DDII Itu Gerakan Dakwah?

1 April 2017 at 21:34 Leave a comment

DDII ITU GERAKAN DAKWAH?

(Menyambut 50th Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

 

Fuad Amsyari 

Dewan Kehormatan ICMI Pusat

 

Suatu waktu saya diundang berbicara dalam Forum Pelatihan Mubaligh di Mesjid al Hilal Surabaya yang diselenggarakan DDII Jawa Timur. Pesertanya sekitar 100 orang da’i dari berbagai kalangan. Ceramahnya saya beri judul “GERAKAN DAKWAH ITU BAIK TAPI TIDAK CUKUP UNTUK MEMBAWA KE KEJAYAAN ISLAM DAN KEMULIAAN KAUM MUSLIMIN DI INDONESIA”.

 

Dalam diskusi  ada peserta yang mengungkapkan pendapat bahwa jawaban satu2nya untuk membawa kejayaan Islam dan umat di negeri ini adalah gerakan dakwah. Saya katakan itu keliru besar karena dua alasan syar’i, yakni:

      1). Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam sehingga berhasil membawa kejayaan Islam dan kemuliaan umatnya TIDAK HANYA DENGAN DAKWAH SAJA; dan

     2). Bahkan dalam skala  individualpun dakwah bisa terhalang oleh hati manusia yang sudah tertutup rapat yang tidak akan bisa menjadi sadar oleh nasehat  apapun (al Qur’an surat al Baqarah ayat 6 yang maknanya bahwa orang kafir itu akan tetap saja kafir walau diingatkan bagaimanapun).

Ke dua fakta di atas sering dilupakan umat Islam dalam upayanya menyebarkan kebenaran yang diajarkan Allah SWT, apalagi jika sedang berada dalam tekanan berat lawan Islam di skala makronya (pemerintahan yang tidak Islami). Memang banyak kalangan Islam yang menganggap  hanya dengan gerakan dakwah  akan tercapailah cita-cita izzul Islam wal Muslimin, lalu mengabaikan/meninggalkan cara-cara lain yang dicontohkan Nabi, sehingga umatnya  menjadi terperangkap  pola pikir keislaman yang salah dan  hidupnyapun terperosok dalam keterpurukan.

Saya jadi teringat sejarah berdirinya DDII. Konon diberitakan tatkala Masyumi sebagai Partai Politik Islam bubar oleh tekanan penguasa saat itu dan tokohnya diawasi ketat kegiatannya maka Pak Natsir sebagai salah seorang tokoh sentral ex Masyumi lalu mendirikan DDII (1967) yang bergerak di bidang dakwah. Dengan pengaruh beliau dan tokoh2 ex Masyumi lainnya alhamdulillah DDII bisa bergerak di Indonesia, punya kantor, akitifitas mendidik kader dakwah, pengiriman ustad ke berbagai wilayah Indonesia termasuk di daerah terpencil, menyekolahkan kader dakwah yang terpilih untuk belajar Islam di Arab Saudi dll. Banyak kegiatan dakwah yang dilakukan DDII dan semua itu tentu bermanfaat. Saya termasuk yang pernah mendapat rekomendasi DDII sehingga bisa pergi ke Annahaim, Los Angeles USA  mengikuti seminar tentang Pengelolaan Kota Suci Haramain. Alhamdulillah. Namun di luar itu saya tidak banyak diajak untuk terlibat secara tehnis kegiatan DDII berskala luas, beda dengan beberapa teman aktifis Islam seangkatan seperti Amin Rais, Nurkholis Majid, Yusuf Amir Faesal, AM Syaifudin dll, atau generasi yang muda seperti Yusril. Maka saya tidak banyak bisa cerita tentang DDII ini.

Walau begitu saya terus mengamati aktifitas DDII dan berkesimpulan  memang fokusnya ke dakwah Islamiyah. Oleh sebab itu saat saya diminta menulis terkait 50th DDII saya akan memberi kontribusi  menyampaikan visi saya tentang dakwah di negeri ini, khususnya jika dikaitkan dengan Politik yang sedikit banyak melatar-belakangi  berdirinya DDII tersebut.

Menjelaskan kepada para peserta pelatihan dakwah yang diselenggarakan DDII di awal  tadi, saya lalu menerangkan lebih terinci apa yang selain dakwah yang diperlukan umat Islam Indonesia dalam upaya  mencapai kejayaan Islam dan kemuliaan hidup umat dan bangsa di masa DAMAI. Rasulullah jelas menunjukkan caranya, yakni POLITIK, gerakan yang bertujuan untuk memegang kendali dan mengelola tatanan negara agar diatur sesuai tuntunan Allah SWT di bidang berbangsa-bernegara sehingga kekuasaan tidak dimanfaatkan orang untuk dieksploitasi dan dibawa ke arah kedholiman yang membawa kerusakan umat manusia. Dengan lingkungan makro (negara) yang dikelola/terkendali sesuai  tuntunan Allah SWT maka manusia  (bangsa yang plural) akan tersejahterakan dalam kehidupan ekonomi serta terselamatkan dari kerusakan akhlak, dan umatpun juga termuliakan, tidak terhinakan dan terlecehkan. Itulah sebabnya di masa Nabi, Islam bukan hanya sebagai gerakan dakwah tapi juga sebagai KHIZB, institusi Politik yang mengusung Ideologi Islam, berhadapan dan memenangkan perjuangan terhadap pengusung Ideologi Sekuler yang dibawa Yahudi, Nasrani, Musyrikiin (lihat Qur’an surat al Maidah ayat 56). Ideologi Islam itu tidak mungkin bisa direalisir oleh gerakan dakwah yang bervisi dan mengajarkan untuk bersikap NETRAL TERHADAP AKTIFITAS POLITIK PRAKTIS. Gerakan dakwah hanya akan berhasil membawa kejayaan Islam dan mendatangkan kesejahteraan-keadilan bagi umat dan bangsa yang plural jika mau bersama dan berfihak pada Partai Politik Islam yang mengusung misi IDEOLOGI ISLAM. Itulah hakekat POLITIK sebenarnya. Sungguh menyesatkan umat jika ada suatu gerakan dakwah dengan tegasnya menolak untuk berpolitik praktis, bahkan ternyata MEMBIARKAN SAJA UMAT YANG MENJADI ANGGAUTANYA MEMILIH PARTAI POLITIK SEKULER yang tidak memperjuangkan ideologi Islam dalam menjalankan kekuasaan negara. Gerakan dakwah yang dimensinya sekedar memberikan nasehat-bimbingan ritual plus akhlak pribadi dan ajakan beramal sosial tentu baik saja, namun tidak akan mampu membawa ke kejayaan Islam dan kaum muslimin serta mendatangkan kesejahteraan-keadilan bagi bangsa yang plural. Bahkan jika dakwahnya malah mengajarkan umat untuk bersikap NETRAL dalam politik praktis maka itu sudah pasti akan berdampak kontra-produktif terhadap perjuangan tercapainya izzul Islam wal muslimiin. Dan tentu menjadi lebih naif lagi apabila dakwahnya malah mengajak umat Islam mendukung Partai Sekuler, mengusung/mendukung kafirin menjadi pemimpin formal, sehingga itu pasti melawan syariat dan akan terkena adzab Allah SWT di dunia dan di akherat. Sungguh disayangkan bahwa banyak Ormas-LSM Islam di Indonesia yang bergeraknya hanya  gerakan dakwah terbatas pada ritual dan amal sosial saja sehingga negerinya tetap dikelola secara sekularisktik selama berpuluh tahun merdeka. Ujungnya? Perhatikan penilaian United Nation beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa negeri ini masih menjadi atau mendekati ‘Negara Gagal’. Astaghfirullah. Bagaimana sekarang? Bukankah akhir-akhir ini gencar diberitakan bahwa negeri ini akan dicaplok Negeri Cina yang Komunis? Coba direnungkan memakai pendekatan tertinggi yakni pendekatan aqidah di mana letak kesalahannya.

Dengan pemahaman pemikiran seperti diuraikan di atas maka kian difahami bahwa jika Kekuatan Ideologi Sekuler (bisa bernama macam-macam: seperti Komunis atau Kapitalis atau Nasionalis) sampai menang dalam pemilu dan memegang kekuasaan negara maka jelas mereka akan menjadi lebih efektif membuat saingan mereka, Islam Politik, kian lemah dan terus kalah, nilai non-Islamilah yang akan dikembangkan dalam merajut budaya bangsa sehingga akhlak/moral umat rusak, banyak  pemurtadan, pemunafikan orang Islam, kekayaan negeri akan terhisap asing yang sejalan dengan ideologi mereka, dan rakyat pada umumnya kian terpuruk. Bahkan dalam upaya untuk bisa terus berkuasa, kekuatan politik sekuler tidak mustahil akan mengerdilkan semua organisasi Islam dengan berbagai alasan, termasuk ormas-LSM Islam, kecuali yang mau memperkuat secara langsung ataupun tidak langsung  kekuatan politik sekuler mereka.

Untunglah  perkembangan akhir-akhir ini di Indonesia menunjukkan sedikit optimisme yakni  kian banyak lembaga Islam yang dengan tegas dan jelas mengingatkan keberadaan  firman Allah SWT terkait dengan kepemimpinan di dunia plural, seperti isi al Qur’an surat al Maidah ayat 51. Juga banyak umat Islam di negeri ini yang masih mau menunjukkan kesiapan pengorbanan moril materiil seperti adanya kebersamaan sosial untuk menolak penistaan al Qur’an melalui aksi sosial 411 dan 212 yang lalu. DDII jelas berpartisipasi aktif dalam semua upaya di atas. Bahkan DDII sudah menjadi pelopor membawa penyadaran salah satu poin strategis umat Islam dengan keluarnya Hasil Telaah Pusat Kajian DDII no. 06/B-Mafatiha/II/1438/2017 tentang Sanksi Agama bagi Pendukung Penista Agama dan Pemilih Pasangan Calon Pemimpin Non-Muslim. Dengan berdasarkan ayat al Qur’an dan Hadits maka DDII menegaskan orang Islam yang memilih Kafirin sebagai pemimpin dalam Pemilu di semua tingkatan tergolong MUNAFIQ NYATA  yang haram untuk didoakan dan saat matinya tidak bolah dishalatkan. Sosialisasi pendapat resmi ormas Islam seperti itu tentu amat diperlukan dalam dunia Islam Indonesia yang teramat heterogen dalam pemahaman agama, khususnya terkait dengan kehidupan bermasyarakat-berbangsa-bernegara. Banyak umat Islam yang tidak tahu tentang itu karena tidak diajarkan oleh ulama/kyai/ustad masing2nya bahwa memilih kafirin dalam pemilu itu menjadikannya tergolong Munafiq yang akan memperoleh adzab Allah SWT yang berat. Akankah DDII terus kreatif mencermati kelemahan umat Islam Indonesia dan memberi solusi syar’i yang efektif bagi kehidupan umat dalam bermasyarakat-berbangsa-bernegara? Sepertinya arah itu tidak akan pernah terlewatkan mengingat bahwa DDII adalah pelanjut perjuangan Partai Islam Masyumi yang tujuan pendiriannya adalah ”Terlaksananya ajaran Islam dan hukum Islam di semua kehidupan orang per orang,  masyarakat, dan Negara Republik Indoensia menuju keridhoan Ilahi”. Tujuan Masyumi yang Partai berasas Islam pasti berbeda diametrikal dengan PNI dan PKI di masa itu. Bukankah di sana terbaca dengan terang-benderang betapa ideologi Islam akan bersaing dengan Ideologi Sekuler dalam memperoleh Kepemimpinan dan Pengelolaan negeri ini? Layakkah gerakan dakwah akan bersikap netral saja dalam pertarungan ideologis seperti itu?

Setelah kini kita berada di era yang terbuka lagi untuk bisa memiliki Partai berideologi Islam dengan membawa misi perjuangan di tataran Politik maka apakah DDII tetap saja hanya berperan sebagai Gerakan Dakwah? Atau siap-siap menghadirkan kembali kekuatan Politik Islam ideologis yang dikelola secara syar’i (bukan Partai berasas Islam namun dikelola secara sekuler) untuk memenangkan pertarungan ideologi di negerinya? Wa Allahu a’lam.

Surabaya, awal Rajab 1438H

 

Advertisements

Entry filed under: Pemikiran. Tags: , , , , , , .

PREFACE on Qur’an-Science Lecturing III (Basic) Islamic Medicine (Ilmu Kedokteran Islam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 49 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

April 2017
M T W T F S S
« Jan   May »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Stats

  • 92,314 hits

Feeds


%d bloggers like this: