BERKARYA UNTUK BANGSA DAN AGAMA, Dikotomis atau Integratif?

20 November 2012 at 20:12 1 comment

Remaja mesjid Al Wahyu meminta saya memberikan ceramah terkait dengan 1 Muharam 1434H dengan tema “Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Mempererat Persatuan meraih Cita-Cita dan Berkarya untuk Bangsa dan Agama”. Walau permintaan itu diajukan relatif mendadak namun saya setujui karena yang mengundang remaja mesjid, suatu generasi muda Islam yang diharapkan meneruskan estafet perjuangan Islam di negeri ini, dan tema yang dibahas terasa perlu untuk diluruskan maknanya supaya tidak membawa kerusakan.

Acara yang diadakan  ternyata tidak hanya ceramah agama namun juga macam-macam, terselenggara semarak, bernuansa khas remaja walaupun juga dihadiri banyak orang tua. Dengan pemandu dua orang remaja putera-puteri berbusana sopan Islami,  programnya tampak  cukup bagus, seperti paduan suara remaja, seni hadrah diiringi alat musik khas ‘terbangan’, dan deklamasi syair yang isinya mengkritisi sikap umat Islam di negeri ini terhadap kasus Palestina yang kini semakin menderita karena diserang secara militer oleh Israel. Dalam ceramah agama yang merupakan acara terakhir saya sampaikan hal-hal penting sebagai berikut:

  1. Pertama saya berikan pujian karena mereka menyambut tahun baru Islam berwarna Islami, tidak sama dengan cara banyak orang (termasuk muslim juga) saat menyambut tahun baru 1 Januari yang penuh hura-hura, pemborosan, mengumbar kesenangan, glamor berfoya-foya, disertai melakukan banyak kemaksiatan. Remaja mesjid ini menyambut tahun dengan keceriaan dalam bentuk berbeda, di lingkungan tempat ibadah, ada lomba-lomba kreatif disertai pemberian hadiah secukupnya, menampilkan budaya Islam, dengan tidak melupakan keprihatinan terhadap kebiadaban-kekejaman musuh Islam di luar negeri sana. InsyaAllah cara menyambut tahun baru seperti ini akan penuh berkah sehingga meningkatkan kualitas mereka, bukan merusaknya. Tahun baru Islam bukan hari berpesta pora, namun hari untuk menyiapkan diri supaya  hari esok menjadi lebih baik bagi umat manusia.
  2. Sikap remaja mesjid ini sungguh kontras dengan banyak remaja (yang umumnya juga muslim) di Surabaya di tempat lain yang sering saya temui hampir setiap malam, di mana mereka berkumpul memenuhi tepian jalan raya dengan motor2nya yang diparkir berderet, duduk beralas tikar atau koran bekas, di atas selokan kota yang berlobang dengan bau menyengat gari kotoran di bawahnya, disertai udaranya yang tercemar gas beracun CO dan partikel Pb (timah hitam) dari asap kendaraan bermotor yang lalu lalang berdampak  merusak darah dan paru. Mereka begadang di sana sejak habis waktu maghrib sampai larut malam hari, bersesak laki-perempuan. Remaja (umumnya muslim) semacam itu pasti telah berperilaku merusak diri mereka sendiri baik  kesehatan fisik, kecerdasan otak,  maupun kepribadian/ kualitas jiwanya. Mereka berjam-jam nongkrong di trotoar tanpa kemanfaatan yang nyata, sekedar membunuh waktu, dan secara sadar atau tidak meracuni diri. Tempat-tempat kumpul muram yang remang2 seperti itu jelas merupakan wadah pembibitan kriminal (criminal nursery ground), termasuk penyebaran narkoba dan kejahatan . Harusnya remaja-pemuda di kota-kota besar Indonesia tidak membuang waktunya seperti itu, sedangkan  Pemerintah kota mestinya juga melarang dan membersihkan area seperti itu demi menyelamatkan generasi muda untuk masa depan bangsa dan negara yang lebih baik. Sementara Pemerintah kota masih belum menindak tempat-tempat  jorok seperti di atas janganlah sekali-kali remaja mesjid tergiur meniru mereka yang salah jalan dalam menjalani kehidupan keremajaan dan kepemudaan. Banyak-banyaklah remaja-pemuda mesjid meningkatkan keilmuan dengan belajar sain-teknologi, menempa keimanan-ketaqwaan dengan berprestasi dan beramal sholeh yang banyak, serta menjaga-meningkatkan kesehatan fisik-jiwa dengan olahraga dan memilih pergaulan yang baik.
  3. Remaja, apalagi pemuda sudah harus memiliki cita-cita untuk masa depannya. Bercita-citalah yang tinggi dan mulia dengan tahapan-tahapan langkah memenuhi target-target antara yang realistik menuju cita-cita besar itu. Jangan buang-buang waktu semasa muda dan sehat untuk berhura-hura dan mengejar kesenangan. Sungguh ironis melihat betapa pagelaran musik dengan sponsor pemodal kaya penuh sesak dengan  remaja-pemuda berdesak menghabiskan waktunya berjam-jam untuk kesenangan sesaat padahal mereka memiliki tugas menyiapkan diri untuk masa depannya. Sungguh gejala yang menyedihkan melihat antrean panjang berjam-jam para remaja-pemuda yang mengular berhari-hari sekedar mau antri membeli karcis menonon film asing penuh khayalan seperti percintaan antara remaja perempuan dengan pemuda vampir. Mau ke mana masa depan bangsa ini? Islam mengajarkan untuk hidup yang bermakna, yakni hidup dengan tujuan mulia. Sebaik-baik manusia jika dia memberi manfaat pada orang lain. Tentu  lebih banyak manusia yang terbantu pastilah orang itu lebih utama kualitasnya. Jangan kiranya kehidupan individu muslim bukannya membantu orang lain, malahan membuat susah orang, membuat susah orang tua, dan membuat susah sekitar dengan perilaku-perilaku  mubadhir memuaskan nafsu dan bahkan jahat.
  4. Terkait sisi tema perlunya berkarya untuk bangsa dan agama saya tegaskan harus ada kewaspadaan, jangan keliru memaknainya sehingga nanti malah akan membawa kerusakan. Antara bangsa dan agama tidak boleh dipisahkan atau ada dikhotomi, seperti cara berfikir bahwa karya yang ini untuk bangsa dan karya yang itu untuk agama. Justru dikotomi  berkarya seperti itu tidak akan mencapai sasaran yang dituju, bahkan bisa merusak atau kontra produktif. Cara berkarya yang benar adalah “berkarya sesuai ajaran agama untuk kejayaan bangsa”. Dengan kata lain jika berkarya untuk kemajuan bangsa itu harus karya yang sesuai dengan tuntunan agama terkait masalah berbangsa. Sebagai contoh jika akan membangun ekonomi bangsa maka jangan membuat kebijakan yang berlawanan dengan nilai agama terkait masalah ekonomi makro, seperti kebijakan ekonominya harus melarang bisnis haram (pelacuran, judi, miras, dll), memberi prioritas pada pemberdayaan orang miskin bukan menganak-emaskan pemodal raksasa yang sudah mapan, memberantas tegas dan memberi hukuman menjerakan pada pejabat yang korup dan main suap, menyiapkan baitul mal untuk memberi subsidi dan penyelamatan hajat hidup dhuafa, lembaga keuangan yang melarang riba, dan semacamnya.  Itulah contoh berkarya untuk bangsa dan agama secara integratif. Jangan berkarya demi bangsa namun ternyata melawan tuntanan agama, atau di sisi lain berkarya membuat mesjid katanya untuk kemajuan agama namun dalam proses pembangunannya melakukan ‘mark-up’ dan mesjidnya untuk praktek kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama. Karya yang memisahkan antara kepentingan bangsa dan agama jelas akan merusak bangsa dan agama itu sendiri.
  5. Tahun baru Islam ditandai dengan saat hijrahnya Nabi. Mengapa peristiwa hijrah itu yang dipakai sebagai penetapan awal tahun baru Islam juga perlu mendapat pencermatan. Banyak ungkapan cantik terkait makna hijrah padahal keliru dan menyesatkan umat. Akhir-alkhir ini sering terbaca di media tulis dan ceramah di tv bahwa makna hijrah adalah meninggalkan  perilaku yang haram menuju perilaku yang baik. Padahal dalam al Qur’an tegas-tegas hijrah itu bermakna perpindahan area bertempat tinggal karena ada pendholiman bahkan penyiksaaan pada umat Islam oleh musuh Islam. Dalam al Qur’an masalah hijrah juga disebut bersamaan dengan jihad karena dalam hijrah ada pengorbanan yang besar dari orang yang melakukan hijrah tersebut. Kalau hanya sekedar berpindah dari kebiasaan jahat seperti melacur ke tidak melacur apa layak disebut hijrah? Sadar dari kebiasaan korupsi waktu dan uang menjadi tidak lagi korupsi apa ya layak di sebut hijrah yang lalu mendapat predikat khusus disebut kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah? Jangan hendaknya mengentengkan makna nernagai jargon Islam seperti hijrah dan jihad hanya untuk menyenangkan orang padahal membawa penyesatan makna.
  6. Mengapa justru hijrahnya Nabi yang dipakai panduan awal tahun baru Islam bukan peristiwa2 lain dalam sejarah Islam seperti lahirnya nabi, turunnya wahyu pertama, atau wafatnya nabi, saat nabi dan umat Islam diisolasi/diembargo ekonominya oleh musuh Islam, atau peristiwa isra’ mi’raj nabi? Jawabnya mudah, yakni hijrah tersebut memang merupakan awal peristiwa sosial-politik yang membawa kejayaan umat, kemajuan peradaban manusia pada umumnya. Sebelum hijrah nabi  ajaran Islam masih sebatas masalah ritual dan amal sosial belaka. Sebelum hijrah dakwah Islam juga sebatas dakwah individu ke individu, keluarga ke keluarga, yang hasil faktualnya selama 13 tahun dilakukan nabi berhasil membuat sekitar 300 orang menjadi  sadar akan kekafirannya dan memeluk Islam, sedang kondisi masyarakat di Mekah tetap terpuruk, rusak. Dimulai dengan hijrah itulah maka kemudian nabi melangkah memimpin negara Madina yang penduduknya plural (ada Yahudi, Nasrani, Majusi dll) dengan cara pengelolaan negara sesuai dengan ajaran agama, tidak dikotomis berkarya untuk bangsa dan berkarya untuk agama. Dengan menjadi kepala negara di Madinah maka nabi melaksanakan dakwah melalui delegasi negara ke negara lain. Hasilnya menjadi amat efektif yakni hanya dalam 10 tahun seluruh penduduk di jasirah Arab menjadi muslim dan tatatan kehidupan sosial menjadi termuliakan dan sejahtera. Tatkala Islam dipraktekkan dalam tatanan bangsa-negara maka datanglah kedamaian, keadilan, kesejahteraan, bukan hanya untuk orang Islam saja namun dirasakan oleh  seluruh rakyat apapun agama yang dipeluknya.  Hijrah membawa rahmat bagi alam semesta karena dimulai dari peristiwa hijrah itu Islam lalu dipakai untuk mengelola negeri yang plural dan membuat peradapan dunia terselamatkan dari penjajahan dan ekploitasi kaum penindas seperti bangsa Romawi dan Persia. Berkarya untuk kemajuan Bangsa dan kemuliaan Agama harus dimaknai integratif, bukan dikotomis. Mengelola bangsa secara Islami akan mendatangkan kejayaan Islam sedang negeri yang dikelola secara Islami akan membawa kesejahteraan bagi negeri bersangkutan.

Surabaya, menyambut 1 Muharam 1434H.

Entry filed under: Pemikiran, Sosial Budaya. Tags: , , , , , , , , , , , .

BERJUANG DENGAN BERKORBAN AKAN MENJAGA IMAN TIDAK TERGERUS KEDUNIAAN (KHOTBAH IEDUL ADHA 1433H) DR. Fuad Amsyari, Dewan Kehormatan ICMI Pusat MENAKAR DENGAN BENAR CALON PRESIDEN RI PENYELAMAT NEGERI

1 Comment Add your own

  • 1. Mangesti Waluyo  |  26 November 2012 at 10:50

    Mantaab,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

November 2012
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: