SEBERAPA CERDASKAH MANUSIA ITU?

19 November 2014 at 19:08 Leave a comment

Bumi ini penuh ‘kekayaan’, mulai dengan keluasan tanahnya yang bisa ditanami, lahan yang bisa ditempati, melimpahnya air yang selalu dibutuhkan untuk hampir semua kebutuhan manusia, udara dengan oksigen dan bahan kimiawi penting lain, isi buminya yang luar biasa berupa tambang bermacam-macam sepertinya tak terbatas jenis dan kuantitasnya, seperti minyak bumi, batu bara, logam emas, perak, tembaga, berbagai bantuan termasuk intan, mineral, dan sebagainya. Belum lagi binatang yang hidup di atasnya yang bisa dimakan, ditimang-dipelihara dijadikan kesayangan, bentangan geografis dengan panoramanya yang indah. MasyaAllah.

Sebagian kekayaan di bumi itu bisa didapat dengan mudah oleh manusia, namun juga banyak jenis yang memerlukan kemampuan khusus berupa ilmu dan teknologi untuk mengambilnya. Teknologi yang diperlukan sudah banyak yang diketahui dan dikuasai, ada yang sederhana ada pula yang rumit. Ada yang terbuka untuk umum, ada pula yang dirahasiakan untuk kepentingan tertentu, seperti misalnya supaya memperoleh harga melangit saat menjualnya. Maka bergabunglah kedua macam kekayaan di atas, yakni kekayaan alam dan kekayaan teknologi manusia. Seharusnya dengan kedua bentuk kekayaan itu semua manusia yang sempat hidup di bimu bisa hidup layak sebagai makhluk mulia sampai akhir hayat mereka. Namun benarkah keberuntungan manusia seperti itu yang terjadi di bumi? Dalam sejarah panjang manusia jawabannya ternyata tidak, bahkan sebagian besar manusia di bumi itu hidupnya masih sengsara, malah banyak yang hidup lebih sengsara dari binatang. Di mana masalahnya?

Dalam banyak bahasan sering didengungkan bahwa manusia adalah makhluk paling berkualitas di muka bumi. Mereka memiliki kemampuan luar biasa baik dari sisi fisik (berbagai ciri biologis seperti suara, susunan gigi, cara berjalan), sisi kejiwaaan, dan sisi akal-kecerdasan. Dengan kemampuan biologis itu manusia mampu membuat instrumen-peralatan hampir tidak terbatas. Namun sekali lagi mengapa manusia yang begitu bagus kualitas kemakhlukannya tidak mampu membuat dirinya secara keseluruhan (umat manusia) hidup secara sejahtera? Apa yang salah?

Kegalauan akan kondisi yang jauh dari ideal itu dengan mudah bisa dilihat dari kasus kecil seperti Indonesia, yang ternyata tidak juga berhasil membuat seluruh rakyat Indonesia menjadi hidup sejahtera, bahkan banyak sekali yang miskin, terkena busung lapar, berpakaian compang camping, berumah serupa kandang kambing, padahal di dekatnya, beberapa orang (HANYA ‘BEBERAPA’ ORANG) di sekitarnya malah hidup serba glamor, apakah bentuk rumah, kendaraan, pakaian, dan macam makanannya. Ironis bukan? Dalam skala internasional bisa dilihat pula bagaimana manusia yang hidup di Afrika, Amerika, Eropah, dll.

Dari fakta sosial di atas maka kini timbul pertanyaan, benarkah manusia itu begitu hebat kecerdasannya? Jika benar hebat tentunya kan bisa menyejahterakan jenisnya sendiri di manapun mereka berada? Dari kegagalan dalam misi kemakhlukan ini jelas manusia tidaklah secerdas dan sehebat seperti perkiraan atau asumsi yang dikemukakan di depan. Manusia malah bisa dikatakan makhluk lemah dan hina karena dia gagal menolong temannya dan malah tidak malu hidup dengan kemewahan di tengah melaratnya manusia di sekitarnya, apalagi mereka yang hidup bermewah seperti itu malah sering berbangga hati bisa hidup makmur berfoya pamer di tengah temannya yang miskin.

Teori psikologi malah pernah membuat tesis vulgar “jika ingin merasa hidup bahagia maka hiduplah di tengah orang melarat di sekitarm, di mana kondisimu jauh lebih baik di tengah kehidupan mereka yang lebih lemah, maka kamu akan merasa bahagia”. Teori tersebut akhir-akhir ini ditolak, namun cara berfikir seperti itu masih banyak penganutnya. Ditinjau dari sisi cara berfikir melenceng seperti di atas jelas manusia itu bukannya cerdas malah bodoh dan tidak berperikemanusiaan. Manusia adalah makhluk yang seburuk-buruk makhluk. Bukankah amat hina jika seorang pejabat yang memiliki tanggung jawab memakmurkan seluruh rakyat sebuah negara malah dengan senang hati diberi gaji teramat tinggi padahal rakyat kebanyakan di negerinya masih melarat (apalagi jika masih merasa kurang dan mau dinaikkan gaji, fasilitas, dan penghormatan yang diterimanya). Alasan yang sering dipakai karena dia sudah bekerja keras, beresiko besar. Apakah dipikirnya rakyat negerinya yang miskin itu tidak bekerja lebih berat dan beresiko lebih besar pula? Mana rasa tanggung jawabnya sebagai pejabat, malah tega-teganya dia lalu meminta tambahan gaji dan fasilitas (sering dengan bahasa tersamar, bisa melalui lesan komplotnya yang juga ingin dapat kemewahan lebih banyak)?

Kekeliruan terbesar manusia adalah meninggalkan dan mengabaikan tuntunan Penciptanya, yang bagi rakyat banyak mereka sering berbuat salah dalam memilih Pemimpin, dan bagi mereka yng sudah berkuasa, memiliki kekuasaan besar, memiliki kemampuan banyak dia malah bersikap sombong, rakus, gila hormat, dan lupa tuntunan Penciptanya dalam mengatur negeri.

Islam mengajarkan bahwa kewajiban manusia untuk memenuhi kepentingan manusia lain akan semakin banyak jika kemampuan dan kekuasaan yang ada pada dirinya kian besar. Manusia yang terbaik adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

Kaidah itu bisa diringkas dengan sebuah model matematik:

FATE = f (Achievement/Competence)

Achievement = f (Ritual, Personal, Social, Political action)
Competence = f (Science, Power, Money, Endurance)

Setiap manusia ingin bernasib baik, padahal sukses manusia di sisi Allah berbanding lurus dengan prestasi dia dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan berbanding terbalik dengan kemampuan apa yang dimilikinya. Prestasi atau pencapaian itu terkait kegiatan ritual, pribadi, sosial, dan aktifitas politiknya, sedang kemampuan atau kompetensi itu terkait keilmuan, jasmaniah, kekayaan, dan kekuasaan yang dipegang/dipunyainya.

Manusia cerdas adalah manusia yang tahu diri bahwa dia itu ciptaan Allah SWT yang harus taat mengikuti tuntunanNya dalam semua aspek kehidupan supaya hidupnya sukses dunia akherat. Kebanyakan manusia tidak seperti itu.

Mari berhati-hati dalam melangkah.

Indonesia, menyambut tahun baru Islam, 1436H

Entry filed under: Pendidikan, Sosial Budaya. Tags: .

MELANGKAH BENAR DENGAN PENDEKATAN TaMaLa Menuju Sukses, Mengatasi Keterpurukan/Kegagalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

November 2014
M T W T F S S
« Sep   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: