BERFIKIR, BERSIKAP, DAN BERTINDAK DENGAN PENDEKATAN SISTEM UNTUK KEHIDUPAN MULIA- SEJAHTERA DALAM BERKAH ALLAH SWT

8 March 2014 at 13:20 Leave a comment

Dalam era kemajuan iptek  seharusnya manusia dalam berfikir, bersikap dan bertindak memakai pendekatan Sistem. Kehidupan di dunia ini bisa dipilah dalam 3 sistem (tatanan) yang penting, yakni sistem individu, orang per orang, sistem keluarga sebagai suatu satuan, dan sistem negara yang merupakan suatu tatanan yang di dalamnya terdapat banyak manusia, banyak keluarga, hidup di suatu wilayah luas dengan suatu pengaturan yang terkoordinasi ketat dan utuh. Ketiga sistem di atas saling berhubungan namun dari ke tiga bentuk sistem tersebut yang memiliki peran strategis dalam kehidupan secara keseluruhan adalah sistem negara karena dalam sistem negara itulah berada individu dan keluarga, tidak sebaliknya. Sistem negara akan memberi pengaruh dan kontrol besar pada kualitas/kondisi  individu dan  keluarga yang berada di dalamnya.

Suatu sistem atau tatanan tentu berubah kondisinya dalam dimensi waktu  dan disebut sebagai dinamika sistem. Kondisi suatu sistem membaik atau memburuk ditentukan oleh Pengendali sistem melalui perlakuan yang diterapkan oleh si pengendali terhadap sistem yang dikendalikannya. Dalam sistem negara maka dinamikanya (membaik atau memburuk) ditentukan oleh kualitas Pemimpin negara  melalui kebijakan2 yang diputuskan dan diterapkannya sewaktu memimpin.

Manusia yang memiliki wawasan produktif bermanfaat untuk orang lain (agama Islam mengajarkan bahwa setiap muslim mestinya berorientasi seperti itu), akan berupaya memperbaiki sebanyak mungkin kehidupan manusia di sekitarnya. Manusia seperti itu disebut sebagai manusia pejuang, dan seharusnya memiliki cita-cita perjuangan yang jelas dan terukur secara operasional. Di sinilah hakekat makna predikat  negarawan dan cendekiawan di mana hidupnya memiliki kepedulian pada kualitas hidup orang lain, bukan egoistik untuk kepentingan diri sendiri atau pada keluarganya saja.   Dia siap menjadi pemimpin negeri atau pemimpin kelompok masyarakat yang banyak. Tentu saja kualitas kepemimpinannya bisa bervariasi,  tidak asal menjadi pemimpin. Keberhasilan kepemimpinannya ditentukan oleh pemikiran dia apa bentuk kondisi mendatang yang dia mau dan metoda apa yang akan dia pakai untuk mencapai sasaran kondisi itu. Negarawan dan cendekiawan bukan sekedar berjuang untuk bisa menjadi pemimpin tapi juga sudah terfikir olehnya bagaimana langkah-langkah yang akan dilakukan setelah dia berhasil menjadi pemimpin. Di tangan dia, melalui kebijakan yang akan dia buat dan terapkan bergantunglah nasib negeri, yang di dalamnya bukan hanya ada individu dan keluarga yang banyak namun juga kondisi lingkungan bio-fisik. Kondisi ideal yang ingin dicapai dan metoda yang akan dipakai untuk mencapai kondsisi ideal inilah yang seharusnya berada dalam benak setiap manusia pemimpin. Pemimpin harusnya adalah manusia terdidik dengan misi mulianya untuk memperbaiki nasib orang lain sebanyak dan semaksimal mungkin, dengan kesiapan maksimal memimpin negeri supaya menjadi negeri ideal  melalui penerapan metoda yang benar.

Sayangnya, banyak orang yang berjuang keras mau menjadi pemimpin negara, melakukan berbagai taktik-strategi macam-macam, seperti kampanye, membangun pencitraan, memberi janji-janji besar, pasang spanduk-baliho-banner, tayang  di media cetak dan televisi, menyuap kanan-kiri, dan lain-lain ternyata hanya sekedar supaya bisa berhasil menjadi pemimpin negara. Dia tidak/belum tahu benar bagaimana metoda  yang akan dia pakai untuk mengatur negara setelah dia berhasil menjadi pemimpin. Ujung prosesnya bisa saja dia berhasil menjadi pemimpin negara karena usaha dan pengorbanannya namun setelah dia memimpin sekian lama ternyata negerinya tidak semakin baik namun semakin rusak.

Setelah difahami bahwa dalam kehidupan di dunia ini tidak cukup hanya  bicara tentang sistem individu dan keluarga supaya bisa dicapai keberhasilan besar dan luas, maka fokus bahasan tentunya bergeser  ke upaya bagaimana melakukan perbaikan sistem negara. Hal ini harusnya menjadi perhatian bagi  siapapun, perhatian bagi setiap warga negara yang sudah dewasa yang sadar bahwa hidupnya tidak hanya untuk diri dan keluarganya saja. Hidup manusia itu harusnya juga untuk kemanfaatan bagi orang banyak yang untuk itu tidak bisa lain kecuali juga terkait dengan kehidupan sistem negara. Minimal sebagai warga negara seseorang harus peduli kepada siapa yang seharusnya memimpin negerinya.

Pembahasan sistem negara tentu lebih rumit dari pembahasan individu, keluarga, atau organisasi sosial kemasyarakatan biasa. Walaupun begitu tetap ada tehnik yang digunakan supaya bahasan mudah difahami orang lain. Hal pertama yang harus diuraikan adalah bagaimana sebenarnya kondisi negara yang disebut berhasil dan bagaimana cara atau metoda yang benar yang harus dipakai dalam mengelola negara supaya negara itu menjadi negara yang kondisinya semakin baik dari waktu kewaktu.

Agama Islam memberi tuntunan amat lengkap dalam kehidupan manusia, tepat seperti kebutuhan hidup manusia itu sendiri, yakni tidak hanya tuntunan ritual yang tercakup dalam aktifitas sistem individu, juga tidak hanya syariat berkeluarga, namun juga bagaimana seharusnya sebuah sistem negara diatur/dikelola supaya tercapai kondisi negara yang ideal. Tuntunan Islam tentang sistem negara ini bahkan berporsi besar. Umat Islam, apalagi ‘tokoh’nya, harusnya tidak hanya berfikir, bersikap, dan bertindak terkait  ritual, makan-minum, berpakaian, mengurus anak, beramal sosial dan lain-lain semacamnya saja, namun juga berfikir ke arah pembenahan sistem negara, yakni bagaimana kondisi negara yang ideal dan bagaimana metoda pengelolaan negara yang harusnya dilakukan agar kondsisi ideal tersebut tercapai. Agama Islam tidak hanya mengajar manusia untuk mengurus diri sendiri supaya sehat jasmani-rohani, bahagia lahir-bathin,  atau tuntunan bagaimana membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, namun juga menuntun manusia bagaimana sebuah negara dikelola mencapai kondisi baldatun thoyibah wa robbun ghofuur. Bahkan untuk memberikan gambaran keutuhan ajaran Islam itu nabi Muhammad SAW menjalani  kehidupannya langsung tidak hanya dengan membenahi sistem  individu dan keluarga namun juga membenahi sistem negara melalui upaya membawa Islam ke dalam  kekuasaan dan kemudian mengatur negara secara Islami menjadi negeri (Madinah) yang mulia dan sejahtera dalam berkah Allah SWT.

Keberhasilan kehidupan bagi sistem individu dan keluarga  relatif mudah diukur kualitasnya, namun untuk keberhasilan sistem  negara diperlukan penggambaran yang lebih rumit namun tetap harus mudah difahami dan bisa diukur secara operasional. Seorang calon pemimpin perlu memiliki model bagaimana suatu sistem negara ideal, yang dengan model itu dia akan punya arahan jelas untuk mengukur keberhasilannya dalam memimpin negara, tidak seenaknya mengklaim bahwa dia telah berhasil menjadi pemimpin negara yang baik. Dengan model yang jelas maka para kritikus juga akan punya acuan untuk memberi analisis atau mengkritisi, tidak hanya asal mengritik bahwa pemimpin tidak berhasil. Kritikus lalu akan lebih obyektif dalam menilai kesuksesan/kegagalan pemimpin.

Berikut ini dijelaskan secara ringkas ukuran strategis operasional sistem negara yang ideal. Ada tiga ukuran kualitatif yang harus dimiliki sistem negara untuk disebut berhasil atau ideal, yakni MULIA, SEJAHTERA, DALAM BERKAH ALLAH SWT.

TATANAN NEGARA YANG MULIA:

Negeri yang Mulia berarti negeri itu dipandang dengan rasa hormat oleh negara lain. Untuk itu ada tiga komponen utama negara yang harus dibuat terpandang mulia, yakni Rakyatnya, Pejabatnya, dan Kedaulatan negaranya. Kemuliaan rakyat hanya terwujud jika budaya yang berkembang adalah budaya luhur, terpuji, bukan budaya rusak dan merusakkan seperti serba boleh, porno, kebrutalan, kebengisan, perselingkuhan, kemaksiatan. Pejabat negara juga dihormati jika berperilaku benar, bekerja profesional, berkarakter, tidak korup, tidak makan suap,  menyeleweng, menumpuk harta, materialis-hedonis, adil tidak sewenang-wenang. Negara juga akan dipandang mulia jika kedaulatannya kokoh, wilayahnya tidak diintervensi asing, sumber daya alamnya tidak dijarah, rakyatnya terjaga dari predikat rendah seperti pelayan, pembantu, penghibur di negeri lain.

TATANAN NEGARA YANG SEJAHTERA

Tatanan Negara yang sejahtera diukur dari 5 aspek yakni Ekonomi, Kesehatan, Pendidikan, Hukum, dan Lingkungan. Kesejahteraan ekonomis terjadi jika seluruh rakyatnya secara ekonomis berkecukupan, tidak ada yang terlantar karena tidak terpenuhinya kebutuhan primer, kesenjangan ekonomi antara penduduk terkendali oleh kejujuran dan keadilan sosial. Kesejahteraan dalam aspek kesehatan berarti kesehatan penduduk terjamin baik, penduduk mampu/bisa berobat bila sakit dengan pelayanan kesehatan yang mencukupi. Kesejahteraan aspek pendidikan berarti generasi muda mendapat sekolah yang layak sesuai tingkatan usianya, tenaga ahli dan trampil terus semakin meningkat proporsinya. Kesejahteraan aspek hukum berarti penduduk memperoleh keadilan jika memiliki permasalahan, lembaga peradilannya tertata efiesien, perangkat hukumnya bekerja profesional, keamanan-ketertiban terjaga. Kesejahteraan aspek lingkungan berarti rakyat hidup dalam lingkungan biofisik yang sehat dan kian indah, tidak tercemar dan rusak, penuh kehamonisan dan kerukunan dalam lingkungan sosialnya.

TATANAN NEGARA BERADA DALAM BERKAH ALLAH SWT

Suatu negara yang berada dalam berkah Allah SWT tentu akan terpandang mulia dan sejahtera, di samping ada ukuran lebih jauh yakni semua kebijakan yang berlaku di dalamnya sejalan dengan tununan Allah terkait kenegaraan, semaraknya aktifitas beragama, tingginya semangat berdakwah untuk menegakkan tuntunan tuhan secara utuh, dan negeri itu terhindar dari berbagai musibah dan bencana, karena musibah-bencana itu adalah salah satu bentuk hukuman tuhan pada suatu bangsa yang mengabaikan tuntunanNya.

Buku saya terbaru berjudul “MENUJU INDONESIA BARU YANG MULIA-SEJAHTERA DALAM BERKAH ALLAH SWT” sudah diterbitkan oleh penerbit Pustaka Amanah Surabaya bulan Februari kemarin, melengkapi buku2 saya sebelumnya tentang Islam Politik. Silahkan yang berminat bisa menghubungi saya di email atau sms.

Indonesia, awal Maret 2014

Entry filed under: Buku Baru, Pemikiran, Pemilu 2014, Politik, Sosial Budaya, Syariat Islam. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

PENGGIRINGAN OPINI BAHWA PARTAI ISLAM TIDAK NASIONALIS dan HANYA PARTAI SEKULER YANG NASIONALIS Pendidikan Islam di Tengah Politik Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2014
M T W T F S S
« Jan   Aug »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Stats

  • 86,713 hits

Feeds


%d bloggers like this: