HAKEKAT FITHRAH ADALAH BERIMAN DENGAN BENAR DAN BERISLAM SECARA UTUH: RITUAL, SOSIAL, POLITIK (Khotbah Iedul Fithrie 1434H/2013M)

7 August 2013 at 17:12 Leave a comment

Disampaikan oleh:

DR. FUAD AMSYARI

(Dewan Kehormatan ICMI Pusat)

 

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,

(Iftitah)

Allaahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Alhamdulillah, baru saja telah kita lewati sebuah bulan di mana kita diberi kewajiban oleh Allah SWT untuk melakukan ibadah ritual (ibadah mahdhah) berupa berpuasa sebulan penuh. Pada saat yang sama kita juga diberi Allah banyak berkah karena kebaikan yang kita lakukan di bulan itu oleh Allah mendapat imbalan atau pahala berlipat dibanding kebaikan yang sama dilakukan di bulan lain. Oleh adanya keberkahan istimewa di bulan Ramadhan itulah maka banyak umat yang merasa rugi meninggalkan Ramadhan dan berharap bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang. InsyaAllah.

Islam mengajarkan bahwa kebaikan yang dilakukan manusia akan mendatangkan keberkahan, sedang keburukan yang dilakukan akan menghasilkan kerugian. Pada dasarnya di dunia ini tidak ada yang benar-benar netral, bahkan jika manusia meninggalkan sesuatu yang bersifat sunnahpun orang itu bisa dihitung  merugi karena keberkahan perbuatan sunnah itu tidaklah dia peroleh. Perbuatan yang sering disebut sebagai mubah, yang sepertinya bila dikerjakan maupun tidak dikerjakan sama tidak ada berdampak apapun sesungguhnya juga mengandung nilai karena waktu yang dimiulikinya disia-siakan. Jangan dikata untuk masalah yang disebut berkategori wajib, bahwa bila dikerjakan akan mendapat keberuntungan dan jika diabaikan akan mendatangkan kerugian, atau hal bersifat haram,  jika dilakukan mendapat petaka dan bila ditinggalkan akan mendapat manfaat. Di sinilah sesungguhnya terkandung makna kefithrohan, membuat manusia menjadi kian sadar bahwa hidup yang singkat ini jangan diabaikan dengan membuang-buang waktu secara sia-sia apalagi digunakan melakukan keburukan atau kejahatan. Hidup harus melakukan kebaikan2 agar mendapat manfaat yang maksimal.

Keberkahan yang diajarkan Islam ukurannya utuh atau lengkap, tidak hanya hanya berdimensi di kehidupan akherat namun juga keberkahan dalam kehidupan di dunia fana sekrang ini. Keburukan yang dilakukan manusia akan memberi dampak padanya sekarang dan dalam kehidupan akherat nanti. Ukuran keberuntungan atau kerugian juga tidak sekedar bertambah/berkurangnya materi atau kekayaan yang dimiliki namun juga termasuk ketentraman hati, kesehatan, kemalangan hidup, keharmonisan keluarga, kondisi keturunan, serta penghormatan  sosial yang dirasakannya. Ukuran kehidupan di akherat juga jangan disederhanakan hanya dalam bentuk surga dan neraka kelak sesudah ada perhitungan sesudah kiamat, namun juga harus dimasukkan nasib yang segera akan diterima seketika setelah kematian datang, di alam kubur. Siksa dan nikmat kubur segera dirasakan manusia sesudah kematiannya tiba. Mereka yang banyak berbuat kejahatan mendapatlan siksa kubur yang luarbiasa beratnya, kengerian demi kengerian akan hadir  sehingga berteriak-teriak memohon bisa dihidupkan kembali ke dunia untuk berbuat kebaikan.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Seharusnya sesudah kita menjalani puasa sebulan penuh dengan banyak melakukan kebaikan maka kita menjadi manusia baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Itulah esensi dari Iedul Fithrie, hari yang dirayakan karena kita kembali kepada kondisi fithroh.

Rasulullah bersabda dalam hadits shaheh:

“Setiap manusia itu dilahirkan dalam kondisi fithroh, orang tuanyalah yang membuat dia menjadi yahudi, nasrani, dan majusi”

Apa makna fithroh di sini? Jelas bukan kondisi berkarakter, berperilaku, berpola pikir ala yahudi, nasrani, maupun majusi namun berkarakter Islami, menuhankan Allah SWT, mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Itulah hakekat fithroh, kembali kepada kemurnian Iman dan keutuhan Taqwa. Kondisi fithroh ibarat kita baru lahir, bersih dari segala noda kekeliruan perilaku dan pola pikir, kembali sebagai manusia yang jika mati saat itu langsung mendapat nikmat kubur dan sesudah hari kiamat akan menghuni surga jannatun na’im.

Allahu Akbar 3x

Hadirin Jamaah shalat ied yang saya hormati

Satu hadits yang sering disampaikan dalam bulan puasa adalah sabda Rasulullah SAW:

“ Puasa itu menyehatkan”

Sayangnya pemahanan sehat di sana banyak diasosiasikan sekedar sehat  jasmaniah saja, sepertinya puasa membuat manusia menjadi manusia super secara jasmaniah, tidak dijamah sakit secara fisik, kebal segala serangan kuman dan virus. Padahal jika dicermati dengan  baik tentu makna sehat  tidak hanya aspek fisik jamaniahnya belaka. Banyak orang yang fisiknya kokoh-kuat ternyata bukan orang yang dapat dikategorikan sehat karena dia menjadi perusak.

Manusia sebagai pribadi memang tidak hanya terdiri dari darah dan daging, tapi di dalam manusia itu ada berbagai komponen kemanusiaan yang harus dihitung utuh. Sesungguhnya manusia minimal memiliki tiga komponen besar yang keseluruhannya harus sehat. Dari ke tiga komponen itu ada yang bersifat amat menentukan sekali kualitas manusianya, menjadi penentu kemanusiaan secara keseluruhan. Rasulullah dalam hadits memberi tuntunan tentang hakekat kualitas manusia ini:

“Dalam tubuh manusia ada sebuah komponen yang jika komponen itu baik maka manusia itu menjadi manusia yang baik, bermanfaat bagi kehidupan. Jika komponen itu buruk maka seluruh aspek kemanusianya menjadi berkualitas buruk, menjadi perusak dalam kehidupan.”

Penyataan nabi tersebut mendapat respon dari para sahabat beliau: “Apakah komponen yang begitu itu  ya Rasululullah?”

Nabi lalu menjawah sambil menunjuk ke arah dalam dada beliau: “Kompnen tersebut adalah QALBU/nurani”

Dari hadits tersebut harusnya manusia sadar bahwa jika bicara tentang manusia maka yang harus diukur pertama sekali adalah nurani atau qalbunya, bukan komponen lain, apapun komponen tersebut. Bukan kapasitas otak, kemampuan otot, apalagi sekedar jumlah harta benda materi yang dimilikinya. Jika qalbu berkualitas baik maka otak dan fisik manusia, kekayaan dan kekuasaan yang dipunyai manusia akan  mendatangkan kebaikan dalam kehidupan ini. Jika qalbu atau nuraninya buruk maka kecerdasan otak, kekuatan otot, harta dan kekuasaan yang dipunyainya akan mendatangkan kerusakan dalam kehidupan. Di sinilah hakekat bahwa berpuasa itu menyehatkan dan akan membawa manusia kepada keberhasilan hidup dunia-akherat. Puasa akan membuat nurani atau qalbu manusia tersehatkan, otak tercerdaskan, fisik akan membaik, dan jadilah ia manusia yang kian bermanfaat dalam kehidupan ini.

Allahu Akbar,

Puasa secara khusus disebutkan oleh Allah SWT dalam surat al Baqarah 183 untuk membawa manusia dalam kondisi taqwa. Qalbu manusia yang baik adalah qalbu yang berisikan keimanan yang benar disertai dengan ketaqwaan yang utuh.

Keimanan itu tertanam di dalam hati, relatif sulit dijenguk oleh manusia lain. Sedangkan ketaqwaan itu berdimensi perilaku yang mudah dikenali oleh orang lain. Ayat tentang perintah puasa itu menyentuh kedua aspek vital kualitas qalbu tersebut. Ayat itu dimulai dengan “memanggil manusia yang qalbunya sudah berisi keyakinan tentang adanya Allah SWT  dan keyakinan akan kerasulan nabi Muhammad SAW”. Mengucapkan sahadat pada dasarnya adalah manifestasi perilaku dari isi hati yang beriman agar bisa dikenali manusia lain, walaupun kedalaman keyakinan itu sendiri masih misteri dan sulit diketahui dengan tepat.

Ketaqwaan, sebaliknya, lebih berdimensi perilaku yang menunjukkan apakah aktifitas dalam kehidupan keseharian manusia itu mengikuti tuntunan Allah dan RasulNya atau seenak sendiri. Rasanya relatif lebih mudah untuk mengenali mana manusia yang bertaqwa dan mana manusia yang tidak bertaqwa. Bahkan juga mudah dikenali mana yang ketaqwaannya utuh dan  mana yang ketaqwaannya kurang atau tidak utuh. Manusia yang utuh ketaqwaannya tentu melakukan aktifitas ritual (ibadah mahdhah) dan kebaikan-kebaikan (non-ritual) yang luas, sedang yang mereka yang lemah ketaqwaannya adalah manusia yang perilaku sehari2nya tidak atau jarang mengerjakan ibadah ritual dan sedikit kebaikan2 sosial yang dilakukannya.

Bobot keimanan seseorang  bahkan secara jelas diberi kriterianya oleh Allah SWT dalam bentuk perilaku yang lebih spesifik yang bisa  dijadikan ukuran operasional. Dalam surat al Hujurat ayat 14 dan 15 tergambar di sana bagaimana manusia yang berkualitas beriman secara benar itu.

Ayat 14 memberi penjelasan awal:

“Datanglah orang yang meyatakan di depan nabi bahwa dia telah beriman. Nabi meresponnya dengan berkata: ‘Kamu belum beriman, katakan saja kamu itu sudah berislam karena iman belum masuk ke dalam  qalbu/nuranimu. Namun jika kamu berbuat sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya maka Allah tidak akan mengurangi sedikitpun amalan kebaikanmu itu. Allah itu Maha Pengampun dan Pemurah’”

Ayat ke 15 kemudian memberi penjelasan lebih tehnis tentang kategori beriman sebagai berikut:

“Sesungguhnya yang disebut sebagai beriman itu jika dia sungguh yakin akan  Allah SWT dan RasulNya tanpa keraguan sedikitpun, dan dia mau berjihad (membesarkan dan menyebarkan Islam) dengan harta dan jiwanya. Begitu itu baru bisa disebut bahwa benar pengakuannya sebagai beriman”

Dari kedua ayat di atas jelas sekali ada dua kategori mengisi qalbu manusia. yakni  beriman dan berislam. Beriman itu dimensi hati namun masih bisa diukur melalui perilaku dalam bentuk berjihad, mau menyebar luaskan,. membela, membesarkan-mempromosikan Islam dengan pengorbanan baik harta maupun jiwanya. Berislam adalah dimensi perilaku, perbuatan sehari2nya, apa saja macamnya, harus sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.

Sudahkah kita mengisi qalbu kita dengan keduanya, iman yang benar dan berislam yang utuh?

Allahu Akbar

Sebagai umat Islam, kita harusnya hidup mencontoh nabi semaksimal mungkin. Secara sederhana sebenarnya hidup mencontoh nabi itu tidak sulit karena yang dilakukan nabi Muhammad SAW bisa dikelompokkan hanya menjadi 2 bagian besar, yakni: 1). Perilaku dalam keseharian beliau (apa saja: ritual, sosial, politik) selalu sesuai dengan tuntunan Allah SWT; dan 2) Nabi selalu berjihad, berjuang menyebarluaskan Islam dalam berbagai bentuk perjuangan. Model perjuangan Nabi dalam mengembangkan agama Islam juga bisa diklasifikasi dalam dua bentuk: 1). Melalui dakwah, yakni menyeru, mengajak secara lisan dan perbuatan ke arah agar manusia mau menjadi muslim yang baik, mengikuti tuntunan Islam; dan 2). Berjuang melalui aktifitas Politik, membentuk organisiasi politik (disebut dalam surat al Maidah ayat 56 sebagai ‘Hizbullah’, Partai Allah), sampai berhasil  membawa Madinah menjadi negeri yang dikelola sesuai ajaran kenegaraan Islam. Dalam berpolitik itulah Nabi melakukan diplomasi, dan bahkan  berperang jika dihinakan dan diserang musuh Islam.

Allahu Akbar

Di dalam al Qur’an ada suatu pola bagaimana perubahan bisa terjadi pada diri manusia. Pertama manusia harus mau mengakui adanya Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW. Untuk itu manusia perlu melakukan melalui kesaksian dalam bentuk pernyataan sahadat. Sesudah itu maka Allah lalu menyeru mereka dengan sebutan sebagai orang yang beriman (dengan redaksi ‘Wahai Orang yang Beriman’) untuk mau mengikuti berbagai tuntunan cara hidup yang harusnya mereka kerjakan supaya memperoleh keberhasilan di kehidupan  dunia dan akherat. Cara itu lalu berkali-kali diulangi dalam format yang sama. Format “Wahai Orang yang Beriman, …..” dilanjutkan dengan berbagai tuntunan yang harusnya dilakukan oleh mereka yang telah menyatakan keimanannya. Sebagai contoh  dapat dilihat dalam perintah untuk berpuasa, surat al Baqarah ayat 153:

”Wahai orang yang beriman, diwajibkan kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang sebelum kalian, supaya kalian menjadi orang yang bertaqwa”

Bukankah pola itu menjadi mudah untuk diikuti? Mengapa orang yang sudah menyatakan beriman tidak juga mau mengikuti petunjuk operasional cara hidup yang dituntunkan Allah swt?

Dari kamus Mu’jam dan bahkan bisa dicari melalui pencarian  komputer, terdapat 90 ayat yang berpola jelas seperti itu. Petunjuk Allah SWT pada orang yang beriman itu ada yang bersifat apa yang harusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan atau dilarang. Isi perintah dan larangan  tersebut ternyata meliputi beragam kebutuhan hidup manusia: ritual, perilaku individu, berkeluarga, bersosial, dan berpolitik praktis. Dari analisis isi ayat-ayat berpola seperti itu ternyata perintah terkait beritual amatlah sedikit. Kebanyakan petunjuk dan larangan dalam pola itu tentang tuntunan masalah sosial-politik. Berikut ini beberapa cuplikan:

Surat al Baqarah ayat 208

“Wahai orang yang beriman, masuklah kamu dalam islam secara utuh/menyeluruh/kaaffah”

Surat al Baqarah ayat 172

“Wahai orang yang beriman makanlah yang baik2 dari rizki yang kalian terima…”

Surat al Hujurat ayat 12

“Wahai orang yang beriman, jauhilah berprasangka karena sebagian prasangka itu dosa (keburukan), dan jangan mencari cari kesalahan….”

Surat at Tahrim  ayat 6

“Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari adzab api neraka..”

Surat al Maidah ayat 51

“Wahai orang yang beriman jangan kalian jadikan Yahudi dan Nasrani  sebagai pemimpinmu, …”

Surat al Maidah ayat 57

“Wahai orang beriman janganlah kalian jadikan pemimpin orang yang menjadikan agamau sebagai mainan dan olokan..”

Surat al Baqarah ayat 178

“Wahai orang yang beriman diwajibkan kepadamu untuk melaksanakan hukum qisas berkaitan dengan pembunuhan “

Surat Ali Imron ayat 130

“Wahai orang beriman kalian janganlah kalian memakan  riba”

Dan masih ada 81 lagi model perintah/larangan yang diserukan kepada kita yang sudah menyatakan beriman melalui shadatain itu. Silahkan dicermati.

Ada twitter yang bunyinya membuat saya prihatin sekali karena penulisnya termasuk yang sering disebut sebagai tokoh dan memimpin perguruan tinggi Islam. Dia katakan mengapa beratus juta manusia itu mau berlapar-berdahaga. Betapa jeniusnya Muhammad dengan ide perintah puasa itu. Saya jawab juga via twitter bahwa itu bukan karena jeniusnya Muhammad tapi karena ketaatan manusia pada perintah Allah SWT yang diyakini sebagai tuhannya  melalui nabi Muhammad SAW. Saya lalu komentari lebih jauh bahwa yang seharusnya dipertanyakan adalah: “mengapa banyak muslim mau melaksanakan perintah berlapar-dahaga tapi tidak mau mengelola negara sesuai tuntunan syariat Islam padahal itu juga perintah Allah SWT”. Silahkan dibaca artkel saya berjudul “Snapshort Islam Politik di bulan Ramadhan” dalam blog saya ‘fuadamsyari.wordpress.com’.

Allahu Akbar

Hadirin yang berbahagia

Kesuksesan manusia itu menjadi sempurna jika mau melaksanakan perintah Allah SWT secara utuh. Kerugian atau kesulitan bisa terus menimpa pada umat Islam jika dia melaksanakan perintah Allah itu dengan pilih2, yang terkait ritual seperti sembahyang, puasa, atau doa mau melakukan, tapi yang terkait dengan cara berkeluarga, bersosial, berpolitik menolak. Gangguan terhadap kesuksesan juga dialami umat sesuai dengan aspek yang dilanggar atau diabaikan. Bahkan malapetaka akan dialami pada skala yang luas,  banyak umat yang akan terlanda penderitaan, jika pelanggaran dilakukan di tingkat syariat berbangsa-bernegara. Kasus Timur Tengah saat ini sungguh amat memprihatinkan. Kehidupan umat di Afgan, Iraq, Tunis, Lybia, Syria, dan Mesir sampai hari ini amat menyedihkan, penuh pertikaian dan penderitaan, walau secara individu masing-masing mereka masih menjalankan ritual Islam, seperti mau shalat, puasa, dan berdoa. Di mana letak kekeliruannya?

Pemeluk Islam yang pilih-pilih dalam menjalankan perintah-larangan Allah SWT, di mana umumnya mau berritual namun menolak bersosial-politik Islami disitir oleh Allah dalam surat al Baqarah ayat 85. Mereka yang menolak syariat Allah terkait politik dan mau sisi syariat ritual saja dikenal sebagai sekularis-liberalis, mereka pendukung faham sekularisme, liberalisme yang jelas dikategorikan faham sesat di dalam Islam. Pertikaian yang tiada habisnya di Timur Tengah  juga bersumber dari teracuninya umat Islam di sana dengan faham sesat tadi. Faham tersebut berasal dari Barat yang non-muslim, memisahkan antara agama dengan urusan negara. Mereka menganggap agama itu urusan pribadi dengan tuhan, bukan urusan publik. Pemikiran semacam itu bisa saja terbentuk karena agama yang mereka anut memang tidak mengajari umatnya bagaimana harus hidup berpolitk. Umat Islam banyak yang lalu terpengaruh faham politik mereka itu dan ikut2an menjadi sekuler dan liberalis, menafikan keberadaan perintah Allah SWT tentang pengaturan bangsa-negara.

Kasus Mesir yang kini sedang berlangsung bisa menjadi contoh yang  jelas dan tragis sekali, di mana umat Islam yang memenangkan pemilu, memenangkan pertarungan di legislatif dan kepresidenan ternyata dengan seenaknya digulingkan oleh umat Islam juga tapi bervisi sekuler liberalis. Astaghfirullah. Menurut kewajaran logika, seandainya memang terjadi pertikaian antara Islamis  dengan Sekuler-Liberalis maka hal itu mestinya terjadi antara negeri muslim dengan negeri non-muslim seperti di zaman Rasulullah. Namun pada masa ini justru perseteruan antara islamis dengan sekuleris itu terjadi di negeri muslim sendiri sehingga umat Islam menjadi porak poranda. Ironis bukan? Di mana letak kesalahannya? Jawabnya relatif mudah: ‘karena ideologi sekuler-liberalis sudah merasuk ke hati nurani atau qalbu di kalangan umat Islam’, maka berlangsunglah  pertikaian itu di dalam intern negeri kaum muslimin sendiri. Bukankah ini suatu musibah besar, tidak terkirakan?

Pertanyaan lanjutan dari kasus itu adalah ‘mengapa umat Islam begitu mudah diracuni oleh ideologi sekularisme-liberalisme? Karena masalah ini terkait dengan politik maka jawaban yang paling masuk akal adalah karena  umat Islam sejak dini tidak ditanami dan diisi dengan keimanan yang benar dan ketaqwaan yang utuh, khususnya kewajiban bahwa sebagai muslim dia wajib mendukung politik Islam. Semua manusia itu pada hakekatnya pasti berpolitik karena dia menjadi warga negara. Politik  itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan, seperti aktifitas memilih pemimpin dalam pemilu, memilih-mendukung-membesarkan sebuah kelompok atau partai politik. Umat Isl;am tidak diajari politik Islam dari awal sekali sehingga qalbunya relatif kosong terhadap misi politik Islam, lalu mudah disusupi ideologi sekularisme-liberalisme. Dari awal dan harus terus diulang-ulang pelru diingatkan dan diajarkan pada umat Islam bahwa Islam itu juga menuntun masalah politik, bagaimana memilih pemimpin negara yang benar, memilih partai yang benar,  dan bagaimana mengelola negeri yang benar sesuai tuntunan Allah SWT.

Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia harus mawas diri, jangan kiranya banyak umatnya lalu terperosok mengikuti faham sekularisme dan liberalisme yang sesat itu. Jangan pula ulama dan mubaligh Islam lupa untuk mengajarkan Islam Politik sedini mungkin dan berulang-ulang ke tengah  umat, tidak hanya mengajar ritual dan akhlak pribadi  Islami belaka. Kerusakan sungguh akan luarbiasa jika sampai umat Islam Indonesia dilanda keracunan faham sekularisme-liberalisme itu, memilih pemimpin bangsa sekenanya dan mendukung partai politik seenaknya. Ulama dan muballigh Islam pasti dimintai pertanggungan jawab oleh Allah SWT jika melakukan kekeliruan besar dalam mendidik umatnya.

Allaahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1434 H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah perlindunganMu agar kami tidak lagi tersesat setelah kami beriman.

Ya Allah, murnikanlah keimanan kami, utuhkanlah ketaqwaan kami, dan tumbuhkanlah semangat berjuang membela dan menyebarkan Islam dalam kehidupan kami.

Ya Allah, tambahkanlah ilmu dan kemampuan kami untuk bekal kami  menjalani kehidupan sesuai dengan syariatMu secara utuh, baik dalam aspek ritual, berkeluarga, bersosial, berpolitik demi keagungan agamanu dan keberhasilan kami dalam membawa umat dan bangsa ini menjadi umat dan bangsa yang mulia dan sejahtera. Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Khotbah Iedul Fithrie 1434H/2013M,                                                       KOMPLEX MESJID BAITUL FALAH, Ngagel, Surabaya

Entry filed under: khotbah, Pemikiran, Politik, Syariat Islam. Tags: , .

SNAPSHOT ISLAM POLITIK DI BULAN RAMADHAN @f_amsyari BUNGA RAMPAI PERDEBATAN ISLAM POLITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

August 2013
M T W T F S S
« Jul   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: