MANUSIA SUKSES vs MANUSIA BAIK

9 February 2013 at 13:42 Leave a comment

Dalam khotbah Jumat kemarin di kampus Unair saya bahas betapa negeri ini sepertinya dilanda krisis pemimpin dan kepemimpinan. Fenomena itu terasa sekali dari banyaknya kasus tokoh nasional apakah dari kepartaian atau birokrasi yang terlanda korupsi dan perbuatan tercela lain seperti selingkuh dan bersukaria jalan-jalan ke luar negeri menghabiskan uang rakyat dengan menggunakan berbagai alasan.

‘Demokrasi’ yang semula diharapkan menjadi solusi dari pemimpin otoriter ternyata malah membuat negeri kehilangan pemimpin berkualitas yang mau mengabdi dan memberdayakan rakyat lemah. Bahkan malah muncul banyak pemimpin yang ingin bertambah kekayaannya walau sudah bergaji tinggi dengan kehidupan yang jauh melampaui kehidupan rakyat menengah yang dipimpinnya. Dengan ‘demokrasi’ macam sekarang ini rakyat sepertinya kehilangan peluang memperoleh pemimpin yang benar-benar baik kualitasnya, pengabdi dan pro rakyat, mau hidup sederhana seperti hidupnya rakyat pada umumnya. Sebaliknya dengan model demokrasi yang ada sekarang, demokrasi berbasis uang,  rakyat mendapat banyak pemimpin yang bercitra populer namun substansi kebijakannya  tidak mampu mengatasi krisis yang terjadi di masyarakat.

Dari sisi ajaran Islam tampak menjadi amat ironis karena  keterpurukan itu terjadi di dealam negeri yang mayoritas  penduduknya muslim, hampir 90%nya atau lebih dari 200 juta orang. Tidakkah diantara ratusan juta muslim itu terdapat orang yang memiliki kualifikasi sebagai pemimpin yang benar-benar baik? Ataukah bisa saja banyak muslim Indonesia yang berkualitas pemimpin ideal namun sistem yang sedang berlaku tidak memungkinkan muslim berkualitas baik tersebut bisa terangkat sebagai pemimpin formal negeri? Sungguh ironis jika beratus juta muslim di sini memang umumnya keliru memahami agama Islam, apakah karena dididik agama Islam secara salah oleh guru agamanya atau sudah teracuni oleh visi non-Islami melalui para penguasa negeri. Bukankah seharusnya semua muslim di dunia sudah  punya standar baku apa kriteria manusia yang baik dan apa pula pemimpin yang baik, yakni seperti yang disampaikan dan dicontohkan Rasulullah.

Terhadap berbagai ironi tersebut lalu bagaimana menjelaskannya? Rasanya tidak sulit untuk dijawab: muslim Indonesia tidak mengambil ibrah dari keteladanan nabi Muhammad SAW. Konsep Islam yang tercantum dalam al Qur’an dan hadits tentang  apa ukuran dan bagaimana menjadi ‘manusia baik’ dalam dimensi sebagai pribadi, keluarga, dan pengelola negara tidak lagi menjadi panutan orang Islam Indonesia. Saat mereka punya kesempatan memilih pemimpin, mereka bukan memilih orang yang berkualitas seperti diajarkan nabi namun asal memilih saja, bahkan sering hanya dengan pertimbangan pada penampilan luar tokoh yang dicitrakan media (berita/iklan), dan atau pemberian recehan yang mereka yang terima dari si tokoh di saat-saat menjelang pemilu (politik uang). Ukuran ‘manusia baik’ diporak-porandakan, berganti dengan cita-cita menjadi ‘manusia sukses’ yang ukurannya berorientasi kenikmatan duniawi, materialistik dan hedonistik yang  semu dan sementara.

Saya juga mengingatkan jamaah jum’ah yang umumnya intelektual untuk kembali mempromosikan kepada umat akan pentingnya makna kepemimpinan yang benar  dengan mengacu pada ajaran Islam, khususnya percontohan Rasulullah. Mengapa harus Islam? Karena Islam adalah agama yang benar dan sempurna, di dalamnya terkandung tuntunan hidup sebagai pribadi, berkeluarga, berbangsa-bernegara. Substansi terinci saya bahas cukup panjang lebar pada artikel sebelum ini di blog. Umat Islam banyak mengabaikan aspek bertuhan secara benar. Tuhan tidak layak  dijadikan hanya sekedar simbol, asesoris,  dan dirituali yang bersifat ghoib, namun harus dilihat dari posisinya sebagai Maha  Pencipta yang mengajar manusia yang lemah tentang cara hidup keduniaan yang benar secara utuh dan operasional (lihat artikel-artkel di blog ini: “PRIBADI MUSLIM”, “KELUARGA SAKINAH”, dan  “MAKNA KESEMPURNAAN ISLAM DAN EMPIRISASI KESUKSESAN RASULULLAH”).

Umat Islam banyak yang terlarut dalam arus sekularisme, yakni menyisakan ajaran agama sekedar masalah ritual, mengabaikan tuntunan Allah SWT tentang cara menjalani kehidupan sehari-hari menyeluruh, seperti berperilaku sebagai pribadi, keluarga, dan dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Apa dikiranya dengan berperilaku sekularistik (bertuhan hanya untuk urusan ritual) maka bisa menyelesaikan krisis sosial?

Jawa Pos kemarin (8 Februari 2013) sepertinya dengan antusias memberitakan bahwa rekening bernilai 2 milyar rupiah ternyata berjibun, mencapai 185ribu rekening dan merupakan 52% dari seluruh rekenening bank di negeri ini. Bangga dengan itu? Lihat dulu siapa dan berapa orang PEMILIK rekening gendut tersebut, dan apa artinya 185 ribu jika dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia yang sekitar 250juta orang. Ketimpangan ekonomi seperti itu, belum lagi terkurasnya sumber daya alam yang tidak terbaharukan, dan rusaknya akhlak penduduk,  jelas merupakan produk dari pengelolaan negara secara sekularistik, mengabaikan tuntunan Maha Pencipta. Apakah model pengelolaan negara secara sekularistik oleh kelompok sekuler di negeri ini  masih harus terus berlangsung?

Menyusul khotbah itu saya lalu tulis sms ke teman-teman sebagai berikut:

“Visi sekuler tentang “Manusia Sukses” yang kini lagi marak adalah: hidup berharta, berkuasa, dan menikmatinya, untuk bertuhan bebas-bebas saja semaunya. Visi seperti itu jelas amat merusak peradaban dan kemanusiaan. Harus segera diatasi secara individual (introspeksi masing-masing) dan secara kolektif (penguatan Hizbullah/ Partai Politik Islam).”

Banyak tanggapan masuk yang umumnya mendukung sekali. Secara spesifik ada yang menjawab sebagai berikut:

“Memang (krisis-krisis itu) harus diatasi dengan SI (Syariat Islam)”

Karena jawaban dalam sms tersebut saya anggap belum menyentuh sisi operasional bagi umat dalam  mengatasinya  maka saya respon balik:

“Jangan lupa dan ragu bahwa untuk tegaknya SI perlu via PI (Partai Politik Islam)”

Teman lain ada yang memberi tanggapan bernada pesimistik namun cukup faktual:

“Rupanya tentang berharta dan berkuasa itu sangat memprihatinkan dan  sudah merasuk di banyak tokoh dan  lini.”

Saya jawab sebagai berikut

“Kita tidak boleh putus harapan, harus dicari titik kuncinya, yakni memperbaiki kualitas tokoh Partai Islam dan mobilisasi umat untuk memilih Partai Islam dalam pemilu karena PI secara ideologis sudah benar, representasi  Hizbullah yang disebut dalam al Qur’an”

Semoga manfaat

Indonesia medio Februari 2013

 

Entry filed under: khotbah, Pemikiran, Politik. Tags: .

MAKNA KESEMPURNAAN ISLAM DAN EMPIRISASI KESUKSESAN RASULULLAH MUHAMMAD SAW UMAT PERLU MELAWAN SERANGAN TERHADAP AJARAN ISLAM POLITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2013
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: