IEDUL ADHA MENGINGATKAN BERISLAM DENGAN BERBUAT NYATA & KAFFAH MENGIKUTI SYARIAH (Tidak Spekulatif dalam Hal Pahala dan Surga)

20 September 2014 at 18:35 Leave a comment

Allaahu Akbar

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Sesudah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat-karuniaNya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk limpahan rahmat pada pagi hari ini, hari yang cerah, sejuk, dan segar, mari kita kembali mencermati hakekat makna hidup ini. Jangan kita hidup sekedar bekerja mencari harta, dikonsumsi untuk makan-minum, bermain, berlibur, lalu bekerja lagi mengumpulkan harta, begitu berputar terus dan akhirnya mati meninggalkan semua tanpa makna. Hidup harus dalam arahan tujuan mulia disertai bersyukur secara benar. Allah SWT menjanjikan jika manusia pandai bersyukur akan nikmat karuniaNya maka Allah akan menambah karuniaNya, yang tidak sekedar harta tapi jauh lebih tinggi yakni keberhasilan hidup di dunia dan akherat. Sebaliknya jika mengingkari adanya karunia Allah atas berbagai kesuksesan, kenyamanan, keberuntungan dalam kehidupan dunia ini, menganggap bahwa semua itu murni karena prestasi pribadi belaka, karena kepintaran, kreatifitas, komunikasi sosial, dll, maka ingatlah bahwa adzab Allah itu sungguh berat. Kepada mereka yang mengabaikan kesyukuran atas nikmat-karunia Allah akan segera merasakan hidup sarat kegalauan, selalu merasa kurang, tetangga tampak lebih hebat, dan akhirnya berujung hatinya ditimpa kekhawatiran dan kegundahan tiada habisnya, sedang di akherat akan memperolah siksa yang pedih. Na’udhubillahi min dhalika.

 

Allahu akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Di samping banyak bersyukur, dalam banyak kesempatan seharusnya kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad saw, sebagai manifestasi kecintaan dan penghormatan pada beliau yang teguh–tegar menyampaikan risalah Ilahi Rabbi ke umat manusia menghadapi berbagai tantangan. Beliau menyampaikan risalah Allah SWT penuh semangat dan pengorbanan, berkorban dengan amwal (harta) dan anfus (jiwa-raga) menghadapi caci-maki, penghujatan, disakiti, diisolasi, bahkan mau dibunuh oleh kaum musyrikin, kafirin, dan munafiqin. Rasulullah memberi contoh bahwa kita harus siap berkorban dalam upaya menegakkan kebenaran yang dituntunkan oleh Allah SWT demi kebaikan umat manusia.

Alhamdulillah, dengan perjuangan dan pengorbanan nabi yang luar biasa dan kemudian dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin, dan generasi penerus para ulama, pejuang Islam, maka sampailah risalah tersebut dengan selamat ke tangan kita untuk kita teruskan ke sekitar dan generasi mendatang. Tantangan dalam perjuangan Islam akan selalu ada, harus dihadapi untuk diatasi, bukan dihindari atau malah lari. Pengorbanan senantiasa harus difahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari setiap perjuangan hidup.

 

Allahu Akbar,

Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Allah SWT, Pencipta alam semesta, mengingatkan manusia dalam surat al Kautsar:

“Sesungguhnya telah banyak karunia Allah yang telah kamu terima. Oleh sebab itu shalatlah hanya karena Allah dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang yang memusuhi kamu itu pasti akan kalah dan kecewa.”

Pesan di dalam surat tersebut amat jelas, yakni manusia harus selalu bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-karunia yang dilimpahkan pada mereka. Bentuk bersyukur itu harus sebagai perbuatan nyata, secara lisan mengucap alhamdulillah, menegakkan shalat (ibadah mahdhah) yang motifnya dimurnikan semata karena Allah, dan menyembelih hewan korban sebagai simbol pentingnya perilaku berkorban untuk menebar kebenaran yang diajarkan Allah ke tengah umat manusia.

 

Hadirin yang saya hormati,

Banyak orang yang salah faham terhadap hakekat berislam, menganggap sudah berislam cukup jika hanya melakukan sesuatu yang bersifat ghoib atau ritual. Mereka orientasinya pada adanya ‘pahala’ yang akan diterima sesudah melakukan ritus-ritus spiritual, padahal pahala itu ghoib, tidak pernah dapat dia verifikasi seperti halnya ‘dosa’. Dirinya sudah merasa suci bersih dari semua dosa (yang juga abstrak/ghoib) sesudah puasa di bulan Ramadhan sehingga jika mati yakin akan masuk surga. Karena sudah mengerjakan shalat wajib, apalagi ditambah sholat tahajut, dhuha, sholat sunnah lainnya maka kewajibannya sebagai orang Islam merasa sudah terpenuhi semua. Karena terus berdoa minta surga maka sesudah mati dikiranya mendapat surga karena doanya pasti dikabulkan. Karena sudah membayar zakat yang 2,5% dari hartanya maka semua kekayaannya dikira sudah bersih (termasuk yang berasal dari perbuatan dosa) dan akan masuk surga. Karena sudah menunaikan haji ditambah banyak melakukan ibadah umroh dikiranya dia sudah diampuni dan terjamin surganya. Karena sudah menyembelih korban di hari raya korban maka kewajiban keislamannya sudah terpenuhi dan akan masuk surga. Begitu banyak harapannya mendapat surga yang dikirakannya karena pahalanya amat bertumpuk dan dosanya bersih padahal kedua hal itu abstrak, tidak pernah bisa dia verifikasi empiris, tidak nyata bisa dihitung, tidak dapat dibuat balansnya, hanya kira-kira, disertai harapan dan harapan.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

Banyak umat Islam berkhayal bisa masuk surga sesudah mati nanti padahal hanya dengan upaya sekadarnya, khususnya melakukan aktifitas ritual atau ibadah mahdhoh yang kekhusu’an dan motif dasarnya bisa saja tidak murni atau kurang murni. Dalam melakukan ritus Islam tidak mustahil orang memiliki motif riya, ingin dilihat/dipuji orang lain, atau motif keduniaan supaya dianggap sebagai muslim yang baik sehingga dipilih banyak muslim dalam berpolitik atau dijadikan menantu orang tua untuk gadis pujaannya, atau dinaikkan pangkat oleh majikan yang kebetulan aktifis Islam. Benarkah begitu prosesnya? Mari dicermati surat al Maa’un, betapa digambarkan di sana bahwa orang yang sudah biasa shalat masih diancam masuk neraka karena melalaikan kewajiban sosial di depan matanya.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan dien (dienul Islam, bukan sekedar agama yg banyak disempitkan sebagai religi). Yakni yang menelantarkan anak yatim, tidak menyuruh memberi makan orang miskin (padahal dia punya banyak kemampuan harta, ilmu, kekuasaan, dll untuk melakukan pertolongan). Neraka weil akan menimpa mereka yang sudah melakukan shalat namun lalai (akan kewajiban2 syariat lain sebagai muslim). Mereka riya, mereka tidak memberikan pertolongan (kewajiban2 sosial-politiknya)”

Surat al Maa’un di atas sepertinya sudah begitu terkenal di kalangan umat Islam namun belum sepenuhnya menggugah umat untuk berbuat yang benar dan utuh dalam berislamnya. Juga sangat memprihatinkan bila diterjemahkan amat sempit bahwa dikiranya kewajiban berislamnya itu sudah beres dengan sekedar merawat anak yatim dan memberi shadaqah pada orang miskin, atau khusu’ memurnikan motif untuk shalatnya, mengabaikan banyak kewajiban sosial-politiknya dalam berislam yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan berislam hanya dengan ukuran abstrak, pahala-dosa, mengabaikan amalan syar’i yang nyata/empiris, seperti aktifitas sosial-politik.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Senada dengan surat al Maa’un di atas, di sisi lain banyak orang Islam merasa sudah menjadi orang beriman kepada Allah hanya dengan melakukan beberapa aktifitas keislaman, khususnya ibadah mahdhah/ritual plus amal sosial, padahal beda antara berislam dan beriman itu amat besar. Dalam surat al Hujurat ayat 14-16 Allah memperingatkan masalah ini.

“Berkatalah orang Arab (komunitas ras Arab di masa Nabi): ‘Kami ini orang yang beriman’. Katakanlah (kepada mereka): “Kalian itu belum (masuk kategori orang) beriman, sebut saja bahwa kalian sudah berislam karena iman itu belum masuk ke qalbu kalian. (Walau begitu) apabila kalian mentaati tuntunan Allah dan RasulNya maka Allah tidak mengurangi sedikitpun pahala (abstrak) kalian. Allah itu Maha Pengampun”.

“Sesungguhnya (yang masuk kategori) orang beriman itu adalah orang yang (qalbunya) percaya (dengan yakin seyakinnya) pada Allah dan RasulNya tanpa keraguan sedikitpun, dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah yang benar pernyataannya (sebagai orang beriman).”

“Katakanlah (kepada mereka): “Apa kalian akan memberitahukan Allah tentang (keyakinan akan) dien/agama kalian padahal Allah mengetahui apa2 yang di langit dan di bumi dan Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu”

 

Allahu Akbar,

Jika kita cermati fakta di masyarakat akan mudah kita dapati betapa banyak akhir-akhir ini umat diajari bahwa begitu mudahnya orang bisa masuk surga dengan hanya melakukan hal-hal ritual, sepertinya surga itu sudah dalam kekuasaan si pemberi janji untuk diberikan pada orang lain. Betapa banyak harapan dijanjikan bahwa dosanya akan diampuni dengan melafal beberapa doa dan wirid lalu sepertinya sudah terjamin surganya nanti. Untuk janji kemudahan-kemudahan seperti itu bahkan dipakai sebagai pembenar ‘hadits’ Nabi, misalnya: bahwa pembunuh 100 orangpun masuk surga asal mau bertobat, atau pelacur bergelimang dosapun masuk surga karena sekedar memberi minum seekor anjing, padahal kontek haditsnya ternyata cerita Nabi pada sahabat tentang umat terdahulu (itupun bila shohih haditsnya). Perlu difahami bahwa umat Islam jaman ini adalah umat di era nabi Muhammad SAW (termasuk masa kini dan umat yad) yang masuk dalam wilayah syariah di mana harus mendapat hukuman berat jika membunuh manusia secara tidak benar, dan melacur adalah dosa besar yang dikenai hukuman hudud berupa rajam. Umat Islam harus disadarkan akan kenyataan ini, tidak dibodohi atau dininabobok dengan harapan2 semu.

 

Hadirin yang saya hormati,

Mari kita berislam sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW, melakukan perbuatan/aktifitas nyata seluas dan seintensif mungkin, menerapkan tuntunan Allah sebanyak kita tahu, yang mahdhah maupun ghoirul mahdhah (sosial-politik). Kita juga harus banyak belajar untuk lebih banyak lagi yang kita tahu tentang tuntunan Allah itu, dan menerapkannya semaksimal mungkin dalam kehidupan sehari-hari, mahdhah dan ghoirul mahdhah. Begitulah proses berislam yang benar demi keselamatan kita di dunia dan akherat. Kita terus belajar Islam dari al Qur’an dan Hadits shohih untuk lebih banyak tahu dan faham apa isi tuntunan Islam dalam kehidupan nyata ini, lalu lebih dan lebih banyak lagi tuntunan Islam yang sudah kita ketahui untuk dipraktekkan sesuai posisi dan kewenangan masing2, sebagai apapun, sebagai rakyat jelata atau sebagai pejabat (kewenangannya pasti lebih banyak), sebagai karyawan atau sebagai majikan, sebagai ulama atau sebagai umat yang awam. InsyaAllah dengan cara itu baru terjamin kemuliaan hidup di dunia dan akherat.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Kita jangan mudah menganggap diri sudah mendapat berkah besar dari Allah hanya karena berharta banyak, berkedudukan tinggi, bertitel setumpuk, populer, dan berbagai macam status sosial-politik keduniaan lainnya. Tatkala Amirul mukminin Umar bin Khattab RA menjadi Kepala Negara di Madinah di mana rakyat Madinah kian makmur, aman, sejahtera, ada sahabat yang berbangga di depannya dengan mengatakan: “Ya amirul mukminin, kita ini sungguh sudah mendapat berkah Allah SWT, lihat itu rakyat Madinah kian aman dan sejahtera dengan harta melimpah”. Umar menjawab lugas: “Kamu salah. Berkah itu ukurannya bukan seperti itu tetapi berkah itu ditandai jika manusia menjadi kian taat pada tuntunan Allah dalam kehidupannya. Saya justru khawatir dengan semakin banyak harta yang dimiliki, status sosial kian tinggi semakin tinggi, malah akan semakin lupa pada tuntunan Allah karena manusia jadi sibuk mengurus harta dan jabatannya serta asyik menikmati kemewahan duniawinya”

 

Allahu akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Jika untuk mendapat titel, kedudukan politik, kekayaan harta, popularitas orang mau dan harus bekerja keras, maka untuk mendapat kecintaan Allah dan surgaNya, manusia tentunya harus mau bekerja/berusaha lebih keras lagi. Jangan berpikir hanya dengan kerja sekedarnya maka sudah akan mendapat berkah dan masuk surga jannatun na’im yang kekal abadi. Allah tegas berfirman dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 214 dan Ali Imran ayat 142

“Apa kalian menyangka akan masuk surga padahal belum datang kepada kalian cobaan seperti yang dialami orang2 terdahulu sebelum kalian yang ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang berbagai hal sebagai tantangan hidup…”

“Apa kalian menyangka akan masuk surga padahal belum jelas tampak di sisi Allah jihad kalian dan kesabaran kalian”

Dari kedua ayat di atas tampak jelas ‘jangan mudah berprasangka’ bahwa kita sudah pasti masuk surga hanya berbekal keimanan-ketaqwaan dalam arti longgar, hanya sebagai pengakuan dan beritual. Pemahaman ayat yang menyatakan akan masuk surga bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh harus diterjemahkan secara benar, baik untuk makna ‘beriman’ (ingat surat al Hujurat 15) dan ‘beramal shaleh’ suatu amalan sesuai tuntunan Allah dalam seluruh aspek kehidupan (lihat surat al Maa’un dan surat al Baqarah 108). Jangan kita terpedaya oleh janji orang (siapapun dia) bahwa sudah benar berislamnya dan akan masuk surga hanya dengan bersahadat, pengakuan akan adanya Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusanNya tanpa mau melaksanakan perintah Allah dalam kehidupan keseharian kita di dunia ini seutuhnya/kaffah (ritual dan sosial-politiknya). Mari diingat bahwa iblis punya keyakinan dan mengakui akan adanya tuhan namun dia menjadi makhluk durhaka disiksa masuk neraka karena mengabaikan perbuatan yang diperintahkan tuhan. Nabi Adam dan isterinya Hawa dilempar dari surga bukan karena tidak mau mengakui adanya Allah namun karena berani melanggar laranganNya

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati,

Hidup kita ini dinilai Allah dari perbuatan kita, bukan dari angan-angan dan niat saja. Banyak orang berfikir hanya dengan ber-angan2 positif akan bisa masuk surga, hanya dengan berniat yang baik sudah akan mendapat pahala. Cara berfikir seperti iu naif sekali, bertentangan dengan ajaran Islam, sunnatullah yang ditetapkanNya. Sistem penilaian yang diterapkan Allah SWT dalam menilai manusia tegas tertera dalam al Qur’an, seperti di al Baqarah ayat 134, 202, 286:

“…Baginya apa-apa yang telah mereka perbuat, dan bagi kalian apa2 yang kalian perbuat”

“… Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa2 yang telah mereka kerjakan dan Allah itu maha cepat perhitunganNya”

“… Dia memperolah (pahala) dari apa (kebaikan) yang mereka kerjakan dan memperoleh siksa dari apa (kejahatan) yang dia perbuat”

Ada ‘cerita sufi’ yang disebar luaskan di kalangan umat bahwa alkisah seorang alim bertetangga dengan pelacur. Ujungnya si orang alim dimasukkan ke neraka oleh alasan dia selalu berfikir negatif terhadap tetangganya yang pelacur. Sebaliknya si pelacur dimasukkan surga walau saban harinya melayani pelanggan, melakukan perzinahan, karena alasan dia selalu berpikir positif, berpengharapan bisa menjadi orang baik seperti tetangganya yang orang alim (Silahkan simak di blog saya ‘fuadamsyari.wordpress.com’ untuk tulisan lengkapnya). Berita seperti itu pasti merusak makna beriman dan berislam yang benar.

Begitu pula hadits “Sesungguhnya amal perbuatan itu ditentukan oleh niatnya”. Hadits ini terkait dengan hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Dinyatakan oleh Nabi bahwa balasan bagi mereka yang ikut hijrah ditentukan oleh niat mereka apakah berhijrah karena perjuangan Islam mengikuti Nabi atau karena motif lain seperti mengikuti perempuan yang diincarnya yang melakukan hijrah. Niat memang dinilai asalkan tidak berhenti hanya di niat, namun ada perbuatan yang dilakukannya, seperti halnya berhijrah itu. Niat saja tidak akan menjadi bagian dari penilaian.

Di sisi lain terdapat pula penyalahgunaan penilaian tentang ‘ijtihad’ (membuat suatu keputusan terkait masalah keislaman dan umat Islam yang tidak secara eksplisit disebut dalam al Qur’an dan sunnah). Jika ijtihad dalam menentukan langkah itu ternyata salah (berdampak buruk) masih mendapat satu pahala namun jika benar akan mendapat dua pahala. Perlu difahami bahwa pahala yang diharapkan itu bersifat abstrak, tidak dapat diukur empiris. Pada sisi lain jika ijtihad yang diambil itu ternyata salah maka dampaknya yang nyata adalah keburukan/kerusakan di dalam umat Islam yang terukur secara empiris. Tokoh Islam tidak seharusnya mengambil resiko berijtihad, apalagi di bidang sosial-politik Islam, berorientasi pada asas tetap mendapat pahala satu walau salah, padahal jika ijtihadnya salah akan memberi dampak kerusakan pada umat secara luas. Di sinilah perlunya waspada, hati-hati, bermusyawarah dengan sebanyak mungkin ulama dan tokoh Islam lain dalam berijtihad sosial-politik, tidak dikira-kirakannya sendiri walau dia memiliki kewenangan tunggal, bermimpi dapat satu pahala walau nanti ijtihadnya itu salah.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya hormati

Berbagai penyimpangan terhadap pelaksanaan Islam oleh umat sebagimana diuraikan di atas membuat umat kehilangan jati diri dan melemahkan kekuatan sosialnya sebagai kelompok, padahal Allah menjelaskan bahwa umat Islam itu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan di bumi. Satu hal secara eksplisit disebut Allah tentang kekurangan umat sehingga gagal menjadi umat yang utama, yakni mengabaikan praktek berislam secara nyata dan utuh atau lengkap, tidak hanya sebatas ibadah mahdhah, tapi juga aktifitas berbuat kebaikan dan menangkal kemungkaran secara nyata dalam dunia sosial-politiknya, tidak sekedar berbasa-basi tentang hal yang abstrak. Mana ada kekuatan untuk menumbuhkan kebaikan dan menangkal kemungkaran di masyarakat tanpa melaksanakan syariat dalam bidang politik Islam. Allah berfirman dalam surat Ali Imron 110

“Kalian itu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah”

Kewajiban untuk berislam secara utuh atau kaffah itu ditegaskan oleh Allah dalam surat al Baqarah ayat 208:

“Wahai orang yang beriman, berislamlah kalian secara utuh, jangan mengikuti tuntunan syetan karena syetan itu musuh kalian yang nyata”

Apa makna utuh dalam berislam itu? Di ayat terakhir surat al Kautsar juga ada janji Allah untuk memberikan kejayaan pada umat sesudah umat dihinakan, dilecehkan, ditindas saat mereka lemah di awal perkembangan Islam. Janji itu dipenuhi oleh Allah SWT tatkala Rasulullah beserta umat Islam di masanya menerapkan Islam dalam ke 3 dimensi kehidupan manusia, yakni 1). dimensi pribadi dalam bentuk ibadah mahdhah dan kehidupan personalnya, 2). dimensi keluarga dengan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah dengan menerapkan syariat dalam berkeluarga seperti pendidikan anak, hubungan antara suami-isteri, hubungan sesama tetangga, dan 3). dimensi berbangsa-bernegara yakni menerapkan syariat dari Allah dalam mengelola bangsa-negaranya, meliputi semua aspek kenegaraan. Penerapan syariat dimensi ke tiga tersebut baru dapat dilaksanakan setelah Rasulullah beserta umat Islam berhasil memegang kekuasaan negara, di mana Rasulullah kemudian menerapkan syariat kenegaraan secara menyeluruh seperti kebijakan politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, keamanan-ketertiban sesuai petunjuk Allah SWT, tidak semata pendapat manusiawi. Urutan berislam politik yang dicontohkan Rasulullah adalah: 1). Menjadi Pemimpin Formal dalam tatanan Bangsa-Negara; dan 2). Menerapkan syariat bernegara dalam pemerintahannya. Baru setelah ada penerapan Islam dalam dimensi kehidupan berbangsa-bernegara seperti di atas itulah, melengkapi penerapan syariat dalam dimensi pribadi dan berkeluarga, maka teratasilah penghinaan, pelecehan, penindasan pada umat Islam, dan sebaliknya Islam dan umat Islam menjadi mercu suar dunia, memimpin peradaban, mengembangkan keadilan-kesejahteraan, dan memajukan ilmu pengetahuan.

 

Allahu Akbar,

Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Adha 1435H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu secara benar, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah pertolonganMu agar kami tidak keliru dalam mengartikan makna keimanan-ketaqwaan kami itu sehingga kami tidak menjadi tersesat dalam kehidupan yang penuh godaan iblis ini.

“Ya Allah, kami memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, masyarakat, dan lingkungan kami.

“Ya Allah, kuatkanlah keimanan kami, tambahkanlah ilmu kami, dan luaskan dan kokohkanlah ketaqwaan kami. Ampunilah segala kesalahan kami, terimalah kami nanti di surgaMu, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

 

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

 

Surabaya, 10 Dzulhijah 1435 H,

Khotbah Iedul Adha,

di Lapangan Galaxy, Mulyorejo,

SURABAYA

Entry filed under: Agenda, khotbah. Tags: .

PETA POLITIK DUNIA ISLAM, Analisis Kasus Indonesia SUKSES DUNIA-AKHIRAT KARENA MEMAHAMI AL QUR’AN & SAINS DENGAN BENAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2014
M T W T F S S
« Aug   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: