CIRI DAN UJUNG BANGSA-NEGARA SEKULER (Analisis Kualitatif terhadap Masa Depan)

14 December 2013 at 07:51 Leave a comment

Fuad Amsyari, PhD, Caleg DPR RI dari PBB

(Silahkan ikuti twitter: @f_amsyari)

Makna SEKULER terkait dengan kehidupan berbangsa-bernegara berarti pengelolaan bangsa-negara itu murni oleh ide-kreatifitas manusia, tanpa melibatkan secara formal tuntunan agama yang terkait masalah kenegaraan  (misalnya: hukum pidana yang diberlakukan, perilaku  ekonomi makro, budaya nasional, pendidikan, kriteria yang boleh menjadi pemimpin, dan aspek poleksosbudhankam lainnya). Tuntunan agama tentang kenegaraan tersebut diabaikan bahkan secara formal dilarang untuk diterapkan (lihat konstitusi Turki pasca Kemal Attaturk sampai sekarang). Ringkasnya bahwa SEKULER BERARTI MENOLAK TUNTUNAN TUHAN TERKAIT PENGURUSAN NEGARA. Perilaku negara lalu bergerak tanpa tuntunan tuhan, menolak panduan tuhan, alias KAFIR dalam berbangsa-bernegara, walau di negeri itu banyak penduduk beragama, walau negeri itu dipimpin oleh seorang yang beragama. Dalam kaitannya dengan agama Islam yang memiliki tuntunan tentang bagaimana seharusnya sebuah negara dikelola maka kondisi SEKULER itu menjadi sebuah malapetaka luar biasa. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. Astaghfirullah.

Agama dalam negara sekuler bisa saja eksis/ada namun dibatasi untuk kegiatan yang bersifat pribadi atau individu, seperti bersyahadat, baca kitab suci, sembahyang, doa, puasa, dan semacamnya. Bahkan ada negara sekuler yang relatif agresif  menghambat warganya memeluk agama walau sekedar beritual karena agama dianggap tidak bermanfaat untuk kepentingan negara (ingat negara KOMUNIS). Tapi ada juga negara sekuler yang sedikit toleran dalam masalah agama ini, yakni mau membantu warganya yang mengerjakan aktifitas ritual secara massal, seperti penyelenggaraan haji, umrah, puasa, zakat. Lumayanlah dibanding yang komunis tadi, walau ada kecurigaan bahwa dalam perilaku toleran itu tersembunyi kepentingan bagi negara/penguasa sekuler tersebut.

Kadang negara sekuler bersikap keras dan tegas melarang adanya kelompok politik (PARTAI POLITIK) yang berideologi non-sekuler seperti idelologi Islam dengan Parpol Islamnya (ingat era Orde Baru Indonesia), tapi ada pula yang masih mau memberi legitimasi keberadaan parpol Islam dengan ideologi Islamnya walau ada upaya pengerdilan pesaing politiknya itu.

Dari berbagai macam agama di dunia tampak bahwa Islam secara mudah diketahui, baik dari isi kitab sucinya maupun percontohan nabinya, memiliki ajaran bagaimana mengelola bangsa-negara. Al Qur’an dan hadits Rasulullah mengandung substansi eksplisit bagaimana seharusnya sebuah negara itu dikelola. Penjabaran dalam kitab2 tafsir dan fiqih baik oleh ulama salaf maupun modern juga memberi bab khusus tentang masalah pengelolaan bangsa-negara ini, selain bab panduan cara beribadah ritual, berkeluarga, berakhlak, dan beramal sosial. Partai Politik Islam dalam al Qur’an di sebut sebagai HIZBULLAH, partai yang memperjuangkan dipraktekkannya tuntunan Allah SWT dalam pengelolaan bangsa-negara. Sayangnya Partai Islam di beberapa negeri yang mayoritas penduduknya  muslim sering tidak mendapat perhatian dan dukungan  dari warga negara  muslim karena pemahanan warga negara muslim di negeri itu tidak utuh dalam memaknai agama Islam. Mereka menganggap sudah hebat keislamannya jika mengerjakan ritual Islam atau berakhlak pribadi Islam, atau beramal sosial Islam. Mereka tidak faham atau tidak tahu adanya kewajiban sebagai seorang muslim untuk mendirikan Partai Islam (jika belum ada) atau mendukung Partai Islam jika sudah ada. Warga negara muslim itu dengan entengnya memilih Partai Sekuler dalam arena pemilihan umum yang menentukan siapa pemangku lembaga legislatif maupun eksekutif. Astaghfirullah. Mengapa sedangkal itu pemahaman Islam mereka? Jawabannya minimal ada tiga sebab:

  1. Ulama, muballigh/da’i guru ngaji, cendekiawaan muslim di negeri muslim tersebut umumnya hanya mengajak umat Islam untuk berislam dalam lingkup ritual, akhlak pribadi, berkeluarga, dan beramal sosial belaka. Akibatnya umat Islam pada umumnya merasa sudah sempurna keislamannya hanya dengan melakukan hal-hal di atas, mengabaikan kewajiban untuk berHizbullah, berIslam dalam politik, mengelola bangsa-negara sesuai tuntunan Allah SWT. Umat menjadi tidak/kurang peduli pada keberadaan Partai Islam, atau jika adapun mereka menganggap tidak ada makna dalam kaitan dengan keimanan dan keislamannya.
  2. Di dalam negeri muslim bisa saja sudah terdapat Hizbullah atau Partai Islam namun pengelolaannya menyedihkan, seperti inefisiensi dalam pengelolaan/menejemen keuangan partai, lemah kaderisasi, dan adanya  praktek-praktek tidak selaran dengan ajaran Islam di kalangan fungsionarisnya, antara lain suap-menyuap saat memilih Pemimpin di partai atau ketidak pedulian pemimpin Partai Islam sendiri dalam perjuangan penerapan ajaran Islam disaat menjadi pejabat negara. Pemimpin partai Islam bahkan kadang melakukan hal-hal tidak terpuji seperti mabuk, perselingkuhan, korupsi, dan semacamnya. Kondisi seperti itu membuat banyak umat Islam lalu menganggap sama saja antara Partai Islam dan Partai Non-Islam (Partai Sekuler). Bahkan citra Partai Sekuler sebagai sebuah partai politik sering kelihatan lebih menarik dari sisi non-ideologis, seperti pemimpinnya egaliter, dekat dengan rakyat, banyak memberi hadiah, mendukung/membantu kelancaran pelaksanaan ritual Islam. Partai Sekuler juga dipopulerkan sebagai Partai Nasionalis yang sepertinya menonjol sekali kecintaannya  pada bangsa. Penggolongan Partai Islam vs Partai Nasionalis dalam banyak pemberitaan di media berakibat hilangnya satu identitas penting dari Partai Isam di mata rakyat, yang lalu menganggap Partai Islam tidak/kurang nasionalis, tidak cinta negerinya, sektarian. Sungguh licik upaya penyebutan partai sekuler itu sebagai partai nasionalis, dan mengesankan  partai Islam kemudian sepertinya tidak  nasionalis.
  3. Dalam negara sekuler akan mudah diketemukan organisasi sosial kemasyarakatan (ORMAS-LSM) yang berlabel Islam yang bercirikan bergerak hanya dalam amal sosial dan amat tabu untuk terlibat dalam urusan politik praktis. Keberadaan ormas-lsm Islam semacam itu di negeri muslim akan menguatkan proses sekularisasi umat. Umat terinduksi  menjadi sekuler, berpuas diri dalam berislam hanya dengan ritual dan beramal sosial, mengabaikan pengelolaan negerinya apakah Islami atau tidak Islami.

 Ketiga faktor di atas akhirnya menjadi unsur sosial-politik yang saling menguatkan untuk melanggengkan pengelolaan negara secara sekuler, melanggengkan kekuasaan partai dan figur sekuler dalam mengelola negeri. Apakah kondisi sebenderang itu tidak membuat ulama, kyai, muballigh, guru ngaji, cendekiawan muslim tersentuh nuraninya? Jikalau mereka memang sengaja menutupi atau menyembunyikan keberadaan tuntunan Allah SWT terkait berbangsa-bernegara yang wajib diikuti umat Islam maka tentu akan hadir sanksi Allah yang berat pada mereka di dunia dan akherat.

 Dengan pengantar tentang makna sekuler dan proses sekularisasi  masyarakat muslim di sebuah negeri muslim kini bisa didiskripsikan bagaimana ciri bangsa-negara sekuler walaupun penduduk negeri itu mayoritasnya muslim

 1.     Kebijakan poleksosbudhankam di negara sekuler tidak dipandu oleh ajaran tuhan, antara lain: a). hukum  pidana-perdata yang berlaku mengikuti pemikiran manusiawi belaka, b). ekonomi nasional jika tidak berciri komunistik maka mengarah liberal-kapitalistik yang memihak pemodal besar, termasuk kepentingan asing, c). kehidupan penguasa mewah karena bergaji dan berfasilitas besar padahal kebanyakan rakyatnya masih miskin, d).budaya yang berkembang budaya permisif (serba boleh) tanpa acuan agama tentang mana yang baik dan mana yang buruk sehingga pornografi dan perzinahan merajalela,  e). kepemimpinan formal dipilih tidak memakai kriteria yang diajarkan agama sehingga feodalisme, oligarki, dan kroni berkembang.

  1. Partai berasas Islam umumnya dilarang eksistensinya di negeri sekuler. Apabila ada tentu kelihatan banyaknya upaya untuk mengerdilkannya supaya tidak sampai bisa memenangkan pertarungan politik. Berbagai cara dipakai seperti upaya menafikan kekhasan ideologi yang diemban partai Islam, jika masih mau memberi porsi kekuasaan pada pemimpin partai Islam akan disertai kendali ketat dan hanya di posisi tidak strategis. Aturan2 main  dikembangkan agar partai Islam menjadi tetap lemah/kecil, antara lain pemberian subsidi negara kepada partai politik tapi dikaitkan  dengan perolehan suara (yang tentu saja subsidi amat besar diperoleh partai sekuler yang meraup banyak suara dalam pemilu), mengkooptasi birokrasi secara halus/kasar untuk memihak partai penguasa.
  2. Di dalam negeri muslim yang sekuler Ormas dan LSM Islam menjamur namun dalam koridor dilarang berpolitik praktis walau secara ideologis sebenarnya mereka sejalan dengan ideologi yang diemban partai Islam. Mereka hanya bisa bekerja hanya di ranah sosial kemasyarakatan, membantu sebanyak mungkin beban sosial yang harusnya dikerjakan pemerintah (yang sekuler), seperti membangun rumah ibadah, pelayanan kesehatan, penampungan anak yatim, mendirikan sekolah, dan semacamnya. Andaikan ormas-lsm Islam itu berhasil menjadi sukses dan banyak berprestasi di bidang amal sosial maka yang diuntungkan pasti juga penguasa (sekuler) yang dinilai  berhasil memenuhi banyak kebutuhan rakyat. Ormas-lsm Islam itu tidak akan mampu merubah rezim kekuasaan sekuler karena mereka menjauh dari politik Islam, khususnya tidak mau memihak dan membesarkan Partai Islam. Mereka bahkan secara tidak langsung menguatkan/melanggengkan kekuasaan sekuler di negerinya.
  3. Budaya nasional yang berbau syariat  semaksimal mungkin diminimalkan dengan melakukan pelarangan formal, seperti kasus jilbab untuk anak sekolah (ingat era Orde Baru lalu) atau dipersulitnya berjilbab bagi polwan dan militer (kasus mutakhir). Bisa untuk ditebak adanya kekhawatiran penguasa sekuler apabila rakyat semakin taat melaksanakan ajaran budaya dari agamanya, apalagi jika agama itu dipeluk mayoritas penduduk.
  4. Ajaran agama yang dipeluk  mayoritas penduduk akan mendapat tantangan internal dengan menjamurnya aliran sempalan yang sesat. Upaya untuk memurnikan ajaran agama tidak mendapat perhatian serius penguasa karena keseragaman dalam beragama bagi mayoritas penduduk itu mengancam dominasi kekuasaan penguasa sekuler. Aliran sesat agama dibiarkan marak, bahkan sering dilindungi untuk membuat pemeluk agama tersebut bertikai dan tidak terkoordinasi baik.
  5. Akibat dari ketiadaan tuntunan tuhan dalam pengelolaan negara maka negeri sekuler akan mengalami berbagai permasalahan sosial politik berkepanjangan. Ketimpangan ekonomi semakin merajalela, si kaya kian arogan/sombong dengan memamerkan kekayaannya melalui kehidupan yang glamor, tidak peduli sekitarnya banyak penduduk miskin bahkan teramat miskin yang untuk makan saja sering kesulitan. Kecemburuan sosial membara di hati penduduk namun tidak terkeluarkan karena represi secara langsung dan pendekatan verbal dalam bentuk slogan kerukunan dan kesabaran (menderita).
  6. Praktek kemaksiatan kian marak karena dibiarkan atau sering malah dilindungi oleh kekuasaan dengan alasan perundangan, ekonomi, atau HAM. Yang penting bagi penguasa sekuler bahwa kehidupan masyarakat aman terkendali, tidak rusuh dan tidak mengancam kelangsungan kekuasaan mereka. Apakah penduduk taat dalam beragama atau tidak bukan menjadi tanggung jawab pemerintah.
  7. Dalam negeri sekuler akhlak penduduk kian rusak oleh orientasi hidup individualistik, egoistik, materialistik, hedonis. Meningktnya status iptek pada kalangan terpelajar menjadi kehilangan makna sosialnya oleh orientasi hidup seperti itu. Kejahatan dalan bentuk kebrutalan, kebengisan, kekejaman, pencurian, perampokan, dan korupsi merajalela di segala lapisan dengan sanksi hukum yang relatif ringan dan  tidak berkeadilan.
  8. Lingkungan hidup termasuk sumber daya alam di negeri sekuler dieksplotasi secara maksimal untuk kepentingan ekonomi pemilik modal dalam skala internasional, mengakibatkan rusak dan tercemarnya lingkungan.

 Melalui ciri-ciri negeri sekuler seperti yang diuraikan di atas maka kini menjadi mudah disimpulkan apa  yang akan terjadi pada bangsa-negara sekuler. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa negeri sekuler (apalagi jiks negerinya berkategori negara berkembang) akan mengalami penurunan kualitas eksponensial (tidak linier), spiraling down, pada komponen2 strategis bangsa-negara itu.

 1.     Kekayaan negara dan tanah air terkuras semakin habis, dieksploitir asing yang menjadi dedengkot sekularisme, dengan bantuan oknum dari dalam negeri sendiri

  1. Modal sosial dalam bentuk akhlak mulia untuk suatu kebangkitan sebuah bangsa menjadi  runtuh oleh dekadensi moral
  2. Kemampuan dalam iptek yang dimiliki penduduk terpelajar tidak efektif bermanfaat bagi bangsa karena orientasi hidup yang individualitik, egoistik, materialistik, hedonis dari mereka, jauh dari orientasi berkarya untuk beribadah pada Allah dan berbakti pada nusa-bangsa. Belum lagi terjadinya  eksodus ilmuan dan modal finansial maupun aset berharga ke luar negeri.
  3. Lingkungan biofsik kian rusak seperti tanah subur menjadi gersang, hutan menjadi ilalang, sumber air tanah mengering, pencemaran air dan  udara kian merongrong kesehatan rakyat.
  4. Adminstrasi negara tidak beres dimana kecurangan, suap, gratifikasi, korupsi marak. Pelayanan umum lemah. Pejabat terus meminta gaji dan fasilitas tinggi dan bahkan setelah mendapatkan gaji-fasilitas tinggipun masih saja merasa kurang dan melakukan korupsi serta menerima suap.
  5. Hukum diperjual belikan, ketidak adilan di mana2. Yang tersisa adalah represi kekuasaan kepada rakyat lemah yang mau protes terhadap perilaku ketidakadilan itu. Sepertinya suasana masih terasa aman terkendali namun di dalamnya sarat ketidak puasan sosial pada penguasa/pemerintah.

 Ujung dari bangsa-negara sekuler seperti ini tidak bisa lain kecuali kehancuran total, terpecah belah, termiskinkan habis semua asetnya oleh eksploitasi asing,  tanpa daya dan kemampuan menjadi mulia-jaya.

 Indonesia, menjelang akhir 2013

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , .

OUTSOURCING, MASYARAKAT PLURAL vs IDEOLOGI SEKULER, PESAN UNTUK PEMUDA INDONESIA PENGGIRINGAN OPINI BAHWA PARTAI ISLAM TIDAK NASIONALIS dan HANYA PARTAI SEKULER YANG NASIONALIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

December 2013
M T W T F S S
« Oct   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: