Paradigma Salah yang Merusak Peradaban: “AGAMA ITU RANAH PRIBADI/RITUAL, NEGARA/PEMERINTAH ITU RANAH PUBLIK”

2 March 2013 at 15:11 Leave a comment

Gencar sekali di media disampaikan pendapat ‘pakar’ bahwa agama itu ranah pribadi (ritual), sehingga negara tidak perlu ikut campur karena negara (Pemerintah) itu mengurus masalah publik, kepentingan bersama. Itulah paradigma yang sedang banyak dipropagandakan di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Sepertinya sudah disadari oleh para propagandis di atas bahwa Islam sebagai agama mengajarkan tentang semua dimensi kehidupan manusia, ya ritualnya, permasalahn pribadi, keluarga, organisasi, negara, dan bahkan dunia dunia internasional serta semesta alam. Coba saja dibaca al Qur’an dan hadits serta sejarah nabi secara lengkap. Islam bukan sekedar ajaran menyembah tuhan dengan segala ritusnya seperti shalat, puasa, doa, haji dll namun juga cara perkawinan dan membangun keluarga sakinah, cara memilih pemimpin dan mengelola bangsa-negara, bahkan cara berhubungan antar negara  dalam bentuk pentingnya diplomasi dan kapan harus berperang. Itulah Islam, tidak sekedar masalah pribadi dengan ritus2 ketuhanannya.

 

Sehubungan dengan luasnya ajaran Islam seperti itu maka ajakan bahwa agama itu ranah pribadi pasti bukan dari agama Islam. Sayang beribu sayang konyolnya banyak tokoh umat Islam lalu ikut terperosok masuk ke ajakan tersebut dan malahan mau saja menjadi corong propaganda orang lain dan menyatakan bahwa beragama Islam itu urusan pribadi masing2. Astaghfirullah.

Mari kini diperhatikan bagaimana dampak jika paradigma yang berasal dari dunia non-Islam itu diterapkan dalam praktek kehidupan sosial, apa rentetan implikasinya? Apabila agama hanya ditempatkan sebagai ranah pribadi, lalu Negara/Pemerintah menjadi tidak ikut campur dalam pembinaan dan lika-likunya, maka apa misi yang diemban negara/pemerintah? Pemerintah HANYA AKAN MENGURUSI KEBUTUHAN MATERIAL RAKYAT, seperti ekonomi, ketertiban, keamanan, dan semacamnya, tidak mau menyentuh atau tidak peduli apakah rakyat di negerinya beragama dengan benar atau tidak, taat pada ajaran agamanya atau tidak. Pemerintah juga tidak akan ikut terlibat dalam urusan pelecehan, penghinaan, ataupun penistaan agama dan simbol-simbulnya karena itu semua adalah urusan pribadi tiap individu rakyat, bukan ranah sosial yang menjadi beban tanggung jawabnya. Maksimal negara/pemerintah akan ikut campur terkait  kebutuhan publiknya, agar masyarakat tidak ribut bertikai yang mengganggu ketertiban sosial. Jika ada gangguan ketertiban itu maka Pemerintah lalu dengan tegas melakukan tindakan melalui aparat kepolisian, mengancam/menakuti dengan sanksi bahwa tidak boleh anarkhis, harus toleran, dan semacamnya. Maka hujatan dan penistaan agama secara tidak langsung akhirnya menjadi sesuatu yang boleh-boleh saja asal yang dihujat tidak ribut yang mengakibatkan kerusuhan sosial, mau bersikap sabar, mau bersikap pintar tidak bertindak bodoh dalam menanggapi mereka yang berlaku bodoh. Terhadap si penghujat pemerintah maksimal menganjurkan jangan memancing-mancing keributan begitu, ujungnya ya dibiarkan dan tidak diproses pidana apapun. Itulah yang kini sedang berkembang di dunia bukan?

Apakah posisi beragama seperti itu menyelesaikan masalah peradaban? Mungkin ya mungkin tidak. Bisa ‘ya’ jika semakin banyak saja rakyat yang tidak lagi peduli pada agamanya, tidak bergolak tatkala agamanya dileceh atau dinista simbolnya, semakin melemah keyakinan akan kebenaran agama yang dipeluknya karena semua agama itu dipropagandakan sama benarnya. Artinya agama menjadi semakin tidak penting dalam kehidupan manusia. Bukankah kecenderungan itu yang kini melanda dunia Barat. Penelitian Pew Research Center misalnya menemukan bahwa kini 20% rakyat Amerika Serikat tidak beragama walau sebagiannya masih mengaku bertuhan, naik 5% dari hasil survey 5 tahun lalu.

Namun di sisi lain kondisi beragama seperti yang dikehendaki kaum sekuler itu  bisa juga ‘tidak’ akan menyelesaikan masalah kemanusiaan apabila  umat beragama (Islam) tetap kuat keyakinan agamanya, dan akan berujung bisa membawa malapetaka, terjadi kerusuhan sosial berkepanjangan. Lihat kasus di Timur Tengah yang kini terus bergolak yang juga jelas dipicu/melibatkan negara-negara di luar wilayah itu. Dunia tampaknya akan sampai pada dua alternatif, yakni hilangnya Islam sebagai ajaran sosial-kenegaraan dan tersisa ritualnya saja, atau kalahnya sekularisme karena ditinggalkan manusia karena akibat buruk yang ditimbulkannya (kerusakan peradaban yang semakin parah) berganti dengan negara/pemerintahan yang dipandu oleh tuntunan agama. Bagaimana rasionalnya bahwa sekularisme bisa begitu merusak peradaban?

Dengan diposisikannya agama sebagai ranah pribadi dalam paradigma sekularisme maka Negara/Pemerintah hanya akan mengurus permasalahan   ‘materi/keduniaan’ yang dibutuhkan rakyat, mengabaikan sisi kejiwaan atau ruhiyah manusia. Pemerintah tidak peduli apakah rakyatnya taat dalam beragama atau tidak, beragama dengan benar atau tidak. Penduduk akan semakin jauh dari tuntunan tuhan Maha Pencipta, mulai dari rakyat kecil sampai Pejabat Pemerintahan tertinggi. Pada saat bersamaan, masalah sosial-politik yang dihadapi Pemerintah pasti akan terus berdatangan dan solusi yang disiapkan pemerintah juga tidak terkait dengan tuntanan agama. Pejabat negara akan saling berebut menjadi yang paling baik dan diterapkan konsepnya, berdebat berkepanjangan. Jika akhirnya ada juga yang gigih merasa perlu bantuan kekuatan tuhan maka dilakukan saja doa bersama, dipimpin oleh tetua spiritual agama yang ada di negeri itu. Manusia akan terus berputar mencari solusi dalam menghadapi krisis2 bangsa-negara tanpa bimbingan Penciptanya yang berbentuk ajaran  sosial kenegaraan, dan akhirnya dunia akan terperosok oleh kelemahan manusiawi, di mana manusia itu sendiri memang bukan makhluk tanpa keterbatasan dan kelemahan.

Peradaban manusia yang meninggalkan ajaran Pencipta dalam masalah sosial kenegaraan akan berakhir dengan kebuntuan, dan membuat manusia cenderung tamak-loba, mengeksploitasi secara rakus sumber daya alam dan menindas terhadap sesamanya. Bukankah fenomena itu sudah terjadi di dunia ini, di mana beberapa orang memiliki harta tidak terhitung banyaknya (belum lagi jika dicermati  apakah diperoleh dengan cara benar/salah), hidup mewah, namun ternyata tetap menjadi atau kian agresif meraih keuntungan  bersenjatakan modal dan kekuasaan yang sudah segunung, di tengah kemiskinan penduduk bumi yang tidak terkirakan jumlah dan beban penderitaannya?

Akibat dari paradigma keliru tersebut maka dalam pusaran dunia sosial manusia akan terjadi proses materialisme dan hedonisme yang merusak kemanusiaan itu sendiri. Dalam pusaran proses tersebut agama kian ditinggalkan ajarannya, para pengkhotbah agama akan semakin berkurang peminatnya, ukuran-ukuran sukses sebagai manusia berfokus pada sukses duniawi, yakni semakin kaya, semakin berpengaruh/berkuasa, semakin bisa bersenang, bermegah, dan berfoya-foya, tidak peduli cara yang diperoleh untuk mendapat harta dan kekuasaan tersebut benar atau salah menurut agama. AGAMA SILAHKAN DIPELUK ATAU TIDAK,  TERSERAH INDIVIDU MANUSIANYA, BERAGAMA DENGAN BENAR ATAU SEENAK/SEMAUNYA JUGA TIDAK MASALAH. Itulah kehidupan di dunia SEKULARISME yang kini sedang melanda umat manusia  dan bangsa Indonesia.

Mari dicermati secara obyektif  kondisi sosial  kemasyarakatan di Indonesia masa kini. Bukankah fenomena yang dipaparkan di atas sudah juga tampak jelas (tidak usah bersusah payah dengan survey dll). Agama semakin tidak diminati masyarakat kecuali yang tersisa  dalam bentuk ceramah dan seni yang itupun terasa susut frekuensinya dan umumnya hanya membahas ritual atau hiburan./selingan yang menyejukkan hati sesudah sibuk berebut materi. Pembinaan agama oleh Pemerintah sebatas mendirikan dan memelihara rumah ibadah atau sekolah, mengurus beberapa aspek ritual agama seperti haji,  yang itupun terbatas sekali anggarannya. Mana tampak upaya untuk memantau secara berkesinambungan tingkat ketaatan umat pada agama yang dipeluknya, walau hanya sekedar dalam beritual? Hari raya Islam yang tidak kompak pelaksanannya juga tidak apa, suburnya penyimpangan pada ajaran Islam yang baku seperti keberadaan Akhmadiyah dan Islam  Liberalpun  juga oke-oke saja. Pemerintah teramat sibuk dengan masalah materi, khususnya berupaya keras  maumya membuat rakyat bisa makan dan memenuhi kebutuhan ekonomi lainnya. Namun dalam upaya  yang dinilainya amat penting itupun Pemerintah TIDAK MENYENTUH METODA YANG DIAJARKAN AGAMA, sehingga riba terus dipraktekkan dalam lembaga keuangan negara, bisnis barang maksiyat terus marak. Tidak nampak kerja keras Pemerintah membuat rakyatnya agar mau  memenuhi dengan benar ajaran agama yang mereka yakini. Tatkala muncul kegagalan dalam upayanya mengangkat ekonomi rakyat maka dicarinya berbagai jalan keluar namun tidak perlu dikaitkan dengan ajaran agama. Koruptor, manipulator, kriminal, teroris jadi sasaran hujatan, padahal korupsi, manipulasi, tindak kejahatan, terorisme, dan maraknya miras-narkoba, dll justru berakar pada kebijakan nasional yang salah. Dibuatlah berbagai macam undang-undang/peraturan namun ternyata muncul pula lebih banyak lagi beragam pelanggaran. Hukum dibuat tapi tidak sejalan dengan tuntnnan tuhan sehingga tidak menjerakan, yang itupun diterapkan di lapangan sarat dengan penyelewengan. Peradilan dibuat namun pelaku penegak keadilan sendiri banyak yang bermimpi untuk berharta banyak dan berfoya-foya sehingga suap-menyuapun menjadi biasa. Mana bisa maju bangsa-negara yang  seperti itu?

Terkait permasalahan paradigma sekularisme tersebut saya kirim sms ke teman2 sebagai berikut:

      “AGAMA  disudutkan sebagai ranah Pribadi/Ritual. Pemerintah itu ranahnya publik, maka dunia sosialpun lalu berputar tanpa tuntunan agama. Paradigma salah dari SEKULARISME. Pemerintah mengurus kebutuhan ‘materi’, abai menata ketaatan beragama, padahal apa sumber utama korupsi dll? Sistem dan Akhlak rusak, karena beragama SEMAUNYA”

Seorang teman mantan Ketua Umum Ormas Islam besar menulis sms yang menyatakan tokoh Islam ada yang berbuat lebih buruk dari orang sekuler.

Tanpa berpretensi tahu siapa yang dimaksud teman itu maka saya jawab sebagai berikut:

    “Secara epidemiologis PROPORSI ORANG JAHAT DI KELOMPOK BERAGAMA JAUH LEBIH SEDIKIT DIBANDING DI KELOMPOK SEKULER. Itu harusnya dalam  membuat konklusi.”

Teman itu ternyata belum puas dan mengirim lagi sms berikut:

    “Orang yang berpura-pura di bumi ini terlalu besar jumlahnya. Pak Natsir pernah mengatakan bahwa untuk mengenal sahabat sejati bisa makan waktu puluhan tahun”

Walau saya tidak yakin bisa menagkap dengan tepat apa yang dimaksudkan sms tersbut maka sebagai teman baiknya saya menjawab sms itu:

      “Masa berubah, mari dihadapi sesuai kenyataan tanpa kehilangan keyakinan MAKNA BENAR DAN SALAH yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits (jika masih yakin itu tentunya)”

Datang pula smsnya:

     “Hadits sedang diteliti lagi oleh pakar hadits di Turki, ini patut dicermati”

Saya lalu menjadi sedikit heran sehingga saya respon:

    “Mengapa tidak oleh tokoh Islam di NKRI? Sedih kan? Islam konsumenkah kita, sehingga mudah jatuh kepelukan sekularisme?”

Dikirim lagi smsnya sebagai berikut:

     “Sekularisme telah gagal di Turki, sekalipun melalui proses berdarah-darah. Pendekatan sejarah sangat penting. Jika diabaikan orang akan gagal membaca relaitas, kata Abdullah Laroul dari Maroko”

Saya menjadi kian tidak mengerti pola berfikir dalam menghadapi kenyataan yang ada di negeri ini. Maka saya jawab tegas:

        “Sekali lagi mengapa harus menunggu orang Maroko, Turki, dll, padahal di sini hidup 200 juta muslim? Mari beri contoh dunia dengan mengelola NKRI secaqra Islami, tidak sekuler.”

Rupanya teman saya yang saya kenal baik itu sudah puas dan setuju sehingga tidak mengometari lagi. Saya senang pada dialog tersebut karena teman satu ini rajin menulis di media nasional.

Indonesia, awal Maret 2013.

Entry filed under: Pemikiran, Politik, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , , , , .

UMAT PERLU MELAWAN SERANGAN TERHADAP AJARAN ISLAM POLITIK MENGAPA HANYA BICARA HAL-HAL Generik (UMUM) KALAU TAHU YANG Spesifik (KHUSUS)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2013
M T W T F S S
« Feb   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: