PUASA SEBAGAI PENYADARAN UMAT UNTUK BERIMAN DAN BERAMAL SHALIH DENGAN BENAR

13 July 2015 at 11:09 1 comment

(Khotbah Iedul Fithrie 1436H/2015M)

 Disampaikan oleh:

FUAD AMSYARI, PhD

Dewan Pembina ICMI Pusat

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.,

                                                             (Iftitah)

Allahu Akbar (takbir 3x)

Hadirin jama’ah shalat Ied yang saya hormati,

Pertama sekali marilah kita di hari raya Iedul Fithrie 1436H ini, kembali bersyukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk pagi ini di mana kita bisa bersama-sama menunaikan shalat ied.

Allah berfirman dalam al Qur’an surat Ibrahim, ayat 7:

         “Jika kalian bersyukur kepadaKu, niscaya akan Aku tambah karuniaKu, namun jika kalian mengingkari (karuniaKu) maka sesungguhnya adhabKu itu amat berat”

Pada kesempatan yang baik ini mari kita juga introspeksi apakah aktifitas2/amalan2 kita sudah benar supaya mendapat semakin banyak karunia Allah, khususnya yang langsung bisa kita rasakan, seperti ketentaraman hati, kecukupan rizki, penghormatan sosial yang dijanjikan oleh Allah untuk hambaNya yang beriman dan beramal shalih dengan benar.  Sesungguhnya hanya Allah dan masing2 kita yang tahu kondisi yang kita alami. Kita harus selalu introspeksi, dan di dalam introspeksi kita mestinya obyektif menilainya, tidak di tutup-tutupi, supaya tepatlah penilaian itu untuk bahan perbaikan dalam melangkah ke depan.  Semoga di hari mulia ini dan hari2 berikutnya kita memperoleh berkah dan rahmatNya karena beriman dan beramal sholih dengan benar. Amien.

Allahu Akbar 3x

Hadirin yang saya hormati,

Islam itu agama yang sempurna, memberi tuntunan hidup manusia secara utuh, apakah sebagai individu, sebagai pemimpin/anggauta sebuah keluarga, sebagai pemimpin/warga sebuah negara. Dengan lengkap dan utuhnya tuntunan Islam itu maka hidup ini menjadi mudah karena tinggal melaksanakannya saja. Mau beribadah mahdhoh sudah ada tuntunan, mau berkeluarga dan mengelola keluarga sudah ada tuntunan, mau menjadi pejabat negara dan menjalankan pemerintahan sudah ada tuntunanNya. Di sinilah makna bahwa Allah SWT dengan Islam memberi kemudahan dan tidak memberi kesulitan. Selama manusia mau mencari tuntunan Islam dan mau melaksanakannya maka hidup akan dijamin sukses dunia-akherat. Allah berfirman dalam al Qur’an di surat al Baqarah ayat 185 (masih terkait dengan puasa Ramadhan):

     “Allah berkehendak memberi kemudahan bagi kalian dan tidak berkeinginan memberi kesulitan”

Bulan Ramadhan tahun ini sudah kita lalui, insyaAllah kita sudah benar dalam beraktifitas di bulan tersebut dengan berpuasa dan banyak berbuat kebaikan mengikuti tuntunan Allah SWT. Dengan pola hidup Islami di bulan2 berikutnya maka  insyaAllah hidup ini akan menjadi lebih mudah dan berhasil.

Allahu Akbar 3x

Hadirin yang saya muliakan

Rasulullah bersabda dalam hadits shohih:

      ”Setiap manusia itu dilahirkan dalam keadaan ’fithroh’, maka orang tuanyalah yang mendorong menjadi nasrani, yahudi,  majusi”.

Yang dimaksud dengan menjadi nasrani, yahudi, atau majusi  itu tentu bukan secara fisik namun tentang ’pola pikir’ dalam menjalani kehidupan. Demikian pula yang dimaksud dengan orang tua bukan berarti sempit orang tua biologis tapi orang dan lingkungan yang berperan selama proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Mari kita jaga jangan sampai orang2 dan lingkungan sekitar kita memberi pengaruh buruk pada generasi muda Islam.

Hadits di atas juga memberi peringatan yang penting bagi umat Islam bahwa manusia itu amat bergantung pada siapa yang berperan mempengaruhi pola pikirnya. Pola pikir inilah sumber dari keputusan dan langkah2 yang akan diambil manusia  selama hidupnya nanti.

Allhu Akbar 3x

Allah SWT di dalam al Qur’an sering memperingatkan apakah kita tidak mau berfikir atau apakah kita tidak mau menggunakan akal pikiran dalam menjalani kehidupan ini. Islam mengajarkan dengan rinci bagaimana seharusnya manusia itu berpola pikir. Tepat sekali jika kita setelah menjalani puasa Ramadhan, menata ulang pola berfikir kita tentang hidup ini supaya hidup kita benar dan berhasil.

Pola pikir Islami itu runtut, mulai dengan 1). Keyakinan bahwa hidup ini ada yang menciptakan, yakni Allah SWT, tuhan yang Maha Esa, tempat semua makhluq bergantung, tidak beranak dan diperanakkan, kekuasaanNya tiada terkira yang tidak ada sesuatupun yang bisa menyamaiNya (al Qur’an surat  al Ikhlas); 2). Selanjutnya memahami bahwa ciptaaan Allah SWT itu ada yang bersifat ghoib (tidak terjangkau oleh indera manusia) dan ada yang sahadah (terjangkau/terdeteksi oleh indera); 3). Manusia bisa mengetahui yang ghoib hanya melalui Wahyu Allah yang diterimakan via Nabi yang ditunjukNya, yakni Muhammad SAW; 4). Bahwa terhadap dunia sahadah manusia bisa memahaminya melalui pengamatan intensif oleh indera dan akal pikiran, dalam bentuk produk Sains dan Teknologi; 5). Ujungnya bahwa manusia harus beraktifitas (beramal) sejalan dengan Wahyu yang diturunkanNya dan sesuai produk Sains-Teknologi yang difahaminya (sebagai bagian dari upaya memahami Sunnatullah) supaya aktifitasnya bernilai mengikuti Dienullah dan Sunnatullah.

Dengan pola fikir tersebut maka langkah2/amalan seorang muslim harusnya proporsional, tidak berlebihan dalam amalan yang bersifat ghoib (ibadah mahdhoh) dan tidak sempit dalam amalan yang bersifat sahadah (ibadah non-mahdhoh atau ghoiril mahdhoh). Itulah yang disebut dengan amalan sholih, perbuatan yang sejalan dengan Wahyu dan kaidah Sains-Teknologi.

 Allahu Akbar 3x

Hadirin yang saya hormati,

Apabila umat Islam mau hidup dengan keyakinan dan perbuatan yang benar (Imannya benar, Amalannya Sholih) maka tentu hidupnya akan berhasil di dunia dan akherat. Di akherat akan mendapatkan surga, di dunia akan mendapatkan hati yang tenteram, rizkinya tercukupi,  dihormati secara sosial, dan bahkan dijanjikan oleh Allah sebagai pemimpin dan penguasa di daerah, di negeri, dan di bumi Allah ini. Namun apa kenyataan yang kita lihat sekarang?

Umat Islam banyak yang tidak proporsional dalam beraktifitas atau beramal. Mereka suka mencari-cari dan menambah-nambah ibadah mahdhoh yang tidak dituntun al Qur’an dan Hadits yang shohih. Banyak menggunakan hadits palsu dan lemah untuk dipakai dalam beramal mahdhoh. Akibatnya banyak waktu yang terbuang sia2. Perilaku tersebut jelas terlarang bahkan diancam dengan neraka karena menambah-nambahi perintah Allah dalam ibadah mahdhoh. Penambahan amalan dalam ibadah mahdhoh tersebut dinamakan bid’ah dhalalah. Dalam hadits shohih ditegaskan: “Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhallaltin fin nar” (Semua tambahan2 dalam ibadah mahdhoh itu sesat dan semua kesesatan itu tempatnya adalah neraka).

Di sisi lain terdapat amat banyak amalan sholih (amalan yang dituntun Allah melalui wahyu berupa al Qur’an dan Hadits Shohih), yang tergolong bukan ibadah mahdhoh, seperti: makan minum, berpakaian, pergaulan hidup dengan lawan jenis, mengurus keluarga, mengelola masyarakat-wilayah-negara,  malah sering diabaikan, tidak dilaksanakan. Di samping itu umat Islam juga masih banyak yang bersikap jumud, mengabaikan sains-teknologi yang jelas2 diperintahkan oleh wahyu untuk dilakukan umat. Kelalaian ini harus dibayar mahal karena kepicikan pemahaman tentang dunia sahadah membuat umat hidupnya di dunia jadi terpuruk. Dari awal Allah SWT sudah memerintahkan umat untuk mendalami rahasia alam itu (sains) dengan kemampuan manusiawinya guna menguak tabir ciptaan Allah di dunia nyata/sahadah. Mari dicermati perintah Allah dalam al Qur’an surat al Ghosiah ayat 17-20:

          “Mengapa tidak mereka teliti/kaji bagaimana unta itu diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana gunung ditegakkan, bagaimana bumi dihamparkan”

Subhanallah, bukankah jika umat Islam mau melaksanakan perintah di atas maka umat Islam akan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang biologi, kedokteran, astronomi, geologi, ekologi dan lain2nya? Bagaimana kenyataan saat ini? Siapa yang memegang sain-teknologi luar angkasa, nuklir, dna, cloning, dan berbagai bidang keilmuan lain? Mengapa umat Islam begitu tertinggal sehingga dalam proses persaingan di dunia nyata umat amat jauh terpuruk dibanding umat lain sehingga praktis hidup umat dalam kendali/kontrol orang? Mau makanan enak dalam kendali orang lain, mau kendaraan nyaman dalam kendali orang lain, mau peralatan canggih untuk membuat bangunan kokoh dalam kendali orang lain, mau punya senjata modern untuk bertahan diri juga dalam kendali orang lain. Astaghfirullah. Apa yang salah? Tentu pada pola berfikir dan berperilakunya.

Allahu Akbar 3x

Hadirin yang saya hormati,

Keterpurukan umat Islam dalam kehidupan di dunia sehingga menjadi bulan2an, hidup dalam kendali orang lain, pada dasarnya disebabkan oleh 5 faktor utama, yakni: 1). Keimanan yang salah, 2). Keilmuan yang lemah, 3). Aktifitas produktif yang sedikit, 4). Komunikasi yang kurang, dan 5). Lengah dalam masalah Politik.

I. Keimanan itu letaknya di hati, sulit diukur, mudah goyah, melemah, bahkan bisa hilang. Allah SWT memberi tuntunan untuk menjaga keimanan yang benar dengan 3 macam perbuatan nyata yang dapat diukur, yakni: Shalat, Shadaqoh, dan Jihad. Khusus dalam hal jihad jangan hendaknya umat Islam salah arti atau ketakutan karena diteror orang lain yang anti jihad. Sering karena kurang hati2 dan diintimidasi orang lain maka makna jihad dilunakkan sehingga menjadi aneh dan malah meninabobokkan untuk tidak berjihad. Sering disebutkan bahwa jihad itu asal katanya JAHADA yang artinya bersungguh2 sehingga asal sudah mau bersungguh2 dalam ibadah apapun sudah dihitung sebagai jihad (‘layakkah shalat, puasa, doa bersungguh2 itu disebut jihad, atau memberi makan anak yatim dengan bersungguh2 itu bernama jihad?’). Ternyata asal kata jihad itu bukan jahada tapi JAAHADA, bermakna operasional bersungguh untuk perjuangan menegakkan Islam dengan pengorbanan amwal (harta) maupun anfus (jiwa). Jihad memang tidak harus berarti perang fisik (kecuali jika diperangi musuh terlebih dahulu). Jihad dalam masa damai harus tetap dilaksanakan dalam bentuk penyebaran Islam seperti promosi Islam, membela Islam jika dilecehkan, memenangkan Islam dalam persaingan ideologis dengan fihak sekuler atau kafir. Jihad juga sering dikerdilkan menjadi sekedar menahan hawa nafsu agar tidak melakukan kemungkaran. Alasan yang dipakai adalah adanya riwayat bahwa sepulang dari perang Badar, Nabi menyatakan bahwa ada jihad yang lebih hebat dibanding perang tersebut yakni memerangi hawa nafsu. Ternyata pernyataan itu hadits palsu. Mana ada orang duduk diam tidak berjudi, tidak melacur karena sudah menahan hawa nafsu disebut berjihad lebih hebat dari perang fisik. Astaghfirullah.

Allahu Akbar 3x

Hadirin yang saya hormati

Mari kita berhati2, waspada, tidak mudah diintimidasi sehingga salah memaknai jihad padahal jihad itulah petanda iman yang benar. Allah berfirman dalam surat al Hujurat ayat 14:

           “Sessungguhnya yang dinamakan beriman itu adalah meyakini Allah dan RasulNya tanpa keraguan sedikitpun dan melaksanakan jihad dengan harta dan jiwanya, yang demikian itulah sebenar-benar beriman”

II. Ilmu pada dasarnya ada dua kelompok, yakni 1). Pemahaman tentang rahasia hidup dan alam semesta melalui jalur yang diwahyukan Allah melalui nabiNya (dalam bentuk acuan al Qur’an dan Hadits Shohih); dan 2). ilmu dalam bentuk pemahaman akan rahasia ciptaan Allah di dunia empiris/sahadah oleh kreatifitas manusia sendiri (berupa sains dan teknologi atau disingkat iptek). Sains dan teknologi yang dimiliki umat  amat menyedihkan. Waktu keseharian banyak tokoh Islam ternyata  dipakai untuk menakwil ayat2 mutasyabihat padahal hanya Allah yang tahu takwilnya, dan untuk menalar hadits2 tentang keghoiban dan masa lampau yang ternyata ujung2nya adalah hadits palsu atau hadits lemah. Tokoh umat juga banyak yang lalai melakukan kajian sains dengan prosesnya yang obyektif verifikatif guna mengetahui ketepatan karakter dan perilaku makhlukNya (sunnatullah). Padahal dengan memahami sains secara mendalam maka umat  akan kian tercerahkan, menjadi tahu banyak rahasia dunia yang didiaminya lalu dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas yang benar dalam hidupnya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Dengan menguasai sains dan teknologi maka umat akan mudah mengendalikan alam dan menangani berbagai masalah duniawi supaya dunianya terpelihara dan tidak dirusak oleh orang lain. Umat Islam sungguh tertinggal dalam masalah ilmu yang terkait dengan sains dan iptek sehingga dalam kehidupan sosial yang plural mereka umumnya terpuruk, menjadi suruhan dan mudah tertipu. Sekali lagi menyia2kan waktu untuk memaksa mengerti makna ayat mutashabihat, meninggalkan penghayatan dan penyebaran ayat muhkamat dari al Qur’an, dan menggali2 hadits palsu dan lemah tentang hal-hal ghoib dan masa lalu jelas merupakan perilaku yang salah sehingga merugikan Islam dan umat Islam. Mari dicermati firman Allah surat Ali Imron ayat 7 berikut ini:

         “Dia (Allah) yang menurunkan kepadamu (Muhammad) kitab (al Qur’an) yang di dalamnya ada ayat MUHKAMAT (maknanya jelas) merupakan induk kitab dan lainnya adalah ayat MUTASYABIHAT. Adapun orang2 yang hatinya cenderung SESAT mereka mengikuti ayat mutasyabihat untuk mendatangkan FITNAH dan berspekulasi tentang TAKWILnya, padahal hanya Allah yang sesungguhnya tahu takwil ayat mutasyabihat itu”

III. Umat Islam sering alpa bahwa penilaian pada dirinya adalah apa yang diperbuatnya, bukan apa yang dimimpikan, diharapkan, atau yang diniatkan saja. Allah berfirman banyak kali dalam al Qur’an bahwa manusia itu dinilai dari perbuatannya, seperti yang dinyatakan dalam surat al Baqarah 286:

        “Baginya (pahala) apa yang dia kejakan, dan dia mendapat (siksa dari kejahatan) yang dia lakukan”

Janganlah umat Islam mudah tergoda  untuk mendapat ’pahala’ yang tidak bisa diukur besarannya dengan hanya berhenti pada niat berbuat kebaikan namun ujung2nya tidak melakukan yang diniatkannya itu. Hadits nabi tentang pentingnya ada niat adalah hadits terkait dengan hijrahnya umat dari Mekah ke Madinah. Penilaian Allah tentang niat hijrah tersebut setelah hijrah dikerjakan Hasil hijrah tersebut barulah dikaitkannya dengan niat berhijrahnya, apakah hijrah karena Allah atau karena mengejar harta/wanita. Berbuat kebaikan secara nyata  itu wajib bagi umat Islam namun seluruh kebaikan yang dikerjakan  harus dilatar-belakangi untuk beribadah kepada Allah swt, tidak riya atau motif keduniaaan yang bermacam-macam. Umat umumnya kurang kongkrit dan tidak maksimal berbuat kebaikan2 yang diperintahkan syariat Islam. Umat cenderung berlebihan dalam berpengharapan dapat pahala tanpa berbuat nyata sesuai syariat Allah SWT. Allah mengingatkan pentingnya berbuat kebaikan secara nyata ini, serta bentuk kebaikan2 itu seperti difirmankan dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 177:

          ”Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajah ke barat atau ke timur, namun kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat2, kitab2, dan nabi2; memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat, anak2 yatim, orang miskin, orang yang terlantar dalam perjalanan, peminta2, dan membebaskan budak; mendirikan shalat; menunaikan zakat; dan memenuhi janji yang dibuatnya; serta sabar dalam penderitaan dan waktu peperangan”

IV. Komunikasi nyata antar umat Islam umumnya juga lemah. Anjuran untuk shalat berjamaah tidak dimaknai secara utuh terkait membangun kebersamaan sosial yang kokoh. Muslim umumnya datang ke mesjid untuk shalat berjamaah namun kemudian masing2nya tenggelam berdiam sibuk mendekatkan diri masing2 pada Allah dan sesudah shalat-wirid umumnya langsung meninggalkan mesjid, tidak ada interaksi sosial apapun. Bukankah perilaku seperti itu akan mengurangi kemanfaatan shalat berjamaah itu sendiri, hanya berharap ’pahala’ yang berlipat (dibanding dengan pahala jika shalat sendirian)? Di masa Rasulullah umat memanfaatkan shalat berjamaah untuk menguatkan kebersamaan sosial, untuk saling membantu dalam masalah sosial -politik sesama muslim. Mesjid di masa Nabi bukan sekedar tempat untuk kontemplasi menghubungkan diri dengan Allah secara personal namun juga tempat untuk mengokohkan ikatan sosial antar umat dalam bentuk meningkatkan kemampuan ekonomi, politik pemerintahan, bahkan mobilisasi untuk perang. Melalui sarana mesjid atau media apapun umat harusnya saling berkomunkasi, tidak bersendirian sibuk membuang waktu dengan berkhayal, tidak berinteraksi sosial yang nyata untuk bersama-sama melakukan kebaikan2. Umat harus saling tolong menolong membentuk kesatuan sosial yang solid-kuat, berperan menentukan dalam kehidupan plural, karena orang lainpun melakukan hal yang sejenis. Hal ini diingatkan oleh Allah SWT dalam al Qur’an surat al Anfal 73

        “Orang kafir laki dan perempuan saling menolong satu dengan lainnya. Jika kalian tidak melakukan hal yang sama maka akan terjadi kerusakan yang berat (dalam masyarakat karena mereka yang berhasil jadi penentu)”

Allahu Akbar 3x

Hadirin yang saya muliakan

V. Kelemahan terakhir yang membuat umat terpuruk adalah karena lengah terhadap POLITIK. Umat sering menganggap bahwa Politik itu bukan bagian dari Islam. Mereka mengira berislam itu cukup dengan beribadah mahdhoh (shalat, puasa, doa, dll) dan beramal sosial belaka (memelihara anak yatim, membuat mesjid, sekolah, dll), padahal al Qur’an dan percontohan Nabi Muhammad SAW jelas memuat tuntunan untuk beraktifitas politik walau dalam posisi sebagai rakyat biasapun. Kelengahan umat dalam hal politik ini membuat kepemimpinan dalam masyarakat yang plural di segala lini, wilayah maupun negara, lalu dipegang oleh orang2 yang tidak faham tentang syariat Islam terkait pemerintahan yang sudah dituntunkan al Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kebijakan nasional yang mengikat hajat hidup rakyat termasuk umat yang ada di daerah dan negara tersebut lalu dikendalikan orang lain, yang tentu saja jauh dari tuntunan Allah SWT. Kebijakan yang salah itu (non-Islami) pasti  berakibat kerusakan sosial dan lingkungan, seperti ketidak adilan, kesenjangan sosial, eksplotasi alam dan pencemaran lingkungan. Tatkala terjadi kesenjangan sosial-ekonomi maka umatlah yang  umumnya berada pada posisi di bawah.

Kekalahan umat Islam yang nyata dalam kancah politik sering disamarkan dengan retorika antara lain berpolitik tingkat tinggi, berpoltik kebangsaan, dan lain2 istilah indah. Bahkan ada pula kekalahan dalam politik itu dihibur bahwa yang penting adalah sukses di akherat mendapat surga dan untuk itu harus berbanyak2 ibadah mahdhoh (kadang terpeleset melakukan bid’ah dhalalah) dan beramal sosial. Tokoh Islam juga menurunkan targetnya dalam berpolitik Islam menjadi sekedar bahwa yang penting negara membolehkan umat beribadah (mahdhoh). Oleh berbagai pemikiran menyimpang dalam hal politik Islam seperti itu maka akibatnya umat lalai membangun dan membesarkan partai politik yang berjuang tegaknya ideologi Islam, yakni menerapkan syariat Allah SWT dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Akibat praktisnya adalah politik Islam kalah bersaing dengan politik sekuler (politik yang berorientasi mengelola masyarakat-bangsa-negara tanpa mengikuti syariat). Kepemimpinan formalpun dengan mudahnya lalu jatuh ke tangan pemimpin sekuler yang membuat kebijakan2 dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, dan lainnya jauh dari syariat Islam. Dampaknya segera dapat dirasakan umat: kelompok sekuler maju pesat dalam kehidupan sosial dan umat Islam kian terpuruk, agama Islam kian terpinggirkan. Astaghfirullah.

Percontohan Nabi Muhammad dalam aktifitas politik amatlah jelas. Sayangnya umat Islam, khususnya para tokoh Islam banyak mengabaikan jejak nabi dalam berpolitik itu. Nabi memulai politk Islam dengan membuat Islam menjadi pemersatu dalam membangun kekuatan politik riel / politik praktis, yang di dalam al Qur’an dinamakan Hizbullah atau Partai Allah. Umat Islam di masa Rasulullah ujungnya menjadi kekuatan politik yang dahsyat, bercitakan tegaknya ideologi Islam, yakni membangun masyarakat-bangsa-negara sesuai tuntunan Allah SWT. Dengan menjadi pemimpin hizbullah itulah maka Nabi akhirnya berhasil menjadi Pemimpin Formal (Kepala Negara ) Madinah yang berpenduduk plural, ada Yahudi, Nasrani, Majusi, dan berbagai agama lainnya. Sesudah menjadi Kepala Negara maka Nabi menyusun dan menerapkan kebijakan nasional bersumber dari tuntunan Allah SWT, baik dalam hal ekonomi, hukum, politik, pendidikan, budaya, pertahanan-keamanan. Madinah akhirnya menjadi negeri besar, maju, sejahtera. Islam tidak lagi dilecehkan, dan umat Islam tidak lagi terpuiruk dan dihinakan orang.

Dari percontohan Nabi itu tampak jelas bahwa dakwah Islamiyah di manapun oleh siapapun seharusnya memuat materi politik Islam sehingga umat tergerak untuk membuat dan membesarkan Hizbullah (Partai berideologi Islam) dan berupaya keras/maksimal memenangkan persaingan dengan partai lain yang mengusung ideologi non-Islam. Sasaran politik Islam amatlah tegas yakni bahwa pemimpin Islamlah yang menjadi pemimpin formal di wilayah atau negerinya. Hanya dengan memegang kekuasaan formal maka syariat Islam terkait kebijakan ekonomi, hukum, budaya dll itu bisa diterapkan demi  tercapainya kesejahteraan dan kemajuan umat dan bangsa. Politik Islam adalah tuntunan Allah SWT yang menjelaskan bagaimana Islam bisa menjadi rahmat bagi alam semesta, mencegah terjadinya eksploitasi terhadap alam dan sesama manusia, mengatasi dekadensi moral, menjaga peradaban manusia tetap luhur membawa keadilan dan berkah. Kelompok Islam manapun, apa ormas, lsm, paguyuban Islam dll harus ikut bergerak dan mendukung politik Islam, dalam lingkup sekecil apapun, seperti RT, RW, kampus, dll, selain mereka beraktifitas mengajak beribadah mahdhoh dan beramal sosial.

Allah berfirman di al Qur’an surat al Maidah ayat 49:

     “Dan aturlah masyarakatmu dengan kebijakan yang dituntunkan Allah. Jangan mengikuti hawa nafsu. Dan waspadalah kepada mereka yang berupaya menjauhkan kamu dari ketaaatan pada tuntunan Allah itu”

Di dalam surat yang sama ayat 56 Allah befirman:

     “Pemimpinmu itu adalah Allah dan Rasulnya dan orang2 yang beriman, yakni yang sudah melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat pada tuntunanNya. Barang siapa menaati Allah dan RasulNya dan orang beriman tersebut maka Hizbullah (Partai Islam) itulah yang menang”

Allahu Akbar,

Hadirin yang saya muliakan,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi dan hasrat untuk segera kembali ke rumah bertemu sanak-saudara sudah semakin kuat. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1436 H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:

“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan beramal sholih, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan beramal sholih. Berikanlah kepada kami ya Allah perlindunganMu agar kami tetap beriman dan beramal sholih dengan benar.

Ya Allah, kami ini memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, keluarga, dan masyarakat-bangsa-negara kami.

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

                                                                Khotbah Iedul Fithrie 1436H/2015M

                                                                di

                                                                Perguruan Muhammadiyah Kapasan,

                                                                Surabaya

Entry filed under: khotbah. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Islam yang Peduli Sains (Bag. 3) ERRONEOUS THINKING OF ATHEISM (A COUNTER ARGUMENT ON STEPHEN HAWKING PARADIGM)

1 Comment Add your own

  • 1. sulthon  |  13 July 2015 at 15:07

    Sangat bagus, aktual dan sangat inspiratif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2015
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: