MENAKAR DENGAN BENAR CALON PRESIDEN RI PENYELAMAT NEGERI

12 December 2012 at 16:41 Leave a comment

Mulai sekitar pertengahan tahun ini dan rasanya akan terus berkelanjutan, media ramai menayangkan hasil-hasil survey beserta analisisnya tentang sosok  Pemimpin/Presiden negeri ini di masa mendatang, setelah SBY tidak lagi bisa dipilih menjadi Presiden RI dalam pilpres 2014 karena ketentuan UUD. Lembaga2 survey sepertinya berlomba  menampilkan hasil-hasil surveynya tokoh mana yang kiranya akan menjadi Presiden RI. Survey mereka umumnya  dilakukan melalui pertanyaan pada sampel penduduk siapa yang akan mereka pilih atau siapa yang menurut mereka layak menjadi Presiden RI. Dengan metoda seperti itu maka jelas akan dihasilkan figur yang ‘populer’ saat ini, sering nampang di media, karena rakyat kenalnya memang figur yang itu itu belaka. Tentu survey seperti itu yang hasilnya kemudian ditayangkan luas di media akan semakin membuat figur-figur yang sama kian berkibar, mungkin urutannya saja yang berganti-ganti. Jelas dari model pencarian semacam ini  tidak akan ditemukan figur yang benar-benar berkualitas tinggi untuk menyelamatkan bangsa-negara. Seharusnya uang tidak perlu dibelanjakan untuk pencarian figur penyelamat bangsa melalui bentuk survey di atas.

Bagaimana sebenarnya hakekat mengukur/menakar kelayakan seorang calon Presiden bagi Indonesia yang terlanda berbagai krisis nasional multi dimensi ini? Bukankah nanti si figur harus bekerja keras mengatasi krisis2 tersebut dan menghantar negeri menjadi negeri yang maju, aman, dan sejahtera? Mari bahasan diawali dengan menyermati bagaimana nasib bangsa Indonesia sejak kemerdekaan. Ringkasnya, sesudah merdeka dengan status negara berkembang  ternyata hingga kinipun bangsa Indonesia masih saja berstatus negara berkembang walau sudah merdeka 67 tahun. Bahkan ditinjau dari sisi kemampuan potensial (potential capital)  untuk menjadi bangsa maju di masa depan tampak semakin suram, apakah dari aspek sumber daya alam maupun kualitas sumber daya manusianya. Sungguh memprihatinkan kondisi bangsa ini, yang kita sebagai warga negara berada di dalamnya.

Secara umum sudah tidak bisa disembunyikan lagi bahwa kekayaan alam Indonesia termasuk BBM semakin terkuras dan tipis cadangannya. Akhlak penduduk yang merupakan aset dasar menuju kemajuan suatu bangsa sudah  kian terkikis menjadi rusak.Coba dilihat merebaknya perilaku individualistik-materialistik, kriminalitas yang tinggi dan mengerikan, kebrutalan para generasi muda, melemahnya afinitas sosial yang memicu  ancaman disintegrasi.

Dari sisi kesejahteraan ekonomi bangsa yang sering dijadikan pokok bahasan dominan dalam pembangunan negeri juga tampak menyedihkan. Negeri ini yang awalnya sebagai negeri yang bisa memberi makan banyak orang asing kini malah berjuta warga negara Indonesia laki-perempuan (dilaporkan sekitar 7-8juta TKI) mencari makan di negeri lain karena di negerinya tidak lagi bisa mendapat pekerjaan. Beberapa waktu diberitakan bahwa 90% desa2 di Indonesia masih berkategori desa miskin dan  40% bayi berstatus kurang gisi. Bahkan Kompas  memberi resume bahwa ada 40 orang Indonesia memiliki harta  luar biasa besarnya, hampir tidak masuk akal sehat dalam ukuran Indonesia yang sedang tertatih membangun ekonomi bangsa, yakni 850 Triliun rupiah (rata2 per orangnya memiliki kekayaan 21 Triliun rupiah) di tengah jumlah rakyat yang berkualifikasi ‘penganggur terbuka’ berjumlah sekitar 8 juta orang dan 33,5juta orang dalam kategori ekonomi lemah sekali seperti setengah menganggur dan menjadi buruh paruh waktu. Jumlah orang yang benar-benar miskin amatlah tinggi yakni sekitar 25 juta orang, sedang jika diukur mereka yang berpendapatan sedikit di atas garis kemiskinan mencapai sekitar 100 juta orang. Hutang negara terus bertambah tapi lalu dininabobokkan oleh kampanye bahwa negara sebesar Amerika Seikat saja juga punya hutang. Sepertinya hutang bagi sebuah negara itu wajar-wajar saja padahal jelas menjadi beban yang harus  dibayar oleh generasi-generasi mendatang atau salah-salah menjadi negara pailit dan bubar. Korupsi jangan ditanya, dilaporkan selama priode 2004-2011 kasus korupsi yang terungkap sebanyak 1.408 kasus dengan tidak kurang dari sekitar 40Triliun rupiah uang negara yang dikorup pejabatnya (jangan ditanya yang tidak terungkap). Bagimana negeri ini bisa disebut sehat atau baik kondisinya seperti itu? Fihak Pemerintah sering berbangga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional di atas 6%, dengan pendapatan per kapita sebesar 3.500 US dolar. Siapa yang diuntungkan dengan pendapatan nasional sebesar itu? Tentu utamanya mereka  yang bermodal besar, termasuk 40 orang kaya serta kroni-kroni pengusaha dari pejabat korup.

Jika benar Pemerintah  merasa sudah membangun bangsa padahal kondisi bangsa ini kian lemah seperti yang digambarkan di atas tentu   ada yang salah. Apa yang salah itu? Jawabannya mudah: METODA ATAU CARA MEMBANGUNNYA. Kebijakan2 Nasional, termasuk penetapan prioritas (priority settings)  yang dibuat Pemerintah keliru, alias negeri ini salah kelola. Siapa yang bertanggung jawab? Tentu mereka yang pernah menjadi penentu kebijakan tingkat nasional, mulai dari Presiden (Kepala Eksekutif) dan DPR (Pembuat Undang-Undang). Kesalahan demi kesalahan yang dibuat dalam mengelola negara tidak bisa dilepaskan dari sisi IDEOLOGI (konsep tentang cara/metoda mengelola negara) dari para pejabat negara. Coba diperhatikan apa visi ideologis pejabat negara yang selama ini memimpin Indonesia. Jawabannya amat mudah didapat: IDEOLOGI SEKULER, metoda membangun bangsa  yang mengabaikan tuntunan Allah SWT terkait kenegaraan. Siapa (kelompok mana) pengusung ideologi sekuler yang terkait perpolitikan nasional? Jawabnya juga mudah: Partai Sekuler, Partai yang tidak bervisi menerapkan syariat agama dalam mengelola negeri. Kader dan pimpinan partai sekuler tentu juga berfikir sekularistik. Sulit, jika tidak bisa dikatakan mustahil, mencari figur berideologi Islam (kalau yang beragama Islam bisa saja banyak) dalam kubu Partai Sekuler. Dalam proses berpolitik setiap kebijakan besar yang dibuat individu pejabat dari partai sekuler tentu dikontrol oleh pimpinan partainya. Namun walau sejelas itu mekanismenya sangatlah ironis bahwa masih banyak saja tokoh umat (Ulama, Kyai, Cendekiawan Muslim, dll) yang berharap-harap ada figur berideologi Islam dalam partai sekuler sehingga mereka dengan semangat mendukungnya. Juga menyedihkan sekali bahwa umat Islam di Indonesia  banyak yang memilih Partai Sekuler dan Figurnya dalam menentukan pemimpin legislatif dan eksekutif padahal dalam al Qur’an ditegaskan haram hukumnya memilih figur sekuler menjadi pemimpin (Qur’an Surat 5-57). Mengapa banyak umat Islam keliru dalam memilih partai politik dan figur pemimpin? Penjelasan yang rasional adalah: karena umat masih belum faham bahwa berislam itu tidak cukup jika hanya berritual dan berakhlak pribadi Islami saja namun juga harus berpolitik dan berbudaya Islami. Mengapa umat Islam Indonesia masih berkualitas sebegitu? Jawabannya sederhana: karena ulama, muballigh, ustad, da’i, dan guru-guru agama Islam di sekolah2 dalam mengajarkan agama Islam hanya sebatas ritual dan akhlak pribadi, tidak menyentuh kewajiban-misi politik dan budaya Islam.

Dari sejarah dan analisis akal sehat tidak mungkin negara yang semula berkembang bisa menjadi negara maju dengan menggunakan metoda pengelolaan sekuler-kapitalistik. Negara tersebut bahkan akan terhisap kekayaan alamnya dan termiskinkan mayoritas rakyatnya oleh ketamakan kapitalis global yang dibantu beberapa partnernya  di dalam negeri. Upaya membangun perekonomian nasional dengan upaya agresif menarik masuknya  modal asing melalui pemberian berbagai fasilitas keuangan dan kemudahan proses justru akan memperbesar keuntungan pemodal raksasa yang masuk walaupun dari sisi pendapatan dan pertumbuhan ekonomi nasional bisa saja naik. Jangankan berawal  dari negara berkembang, Jepang dan Korea Selatan saja kini mulai tersungkur, begitu pula Cina dan India sudah menunjukkan tanda-tanda kejatuhannya. Indonesia dengan mayoritas penduduknya muslim seharusnya menjadi pionir membuat negerinya menjadi maju melalui  model pengelolaan sesuai tuntunan agama, antara lain memberi prioritas pada pemberdayaan kaum lemah (dhuafa), menarik pajak-infak tinggi pada pengusaha yang sudah kaya raya, mengutamakan pertumbuhan akhlak dan sain-teknologi bukan memanjakan hiburan yang merusak budaya bangsa yang adiluhung, mengutamakan produksi dan mengedarkan barang-jasa yang bermanfaat untuk kehidupan manusia secara nyata bukan produksi dan menjajakan hal-hal haram, mendorong hidup sederhana pada para pejabat negara dan memberi sanksi berat pada yang korup. (Silahkan baca artikel lain di blog ini).

Dalam upaya mengajak para intelektual untuk memahami permasalahan nasional yang memprihatinkan tesebut saya kirimkan sms ke beberapa teman yang ternyata memperoleh berbagai tanggapan dan berkembang menjadi dialog.

Saya kirim sms berikut:

      “40 orang Indonesia berharta 850Triliun rupiah di tengah 8 juta penduduk menganggur, 25 juta miskin berat, hutang menumpuk, SDA-BBM terkuras, akhlak hancur. Negara tentu salah kelola (memakai cara sekuler oleh partai sekuler). Tidak EGP (Emangnya Gue Pikirin) kan? Mari berkontribusi secara strategis untuk membantu mengatasi krisis tersebut”

Beberapa tanggapan melalui sms masuk yang bernada mendukung/setuju, dan ada pula yang bersifat lebih spesifik sebagai berikut:

     “Untuk menyusun konsep solusinya dibutuhkan satu tim besar yang terdiri berbagai disiplin ilmu/profesi dipimpin oleh seorang yang visioner dan berfikir sistem. Siapa yang memulai?”

Saya jawab:

       “ Harusnya ya Presiden (karena krisisnya berskala nasional dan multi dimensi). Namun perlu dimulai dengan memiliki Presiden yang tidak bervisi sekuler. Sebelum  ke proses itu seharusnya  umat memenangkan Partai Non-Sekuler (Partai Islam) terlebih dahulu dalam pemilu karena masalah pilihan Presiden ini  berkaitan dan berurutan prosesnya”

Dia menjawab lagi:

        “Siapa menurut anda tokoh PI yang memiliki kualitas se prima itu?”

Saya jawab:

       “Asalkan PI menang pemilu maka banyak figurnya yang akan bisa menjadi Presiden ber visi non-sekuler. Negeri akan dikelola secara profesional sejalan dan tidak melanggar tuntunan Allah SWT tentang kenegaraan”

Rupaya dia belum puas dan kirim sms lagi:

      “Justru figur itulah yang menentukan PI menang. SBY,  Joko Wi kan didukung kelompok kecil?”

Nampaknya teman ini belum faham benar tentang seluk beluk politik, maka saya jawab :

      “Memenangkan PI dalam pemilu legislatif tidak tergantung figur tapi terkait kesadaran IDEOLOGI. PI akan menang jika Ormas Islam (NU, Muhammadiyah, Persis, Al Wasliyah, dll) TIDAK NETRAL tapi tegas memihak PI karena kesamaan ideologi Islamnya (lihat al Qur’an 5-56). Masa2 lalu mereka itu (Ormas Islam) netral, tidak mendorong anggautanya memilih PI dalam pemilu. Adapun Joko Wi menang di pilkada Jakarta karena strateginya PDIP-Gerindra”

Nampak penanya sepakat dan tidak memberi komentar lebih jauh. Masuk pula sms lainnya yang memerlukan jawaban saya sebagai berikut:

      “Betul Pak Fuad, kita ini sudah bobrok banget dalam segala hal, termasuk akhlak, yang ternyata justru dari kalangan menengah ke atas. Bagaimana peran kami Pak Fuad?”

Karena yang bersangkutan saya kenal sebagai seorang gurubesar di sebuah

PTN dan masih aktif sebagai PNS maka saya beri jawaban:

      “Selain berkarya profesional di bidang masing-masing namun juga harus ikutserta membesarkan kekuatan politik Non-Sekuler semaximal mungkin”

Dia menjawab “Oke Pak Fuad”.

Ada pula tanggapan sms masuk yang menyatakan bahwa salah kelola itu karena iman yang lemah. Dia mengajak masing-masing kita  untuk introspeksi dan meningkatkan kualitas iman itu. Saya jawab:

      “Jika lemah iman itu dimiliki  Pimpinan Negara maka akan terjadi salah kelola negara yang berakibat rakyat senegara menderita/rusak. Hal itu jelas beda dampak kerusakannya jika yang lemah iman tersebut hanya berskala Kepala Keluarga. Menguatkan iman Pimpinan Negara (atau kalau dipandang  perlu menggantinya dengan figur yang kuat imannya).menjadi bagian dari upaya/kerja yang strategis (untuk menyelamatkan bangsa)”

Sepertinya untuk ‘melengkapi’ model survey klasik yang sering dilaksanakan, baru-baru ini media kembali ramai memuat hasil survey tentang tokoh yang layak menjadi Presiuden RI dari sisi lain, yakni pendapat kelompok tertentu bangsa Indonesia: para dosen, peneliti, dan wartawan. (sepertinya kelompok pengusaha, politikus, birokrat belum terwakili). Kalau survey2 sebelumnya berbasis pendapat rakyat secara umum dengan sistem sampling dan tolok ukurnya adalah popularitas dan elektabilitas, pada survey yang baru itu menanyakan tentang hal berbeda, yakni: “apakah mampu memimpin negara dan pemerintahan, tidak diopinikan melakukan tindak kriminal atau pelanggaran HAM, bisa dipercaya, jujur-amanah, dan mampu berdiri di atas semua kelompok atau golongan”. Hasil surveynya memunculkan urutan figur yang sedikit berbeda, walau tidak banyak, dari  survey yang respondennya sampling rakyat pada umumnya. Terkait hasil-hasil survey semacam itu saya kirim sampaikan sms ke teman-teman sbb:

         “Survey2 tentang Presiden RI umumnya diukur dengan: Elektabilitas dan Popularitas. Pada survey ‘opinion leader’ terakhir ukuran yang dipakai: mampu, bersih, berdiri di atas semua golongan. Mana UKURAN KETAATAN PADA AJARAN AGAMA? Survey2 semacam itu khas SEKULER, Umat jangan TERPERANGKAP/TERPENGARUH. Mari disiapkan TOKOH PRO SYARIAT untuk Presiden RI via aktifitas2 Dakwah dan Survey Islami”. Silahkan forward”

Indonesia, awal Desember 2012

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

BERKARYA UNTUK BANGSA DAN AGAMA, Dikotomis atau Integratif? SYARIAT KENEGARAAN ISLAM UNTUK PANCASILA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

December 2012
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: