IEDUL FITHRIE MENGINGATKAN MUSLIM UNTUK MENJADI MUSLIM BERKUALITAS (Khotbah Iedul Fithrie 1437H/2016M)

5 July 2016 at 18:02 Leave a comment

Disampaikan oleh:

Dr. Fuad Amsyari,
Dewan Kehormatan ICMI Pusat

Assalaamu’alaikum Wr.Wb.,

Ifititah

Allaahu Akbar
Hadirin jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Sesudah kita memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas nikmat-karuniaNya yang terlimpah tiada putus-putusnya kepada kita, termasuk limpahan rahmat pada pagi hari ini, hari yang cerah, sejuk, dan segar, mari kita introspeksi kembali menghayati bagaimana seharusnya hidup seorang muslim yang baik, keluarga muslim yang baik, dan kelompok muslim yang baik. Allah SWT menegaskan dalam al Qur’an bahwa umat Islam itu umat terunggul di antara umat lain yang pernah dilahirkan, di mana mereka itu membawa kebaikan, membongkar kemungkaran, dan taat pada tuntunan Allah SWT. Benarkah umat Islam sekarang ini sudah berkualitas seperti itu, menjadi berkualitas unggul?

Ternyata status keunggulan/keutamaan umat Islam yang disebutkan oleh Allah tersebut bukannya tanpa syarat. Apakah umat Islam sudah memenuhi syaratnya?

Allahu Akbar,
Hadirin yang saya hormati,

Pada setiap kesempatan seharusnya kita juga menyampaikan salam dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai manifestasi kecintaan dan penghormatan pada beliau yang teguh–tegar menyampaikan risalah Illahi Rabbi. Dalam upaya beliau untuk membawa umat manusia menjadi umat yang unggul \ utama melalui ketaatan pada tuntunan Allah SWT beliau sejak awal sekali sudah memperoleh berbagai tantangan, bukan sekedar cercaan kata namun juga gangguan fisik dan pembunuhan. Beliau menghadapi caci-maki, penghujatan, disakiti, diisolasi, bahkan nyaris terbunuh oleh serangan musuh Islam: kaum musyrikin, kafirin, dan munafiqin yang cinta dunia, cinta kebathilan, cinta keingkaran pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Rasulullah dimusuhi oleh mereka yang mengaku sudah bertuhan tapi salah dalam mengidentifikasi tuhan, mengaku sudah mengikuti tuntunan tuhan tapi salah mengidentifikasi tuntunan tuhan. Kaum musyrikin, kafirin, dan munafikin itu secara sembunyi maupun terang-terangan memusuhi Nabi yang mengajak bertuhankan tuhan yang benar, Allah SWT dan mengikuti tuntunan tuhan yang benar yakni al Qur’anul Kariem. Musuh Islam itu tidak sadar bahwa mereka telah tersesat ke jalan yang salah, yang merugikan diri sendiri dan merusak tatanan masyarakat dan lingkungannya.

Allahu Akbar.

Alhamdulillah, dengan perjuangan dan pengorbanan nabi yang luar biasa lalu lahirlah masyarakat muslim yang benar dalam mengidentifikasi tuhan, kokoh mengikuti tuntunan al Qur’an, dan akhirnya terbentuklah ‘khoira ummat’, umat yang unggul/utama yang membawa rahmat bagi umat manusia dan alam semesta. Sungguh Islam itu rahmatan lil ‘alamin tatkala tuntunan Allah SWT diterapkan secara utuh oleh umat Islam, tuntunan tentang ketuhanannya, tuntunan tentang ritualnya, tuntunan tentang akhlaqnya, tuntunan tentang keilmuannya, tuntunan tentang cara hidupnya sebagai pribadi, keluarga dan berbangsa-bernegaranya. Apakah umat Islam masa kini bisa mencontoh umat Islam di era Rasulullah? Jawaban obyektifnya adalah BELUM! Mengapa? Karena umat Islam masa kini belum bisa instiqomah menerapkan ajaran al Qur’an dan Sunnah Nabi dalam proses kehidupannya secara utuh. Hanya dengan memenuhi syarat begitu maka umat Islam akan menjadi umat yang utama, membawa rahmat bagi umat manusia dan alam.

Allahu Akbar

Banyak kritikan yang dilemparkan pada umat Islam masa kini yang terasa sungguh pedas tapi realistik. Coba kita renungkan dengan hati lapang tatkala seorang filosof Perancis Renan menantang: “Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam al Qur’an. Tapi tolong tunjukkan satu saja Komunitas Islam (Negara dengan mayoritas penduduknya Muslim) di dunia saat ini yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”.

Bagaimana jawabannya? Memang tidak ada, atau yang lebih optimistik: Belum ada. Mengapa? Karena tidak ada komunitas (negeri) muslim saat ini yang menerapkan ajaran Islam secara utuh, jangankan terkait dengan tata kelola kenegaraannya, bahkan dari sisi pribadi dan kekeluargaan muslimnyapun terlalu banyak muslim yang hidup di luar ajaran Islam. Astaghfirullah. Atau dengan bahasa optimistik: umat Islam di dunia masa kini masih sedang berusaha membangun peri kehidupan pribadinya, berkeluarganya, berbangsa-bernegaranya untuk memiliki kesesuaian secara utuh dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Allahu Akbar,
Hadirin jama’ah shalat Ied yang saya hormati,

Coba kita cermati bagaimana cara hidup umat Islam masa kini pada umumnya. Acuan yang dipakai tentulah al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda “Setiap manusia itu lahir dalam keadaan fithroh, orang tuanyalah yang membuat dia kemudian berkembang memiliki karakter Yahudi, Nasrani, dan Majusi”.

Hadits ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kondisi FITHROH itu adalah kondisi Islam, belum ada dosa, memiliki kesaksian bahwa tuhannya adalah Allah SWT. Dalam perkembangannya maka si bayi akan mendapat pengaruh lingkungan sekitarnya, yang diawali oleh pengaruh orang tuanya, lalu apakah dia kemudian hidup dengan bertuhankan secara benar, mau mengikuti atau bahkan malah mengingkari tuntunan yang benar dari tuhannya. Di sinilah makna bahwa Iedul fithrie harusnya mengingatkan dan membawa manusia menjadi muslim berkualitas. Bagaimana kriteria operasional muslim berkualitas itu? Mari kini diambil prinsip-prinsip pokok/strategis dari al Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai ukuran Muslim Berkualitas. Muslim berkualitas harusnya:

1. Memiliki Iman yang benar, yi keyakinan bahwa alam semesta ini ada Penciptanya, yakni Allah SWT dengan sifat2 khasnya, seperti antara lain yang disebut dalam surat al Ikhlas: tuhan itu Esa, tempat bergantung semua makhlukNya, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada apapun yang bisa menyamai kekuasaanNya. Muslim berkualitas tidak akan tergoyahkan tentang identitas tuhan yang harus diimaninya, tidak tergoda oleh rayuan apapun, termasuk tidak akan terpengaruh oleh ajakan Atheisme, Pluralisme, maupun Kesyirikan.
2. Keimanan yang ada di qalbu/hati itu harus selalu dijaga dengan melakukan ibadah mahdhah (ritual) yang bernilai fardhu, yakni: Shalat 5 waktu, Puasa Ramadhan, membayarkan Zakat, dan melakukan Haji jika sudah dapat memenuhi syaratnya. Jangan sekali-kali seorang muslim meninggalkan ibadah fardhu tersebut, syukur jika ditambah dengan ibadah sunnah asalkan bukan yang bersifat mengada-ada, yang tidak ada tuntunan Rasulullah dari hadits yang shohih-mutawattir. Jangan sekali-kali menjalankan ibadah mahdhah yang tidak jelas bahwa itu datangnya dari Rasulullah. Ibadah mahdhah hasil reka2an saja bahkan diancam oleh adzab neraka.
3. Muslim berkualitas harus menjaga AKHLAQ kesehariannya sebagai bentuk tuntunan Allah SWT dalam menjaga hubungan antar manusia. Akhlaq ini dapat diklasifikasi dalam 2 kelompok:
a. Dalam Berkata: harus Jujur & Benar, tidak bohong/dusta/ berkelit menutupi dustanya,
b. Dalam Berbuat: harus suka Memberi bukan peminta, apalagi menjadi pencuri, harus mau Bekerja keras bukan jadi pemalas/bersantai, harus Bersih-Rapi bukan jorok-kotor berantakan, harus suka Menolong orang bukan pengganggu-perusak, harus memegang Amanah bukan curang, harus Disiplin, tepat waktu, tepat janji bukan pengingkar janji, molor semau sendiri, harus Ikhlas dalam kebaikan bukan serba menghitung akan dapat apa dan ria’/pamer
4. Muslim berkualitas harus menguatkan kemampuannya KEILMUANnya. Ilmu dalam Islam berarti kemampuan untuk memahami seluk beluk kehidupan manusia, termasuk sunnatullah atau rahasia alam semesta yang diciptakan Allah SWT. Ilmu itu diperoleh manusia dari 2 sumber utama, yang kedua sumber itu harus dikuasai semaksimal mungkin.
a. Sumber Wahyu: ilmu dari informasi yang diberikan langsung oleh Allah SWT melalui jalur transendental ke Nabi Muhammad SAW. Dari sumber ini maka ilmu tersebut berupa isi al Qur’an dan Hadits Nabi yang shohih-mutawattir. Dengan memahami al Qur’an (tidak sekedar membunyikan-menyuarakan-melagukan) maka umat Islam akan mengetahui berbagai hal, baik yang bersifat ghoib (dunia yang tidak terjamah oleh indera, seperti: ruh, malaikat, jin, surga, neraka) maupun yang bersifat sahadah (dunia yang dapat diamati oleh indera seperti bumi, langit, binatang, tumbuhan). Ilmu dari sumber wahyu termasuk kewajiban2 ritual manusia kepada tuhannya dan kewajiban non-ritual manusia (seperti akhlaq, tata kelola masyarakat, kejadian masa silam) yang wajib diyakini dan dilaksanakan oleh manusia yang beriman pada Allah SWT.
b. Sumber Sains: informasi tentang manusia dan alam semesta yang diperoleh melalui kajian atau pengamatan inderawinya manusia sendiri. Sains ini berkembang amat pesatnya, tentang dunia makro seperti rahasia langit dengan galaxi, bintang, planetnya dan tentang dunia mikro yang amat kecil seperti molekul, atom, partikel proton- elektron-positron-nutrino, dan energi photon. Dengan kemampuan Sains ini manusia bisa mendapat banyak kemudahan untuk memanfaatkan temuannya dalam kehidupan di dunia fana ini, menguasai berbagai hal yang ada di sekitarnya untuk kemudahan dan kenyamanan dalam kehidupannya. Dengan sains itu pula manusia bisa melakukan berbagai manipulasi dan rekayasa pada materi sekitarnya untuk tujuan pemuasan keinginan tahunya, menambah kekayaan, dan memperoleh kekuasaan. Begitulah hakekat kehidupan di dunia fana sebagai sunnatullah. Sayang sekali Umat Islam sungguh amat lemah dalam kemampuan Sains-teknologi ini sehingga di hidup keduniannya banyak ditipu dan dieksplotasi orang lain.

5. Dalam kehidupan bermasyarakat yang plural muslim berkualitas harusnya bisa menjadi Pemimpin supaya dapat memberi arahan hidup yang benar pada siapapun yang dipimpinnya. Setiap muslim tentu perlu berteman, berorganisasi, dan berjuang. Dalam tuntunan Islam, seorang muslim yang berkualitas tidak boleh keluar dari jalur kebenaran terkait pergaulan sosialnya. Misi perjuangan seorang muslim terikat kepada keimanan tauhidnya, bertuhan pada Allah SWT, dan harus mengajak orang lain untuk bisa bersamanya ke jalan yang benar, mengikuti tuntunan hidup yang sesuai dengan isi al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam al Qur’an ditegaskan setiap muslim harus berorganisasi dalam suatu KHIZB atau kelompok yang bermisi akan menegakkan kebenaran tauhid dan tuntunan Allah SWT (dikenal sebagai Khizbullah), bukan kelompok yang bermisi akan mengikuti tuntunan yang salah dari syetan (Khizbusyaitan). Memilih teman harus yang benar, memilih kelompok harus yang benar, dan memilih partai politik juga harus yang benar. Dalam hidup keseharian seorang muslim tidak dilarang untuk berhubungan dengan orang manapun, dalam pergaulan, belajar-mengajar, jual-beli, bisnis, dan semacamnya, namun begitu terkait dengan masalah kepemimpinan maka seorang muslim berkualitas diwajibkan memilih pemimpin yang sesuai dengan keimanan yang benar dan jalan hidup yang benar, yakni keimanan kepada Allah SWT dan jalan hidup yang berpanduan al Qur’an dan Hadits. Bukan muslim berkualitas jika memilih orang lain sebagai Pemimpin walau nampaknya baik hati dan dermawan karena dia pasti akan mengajak ke jalan keimanan yang lain dan jalan hidup yang bukan tuntanan Allah SWT. Sekali lagi dalam aspek kepemimpinan di dunia plural kaum muslimin pada umumnya banyak terjebak oleh rekayasa Non-Islam.

Allahu Akbar,
Hadirin yang saya hormati,

Mari kini dicermati bagaimana kehidupan kaum muslimin jaman sekarang jika diukur dengan ukuran yang telah diuraikan di atas. Betapa banyak umat Islam yang keimanannya tidak teguh beriman hanya kepada Allah SWT, dan menganggap keimanan pada selain Allah SWT itu sama baiknya, sama benarnya.

Betapa banyak umat Islam yang juga tidak menjaga keimanannya secara baik dengan mengabaikan pelaksanaan kewajiban fardhunya, mudah meninggalkan shalat wajib 5 waktu, tidak berpuasa Ramadhan, tidak membayar zakat secara cukup, dan tidak menunaikan haji walau hartanya sudah banyak.

Akhlaq umat Islam masa kini juga amat memprihatinkan, jika bicara sering bohong, tidak jujur, tidak benar. Dari sisi perbuatan banyak umat Islam yang tidak senang kerja keras, begitu berpenghasilan sedikit, pandai sedikit sukanya bermalasan/santai/begadang sampai larut malam; jauh dari sikap dermawan, lebih senang meminta walau sudah berkecukupan dan bahkan masih mau manipulatif, mencuri, termasuk korupsi; tidak disiplin, molor waktu, sering ingkar janji; keikhlasannya lemah, setiap melakukan kebaikan berharap-harap segera dapat balasan dan ria’. Astaghfirullah.

Tingkat keilmuan umat Islam ditinjau dari sumber Wahyu sungguh masih lemah, pemahaman terhadap isi al Qur’an rendah walau banyak yang sudah tartil ngajinya dan merdu qira’ahnya, tidak cermat menyeleksi hadits Nabi sehingga terjebak pada hadits dhoif (lemah) dan maudhu’ (palsu) lalu diamalkan sebagai amalan sholih padahal bid’ah dhalalah. Orientasi hidupnya untuk mendapat pahala yang bersifat ghoib tidak verifikatif disertai cenderung lupa sisi dosa yang sudah banyak dilakukan, lalu optimis akan masuk sorga. Banyak kaum muslimin yang salah faham, menganggap sudah cukup berislamnya hanya dengan melakukan sesuatu yang bersifat ghoib atau ritual. Mereka orientasinya pada adanya pahala yang diterima sesudah berbuat yang ghoib atau melakukan ritus-spiritual. Dirinya sudah merasa suci bersih dari semua dosa (yang juga ghoib) sesudah puasa di bulan Ramadhan dan mengira matinya nanti tentu akan masuk sorga. Karena sudah shalat, apalgi ditambah sholat tahajud, rawatib, dan sholat sunnah lainnya maka kewajibannya sebagai orang Islam merasa sudah terpenuhi semua dan akan masuk sorga. Karena terus berdoa minta ampun menganggap dosanya sudah habis. Sesudah membayar zakat seadanya maka semua kekayaannya dikira sudah bersih (walau ada yang dari hasil kejahatan) dan akan masuk sorga. Begitu banyak harapannya mendapat sorga karena mengira pahalanya bertumpuk dan dosanya bersih padahal kedua hal itu abstrak, tidak pernah bisa dia ketahui persisnya, tidak dapat dibuat balansnya, hanya kira-kira, disertai harapan dan harapan.

Allahu Akbar,

Dari tinjauan Sains-teknologi kondisi umat Islam tambah memprihatinkan lagi. Jumlah umat Islam yang memiliki kemampuan sain-teknologi yang sedikit imbang saja dari kemampuan orang lain bisa dihitung dengan jari. Hampir di semua keilmuan dalam sain-teknologi ini umat Islam tertinggal jauh dan sepertinya ketertinggalan itu akan semakin jauh. Peningkatan keilmuan di bidang sain teknologi ini juga tergantung pada kemampuan finansial. Bagaimana umat Islam bisa mengejar ketertinggalannya jika kemampuan finansial dan instrumentasi juga jauh tertinggal? Umat Islam juga banyak lupa bahwa sumber finansial terbesar di dunia adalah kemampuan ekonomi / kekayaan negara. Umat Islam harus memimpin negara supaya bisa memanfaatkan kekayaan negara untuk bisa mengembangkan sain-teknologi secara pesat. Sayang sekali bahwa banyak negeri muslim yang kepemimpinan negeri sudah di tangan umat Islam ternyata tidak memanfaatkan kelebihan itu untuk kemajuan sain-teknologi umat, tapi untuk sesuatu yang malah memperkaya dan menguatkan negeri lain. Timur Tengah yang kaya raya ternyata perkembangan sain-teknologinya amat terbatas, banyak kekayaannya dipakai untuk proyek mercu-suar keduniaan yang menggunakan teknologi asing yang mereka bayar dengan mahal, tidak membuat pemberdayaan sain teknologi umat Islam. Begitulah fakta dan hakekat kemampuan umat Islam dalam bersaing di dunia plural dalam mengejar ketertinggalannya di dunia sain-teknologi.

Dalam aspek kepemimpinan negeri yang penduduknya pasti plural jelas tampak bahwa kekuatan politik umat Islam amat lemah. Banyak negeri dengan mayoritas penduduknya muslim namun visi umat Islamnya amat lemah dalam Islam Politik. Penduduk muslimnya malah bergabung dengan kelompok politik yang tidak memperjuangkan misi kepemimpinan Islam. Bahkan dalam intern pengelolaan partai Islam sendiri pengurusnya sering mengabaikan misi Islamnya, tidak serius menerapkan syariat Islam dalam pengelolaan partainya sehingga terjadilah degradasi akseleratif dari proses kehidupan berbangsa bernegara di banyak negeri muslim.

Allahu Akbar,
Hadirin yang berbahagia,

Allah SWT dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 185 tegas memberi perintah:

“Wahai orang yang beriman, berislamlah kalian secara utuh”

Perintah ayat ini amat tegas bahwa umat Islam harus berbuat sesuai ajaran Islam dalam hal apapun di kehidupannya, baik dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bersosial, berbangsa-bernegara, berkehidupan internasional. Apakah kita hanya akan melakukan kewajiban ritualnya saja dan mengabaikan tuntunan Allah SWT saat melakukan hal-hal nyata keseharian yang non-ritual? Banyak pengajar Islam yang hanya mengajarkan tuntunan Allah masalah tauhid dan ritual saja, bahkan amat berlebihan atau melebih2kan, dan melalaikan mengajar tuntunan Islam tentang berkeluarga, beramal sosial dan berpolitik Islam. Pengajaran Islam seperti ini ikut berkontribusi pada lemahnya umat Islam sehingga menjadi muslim yang tidak berkualitas, membawa dampak besar yang buruk pada nasib umat Islam.

Allah menegur lagi dalam surat al Baqarah:

“Apakah mereka itu hanya mau mengetrapkan sebagian saja isi Kitabullah (sisi ibadah mahdhahnya) dan menolak sebagian lainnya (syariat sosial-kenegaraannya). Sikap mereka yang seperti itu membuat mereka terhinakan semasa hidupnya di dunia sedang di akherat nanti mereka akan menerima siksa yang pedih.”

Bagi mereka yang menolak ajaran al Qur’an, walau hanya sebagiannya saja (syariat sosial-kenegaraan), Allah SWT akan menimpakan kepada mereka kegagalan dalam kehidupan dunianya, sedang di akherat nanti para pelaku-pelakunya pasti akan menerima adzab di neraka.

Allahu Akbar,
Hadirin yang berbahagia,

Rasanya matahari sudah semakin tinggi. Maka marilah kita akhiri khotbah Iedul Fithrie 1437H ini dengan doa yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah SWT:
“Ya Allah, kami telah mendengar seruan untuk beriman dan bertaqwa kepadaMu, dan kami telah menjadi orang yang beriman dan bertaqwa. Berikanlah kepada kami ya Allah pertolonganMu agar kami tidak keliru dalam mengartikan makna keimanan-ketaqwaan kami itu sehingga kami tidak menjadi tersesat dalam kehidupan yang penuh godaan iblis ini.
“Ya Allah, kami memang memiliki banyak kelemahan, maka berikanlah kepada kami ya Allah kekuatan untuk melihat yang benar sebagai yang benar dan melihat yang salah sebagai yang salah, sehingga kami akan mampu melangkah secara benar dalam kehidupan kami di dunia fana ini dan mampu membawa kemanfaatan bagi diri, masyarakat, dan lingkungan kami.
“Ya Allah, kuatkanlah iman kami, tambahkanlah ilmu kami baik yang bersumber dari Wahyu maupun yang bersumber dari Sain Teknologi, dan teguhkanlah ketaatan kami terhadap syariatpuMu yang manapun juga.
“Ya Allah, Ampunilah segala kesalahan kami, dan jauhkanlah kami dari siksa nerakaMu yang maha pedih itu. Amin.”

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.,

Surabaya, 1 Syawal 1437 H,
Khotbah Iedul Fithrie,
di Mesjid KH Agus Salim,
Ngagel Jaya Tengah,
SURABAYA

Entry filed under: Pemikiran. Tags: .

EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM KHOTBAH NIKAH PERKAWINAN ANANDA ERNISA CHUMAIDAH, 04 SEPTEMBER 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2016
M T W T F S S
« Apr   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: