TUNTUNAN AL QUR’AN DALAM BERKOMUNIKASI

12 January 2013 at 12:55 Leave a comment

Manusia perlu berkomunikasi satu dengan lainnya. Komunikasi bisa dalam bentuk satu orang ke orang lain seperti percakapan biasa, satu orang ke banyak orang antara lain dalam forum ceramah misalnya, bisa pula banyak orang ke satu orang seperti proses advokasi kelompok penasehat ke seorang pemimpin, ataupun banyak orang ke banyak orang seperti dalam kasus forum seminar.

Komunikasi antar manusia kini sudah berdiri sebagai ilmu tersendiri, keluar dari percabangan ilmu sosial  yang kian luas lingkupnya. Perkembangan teori komunuikasi amatlah  dirasakan, apalagi jika dikaitkan dengan upaya pemasaran (marketing) pada kegiatan bisnis/ekonomi. Sayangnya dalam proses peningkatan kemajuan teknologi komunukasi, selain sisi perangkat keras seperti media cetak, televisi, telpon, sampai internet dengan face book dan twitternya yang maju demikian pesatnya, namun dari sisi substansi dan metoda penyampaian sebagai perangkat lunaknya amatlah tertinggal, khususnya adab dalam berkomuniukasi, sehingga intensitas dalam membangun komunikasi malah membuat masyarakat semakin tidak santun, liar, merusak, kian menebar kejahatan dan kesalah fahaman. Ditinjau dari sisi ini maka terdapat bukti yang makin kuat bahwa ilmu-ilmu sosial tanpa tuntunan wahyu dari Sang Maha Perncipta akan berujung pada kerugian dan kerusakan umat manusia.

Benarkah Allah SWT sudah memberi panduan tegas pada manusia bagaimana harus berkomunikasi supaya produktif untuk kehidupan individu dan masyarakatnya? Jawabnya tidaklah sulit, yakni sudah! Hanya manusianya saja yang tidak mau mengacu pada isi al Qur’an. Wahyu Allah kepada Nabi Muhammad yang terdokumentasi dalam kitab suci al Qur’an yang terjaga keasliannya, tidak ada pemalsuan atau manipulasi manusia jahat, harus dijadikan panduan komunikasi umat Islam supaya sukses kehidupanya dunia-akherat.

Dalam kitab Mu’jam yang merupakan semacam kamus al Qur’an dan disusun dengan acuan perkata, bisa dilihat apa saja predikat ‘perkataan’ (Qaulan) dan berapa kali diberikan oleh Allah SWT yang tujuannya memberi bimbingan pada manusia supaya berkomunikasi dengan benar. Dengan menghayati makna prerdikat ‘qoulan’ tersebut manusia seharusnya menangkap esensi berkomunikasi yang benar dan baik. Ada 8 predikat ‘qoulan’ yang tercantum di al Qur’an untuk difahami.

Berikut ini 8 bentuk tuntunan cara berkomunikasi yang secara jelas dicantumkan dalam al Qur’an untuk menjadi pegangan hidup sehari-hari.

  1. “Qoulan Sadiidaa” (al. Q4:9) disebut beberapa kali dalam al Qur’an yang bermakna bahwa berbicara itu substansinya harus benar, faktual, jujur tidak bohong atau curang, tidak menipu. Sudahkah faktual  perkataan para bintang iklan bahwa dia memang memakai produk kosmetik ‘tertentu itu’ dalam kehidupan kesehariannya sesuai dengan yang dia nyatakan di dalam beriklan? Jika memang faktual maka dia sudah melaksanakan tuntunan Allah tersebut.
  2. “Qoulan Ma’ruufa” (al. Q2:235)  juga disebut beberapa kali di al Qur’an yang artinya jika berbicara hendaklah baik dalam segala hal, termasuk isi dan dalam pemilihan kata-kata atau bahasanya, tidak jorok, tidak vulgar, tidak menyakitkan hati pendengarnya. Arti baik dalam substansi berarti memberi nilai manfaat, tidak mengajak pada keburukan, kedholiman, atau kejahatan. Jika tidak bisa bicara yang baik maka lebih baik diam, begitu isi tuntunan Islam.
  3. “Qoulan Kariima” (Q17:23) disebut sekali dalam al Qur’an yang dikaitkan dengan bagaimana adab seorang anak harus berkomunikasi dengan orang tuanya, yakni memberi nuansa penghormatan, tentunya dalam pilihan kata maupun sikap tubuh yang diperlihatkan si anak pada orang tuanya itu. Contoh tersebut tentu bisa diekstrapolasi ke bentuk komunikasi antara murid pada gurunya, anggauta pada pimpinannya. dan anak muda ke orang yang dituakannya. Bukankah nilai ‘kariima’ ini kini semakin luntur di masyarakat Indomesia? Mengapa bisa begitu? Apa Pemerintah tidak mendorong terbentuknya budaya luhur ini dalam program nasionalnya, seperti melalui  pendidikan budi pekerti di sekolah dan kontrol acara-acara di televisi? Pemerintah memang bertanggung jawab atas perkembangan kualitas masyarakat.
  4. “Qoulan Layyinah” (Q20:44) disebut dalam al Qur’an terkait ajaran Allah kepada Nabi Musa agar berkata dengan nada lunak kepada Fir’aun sewaktu mengingatkan akan kedholimannya. Perintah ini bermakna perlunya berbicara dengan nada suara ‘lembut’, tidak keras  emosional tanpa kendali. Sering ditemui pemimpin yang berkuasa mengabaikan tuntunan ini padahal suara lembut itulah yang lebih efektif memberi bekas yang kuat pada yang dipimpinnya.
  5. “Qoulan Maesuura” (Q17:28) adalah  arahan supaya komunukasi itu memberi pengharapan pada yang diajak bicara, tidak memvonis hitam putih sehingga membuat lawan bicaranya merasa tiada harapan atau putus asa, tidak punya kesempatan lain untuk berhasil. Al Qur’an mengaitkan ini dalam kontek dakwah, mengajak orang akan kebenaran. Sebagai contoh misalnya pentingnya memberi penyejuk  dalam pengucapan keputusan sehingga yang diputus perkaranya tidak menjadi orang yang patah harapan untuk mendapat keberhasilan di masa mendatang.
  6. “Qoulan ‘Adhiima” (Q17:40) difirmankan Allah terkait dengan peringatan pada mereka yang memiliki kesalahan yang berat. Mereka itu perlu sadar dan mengerti bahwa kesalahannya itu amat serius sehingga tidak jangan sekali-kali diulangi. Bahasa dan sikap saat bicara yang dibuat akan membuat orang yang bersangkutan faham bahwa telah melakukan sesuatu yang fatal.
  7. “Qoulan Balighaa” (Q4:63) disebutkan dalam al Qur’an sebagai kualitas perkataan yang mampu menyentuh hati. Pilihan kata, bahasa, dan sikap tubuh memberi nuansa bahwa orang yang diajak bicara menjadi faham dan  tersentuh hatinya agar dia tergerak untuk melakukan yang baik atau meninggalkan hal buruk yang sudah dikerjakan. Dalam al Qur’an perkataan macam ini dicontohkan  untuk mengingatkan kekeliruan orang munafik yang di dalam al Qur’an dicirikan sebagai orang yang mau menipu Allah dan orang2 beriman, ria’ atau suka pamer, dan khianat.
  8. “Qoulan Tsaqiila” (Q73:5) dalam al Qur’an disebutkan terkait penyampaian wahyu Allah kepada Nabi Muhammad bahwa beliau akan menerima amanah berat dari Allah SWT, yakni wahyu untuk disampaikan pada manusia agar terselamatkan dari kesesatan. Perkataan semacam ini mewakili pesan dari pemberi ke penerima yang memang pesan tersebut akan menjadi beban berat yang harus dikerjakan oleh penerima tugas itu. Penyampaiannya harus mampu menunjukkan adanya misi besar tersebut agar yang bersangkutan sadar benar.

Semoga bermanfaat

Indonesia 12 Januari 1434H

Entry filed under: Sosial Budaya, Syariat Islam. Tags: .

KEPANIKAN ATAU PENGALIHAN PERHATIAN MAKNA KESEMPURNAAN ISLAM DAN EMPIRISASI KESUKSESAN RASULULLAH MUHAMMAD SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2013
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: