BERKORBAN UNTUK KEMULIAAN ISLAM, UMAT, DAN PERADABAN MANUSIA*) Fuad Amsyari, dr, MPH, PhD Ketua Badan Kehormatan Pusat (BKP) Partai Bulan Bintang

13 October 2013 at 21:04 Leave a comment

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,

Iftitah

Allahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Setelah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat karunia yang kita terima, dan menyampaikan salam salawat kepada nabi kita Muhammad SAW, mari kita sambut Iedul Adha 1434H ini dengan merayakannya karena hari ini adalah hari raya Islam. Sesudah shalat ied kita ajak keluarga dan handai taulan bergembira, saling memaafkan, menghibur, dan meningkatkan keakraban. Semoga Allah SWT menambah lebih banyak lagi karunianya bagi kita. Amien.

 

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Terkait dengan hari raya Iedul Qurban ini Allah SWT, Pencipta alam semesta, mengingatkan manusia sebagaimana yang tertera dalam al Qur’an  surat al Kautsar:

         “Sesungguhnya Aku telah memberi banyak karunia kepadamu. Maka shalatlah hanya karena tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang memusuhi kamu itu pasti akan kalah dan kecewa.”

Manusia  itu umumnya mudah lupa, lupa akan budi yang ditanamkan orang ke dirinya, bahkan juga lupa bahwa dirinya itu makhluk yang ada penciptanya, Allah SWT. Dengan menggunakan berbagai keunggulan biologis pemberian Allah  manusia bisa menjangkau berbagai macam keinginan, namun banyak yang lupa pada pemberi keunggulan itu. Sebaliknya, manusia malah sering menjadi takabur menganggap semua keberhasilannya melulu karena kerja keras, kecerdasan, inovasi, jaringan kerja, dan lain-lain, terlupa pada hakekat dari sumber dari semua sumber kesuksesan itu.

Dengan banyak keistimewaan yang dimiliki, manusia juga berpotensi menjadi rakus, lalu menghancurkan alam dan peradaban manusia, membuat  jatuh martabatnya sendiri menjadi lebih rendah dari binatang. Untuk menghindari kekeliruan dalam menjalani kehidupannya itu maka Allah SWT memberi tuntunanNya bagaimana seharusnya manusia itu menjalani kehidupannya agar bisa membawa kebaikan bukan membawa kehancuran. Allah SWT juga berkali-kali mengingatkan bahwa ada kehidupan sesudah matinya dan akan dievaluasi perilakunya sewaktu berada di dunia fana.

Islam mengajarkan bahwa hidup itu bukanlah untuk menggapai kenikmatan duniawi berlebihan, menumpuk harta, dan meraih kekuasaan setinggi langit. Islam mengajarkan bahwa hidup bukan untuk ‘makan’. Manusia memang perlu makan agar bisa bertahan hidup namun hidupnya sendiri adalah untuk beribadah pada Allah SWT, beribadah dalam artian luas, yakni hidup sesuai tuntunan syariat. Hidup manusia harusnya hidup yang produktif, kreatif mendatangkan berbagai kebaikan-kebajikan yang memberi manfaat bagi orang lain dan alam sekitarnya.

Dalam surat al Baqarah ayat 177 Allah mengingatkan dengan jelas  bagaimana seharusnya manusia itu memanfatkan hidupnya, memproduksi   kebajikan-kebajikan.

        “Bukanlah menghadap ke timur atau ke barat itu yang dimaksud dengan kebajikan, namun kebajikan adalah: 1). Beriman pada Allah, hari akhir, malaikat2Nya, kitab2Nya, nabi2Nya; 2). Memberikan harta yang dicintainya untuk kerabat yang memerlukan, anak yatim, orang miskin, pejalan yang kekurangan bekal, para peminta, dan untuk membebaskan  perbudakan; 3). Menegakkan shalat dan membayar Zakat; 4. Menepati Janji jika sudah berjanji; 5). Bersabar pada saat kesulitan dan kekurangan. Mereka yang seperti itu barulah benar cara hidupnya. Mereka itulah manusia yang berkategori bertaqwa”

Sesudah memperoleh banyak karunia dari Allah SWT maka manusia haruslah bersyukur, bersyukur dengan cara yang benar. Banyak orang yang sadar bahwa mendapat keberuntungan luarbiasa, lalu dia ternyata hanya sekedar mengucap ‘alhamdulillah’, kadang ditambah dengan ‘sujud syukur’, dan sesudah itu dia lalu lupa pada tuhannya dan lupa akan tuntunan hidup yang begitu luas dan lengkap dari tuhannya. Surat al Kautsar ini memberikan tuntunan yang singkat namun amat jelas bagaimana manusia itu harus berbuat sesudah mendapat berbagai keberuntungan dalam hidupnya. Ayat ke dua tegas sekali berpesan bahwa setelah mendapat banyak kebaikan dari Allah SWT maka manusia haruslah “shalat” dan mau “berkorban” untuk mendatangkan berbagai kebaikan. Begitulah seharusnya yang dilakukan manusia sesudah memperoleh karunia Allah SWT.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati.

Selain berkorban dalam makna sempit ‘menyembelih ternak’ di hari raya Iedul Adha yang dagingnya dibagikan ke orang yang membutuhkan, khususnya fakir miskin, berkorban harusnya difahami pula dalam kaitan yang lebih luas. Secara umum berkorban berarti memberi apa yang dimiliki untuk kemanfaatan yang lebih besar, membawa kebaikan lebih bermakna. Pengorbanan adalah harga yang harus dibayar jika melakukan perjuangan menuju cita-cita mulia, apakah pengorbanan itu berbentuk berkurangnya harta benda, waktu, dan kesenangan, bahkan bisa pula ancaman keselamatan jiwa.

Berkorban adalah bagian yang tidak terpisahkan  dari setiap  perjuangan. Maka yang harus dicermati adalah perjuangan itu untuk apa, berkorban untuk memperjuangkan apa? Judul khotbah kali ini adalah “BERKORBAN UNTUK KEMULIAAN ISLAM, UMAT, DAN PERADABAN MANUSIA”

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

Berkorban untuk suatu perjuangan biasanya tergantung macam apa  yang diperjuangkan. Hadits nabi menyatakan bahwa ’Perjuangan (jihad) yang tinggi nilainya adalah menyampaikan hal yang benar kepada penguasa yang dholim’. Jihad seperti itu jelas bukan hanya mengancam harta benda tetapi bahkan nyawapun bisa melayang. Nabi Ibrahim sudah memberi contoh kongkrit bagaimana bentuk pengorbanan jika sudah terkait upaya melaksanakan perintah Sang Pencipta, Allah SWT.  Kesiapan mengorbankan anak kesayangan adalah bentuk pengorbanan yang hebat dan menjadi contoh  bagaimana seseorang harus mau berkorban untuk sesuatu yang lebih besar, lebih hakiki, lebih mulia, yakni memperoleh ridho Allah, kecintaan Allah SWT.

Ditinjau dari sisi tantangan atau besarnya pengorbanan yang diberikan, maka bentuk perjuangan untuk membawa kejayaan Islam yang paling ringan adalah mengajak orang lain untuk melaksanaan syariat Islam lingkup pribadi, seperti mengajak untuk mau mengerjakan ibadah mahdhah. Di era sekarang yang diwarnai histeria mengikuti HAM, serba boleh berbuat karena adanya hak pribadi, orang mau beribadah mahdhah (seperti shalat) ataupun menolaknya (walau menyebut diri seorang muslim) menjadi suatu hal yang biasa. Maka berjuang mengajak orang untuk mau beribadah mahdhah itu rasanya tidak banyak memiliki resiko. Begitu juga jika mengajak melaksanakan syariat terkait berkeluarga, jika ada penentanganpun umumnya dari anggauta keluarga sendiri, dari suami/ayah, atau isteri/ibu, atau anggauta lainnya. Tantangan atau resiko dakwah untuk mengajak hal-hal di atas menjadi minimal, jika tidak bisa disebut nol. Analog dengan diatas, resiko juga minimal pada upaya mengajak orang mau beramal sosial kemasyarakatan  seperti memberi bantuan pada fakir-miskin dan anak yatim, mendirikan sekolah, layanan kesehatan, dan semacamnya.

Kini mari dicermati bagaimana resiko yang akan dihadapi jika sudah menyangkut perjuangan Politik Islam, upaya menerapkan syariat sosial-kenegaraan Islam dalam suatu tatanan negara. Di arena perjuangan jenis ini tantangannya sungguh besar karena akan berhadapan dengan lawan Islam di bidang ideologi. Saat umat mau menghapus perjudian di masyarakat karena perjudian itu memiskinkan rakyat maka akan dihadapilah tantangan dari bandar judi dengan para pelindung/bekingnya. Saat umat mau memberantas pelacuran dan pornografi yang amat merusak akhlak masyarakat maka akan dihadapilah tantangan dari mafia pelacuran, pornografi, dan perdagangan perempuan yang bukan hanya berduit banyak tapi juga sudah punya jaringan kuat dengan beking bisa datang dari aparat negara dan internasional. Saat umat mau melarang peredaran miras dan narkoba yang menghancurkan generasi muda dan masa depan bangsa maka akan dihadapilah tantangan dari mafia miras-narkoba dengan jaringan internasionalnya. Saat umat mau memilih Pemimpin syar’i, taat syariat Islam, maka akan dihadapilah tantangan dari kekuasaan sekuler yang sudah mapan, dengan propaganda masif diberbagai media, termasuk praktek ‘money politic’ atau suap. Pada persaingan tokoh ini bahkan bisa terjadi  juga intrik dan intimidasi, pembunuhan karakter, sampai ancaman untuk dibunuh dari fihak lawan ideologi. Itulah contoh tantangan jika umat mau berjihad/berjuang menegakkan ajaran sosial-kenegaraan yang diajarkan Allah swt.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Uraian di atas memberikan gambaran makna berkorban secara luas dalam kehidupan di masyarakat nyata. Umat Islam, khususnya tokoh-tokoh Islam, tinggal memilih apakah ingin yang enteng-enteng saja  atau siap menghadapi tantangan berat untuk memperoleh kecintaan Allah yang besar. Semuanya kembali kepada umat Islam masing-masing. Allah tegas berfirman dalam surat Muhammad ayat 7:

       “Wahai orang beriman, tolonglah Allah (berkorban dalam upaya  memperjuangkan kemuliaan Islam), maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (di dunia-akherat)”

Pertolongan siapakah yang paling tinggi nilainya di alam semesta ini selain dari pertolongan Allah? Marilah kita raih pertolongan Allah itu dengan cara aktif berjuang untuk menyebarkan kebenaran Islam dengan kesiapan berkorban menghadapi tantangan yang berat sekalipun. Mari tidak kecil hati dan takut serta pelit dengan materi/harta milik kita yang sepertinya berpendar menyilaukan padahal fatamorgana belaka.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

Asbabun nuzul atau latar belakang turunnya surat al Kautsar perlu dihayati umat Islam, apalagi di masa kini di mana pelecehan terhadap Islam dan umat Islam datang bertubi-tubi. Coba diperhatikan bagaimana Salman Rusydi dengan ‘satanic verses’ nya tetap nyaman dilindungi di Inggris. Kartunis peleceh Rasulullah juga hidup aman di Norwegia. Wilder yang terang2an menghina al Qur’an santai tenang saja berada di Belanda dan tetap berstatus legislator. Terry Jone oke saja  menikmati profesi kependetaannya di Amerika Serikat.

Di masa umat Islam masih lemah, sewaktu Rasulullah hanya sebagai warga biasa di Mekah, jumlah umat Islam masih sedikit, berstatus sosial lemah, maka kaum kafiriin seenaknya melecehkan Islam dan umat Islam. Tuduhan bahwa nabi Muhammad itu perusak tradisi luhur bangsanya, penyihir, gila, dan semacamnya sering dilontarkan secara terbuka, publik, vulgar. Penghinaan bahwa umat Islam itu bodoh karena mau saja mengikuti pendapat Muhammad yang gila, bahwa Islam itu rekaan Muhammad, bahwa pengikut Muhammad itu hanya orang miskin, bahlul, lemah, budak, dan sejenisnya. Gunjingan berkepanjangan menghina Islam merebak secara luas. Dalam suasana tekanan dan cemoohan  seperti itulah lalu turun wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad, surat al Kautsar tersebut.

Ayat pertama mengingatkan betapa besar karunia Allah SWT pada umat Islam, terutama karunia hidayah yang membuka hati nurani manusia  menjadi hati nurani yang tertata baik, menyadari statusnya sebagai makhluk yang dicipta oleh Allah SWT, bukan makhluk yang dicipta oleh berhala Latta Uzza. Saat kafiriin Mekah menantang nabi untuk menunjukkan bagaimanakah sifat tuhannya itu? Maka Allah menurunkan surat al Ikhlas bahwa “Allah itu Maha Esa, tempat bergantungnya semua makhluk, tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada suatu apapun yang menyamainya”. Hati nurani yang tertata benar itulah karunia besar yang selanjutnya akan berimbas pada perilaku manusia sehingga menjadikan mereka  manusia yang bernilai tinggi.

Ayat kedua memberikan perintah agar manusia menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta melalui ibadah ritual (shalat), dan  berbuat baik pada sesama umat manusia (berkorban).

Ayat ke tiganya Allah SWT lalu menyatakan dengan tegas bahwa mereka yang melecehkan-menghinakan Islam dan umat Islam itu akan kecewa dan dikalahkan.

Jika ayat pertama dan kedua relatif mudah difahami maknanya untuk dilaksanakan maka ayat ke tiga surat al Kautsar itu justru merupakan pernyataan yang harus didalami karena sepintas sepertinya utopis atau tidak realistik untuk terjadi di masa itu. Ayat ke tiga tersebut harus dicermati maknanya lalu dicari rahasia sunnatullahnya secara rinci untuk bisa terrealisir sebagai kenyataan. Bagaimana para peleceh, penghina, dan musuh Islam yang sepertinya hebat-hebat itu ujung-ujungnya mereka akan menjadi kecewa dan terkalahkan tentu tidaklah datang begitu saja, sepertinya tiba-tiba mereka lalu tobat masal, berubah jadi menghargai-menghormati Islam dan umat Islam.

Perubahan perilaku musuh Islam dari menghinakan menjadi menghormati  tentu harus melalui proses sosial yang logis sebagai sunnatullah. Di sinilah Allah SWT lalu menunjukkan caranya bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Melalui percontohan nabi yang berjuang dan berkorban sesuai dengan sunnatullah maka akhirnya hal itu menjadi kenyataan. Prosesnya haruslah melalui perjuangan yang utuh, bukan sebatas ceramah/ dakwah bil lisan dan bil haal. Di samping ajakan agar umat mau beramal sosial dan berperilaku pribadi yang berbudi-berakhlak baik, nabi dan sahabatnya juga bekerja  keras dalam bentuk aktifitas politik.

Rasulullah jelas mengajarkan Islam sebagai visi ideologis guna menyatukan kekuatan masa umat sebagai kekuatan politik praktis, yang di dalam al Qur’an disebutkan dengan sebutan HIZBULLAH, Partai Allah (Surat al Maidah ayat 56). Islam tidak sekedar ajaran untuk menyembah tuhan dalam bentuk berritual, juga bukan sekedar berakhlak baik dan beramal sosial dalam hidup bermasyarakat, namun Islam juga sebagai ideologi yang menggalang umat terkoordininasi dalam bentuk partai politik, kekuatan politik guna bisa mengatasi kekuatan politik visi kafiriin, yang mengabaikan/ meninggalkan tuntunan Allah dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

Sewaktu Nabi masih di Mekah, aktifitas perjuangannya umumnya memang berupa dakwah bil lisan dan bil haal, terutama tentang materi tauhid, ritual, dan akhlak. Namun pada ujung perjuangan di Mekah itu nabi juga sudah mulai membentuk ikatan politik Islam melalui ikatan melalui sumpah setia yang disebut baiat. Bahkan sesudah hijrah maka Nabi segera  melakukan aktifitas politik praktis, menerima kepemimpinan salah satu kelompok politik masa itu yakni bani Aus,  yang seterusnya bergerak  melakukan upaya penggalangan kekuatan politik memperjuangkan misi Politik Islam, dimulai dengan menangani masalah kepemimpinan negara Madinah yang plural.

Melalui kekuatan politik atau partai politik yang tegas memperjuangkan ideologi Islam (Hizbullah) maka kekuatan umat menjadi terhimpun sebagai kekuatan politik yang dahsyat, tidak sebatas aktifitas beramal sosial, dan akhirnya lalu memenangkan perjuangan politik dan menduduki kepemimpinan negara Madinah yang masyarakatnya majemuk. Islam ujung-ujingnya memimpin Madinah, dan Rasulullah menjadi Kepala Negra di negara yang penduduknya plural: ada Yahudi, Nasrani, Majusi dan banyak pemeluk agama lain dengan nama bermacam-macam. Melalui berbagai bentuk perjuangan politik, seperti lobi dan move-move strategis maka lahirlah Piagam Madinah yang pokok mendasarnya adalah bahwa Madinah dipimpin oleh Muhammad, yang nota bene adalah Pemimpin Islam. Begitulah perjuangan Politik Islam, salah satu kewajiban syar’i bagi umat Islam untuk mendukungnya. Berislam tidaklah cukup hanya dengan beribadah ritual, berakhlak pribadi yang baik, dan beramal sosial secara umum, namun juga harus mendukung politik yang bercita-cita diterapkannya syariat Islam terkait pengelolaan bangsa-negara. Cita-cita Politik Islam itu bukan untuk asal berkuasa tetapi untuk menyelamatkan manusia dengan  peradabannya, mencapai dunia yang penuh keadilan, kesejahteraan, ketenteraman, dan keberkahan, ‘Baldatun thoyyibah wa Rabbun Ghofuur’. Allah mengingatkan umat akan kewajiban berislam secara utuh ini dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 85

“Apakah mereka itu hanya mau mengetrapkan sebagian saja isi Kitabullah (sisi ibadah mahdhahnya) dan menolak sebagian lainnya (syariat sosial-kenegaraannya). Sikap mereka yang seperti itu membuat mereka terhinakan semasa hidupnya di dunia sedang di akherat nanti mereka akan menerima siksa yang pedih.”

Bagi mereka yang menolak ajaran al Qur’an, walau hanya sebagiannya saja (syariat sosial-kenegaraan), Allah SWT akan menimpakan kepada mereka kegagalan dalam tatanan sosialnya,  bernasib buruk di dunia fana (dihinakan/dilecehkan/dikooptasi) sedang di akherat nanti para pelaku-pelakunya pasti akan menerima adzab di neraka.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

Kepemimpinan Madinah yang berpenduduk plural itu diserahkan pada Nabi, pemimpin kelompok politik yang berideologi Islam, memperjuangkan diterapkannya syariat yang dituntunkan Allah swt dalam pengelolaan bangsa-negara supaya tercapai cita2 membawa bangsa-negara menjadi maju, aman, berkeadilan, sejahtera lahir batin, tanpa esploitasi dan penindasan oleh yang kuat kepada yang lemah, kehidupan internasional  harmonis tanpa penjajahan. Itulah misi kekuasaan dari Islam, bukan berkuasa asal menjadi penguasa, atau mau berkuasa untuk cita2 muluk tanpa mengetahui cara yang benar dalam menjalankan kekuasaan. Islam mengajarkan bahwa umat Islam harus menjadi pemimpin dengan misi memimpin untuk menerapkan syariat Allah SWT  demi kemuliaan harkat manusia itu sendiri. Misi itu tegas dicantumkan dalam surat al Maidah ayat 49:

      “Dan aturlah mereka (penduduk yang plural) dengan apa yang diturunkan Allah SWT (syariat Islam terkait kenegaraan), jangan mau saja mengikuti kehendak hawa nafsu mereka (mengatur negeri dengan cara sekuler)”

Begitulah misi Islam dalam perjuangan untuk bisa memimpin bangsa- negara.

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Apakah sesudah menjadi Kepala Negara yang masyarakatnya plural itu lalu nabi berubah perilakunya menjadi sok ‘netral’,  lupa akan kebenaran dan kebaikan  Islam, supaya digelari ‘nasionalis’, ‘mengayomi semua golongan’ atau ‘pluralis’?  Janganlah umat terpesona dengan istilah-istilah muluk tanpa memahami makna operasionalnya. Karena kecintaan nabi pada rakyatnya yang plural  maka nabi menerapkan kebijakan politik yang benar, yakni kebijakan politik yang dituntunkan Allah SWT. Nabi tidak ingin rakyatnya menjadi rakyat yang mendapat murka dari tuhannya karena  mengabaikan syariatNya. Nabi tidak ingin rakyatnya diexploitir pemodal yang kaya raya  melalui riba dan bisnis haram. Itulah hakekat nasionalisme yang diajarkan Islam. Justru sesudah menjadi kepala negara maka Nabi menerapkan tuntunan Allah SWT terkait pengelolaan bangsa-negara melalui  kebijakan2 politik, ekonomi, hukum, budaya, hankam, dll yang sesuai tuntunan Allah. Adapun untuk masalah pribadi, khususnya ibadah ritual atau akhlak personal maka Nabi Muhammad memberi toleransi yang luar biasa luasnya, tidak menghalangi penduduk yang non muslim untuk melakukan ritual agama masing2. Di sinilah esensi dari pluraisme yang diajarkan Islam, toleran dan akomodatif secara tepat dan layak. Begitulah makna kepemimpinan Islam dalam masyarakat plural yang dicontohkan nabi.

Ringkasnya: Nabi tidaklah memperjuangkan kemuliaan Islam, umat, dan peradaban manusia hanya melalui dakwah ritual dan beramal sosial namun juga aktif berpolitik praktis, mendirikan dan menguatkan HIZBULLAH, Partai Politik Islam, menggalang kekuatan masa untuk berhasil  menerapkan tuntunan Allah SWT dalam pengelolaan bangsa-negara demi terciptanya kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan bangsa-negara yang berpenduduk plural.

Dengan melalui politik Islam seperti itu barulah Islam dan umat Islam menjadi kuat dan termuliakan. Kebenaran Islam merebak menyebar dengan cepat ke seantero penjuru dalam waktu amat singkat. Jika saat di Mekah nabi dengan pendekatan dakwah sebatas amalan  sosial kemasyarakatan (katakanlah seperti kegiatan ormas dan lsm Islam di era ini), dalam 13 tahun berhasil menyelamatkan sekitar 300 orang yang tersadarkan dari kesesatan. Bandingkanlah dengan pendekatan politik Islam, menggalang kekuatan hizbullah, menjadi kepala negara dengan menerapkan kebijakan kenegaraan sesuai tuntunan Allah SWT, hanya dalam 10 tahun hampir seluruh jazirah Arab dan  sekitarnya sudah masuk Islam dan peradaban umat manusia termuliakan. MasyaAllah.

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Adha 1434H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

          “Ya Allah, kami memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga, masyarakat-bangsa-negera kami.

       “Ya Allah, kuatkanlah iman kami, kokohkanlah ketaqwaan kami. tambahkanlah ilmu kami, kuatkanlah fisik kami. Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr.

*) Khotbah Iedul Adha 1434 H, Komplex Gunung Sari Indah, SURABAYA

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,

 

Iftitah

 

Allahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

 

Setelah kita bersyukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat karunia yang kita terima, dan menyampaikan salam salawat kepada nabi kita Muhammad SAW, mari kita sambut Iedul Adha 1434H ini dengan merayakannya karena hari ini adalah hari raya Islam. Sesudah shalat ied kita ajak keluarga dan handai taulan bergembira, saling memaafkan, menghibur, dan meningkatkan keakraban. Semoga Allah SWT menambah lebih banyak lagi karunianya bagi kita. Amien.

 

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

 

Terkait dengan hari raya Iedul Qurban ini Allah SWT, Pencipta alam semesta, mengingatkan manusia sebagaimana yang tertera dalam al Qur’an  surat al Kautsar:

 

         “Sesungguhnya Aku telah memberi banyak karunia kepadamu. Maka shalatlah hanya karena tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang memusuhi kamu itu pasti akan kalah dan kecewa.”

 

Manusia  itu umumnya mudah lupa, lupa akan budi yang ditanamkan orang ke dirinya, bahkan juga lupa bahwa dirinya itu makhluk yang ada penciptanya, Allah SWT. Dengan menggunakan berbagai keunggulan biologis pemberian Allah  manusia bisa menjangkau berbagai macam keinginan, namun banyak yang lupa pada pemberi keunggulan itu. Sebaliknya, manusia malah sering menjadi takabur menganggap semua keberhasilannya melulu karena kerja keras, kecerdasan, inovasi, jaringan kerja, dan lain-lain, terlupa pada hakekat dari sumber dari semua sumber kesuksesan itu. 

 

Dengan banyak keistimewaan yang dimiliki, manusia juga berpotensi menjadi rakus, lalu menghancurkan alam dan peradaban manusia, membuat  jatuh martabatnya sendiri menjadi lebih rendah dari binatang. Untuk menghindari kekeliruan dalam menjalani kehidupannya itu maka Allah SWT memberi tuntunanNya bagaimana seharusnya manusia itu menjalani kehidupannya agar bisa membawa kebaikan bukan membawa kehancuran. Allah SWT juga berkali-kali mengingatkan bahwa ada kehidupan sesudah matinya dan akan dievaluasi perilakunya sewaktu berada di dunia fana.

 

Islam mengajarkan bahwa hidup itu bukanlah untuk menggapai kenikmatan duniawi berlebihan, menumpuk harta, dan meraih kekuasaan setinggi langit. Islam mengajarkan bahwa hidup bukan untuk ‘makan’. Manusia memang perlu makan agar bisa bertahan hidup namun hidupnya sendiri adalah untuk beribadah pada Allah SWT, beribadah dalam artian luas, yakni hidup sesuai tuntunan syariat. Hidup manusia harusnya hidup yang produktif, kreatif mendatangkan berbagai kebaikan-kebajikan yang memberi manfaat bagi orang lain dan alam sekitarnya.

 

Dalam surat al Baqarah ayat 177 Allah mengingatkan dengan jelas  bagaimana seharusnya manusia itu memanfatkan hidupnya, memproduksi   kebajikan-kebajikan.

 

        “Bukanlah menghadap ke timur atau ke barat itu yang dimaksud dengan kebajikan, namun kebajikan adalah: 1). Beriman pada Allah, hari akhir, malaikat2Nya, kitab2Nya, nabi2Nya; 2). Memberikan harta yang dicintainya untuk kerabat yang memerlukan, anak yatim, orang miskin, pejalan yang kekurangan bekal, para peminta, dan untuk membebaskan  perbudakan; 3). Menegakkan shalat dan membayar Zakat; 4. Menepati Janji jika sudah berjanji; 5). Bersabar pada saat kesulitan dan kekurangan. Mereka yang seperti itu barulah benar cara hidupnya. Mereka itulah manusia yang berkategori bertaqwa”

 

Sesudah memperoleh banyak karunia dari Allah SWT maka manusia haruslah bersyukur, bersyukur dengan cara yang benar. Banyak orang yang sadar bahwa mendapat keberuntungan luarbiasa, lalu dia ternyata hanya sekedar mengucap ‘alhamdulillah’, kadang ditambah dengan ‘sujud syukur’, dan sesudah itu dia lalu lupa pada tuhannya dan lupa akan tuntunan hidup yang begitu luas dan lengkap dari tuhannya. Surat al Kautsar ini memberikan tuntunan yang singkat namun amat jelas bagaimana manusia itu harus berbuat sesudah mendapat berbagai keberuntungan dalam hidupnya. Ayat ke dua tegas sekali berpesan bahwa setelah mendapat banyak kebaikan dari Allah SWT maka manusia haruslah “shalat” dan mau “berkorban” untuk mendatangkan berbagai kebaikan. Begitulah seharusnya yang dilakukan manusia sesudah memperoleh karunia Allah SWT.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati.

 

Selain berkorban dalam makna sempit ‘menyembelih ternak’ di hari raya Iedul Adha yang dagingnya dibagikan ke orang yang membutuhkan, khususnya fakir miskin, berkorban harusnya difahami pula dalam kaitan yang lebih luas. Secara umum berkorban berarti memberi apa yang dimiliki untuk kemanfaatan yang lebih besar, membawa kebaikan lebih bermakna. Pengorbanan adalah harga yang harus dibayar jika melakukan perjuangan menuju cita-cita mulia, apakah pengorbanan itu berbentuk berkurangnya harta benda, waktu, dan kesenangan, bahkan bisa pula ancaman keselamatan jiwa.

 

Berkorban adalah bagian yang tidak terpisahkan  dari setiap  perjuangan. Maka yang harus dicermati adalah perjuangan itu untuk apa, berkorban untuk memperjuangkan apa? Judul khotbah kali ini adalah “BERKORBAN UNTUK KEMULIAAN ISLAM, UMAT, DAN PERADABAN MANUSIA”

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

 

Berkorban untuk suatu perjuangan biasanya tergantung macam apa  yang diperjuangkan. Hadits nabi menyatakan bahwa ’Perjuangan (jihad) yang tinggi nilainya adalah menyampaikan hal yang benar kepada penguasa yang dholim’. Jihad seperti itu jelas bukan hanya mengancam harta benda tetapi bahkan nyawapun bisa melayang. Nabi Ibrahim sudah memberi contoh kongkrit bagaimana bentuk pengorbanan jika sudah terkait upaya melaksanakan perintah Sang Pencipta, Allah SWT.  Kesiapan mengorbankan anak kesayangan adalah bentuk pengorbanan yang hebat dan menjadi contoh  bagaimana seseorang harus mau berkorban untuk sesuatu yang lebih besar, lebih hakiki, lebih mulia, yakni memperoleh ridho Allah, kecintaan Allah SWT.

 

Ditinjau dari sisi tantangan atau besarnya pengorbanan yang diberikan, maka bentuk perjuangan untuk membawa kejayaan Islam yang paling ringan adalah mengajak orang lain untuk melaksanaan syariat Islam lingkup pribadi, seperti mengajak untuk mau mengerjakan ibadah mahdhah. Di era sekarang yang diwarnai histeria mengikuti HAM, serba boleh berbuat karena adanya hak pribadi, orang mau beribadah mahdhah (seperti shalat) ataupun menolaknya (walau menyebut diri seorang muslim) menjadi suatu hal yang biasa. Maka berjuang mengajak orang untuk mau beribadah mahdhah itu rasanya tidak banyak memiliki resiko. Begitu juga jika mengajak melaksanakan syariat terkait berkeluarga, jika ada penentanganpun umumnya dari anggauta keluarga sendiri, dari suami/ayah, atau isteri/ibu, atau anggauta lainnya. Tantangan atau resiko dakwah untuk mengajak hal-hal di atas menjadi minimal, jika tidak bisa disebut nol. Analog dengan diatas, resiko juga minimal pada upaya mengajak orang mau beramal sosial kemasyarakatan  seperti memberi bantuan pada fakir-miskin dan anak yatim, mendirikan sekolah, layanan kesehatan, dan semacamnya.

 

Kini mari dicermati bagaimana resiko yang akan dihadapi jika sudah menyangkut perjuangan Politik Islam, upaya menerapkan syariat sosial-kenegaraan Islam dalam suatu tatanan negara. Di arena perjuangan jenis ini tantangannya sungguh besar karena akan berhadapan dengan lawan Islam di bidang ideologi. Saat umat mau menghapus perjudian di masyarakat karena perjudian itu memiskinkan rakyat maka akan dihadapilah tantangan dari bandar judi dengan para pelindung/bekingnya. Saat umat mau memberantas pelacuran dan pornografi yang amat merusak akhlak masyarakat maka akan dihadapilah tantangan dari mafia pelacuran, pornografi, dan perdagangan perempuan yang bukan hanya berduit banyak tapi juga sudah punya jaringan kuat dengan beking bisa datang dari aparat negara dan internasional. Saat umat mau melarang peredaran miras dan narkoba yang menghancurkan generasi muda dan masa depan bangsa maka akan dihadapilah tantangan dari mafia miras-narkoba dengan jaringan internasionalnya. Saat umat mau memilih Pemimpin syar’i, taat syariat Islam, maka akan dihadapilah tantangan dari kekuasaan sekuler yang sudah mapan, dengan propaganda masif diberbagai media, termasuk praktek ‘money politic’ atau suap. Pada persaingan tokoh ini bahkan bisa terjadi  juga intrik dan intimidasi, pembunuhan karakter, sampai ancaman untuk dibunuh dari fihak lawan ideologi. Itulah contoh tantangan jika umat mau berjihad/berjuang menegakkan ajaran sosial-kenegaraan yang diajarkan Allah swt.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

 

Uraian di atas memberikan gambaran makna berkorban secara luas dalam kehidupan di masyarakat nyata. Umat Islam, khususnya tokoh-tokoh Islam, tinggal memilih apakah ingin yang enteng-enteng saja  atau siap menghadapi tantangan berat untuk memperoleh kecintaan Allah yang besar. Semuanya kembali kepada umat Islam masing-masing. Allah tegas berfirman dalam surat Muhammad ayat 7:

 

       “Wahai orang beriman, tolonglah Allah (berkorban dalam upaya  memperjuangkan kemuliaan Islam), maka Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (di dunia-akherat)”

 

Pertolongan siapakah yang paling tinggi nilainya di alam semesta ini selain dari pertolongan Allah? Marilah kita raih pertolongan Allah itu dengan cara aktif berjuang untuk menyebarkan kebenaran Islam dengan kesiapan berkorban menghadapi tantangan yang berat sekalipun. Mari tidak kecil hati dan takut serta pelit dengan materi/harta milik kita yang sepertinya berpendar menyilaukan padahal fatamorgana belaka.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

 

Asbabun nuzul atau latar belakang turunnya surat al Kautsar perlu dihayati umat Islam, apalagi di masa kini di mana pelecehan terhadap Islam dan umat Islam datang bertubi-tubi. Coba diperhatikan bagaimana Salman Rusydi dengan ‘satanic verses’ nya tetap nyaman dilindungi di Inggris. Kartunis peleceh Rasulullah juga hidup aman di Norwegia. Wilder yang terang2an menghina al Qur’an santai tenang saja berada di Belanda dan tetap berstatus legislator. Terry Jone oke saja  menikmati profesi kependetaannya di Amerika Serikat.

 

Di masa umat Islam masih lemah, sewaktu Rasulullah hanya sebagai warga biasa di Mekah, jumlah umat Islam masih sedikit, berstatus sosial lemah, maka kaum kafiriin seenaknya melecehkan Islam dan umat Islam. Tuduhan bahwa nabi Muhammad itu perusak tradisi luhur bangsanya, penyihir, gila, dan semacamnya sering dilontarkan secara terbuka, publik, vulgar. Penghinaan bahwa umat Islam itu bodoh karena mau saja mengikuti pendapat Muhammad yang gila, bahwa Islam itu rekaan Muhammad, bahwa pengikut Muhammad itu hanya orang miskin, bahlul, lemah, budak, dan sejenisnya. Gunjingan berkepanjangan menghina Islam merebak secara luas. Dalam suasana tekanan dan cemoohan  seperti itulah lalu turun wahyu Allah SWT kepada nabi Muhammad, surat al Kautsar tersebut.

 

Ayat pertama mengingatkan betapa besar karunia Allah SWT pada umat Islam, terutama karunia hidayah yang membuka hati nurani manusia  menjadi hati nurani yang tertata baik, menyadari statusnya sebagai makhluk yang dicipta oleh Allah SWT, bukan makhluk yang dicipta oleh berhala Latta Uzza. Saat kafiriin Mekah menantang nabi untuk menunjukkan bagaimanakah sifat tuhannya itu? Maka Allah menurunkan surat al Ikhlas bahwa “Allah itu Maha Esa, tempat bergantungnya semua makhluk, tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada suatu apapun yang menyamainya”. Hati nurani yang tertata benar itulah karunia besar yang selanjutnya akan berimbas pada perilaku manusia sehingga menjadikan mereka  manusia yang bernilai tinggi.

 

Ayat kedua memberikan perintah agar manusia menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta melalui ibadah ritual (shalat), dan  berbuat baik pada sesama umat manusia (berkorban).

 

Ayat ke tiganya Allah SWT lalu menyatakan dengan tegas bahwa mereka yang melecehkan-menghinakan Islam dan umat Islam itu akan kecewa dan dikalahkan.

 

Jika ayat pertama dan kedua relatif mudah difahami maknanya untuk dilaksanakan maka ayat ke tiga surat al Kautsar itu justru merupakan pernyataan yang harus didalami karena sepintas sepertinya utopis atau tidak realistik untuk terjadi di masa itu. Ayat ke tiga tersebut harus dicermati maknanya lalu dicari rahasia sunnatullahnya secara rinci untuk bisa terrealisir sebagai kenyataan. Bagaimana para peleceh, penghina, dan musuh Islam yang sepertinya hebat-hebat itu ujung-ujungnya mereka akan menjadi kecewa dan terkalahkan tentu tidaklah datang begitu saja, sepertinya tiba-tiba mereka lalu tobat masal, berubah jadi menghargai-menghormati Islam dan umat Islam.

 

Perubahan perilaku musuh Islam dari menghinakan menjadi menghormati  tentu harus melalui proses sosial yang logis sebagai sunnatullah. Di sinilah Allah SWT lalu menunjukkan caranya bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Melalui percontohan nabi yang berjuang dan berkorban sesuai dengan sunnatullah maka akhirnya hal itu menjadi kenyataan. Prosesnya haruslah melalui perjuangan yang utuh, bukan sebatas ceramah/ dakwah bil lisan dan bil haal. Di samping ajakan agar umat mau beramal sosial dan berperilaku pribadi yang berbudi-berakhlak baik, nabi dan sahabatnya juga bekerja  keras dalam bentuk aktifitas politik.

 

Rasulullah jelas mengajarkan Islam sebagai visi ideologis guna menyatukan kekuatan masa umat sebagai kekuatan politik praktis, yang di dalam al Qur’an disebutkan dengan sebutan HIZBULLAH, Partai Allah (Surat al Maidah ayat 56). Islam tidak sekedar ajaran untuk menyembah tuhan dalam bentuk berritual, juga bukan sekedar berakhlak baik dan beramal sosial dalam hidup bermasyarakat, namun Islam juga sebagai ideologi yang menggalang umat terkoordininasi dalam bentuk partai politik, kekuatan politik guna bisa mengatasi kekuatan politik visi kafiriin, yang mengabaikan/ meninggalkan tuntunan Allah dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

 

Sewaktu Nabi masih di Mekah, aktifitas perjuangannya umumnya memang berupa dakwah bil lisan dan bil haal, terutama tentang materi tauhid, ritual, dan akhlak. Namun pada ujung perjuangan di Mekah itu nabi juga sudah mulai membentuk ikatan politik Islam melalui ikatan melalui sumpah setia yang disebut baiat. Bahkan sesudah hijrah maka Nabi segera  melakukan aktifitas politik praktis, menerima kepemimpinan salah satu kelompok politik masa itu yakni bani Aus,  yang seterusnya bergerak  melakukan upaya penggalangan kekuatan politik memperjuangkan misi Politik Islam, dimulai dengan menangani masalah kepemimpinan negara Madinah yang plural.

 

Melalui kekuatan politik atau partai politik yang tegas memperjuangkan ideologi Islam (Hizbullah) maka kekuatan umat menjadi terhimpun sebagai kekuatan politik yang dahsyat, tidak sebatas aktifitas beramal sosial, dan akhirnya lalu memenangkan perjuangan politik dan menduduki kepemimpinan negara Madinah yang masyarakatnya majemuk. Islam ujung-ujingnya memimpin Madinah, dan Rasulullah menjadi Kepala Negra di negara yang penduduknya plural: ada Yahudi, Nasrani, Majusi dan banyak pemeluk agama lain dengan nama bermacam-macam. Melalui berbagai bentuk perjuangan politik, seperti lobi dan move-move strategis maka lahirlah Piagam Madinah yang pokok mendasarnya adalah bahwa Madinah dipimpin oleh Muhammad, yang nota bene adalah Pemimpin Islam. Begitulah perjuangan Politik Islam, salah satu kewajiban syar’i bagi umat Islam untuk mendukungnya. Berislam tidaklah cukup hanya dengan beribadah ritual, berakhlak pribadi yang baik, dan beramal sosial secara umum, namun juga harus mendukung politik yang bercita-cita diterapkannya syariat Islam terkait pengelolaan bangsa-negara. Cita-cita Politik Islam itu bukan untuk asal berkuasa tetapi untuk menyelamatkan manusia dengan  peradabannya, mencapai dunia yang penuh keadilan, kesejahteraan, ketenteraman, dan keberkahan, ‘Baldatun thoyyibah wa Rabbun Ghofuur’. Allah mengingatkan umat akan kewajiban berislam secara utuh ini dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 85

 

“Apakah mereka itu hanya mau mengetrapkan sebagian saja isi Kitabullah (sisi ibadah mahdhahnya) dan menolak sebagian lainnya (syariat sosial-kenegaraannya). Sikap mereka yang seperti itu membuat mereka terhinakan semasa hidupnya di dunia sedang di akherat nanti mereka akan menerima siksa yang pedih.”

 

Bagi mereka yang menolak ajaran al Qur’an, walau hanya sebagiannya saja (syariat sosial-kenegaraan), Allah SWT akan menimpakan kepada mereka kegagalan dalam tatanan sosialnya,  bernasib buruk di dunia fana (dihinakan/dilecehkan/dikooptasi) sedang di akherat nanti para pelaku-pelakunya pasti akan menerima adzab di neraka.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

 

Kepemimpinan Madinah yang berpenduduk plural itu diserahkan pada Nabi, pemimpin kelompok politik yang berideologi Islam, memperjuangkan diterapkannya syariat yang dituntunkan Allah swt dalam pengelolaan bangsa-negara supaya tercapai cita2 membawa bangsa-negara menjadi maju, aman, berkeadilan, sejahtera lahir batin, tanpa esploitasi dan penindasan oleh yang kuat kepada yang lemah, kehidupan internasional  harmonis tanpa penjajahan. Itulah misi kekuasaan dari Islam, bukan berkuasa asal menjadi penguasa, atau mau berkuasa untuk cita2 muluk tanpa mengetahui cara yang benar dalam menjalankan kekuasaan. Islam mengajarkan bahwa umat Islam harus menjadi pemimpin dengan misi memimpin untuk menerapkan syariat Allah SWT  demi kemuliaan harkat manusia itu sendiri. Misi itu tegas dicantumkan dalam surat al Maidah ayat 49:

 

      “Dan aturlah mereka (penduduk yang plural) dengan apa yang diturunkan Allah SWT (syariat Islam terkait kenegaraan), jangan mau saja mengikuti kehendak hawa nafsu mereka (mengatur negeri dengan cara sekuler)”

 

Begitulah misi Islam dalam perjuangan untuk bisa memimpin bangsa- negara.  

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

 

Apakah sesudah menjadi Kepala Negara yang masyarakatnya plural itu lalu nabi berubah perilakunya menjadi sok ‘netral’,  lupa akan kebenaran dan kebaikan  Islam, supaya digelari ‘nasionalis’, ‘mengayomi semua golongan’ atau ‘pluralis’?  Janganlah umat terpesona dengan istilah-istilah muluk tanpa memahami makna operasionalnya. Karena kecintaan nabi pada rakyatnya yang plural  maka nabi menerapkan kebijakan politik yang benar, yakni kebijakan politik yang dituntunkan Allah SWT. Nabi tidak ingin rakyatnya menjadi rakyat yang mendapat murka dari tuhannya karena  mengabaikan syariatNya. Nabi tidak ingin rakyatnya diexploitir pemodal yang kaya raya  melalui riba dan bisnis haram. Itulah hakekat nasionalisme yang diajarkan Islam. Justru sesudah menjadi kepala negara maka Nabi menerapkan tuntunan Allah SWT terkait pengelolaan bangsa-negara melalui  kebijakan2 politik, ekonomi, hukum, budaya, hankam, dll yang sesuai tuntunan Allah. Adapun untuk masalah pribadi, khususnya ibadah ritual atau akhlak personal maka Nabi Muhammad memberi toleransi yang luar biasa luasnya, tidak menghalangi penduduk yang non muslim untuk melakukan ritual agama masing2. Di sinilah esensi dari pluraisme yang diajarkan Islam, toleran dan akomodatif secara tepat dan layak. Begitulah makna kepemimpinan Islam dalam masyarakat plural yang dicontohkan nabi.

 

Ringkasnya: Nabi tidaklah memperjuangkan kemuliaan Islam, umat, dan peradaban manusia hanya melalui dakwah ritual dan beramal sosial namun juga aktif berpolitik praktis, mendirikan dan menguatkan HIZBULLAH, Partai Politik Islam, menggalang kekuatan masa untuk berhasil  menerapkan tuntunan Allah SWT dalam pengelolaan bangsa-negara demi terciptanya kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan bangsa-negara yang berpenduduk plural. 

 

Dengan melalui politik Islam seperti itu barulah Islam dan umat Islam menjadi kuat dan termuliakan. Kebenaran Islam merebak menyebar dengan cepat ke seantero penjuru dalam waktu amat singkat. Jika saat di Mekah nabi dengan pendekatan dakwah sebatas amalan  sosial kemasyarakatan (katakanlah seperti kegiatan ormas dan lsm Islam di era ini), dalam 13 tahun berhasil menyelamatkan sekitar 300 orang yang tersadarkan dari kesesatan. Bandingkanlah dengan pendekatan politik Islam, menggalang kekuatan hizbullah, menjadi kepala negara dengan menerapkan kebijakan kenegaraan sesuai tuntunan Allah SWT, hanya dalam 10 tahun hampir seluruh jazirah Arab dan  sekitarnya sudah masuk Islam dan peradaban umat manusia termuliakan. MasyaAllah.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

 

Rasanya matahari sudah semakin tinggi. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Adha 1434H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

          “Ya Allah, kami memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga, masyarakat-bangsa-negera kami.

       “Ya Allah, kuatkanlah iman kami, kokohkanlah ketaqwaan kami. tambahkanlah ilmu kami, kuatkanlah fisik kami. Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

 

Wassalaamu’alaikum Wr.

 

*) Khotbah Iedul Adha 1434 H, Komplex Gunung Sari Indah, SURABAYA

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Entry filed under: khotbah. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , .

BUNGA RAMPAI PERDEBATAN ISLAM POLITIK OUTSOURCING, MASYARAKAT PLURAL vs IDEOLOGI SEKULER, PESAN UNTUK PEMUDA INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2013
M T W T F S S
« Aug   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: