PENGGIRINGAN OPINI BAHWA PARTAI ISLAM TIDAK NASIONALIS dan HANYA PARTAI SEKULER YANG NASIONALIS

7 January 2014 at 14:39 Leave a comment

Manusia adalah makhluk  yang paling sempurna di banding makhluk lain. Oleh Allah SWT manusia di beri misi menjadi khalifah di bumi dalam artian menjadi pengelola. Untuk itu manusia memiliki kualitas biofisik bagus dengan kemampuan berpikir yang canggih dan orientasi hidup utuh yakni spiritual, ekonomi, politik, dan budaya. Kehidupan manusia  cenderung berkelompok, berorganisasi supaya mampu mengatasi berbagai tantangan dengan kebersamaan. Dalam kehidupan modern manusia lalu membentuk kelompok yang relatif besar mendiami suatu area tertentu dan diberi nama Negara. Di dalam negara itu mereka bekerja sama, mengatur berbagai permasalahan hidup dengan harapan bisa menjadi semakin baik dan maju.

Dalam negara  dibentuklah struktur, mana yang memimpin dan mana yang dipimpin, disertai apa hak dan kewajiban masing-masing. Pemimpin negara diberi wewenang membuat kebijakan yang harus ditaati untuk dilaknakan semua rakyat tapi juga diberi beban tanggung jawab menjadikan  bangsa-negaranya maju dan mulia. Untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin maka dibuatlah mekanisme tertentu, bisa berbeda-beda antara satu negara dengan lainnya. Ada negara yang kepemimpinannya bersifat turun temurun dipegang oleh sebuah keluarga saja (Kerajaan), atau kepemimpinan negara bergilir dipilih oleh suatu proses pemilihan dengan menggunakan  kelompok politik yang disebut Partai Politik.

Dalam tatanan negara normal, organisasi yang dibentuk rakyat dan berhak bicara-bergerak terkait kekuasaan negara adalah Partai. Masalah kepemimpinan dalam negara merupakan wewenang Partai bukan ranah organisasi di luar itu, seperti ormas, lsm, yayasan, dll. Setiap partai politik didirikan  tentunya berorientasi untuk menjadi pengelola dan pemimpin negara. Tatkala dalam perjuangannya berhasil menjadi pemimpin negara maka partai itu tentu akan menerapkan cara membangun negeri yang sudah dimilikinya agar negeri itu menjadi negeri yang hebat. Walau semua partai umumnya punya “misi sama” yakni akan membuat bangsa-negara maju dan jaya, namun setiap partai yang dibentuk punya cara pandang tersendiri atau spesifik tentang apa hakekat yang disebut sebagai kemajuan –kejayaan bangsa dan bagaimana cara (metoda) untuk mencapainya. Orang-orang yang memiliki pandangan yang sejalan dalam kedua hal itu lalu berkumpul dan membentuk kelompok politik yang disebut partai. Perbedaan cara pandang tentang bagaimana membuat sebuah bangsa itu menjadi bangsa maju dan mulia bisa bersifat amat signifikan atau bisa hanya beda tipis-tipis saja. Berbeda dalam hal cara (metoda) yang amat signifikan atau beda yang besar itu lalu disebut sebagai berbeda IDEOLOGI. Di sinilah lalu muncul adanya berbagai macam perbedaan ideologi politik di dunia.

Dengan penjelasan di atas maka  tidak mungkin ada Partai Politik yang bermisi hanya akan memajukan sekelompok penduduk tertentu saja di negeri itu, dan mengabaikan kelompok penduduk lainnya. Di sinilah makna kenegarawanan. Namun walau sama-sama ingin menjadi  negarawan tetap bisa saja berbeda dalam memaknai secara  operasional tentang apa “ciri sebuah bangsa-negara yang maju-mulia” dan “metoda” apa yang akan dipakai. Kesalahan jelas telah terjadi jika ada TUDUHAN bahwa suatu Partai bermaksud untuk membesarkan sekelompok penduduk saja (sering disebut sektarian). Tuduhan itu tentu tidak sesuai dengan hakekat sebuah partai didirikan. Jika ungkapan seperti itu ditujukan pada sebuah atau segolongan partai politik maka jelas itu merupakan penghinaan pada partai bersangkutan. Ungkapan itu adalah ungkapan yang naif atau  bodoh dan membodohi rakyat.  Rakyat harus waspada terhadap tuduhan, slogan, atau hujatan semacam ini. Nah, karena semua partai politik itu memiliki komitmen untuk memajukan bangsa secara keseluruhan maka tentu semua partai politik di negara manapun  adalah PARTAI NASIONALIS.

Setiap negara tentu penduduknya heterogen, termasuk dalam hal agama apa yang dipeluknya. Tidak ada satupun negara di dunia yang semua penduduknya homogen, memeluk satu agama, satu ras/suku saja. Perbedaan itu yang membuat rakyat sebuah negara bisa memiliki ideologi berlainan dan membentuk partai yang berbeda-beda. Walau berbeda nama namun partai politik yang dibentuk rakyat tentunya Partai Nasionalis karena bertujuan untuk membangun bangsa-negara secara keseluruhan, tidak hanya membangun sebagian rakyat. Kesalahan pemahaman sering terjadi jika suatu negara itu habis dijajah. Suasana penjajahan yang mana bisa ada Partai yang bertujuan merdeka dan partai lain yang mendukung penjajahan maka terdapat di sana dikhotomi Partai Nasionalis dan Non-Nasionalis (Pro Penjajah). Atau pada negara yang mempraktekkan otonomi tertentu, rakyat bisa dibolehkan membuat Partai Lokal yang wewenangnya hanya sebatas lokal tertentu dalam negara, namun komitmennya tetap harus untuk seluruh warga di lokal itu.

Kasus Indonesia yang mantan dijajah penjajah Belanda berabad lamanya, banyak orang sering salah faham tentang makna nasionalis. Sesudah merdeka seharusnya sudah hilang dari benak warga akan adanya partai politik yang non-nasionalis, pro penjajah. Semua Partai Politik di Indonesia adalah nasionalis, tapi mereka bisa berbeda IDEOLOGI PERJUANGANNYA. Di negeri ini sudah lama dikenal ada 2 (dua) ideologi yang jelas berbeda secara signifikan dan terus bersaing, yakni ideologi Islam dan ideologi Sekuler. Ideologi Islam bermaksud membawa bangsa Indonesia secara keseluruhan (apapun suku, ras, dan agama yang dipeluk penduduk) menjadi bangsa maju dan mulia dengan METODA SOSIAL-POLITIK yang diajarkan Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah saat menjadi Kepala Negara Madinah. Sedang di pihak lain ada yang berpendapat akan membawa bangsa Indonesia secara keseluruhan (apapun suku, ras, dan agama yang dipeluk penduduk) menjadi bangsa maju dan mulia dengan METODA SOSIAL-POLITIK yang ditemukan dan dikembangkan oleh kemampuan manusiawi, seperti kapitalisme, komunisme, sosialisme, dan berbagai variasi lain, tanpa mengacu (bahkan menolah tegas) ajaran Allah dalam kitab suci dan percontohan Nabi. Ideologi kedua ini disebut sebagai Idelogi Sekuler, karena meninggalkan/mengabaikan tuntunan sosial-politik dari tuhan. Maka kini menjadi jelas bahwa di negeri ini ada dua kelompok besar partai politik, yakni Partai Islam yang mendukung ideologi Islam, dan Partai Sekuler yang mendukung ideologi Sekuler. Karena keduanya memiliki komitmen untuk memajukan bangsa Indonesia secara keseluruhan (artinya berciri nasionalis) maka seharusnya kedua kelompok tersebut masing-masingnya disebut sebagai Partai Islam Nasionalis dan Partai Sekuler Nasionalis, bukan Partai Islam dan Partai Nasionalis.

Partai Islam di Indonesia sering didefinisikan sebagai Partai yang berazas Islam seperti PBB, PKS, PPP, dll dan Partai yang lahir dari komunitas muslim seperti PKB dan PAN walau tidak berazas Islam. Sedang Partai Nasionalis diasosisikan partai diluar kedua kelompok tersebut, seperti misalnya Partai Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra, PDP, Demokrat, dll yang umumnya berasas Pancasila. Penggolongan Partai Islam dan Partai Nasionalis seperti yang sering dipaparkan di berbagai media masa dan disebut dalam berbagai forum politik jelas keliru sehingga bisa menyesatkan karena tidak dikaitkan arah ideologi politik kedua kelompok partai tersebut. Orang lalu mudah terjebak pada alur berpikir bahwa Partai Islam itu partai yang tidak nasionalis, hanya mau membesarkan umat Islam, tidak peduli pada yang beragama lain,  sedang Partai Nasionalis itu partai yang benar-benar mencintai Indonesia, peduli pada semua penduduk, apapun agama mereka. Sungguh melecehkan dan TIDAK ADIL.

Istilah Partai Nasionalis di era meerdeka itu sendiri jelas mengandung BIAS POLITIK, memberi nuansa bahwa partai (partai-partai) tersebut memiliki komitmen hebat terhadap kepentingan nasional secara keseluruhan, memiliki kepedulian besar terhadap kemajuan bangsa, tidak peduli apa suku, ras, dan agama yang dianut oleh penduduk. Sebaliknya nuansa Partai Islam, khususnya Partai yang berazas Islam, yang tidak digolongkan dalam partai nasionalis, adalah Partai yang sepertinya memiliki komitmen hanya untuk kepentingan umat Islam, tidak memiliki kepedulian pada bangsa secara keseluruhan yang plural atau majemuk itu. Dengan  istilah keren (yang sering dipopulerkan di negeri ini) Partai Islam itu Partai Sektarian, mementingkan kelompok Islam nya sendiri. Bukankah nuansa seperti itu yang ingin diciptakan dengan dikhotomi kedua penamaan tersebut? Maka umat dan rakyat pun lalu mudah termakan oleh propaganda tersembunyi semacam itu. Kini mudah ditebak siapa yang diuntungkan dengan isu politik tersebut. Bagaimana sesungguhnya duduk masalah yang benar dan rasional?

Sebagai bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa, setiap upaya meninggalkan perintah Allah Yang Maha Esa berrarti pengkhianatan pada ajaran agama. Sejalan dengan tuntunan agama Islam maka MUI memfatwakan bahwa faham Sekularisme (meninggalkan tuntunan Sosial-Politik dari Allah SWT dalam proses kehidupan berbangsa-bernegara) itu faham sesat. Umat Islam Indonesia yang merupakan mayoritas bangsa ini sungguh berisiko dimurkai oleh Allah swt jika menganut ideologi sekuler. Murka Allah bisa dalam dua dimensi, yakni di akherat akan menerima adzab pedih (tentu bersifat individual, terutama para pemimpin yang menyesatkan), dan di dunia sebagai sebuah sistem sosial negeri ini akan selalu ditimpa keterpurukan masyarakat dan terbenam dalam krisis sosial multi dimensi. Fatwa MUI untuk umat Islam yang bersifat mengharamkan memilih pemimpin yang tidak sesuai dengan kriteria Islam yakni beriman, bertaqwa, jujur, amanah, fathonah, dan tabligh juga menegaskan pentingnya umat Islam Indonesia menjaga diri, keluarga, dan masyarakat-bangsanya agar tidak terjerumus dalam kesesatan yang nyata dengan cara memilih Pemimpin yang benar sesuai ajaran agamanya. Nah,  KINI TINGGAL MANUSIA INDONESIA MAU MEMILIH YANG MANA. Allah SWT memberi kebebasan manusia untuk memilih. Semoga pilihannya benar sehingga selamat dunia-akherat.

Indonesia, awal Januari 2014.

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , , , , , , , , .

CIRI DAN UJUNG BANGSA-NEGARA SEKULER (Analisis Kualitatif terhadap Masa Depan) BERFIKIR, BERSIKAP, DAN BERTINDAK DENGAN PENDEKATAN SISTEM UNTUK KEHIDUPAN MULIA- SEJAHTERA DALAM BERKAH ALLAH SWT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

January 2014
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: