hadits Rasulullah bahwa kemiskinan mendekatkan manusia pada kekufuran. Tantangan pada keimanan juga bisa datang bila hidup terlalu mudah, nyaman, kekayaan berlimpah, kekuasaan besar. Hal-hal semacam itu juga bisa menjadi pengganggu manusia memudarkan keimanan-ketaqwaannya pada Allah SWT. Rasulullah mengingatkan bahwa keberuntungan duniawi pada dasarnya cobaan hidup.

Hidup yang begitu mudah, gampang mendapat berbagai keberuntungan berlimpah, sering mengakibatkan orang lupa daratan, dan berfikir tanpa beragamapun dapat hidup nyaman, tanpa kekurangan dan dihormati orang banyak. Contoh ekstrem adalah apa yang terjadi pada Steven Hawkings, pakar matematik yang disanjung di dunia akademis karena pemikirannya yang canggih. Dirinya amat tercukupi dengan penghasilan tinggi dan penghormatan luarbiasa namun ujungnya  ternyata lalu menjadi ateis, menafikan eksistensi tuhan. Gejala semacam ini kini sedang melanda rakyat Amerika Serikat. Dalam survey terbaru diketahui jumlah penduduk AS yang menyatakan diri tidak beragama menjadi  20% padahal 5 tahun lalu prosentasinya masih sekitar 15%. Bayangkan, satu dari setiap 5 orang AS tidak beragama. Agama yang dipeluk mayoritas penduduk AS selama ini adalah Kristen Protestan namun pada survey tersebut prosentasenya merosot tajam, tinggal 46%. Mengapa bisa begitu? Bukankah mereka  berada di negeri yang tergolong negeri kaya raya, menjadi adikuasa dunia, baik dalam hal ekonomi maupun teknologi dan militernya?

Kemajuan tekonologi umat manusia pada dekade terakhir ini memang melesat luarbiasa. Dari penentuan pemenang Nobel Prize (penghargaan prestasi manusia di bidang ilmu pengetahuan) dapat diketahui betapa pesat kemajuan iptek sekarang. Hadiah Nobel 2012 di bidang Kedokteran misalnya, diberikan kepada pakar yang telah menemukan teknologi bagaimana mengubah sel dewasa suatu jaringan menjadi sel punca/mula (stem cell) yang mampu berkembang menjadi sel dewasa berbagai jaringan lain. Bahkan dari sel dewasa manapun bisa dijadikan sel telur untuk dibuahi sehingga menjadi embyo baru. Dalam bidang Teknik hadiah Nobel diberikan karena prestasi riset yang menemukan cara mengendalikan gerak individu partikel subatom yang akan bermanfaat untuk melahirkan dunia baru dengan perhitungan waktu yang amat akurat dan pengembangan komputer generasi baru, komputer quantum yang supercepat. Hadiah Nobel ilmu Kimia tahun ini juga menunjukkan pesatnya kemampuan manusia memahami kimiawi tubuh dengan ditemukannya berbagai reseptor sel baru yang akan bermanfaat untuk mengembangkan obat-obatan yang efektif mengatasi berbagai penyakit khronis. Masa depan manusia akan berubah tajam oleh loncatan kemajuan dalam membuka tabir rahasia alam semesta.

Sayangnya, walaupun manusia maju begitu luarbiasa terhadap penguasaan alam (Hard Science) namun manusia ternyata tidak/kurang mampu memahami rahasia tentang diri mereka sendiri, khususnya yang terkait masalah perilaku manusia mana yang benar dan baik (lihat konsep HAM), tatanan sosial bagaimana yang benar dan baik (lihat Ideologi Sekuler), dan manusia tetap buta tentang dunia ghoib yang tidak akan tersentuh oleh indra dan peralatan. Begitulah keterbatasan manusia itu. Jika hanya berbekal ilmu pengetahuan, manusia tidak akan mampu menyetuh dunia ghoib seperti tuhan, malaikat, iblis, akherat dan semacamnya. Hanya dengan bekal iptek maka manusia juga lemah dalam memahami mana sebenarnya perilaku yang benar dan baik untuk mendatangkan keharmonisan hidup. Manusia juga tidak mampu memahami apa yang benar dan baik dalam menata kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budayanya supaya menjadi tatanan yang indah dan mulia. Manusia tertatih-tatih untuk menemukan  prinsip yang benar dan baik terkait ilmu sosial (Soft Science), padahal soft science itulah instrumen manusia melakukan pengelolaan dunia sosialnya dan berimplikasi besar terhadap nasib kehidupan bersama. Tanpa agama manusia juga pasti buta tentang nasibnya sesudah mati, walau oleh kebutaan itu mereka sering mengambil jalan pintas dengan menjadi tidak perduli pada akherat karena belum menimpanya.

Tanpa AGAMA manusia memang masih bisa hidup, bahkan tanpa mengakui eksistensi TUHAN pun manusia masih bisa hidup sampai ajal datang atau kiamat tiba, namun qualitas hidup pribadi akan penuh kegelisahan, sedang kualitas hidup sosialnya akan penuh konflik, ketidakadilan, ketimpangan, dan ekspoilitasi terhadap alam dan sesamanya. Kalau manusia mengabaikan agama maka mereka menjadi buta akan adanya dunia ghoib, dan merekapun juga cenderung terperosok pada jurang kekeliruan dalam membuat/menyusun hukum dan kebijakan sosial-politik yang   berdampak amat buruk pada kehidupan rakyat dan umat manusia.

Islam adalah agama yang sempurna. Di dalam al Qur’an dan Hadits yang menjadi rujukan agama Islam, bukan saja terkandung informasi akurat dan rinci tentang dunia goib termasuk eksistensi Allah SWT, namun juga berisi kaedah atau cara hidup bermasyarakat-berbangsa-bernegara, mengelola  ekonomi, politik, keamanan-ketertiban, dan  budaya yang benar dan baik bagi kehidupan manusia.  Di dalam al Qur’an bahkan manusia juga diperintah dengan tegas agar mendalami rahasia alam semesta seluas-luasnya. Dengan bimbingan agama Islam maka manusia akan bisa berhasil hidup secara sempurna, hidup berkemajuan oleh kemampuan  penguasaan iptek yang canggih dan sekaligus juga tertata sosialnya penuh keadilan, kesejahteraan, berkebudayaan luhur, serta kehidupan sosial yang harmonis dan mulia oleh arahan tuntunan Allah SWT di bidang sosial-kenegaraan.

Kehidupan manusia yang hanya berbekal pemahaman rahasia alam (hard science) dan mengabaikan tuntunan agama (Islam) pasti akan berakibat fatal, yakni manusia menjadi eksploitatif pada alam, cenderung tamak harta/materi, mementingkan kenyamanan hidup bagi diri pribadi-kelompok kecilnya. Pada tatanan sosialnya akan terjadi kemiskinan-kegelisahan masif berskala luas, bukan hanya skala negara namun juga skala dunia oleh eksploitasi dan ketamakan sekelompok orang yang menguasai ‘hard science’. Ingat bagaimana perilaku penjajah masa lalu dan imperialis-kapitalis pada masa sekarang.

Agama Islam juga mengajarkan bagaimana mengatasi tantangan keduniaan  agar iman tidak tergerus, tidak merosot kualitasnya dalam beragama, dan tidak terjerumus menjadi ateis. Dalam surat al Kautsar, yang terkait dengan Iedul Adha,  Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah banyak karunia Allah yang telah kamu terima. Oleh sebab itu shalatlah hanya karena Allah dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang memusuhimu itu pasti akan kecewa.”

Dalam Surat yang relatif pendek ini terkandung empat pesan utama, yakni:

  1. Allah mengingatkan betapa banyak karuniaNya yang telah diterima manusia dalam kehidupan ini agar manusia tidak lupa diri bahwa dia itu makhluk yang diciptakan Pencipta. Manusia mestinya mau bersyukur akan segala karunia itu. Orang bersyukur akan ditambah Allah dengan karunia2 lain sedang orang yang mengingkari karunia Allah, merasa bahwa semua kesuksesan dan keberhasilan yang dicapainya  murni karena kreatifitas, kecerdasan, upaya,  dan prestasi pribadi akan memperoleh azab Allah. Azab pertama yang dirasakannya adalah kegelisahan diri, ketidak puasan yang berkepanjangan.
  2. Manusia diwajibkan oleh Allah untuk beribadah hanya karena Allah, bukan motif pamer, ria, bukan karena kebiasaan rutin kultural. Dalam Surat ini juga disebutkan secara eksplisit perintah berkorban. Bagi keluarga yang telah tercukupi kebutuhan  hidupnya seharusnya mau berkorban untuk merayakan Iedul Adha sebagai bagian dari rasa syukur atas rizki yang diterima dan berbagi keberuntungan dengan orang lain, khususnya pada mereka yang masih kekurangan. Amalan berkorban ini, pada surat Al Hajj ditegaskan, yang akan sampai ke Allah adalah tingkat kerelaan manusia memenuhi perintahNya, bukan daging dan darah ternak korbannya.
  3. Perintah berkorban juga merupakan simbul bahwa manusia harus mengorbankan miliknya yang berharga bahkan sampai pengorbanan jiwa untuk sesuatu tujuan yang mulia yakni mengikuti perintah Allah, Sang Maha Pencipta. Perintah Allah itu juga berupa tuntunan cara hidup untuk kepentingan manusia sendiri. Pengorbanan berkualitas keimanan itulah sesungguhnya pesan pokok yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim.
  4. Di akhir Surat al Kautsar Allah berfirman bahwa umat Islam akan mampu mengatasi penghinaan, pelecehan, penistaan dari musuh-musuhnya jika mereka berperilaku Islami dalam semua dimensi kehidupannya (pribadi, berkeluarga, berbangsa-bernegara) seperti yang telah dicontohkan Rasulullah. Asbabun nuzul turunnya Surat ini adalah terkait derasnya pelecehan pada agama Islam dan pribadi Nabi di awal Islam, di Mekah.

Bagaimana sesungguhnya hakekat IMAN yang benar, membedakannya dari sekedar berISLAM, serta bagaimana pula cara mempertahankannya supaya tidak mudah tergerus oleh cobaan keduniawian, juga diterangkan Allah SWT dalam al Qur’an. Surat al Hujurat ayat 14 dan 15 menjelaskan itu. Dalam ayat 14 Allah berfirman:

“Ada orang Arab berkata bahwa dirinya telah beriman. Katakanlah (Muhammad): ‘Kalian belumlah beriman, namun nyatakan saja bahwa kalian itu sudah berislam karena sesungguhnya iman itu belum masuk ke dalam  kalbu kalian’ “

Pada ayat 15 Allah lalu menjelaskan makna beriman secara benar dan cara mempertahankannya:

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah orang yang yakin akan Allah dan RasulNya, tanpa keraguan sedikitpun, dan melaksanakan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Yang demikian itulah pernyataan yang benar (bahwa orang itu beriman)”

Secara faktual memang banyak orang Islam yang hatinya belum sepenuhnya beriman. Mereka bisa saja sudah melaksanakan beberapa tuntunan Islam seperti shalat, puasa Ramadhan, berdoa, haji, kawin secara Islam dan semacamnya namun iman pada Allah belum benar2 terhunjam di kalbunya. Bagaimana bisa begitu? Karena dapat saja praktek berislam mereka tidak digerakkan oleh kalbu namun sekedar memenuhi tradisi, kebiasaan sejak kecil, menyenangkan orang lain, dan semacamnya. Ciri orang beriman dalam ayat 15 di atas tegas sekali, yakni hatinya yakin Allah itu tuhannya dan Muhammad itu RasulNya, TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN, dan secara operasional dijaga dan ditingkatkan dengan JIHAD mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah, untuk kebesaran Islam, untuk kejayaan Islam, untuk kemenangan Islam. Barulah yang demikian itu benar pernyataannya bahwa dia beriman. Kata kunci untuk menjaga dan meningkatkan iman adalah JIHAD, yakni berjuang sungguh2 membela dan membesarkan Islam. Jihad pada hakekatnya adalah mempromosikan Islam, tidak harus berbentuk perang fisik. Mengoreksi pemikiran salah tentang Islam (yang kini sedang marak seperti Islam Liberal, Pluralisme, Sekularisme) juga berarti jihad. Menyampaikan adanya kebijakan yang salah karena bertentangan dengan  tuntunan Allah SWT di depan penguasa yang dholim juga jihad. Mengajarkan pemahaman tentang Islam secara utuh pada orang lain juga jihad. Menguatkan barisan Islam dalam kehidupan masyarakat plural juga jihad. Membawa negerinya dipimpin dan dikelola sesuai tuntunan Allah oleh orang yang taat syariat juga termasuk jihad. Mendukung, memilih, dan membesarkan Hizbullah, Partai Politik yang mengusung Ideologi Islam juga jihad. Aktifitas jihad itu tidak boleh lepas dari kehidupan orang yang ingin disebut sebagai orang beriman.

Allaahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Jihad yang paling sulit dan berat adalah jika menyangkut skala luas, seperti negara. Orang beriman juga tidak boleh meninggalkan jihad dalam bidang ini, mengupayakan agar negerinya dikelola sesuai dengan tuntunan Allah SWT supaya negeri itu berhasil menjadi negeri yang aman sejahtera dalam berkah Allah, membuat Islam jaya, umat dan rakyat termuliakan hidupnya.Terkait ini Allah SWT menegaskan dalam al Qur’an Surat al A’raf ayat 96:

“Apabila penduduk suatu negeri itu beriman dan bertaqwa (mengelola negerinya sesuai syariat yang diajarkan Allah) maka Allah akan menurunkan karuniaNya dari langit dan bumi (sehingga mereka akan menjadi bangsa yang aman-sejahtera-mulia). Namun jika mereka itu ingkar maka akan ditimpakan pada mereka berbagai kesulitan hidup karena perilaku mereka sendiri yang ingkar itu.”

Dalam surat Rum ayat 41 Allah juga memperingatkan:

“Telah nyata kerusakan di darat dan di lautan karena ulah mereka sendiri (yang mengabaikan syariat Allah dalam mengelola negerinya), supaya Dia merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka perbuat agar mereka segera sadar dan kembali ke cara yang benar”

Menguatkan Islam berarti juga terkait dengan upaya mengokohkan status umat dalam lingkup bangsa-negara. Banyaknya penistaan pada agama Islam termasuk penghinaan pada pribadi Nabi Muhammad SAW juga hanya bisa teratasi secara tuntas jika Islam itu kuat dalam skala bangsa-negara dan dunia internasional. Lihat bagaimana penghujat Islam dan penista Nabi Muhammad selama ini  ujung2nya mereka dilindungi oleh negara non Islam dengan alasan naif, yakni kebebasan berekspresi yang bias sekali. Saya tulis artikel khusus dalam blog saya ‘fuadamsyari.wordpress.com’ tentang masalah itu dengan judul “PENISTAAN AKAN DATANG BERTUBI-TUBI, VULGAR, DAN AGRESIF PADA MEREKA YANG LEMAH DAN SEDANG DILEMAHKAN”. Silahkan dibuka dan diunduh.

Ironisnya masih banyak saja orang Islam yang mengaku beriman ternyata tidak terusik hatinya oleh pelecehan pada Islam dan Nabi Muhammad  SAW. Mereka sudah puas dengan berislam sekedarnya saja.

Allah berfirman dalam al Qur’an surat  al Furqon ayat 30:

“Mereka itu memandang al Qur’an sebagai sesuatu yang tidak berarti dalam hidup mereka.”

Juga dalam surat al Baqarah ayat 85 Allah berfirman:

“Mereka itu hanya mau mengetrapkan sebagian saja ayat dalam kitabullah (masalah pribadi) dan menolak ayat lainnya (masalah sosial-kenegaraannya). Sikap mereka yang seperti itu membuat mereka terhinakan semasa hidupnya di dunia sedang di akherat nanti mereka akan menerima siksa yang pedih.”

Dalam surat Huud ayat 99 Allah berfirman:

“Kepada mereka (yang durhaka) itu ditimpakan laknat/bencana di dunia fana  dan juga pada hari kiamat nanti. Itulah seburuk-buruk pemberian Allah pada mereka.”

Allaahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Sebagai kesimpulan, mari kini difikirkan tiga hal pokok untuk segera diupayakan realisasinya:

  1. Kita meningkatkan keimanan dengan melakukan aktifitas perjuangan Islam, suatu aktifitas yang dihitung oleh Allah sebagai jihad dengan kesiapan berkorban harta dan jiwa untuk kejayaan Islam dan kemuliaan umat.
  2. Kita perbanyak amal berislam, bukan sekedar beribadah ritual dan meningkatkan kemampuan pribadi bidang keilmuan namun juga beribadah sosial-kemasyarakatan secara luas, termasuk meningkatkan kemampuan kelompok Islam dalam berorganisasi sosial dan berpartai politik untuk membela dan membesarkan ideologi Islam, bukan malah mendukung ideologi sekuler.
  3. Kita kuatkan kondisi umat Islam dalam skala bangsa-negara dan internasional supaya bisa mengatasi penistaan pada Islam dan hujatan pada kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Adha 1433H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah pertolonganMu agar kami tidak keliru dalam mengartikan keimanan-ketaqwaan kami itu sehingga kami ini tidak menjadi  tersesat setelah kami beriman.

Ya Allah, kuatkanlah iman kami, tambahkanlah ilmu kami, dan kokohkanlah umat Islam dalam masyarakat yang plural, dalam skala negara dan dunia internasional. Berilah kami kemampuan untuk mengatasi hujatan dan penistaan pada agama dan Nabi kami.

Ya Allah, ampunilah segala kesalahan kami, terimalah segala amal baik kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Surabaya, 10 Dzulhijah 1433 H

Khotbah Iedul Adha

Masjid Al Mukti, Surabaya

Entry filed under: khotbah, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , .

PENISTAAN AKAN DATANG BERTUBI-TUBI, VULGAR, DAN AGRESIF PADA MEREKA YANG LEMAH DAN SEDANG DILEMAHKAN BERKARYA UNTUK BANGSA DAN AGAMA, Dikotomis atau Integratif?

1 Comment Add your own

  • 1. Muhsin MK  |  2 November 2012 at 11:04

    Bismillah. Berqorban dalam rangka memperkaut tauhid, karena perintah dan ketaatan pada Allah sesuai QS Al Kautsar:2, dan mengikuti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam penegak tauhid dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai penerus penegak tauhid. Karena itu dengan berqurban dapat mengingatkan kita agar tidak berkorupsi, karena korupsi merupakan perbuatan orang yang tidak bertauhid, tidak taat pada perintah Allah dan sunnah Nabinya. Namun bisa saja koruptor, atau uang hasil korupsi digunakan untuk berqurban. Bukan saja tidak mendapatkan nilai di sisi Allah, juga daging qurbannya “bisa bikin sakit perut”. Karena itu berqurban harus menggunakan uang yang halal dan didasari karena ketaqwaan dan ketauhidan kepada Allah, Jadi apa yang dikemukakan mas Fuad dalam khutbahnya semoga menjadi panduan hidup bagi ummat Islam dan masyarakat Indonesia, amien. Selamat Idhul Adha mas, walau terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2012
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: