KHOTBAH NIKAH PERKAWINAN ANANDA ERNISA CHUMAIDAH, 04 SEPTEMBER 2016

3 September 2016 at 09:41 Leave a comment

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Assalaamu’alaikum Wr Wb

                                                         Iftitah

Para ‘Alim ‘Ulama, Sesepuh, Hadirin sekalian yang saya hormati,

Ananda Ernisa dan Fikri, Calon Mempelai yang saya cintai

  1. Nikah itu bukan peristiwa biasa dalam kehidupan manusia, bukan sekedar asesoris hidup yang seenaknya dijalankan dan dibuang semaunya. Nikah itu memberi dampak besar & bermakna pada kualitas hidup manusia, baik di dunia maupun sesudah matinya kelak. Nikah akan menjadi satu determinan/penentu nasib manusia pada kehidupan masa depan, menentukan sukses atau gagalnya, bahagia atau menderitanya.
  2. Pada sisi lain, proses Pernikahan juga bukan rutinitas tapi juga bukan pula ajang unjuk gigi dalam kehidupan sosial, momentum pamer popularitas, kekayaan, dan kekuasaan duniawi. Perhelatan pernikahan adalah pelaksanaan tanggung jawab orang tua untuk menghantar putera-puterinya menjadi keluarga baru di tengah masyarakat, menapak masa depan mereka, dengan mengharap ridho Allah SWT disertai saksi dan doa dari yang menghadirinya.
  3. Nikah dan perhelatan Pernikahan itu salah satu bagian dari melaksanakan perintah Allah SWT, Pencipta umat manusia dan alam semesta, yang Esa, yang Tidak beranak dan diperanakkan, Tempat semua mahluk bergantung, yang Kekuasaannya tidak terkira dan tidak tertandingi oleh apapun, yang jika tuntunanNya ditaati akan berdampak kemuliaan dunia-akherat dan jika syariatNya dilanggar akan berdampak kegalauan hati dan keterpurukan hidup manusia. Nikah dan perhelatan Pernikahan itu ibadah bukan sekedar pranata sosial-politik manusia.
  4. Dari pernikahan itu manusia membangun keluarga (‘aailah) untuk melengkapi misi kemanusiaaan, berpeluang menghadirkan ketentaraman hakiki, membangun rasa kasih-sayang, dan mendatangkan Rahmat dari Allah SWT. Begitulah kehendak Allah dalam penciptaan manusia. (Qs 30:21). Dari pernikahan pula maka Allah SWT dapat berkehendak menurunkan manusia baru yang harus menjadi tanggung jawab pasangan suami-istri itu untuk ditimang dan dididik dengan sungguh hati supaya menjadi manusia yang berkualitas, beriman dengan benar hanya pada Allah SWT, hidup menjalankan syariat Islam, membawa kebaikan bagi diri dan sekitarnya. Jangan sekali-kali pasangan keluarga muslim menelantarkan keturunannya sehingga menjadi manusia yang beriman secara salah, mengikuti tuntunan hidup yang salah, sehingga merugikan diri, keluarga, dan umat manusia. Rasulullah bersabda dalam hadits : “Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithroh, fa abawahu yunassirooni, au yumajjinaani, au yuhauwidaani). Naudhibillahi min dahaalik.
  5. Dalam khotbah nikah saat pernikahan puterinya Siti Fatimah, Rasulullah menegaskan bahwa pernikahan itu juga untuk menghimpun apapun yang terserak dari keluarga masing2 mempelai sehingga bisa bersatu bersinergi menjadi kekuatan sosial yang lebih besar dan solid, saling mendukung satu sama lain untuk membangun kekuatan umat Islam yang kian kokoh-kuat. Kebersamaan umat Islam dari bangunan keluarga2 muslim yang saling berkaitan itu akan membawa keberdayaan umat Islam dalam menghadapi dan mengatasi berbagai tantangan dan permusuhan dunia, khususnya yang datang dari kaum kaafiriin, munafiqiin, musyrikiin. Untuk membangun dunia yang adil-sejahtera penuh kedamaian dan keharmonisan, membawa Rahmat bagi ‘Alam semesta, maka Islam harus memimpin dunia, memimpin negeri, memimpin wilayah. Hanya dengan menerapkan syariat kemasyarakatan dalam kepemimpinan sosial-politik plural itu maka Islam akan bisa menjadi Rahmatan lil ‘alamin. Pendekatan kebersamaan keluarga2 Islam itu akan memperkokoh kekuatan sosial-politik umat Islam. Kekuatan sosial-politik umat Islam itulah yang memungkinkan Islam bisa menjadi Pemimpin dunia plural, menang dalam bersaing dengan kekuatan sosial-politik pesaingnya, kaum sekuler, kafirin, munafiqin. Kebersamaan umat melalui jaringan keluarga2 muslim itulah yang sering diabaikan umat Islam dalam membangun kekuatannya. Dengan entengnya banyak keluarga muslim membiarkan putera-puterinya menguatkan musuh Islam melalui pernikahan.
  6. Saya percaya ananda Fikri dan Ernisa sudah terbekali dengan berbagai syariat Islam dalam pengelolaan keluarga, seperti bahwa: Pemimpin keluarga itu adalah sang suami yang harus dihormati dan ditaati, jika ada perbedaan pandangan maka solusinya harus dari al Qur’an & Hadits shohih, Budaya Islam harus dikembangkan dalam kehidupan berkeluarga berbasis tuntunan mahram dan aurat, dan lainnya. Saya ingin menambahkan beberapa kewajiban syar’i yang sering diabaikan dalam keluarga Islam, yakni jangan sekali kali meninggalkan yang fardhu khususnya shalat 5 waktu, puasa ramadhan, membayar zakat-infaq-shadaqah, harus terus mendalami ‘ilmu secara utuh, yakni yang bersumber Wahyu (al Qur’an dan Hadits) dan Sains Teknologi, dan harus berjihad menyebarkan ajaran Islam, menguatkan umat Islam, dan membela agama Islam jika dihina dan dilecehkan orang.
  7. Misi hidup kalian, setelah menjadi keluarga nanti, tidak boleh egoistik hanya untuk kesenangan diri dan keluarga saja. Jangan hanya berhenti untuk mencapai keluarga yang sakinah-mawaddah-rahmah, yang setelah tercapai berhasil menjadi keluarga rukun, kaya-raya, ternyata kemampuan keluarganya hanya untuk terus menimbun kekayaan, berbangga2, berfoya, memanjakan anak keturunan dengan kesenangan dunia, pada hal umat dan rakyat di sekitarnya masih melarat dan negerinya terpuruk dengan penduduk yang akhlaqnya rusak, sarat ketimpangan dan ketidak adilan, terkuras kekayaan alamnya. Dengan kemampuan harta, popularitas, dan mungkin dengan kekuasaan sosial-politiknya lalu berharap2 mati masuk surga hanya dalam ibadah mahdhoh belaka (bahkan termasuk yang bid’ah dhalalah), mengabaikan syariat Islam lain yang diperintahkan Allah SWT untuk dilaksanakannya, khususnya aspek sosial-politik Islam. Jangan lupa misi Islam itu adalah mewujudkan Rahmat bagi Umat Manusia dan Alam semesta yang harus ditunaikan setelah keluarga menjadi sakinah-mawaddah-rahmah.
  8. Hidup masa sekarang ini harus cermat dan waspada terhadap berbagai tantangan dan rekayasa orang lain, musuh Islam, seperti: upaya mengerdilkan makna iman dengan wacana pluralisme, janji2 masuk sorga hanya dengan ibadah mahdoh, anjuran amal sosial sebanyak2nya dengan menafikan politik Islam sehingga umat Islam ternina-bobokkan dalam kesibukan dan wilayah-negerinya terus dikuasai/dipimpin orang lain dengan berbagai kebijakan sekulernya yang merusak umat Islam.
  9. Demikian, cukuplah kiranya khotbah nikah dalam pernikahan anakku Ernisa Chumaidah dengan calon suami pilihannya yang saya juga menyetujui, yakni ananda Nuris Alfan Fikri. Semoga Allah SWT meridhoi dan memberkahi mereka. Amin.

Wassalaam,

Surabaya, 04 September 2016

 

Fuad Amsyari

Entry filed under: Pemikiran. Tags: .

IEDUL FITHRIE MENGINGATKAN MUSLIM UNTUK MENJADI MUSLIM BERKUALITAS (Khotbah Iedul Fithrie 1437H/2016M) Five Most Questioned Principles Related to Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2016
M T W T F S S
« Jul   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: