KEPANIKAN ATAU PENGALIHAN PERHATIAN

4 January 2013 at 19:41 1 comment

Beberapa bulan terahir ini terasa ada berbagai ‘kehebohan’ berita di media, baik cetak maupun elektronik. Pemberitaannya sepertinya berlebihan sehingga terkesan ada ‘kepanikan‘ dalam  politik atau memang memiliki  suatu skenario politik tertentu. Berikut dialog saya dengan beberapa teman terkait itu.

1. PEMIMPIN/PRESIDEN RI MENDATANG

Berita terkait siapa sebaiknya yang menjadi Presiden RI mendatang banyak muncul di media, termasuk penayangan ‘forum diskusi’ di televisi tentang itu. Bahkan terakhir muncul di sebuah televisi nasional dialog dengan judul “Pemimpin Bernyali” dengan menghadirkan figur-figur yang mungkin dianggap berkualitas bagus terkait isu itu sebagai bintang tamunya. Seorang teman dengan antusias mengirim saya sms di pagi hari (tayangan tvnya malam) tentang  adanya program tersebut dengan maksud untuk bisa saya lihat juga. Teman ini memang relatif sering berkomunikasi mengenai masalah siapa sebaiknya yang menjadi Presiden RI mendatang, dan cenderung terkesan sepertinya ada krisis Kepemimpinan. Nasional, khususnya Kepemimpinan Nasional Islam. Saya menjawab esok harinya sebagai berikut:

          “Negeri ini perlu Pemimpin yang Syar’i (faham dan mau menerapkan syariat kenegaraan Islam untuk kemajuan bangsa), tidak yang asal berani/populer/melakukan perubahan/bernyali dll namun  tidak Islami”

Teman itu lalu membalas dengan sms:

       “Lalu siapa, sepertinya ada krisis kepemimpinan….. Apa Rhoma Irama?”

Saya jawab

        “Jangan panik mengenai Capres-capres. Itu bisa saja merupakan pengalihan perhatian pada umat. Menangkan dulu Partai Islam dalam Pemilu Legislatif via DAKWAH bahwa ada kewajiban berpegang pada  Ideologi Islam saat memilih wakil di pemilu (jangan bergantung pada siapa Figur pemimpin partai atau Calon Presiden yang akan diusung partai)”

Teman itu tidak menjawab lagi sepertinya sudah memahami jalan pikiran yang rasional dalam proses politik di Indonesia, mungkin  karena beberapa waktu sebelumnya saya juga kirim sms dia tentang kasus Mesir sebagai berikut:

        “ORMAS Islam (Ikhwanul Muslimin dan Salafi) tegas mendukung Partai Islam pada Pemilu di Mesir sehingga Partai Islam menang dari Partai Sekuler. DPR-Presiden-Konstitusinya menjadi kian Islami. Itu proses yang benar dan diridhoiNya”

Media memang sepertinya heboh dengan siapa figur Capres mendatang, termasuk rajin memuat ‘temuan’ hasil survey-survey politik yang dilakukan beberapa lembaga, sering sekali. Bahkan di sebuah koran nasional baru-baru ini dimuat berita dengan judul cukup vulgar “Publik ingin Capres Pluralis”  berdasar hasil survey. Hebat kan? Padahal sampel surveynya hanya 440 responden (rata2 tentu hanya sekitar 14 orang per Provinsinya) Luarbiasa menyoloknya, namun umat bisa saja lalu terjebak Atau memang itu skenarionya?  Saya lalu kirim sms ke teman2 supaya tidak terkecoh dengan judul  seperti itu. .

Mengingat kegaduhan tentang capres ini ujungnya saya tulis sms:

         “Media terus heboh dengan Capres? Hati-hati akan pengalihan perhatian umat dari hal yang strategis, yakni: ‘Umat harus memenangkan Partai Islam dalam Pemilu Legislatif oleh kewajiban Ideologis Islam terhadap para umatnya’.”

2. PARTAI NASIONALIS

Sering sekali dimuat di media analisis bahwa dukungan terhadap Partai Islam terus menurun. Berita seperti itu hampir bisa dikatakan menjadi periodik, sehingga perlu dipertanyakan apa yang ada di baliknya. Di samping itu cara penyajiannya juga perlu dicermati, yakni terus digandengkan dengan dukungan pada “Partai Nasionalis”. Dengan pengistilahan tersebut tampak ada pesan bahwa Partai Islam itu tidak nasionalis, partai non-Islamlah yang nasionalis. Bukankah ini menjadi semacam ‘pelecehan’ terhadap Partai Islam, sepertinya Partai Islam tidak memiliki kepedulian untuk mengangkat kepentingan nasional? Terkait pemberitaan2 semacam itu saya kirimkan sms pada teman2 (termasuk kepada yang punya akses ke media untuk mengingatkan mereka agar berhenti membuat dikotomi seburuk itu):

           “Mari selalu menyebut Partai Islam dan Partai Sekuler (TIDAK PARTAI NASIONALIS) karena semua itu cinta dan ingin NKRI maju dan jaya, yang berbeda adalah METODANYA, dengan Syariat (metoda Islam) dan Non-Syariat (metoda Sekuler)”

Seorang teman menanyakan:

         “Partai Islam vs Partai Sekuler dasarnya apa? Dalam Qur’an lawan Islam ya kafir. Sekuler tidak disebut di sana”

Saya jawab:

“Menerima SEBAGIAN ayat (misalnya tentang ritual dan akhlak) dan menolak SEBAGIAN ayat lain (misalnya hukum dan politik Islam) itu SEKULER (surat al Baqarah). Lihat artikel2 lain di blog ini”

3. TAHUN BARU

Luarbiasa pemberitaan tentang perayaan tahun baru kali ini, sebelum dan bahkan sesuadahnya banyak ditayangkan/diulas kemegahannya. Berulang  dibahas kebijakan Gubernur baru DKI dalam gebrakan merayakan di ibukota, yang katanya lalu dicontoh beberapa kota Indonesia (besar dan kecil) lainnya. Dikatakan bahwa malam tahun baru menjadi pesta rakyat bukan lagi pesta kaum elit di hotel-restoran mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Dengan penuh kebanggaan dikatakan kini rakyat kecilpun bisa ikut berpesta karena sejumlah jalan raya utama ditutup melalui kebijakan ‘Free Car Night’ untuk dijadikan arena pesta rakyat itu. Tidak pernah disebut berapa milyar rupiyah dibakar untuk kembang api dan mercon, beaya penggung dengan  hiburannya, dan lain pengeluaran Pemda untuk itu. Bagaimana jika uang sebesar itu dipakai untuk memperbaiki gubug2 yang bertebaran di bantaran sungai dan rel kereta api di Jakarta? Kehebohan akan tahun baru dengan pesta ‘rakyat’nya itu akan membiaskan makna atau arti hidup yang bermanfaat dan ideal bagi suatu bangsa. Saya kirimkan komentar pada beberapa teman sms berikut:

          “Pesta Malam, jalan utama ditutup, dibangun panggung hibuan,  disulut kembang api dan mercon, ditiup terompet.  Budaya HURA2 diusung Pejabat. Kasihan Rakyat yang satu malam ‘berpesta’, 364 hari menderita. Khas negeri sekuler”

Indonesia awal Januari 2013

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , .

SYARIAT KENEGARAAN ISLAM UNTUK PANCASILA TUNTUNAN AL QUR’AN DALAM BERKOMUNIKASI

1 Comment Add your own

  • 1. icha  |  4 January 2013 at 21:03

    Syipppppp..sepakat,pap..!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2013
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: