OBYEKTIFIKASI DALAM BERISLAM

2 February 2018 at 12:02 Leave a comment

(Oleh: Fuad Amsyari)

Melihat praktek berislam kebanyakan umat akhir2 ini, termasuk intelektualnya, membuat saya teringat istilah yg pernah dipakai oleh almarhum sahabat saya DR. Kuntowijoyo dari UGM Jogja. Dikatakannya bhw umat ini berislamnya hrs diukur lebih obyektif supaya tidak terjebak pada subyektifitas yg melahirkan berbagai kesia-siaan maupun pertikaian. Bukankah hal tersebut sering terjadi juga sampai sekarang?

Umat Islam perlu difahamkan bhw dunia ini ada yg GHOIB, hanya bisa diketahui melalui jalur ghoib pula yi via WAHYU YG DIBERIKAN ALLAH SWT PD NABI, dan dunia SAHADAH/empirik yg dpt diketahui oleh manusia dari jalur pengamatan manusiawinya sendiri dlm bentuk produk SAIN-TEKNOLOGI selain juga sebagiannya diinformasikan Allah SWT melalui wahyu. Nah, bersumber dari dua jalur informasi inilah sehrsnya umat Islam bisa hidup secara obyektif dlm mengukur diri sendiri & orang lain apakah sdh berislam dg benar atau belum.

Coba dicermati bukankah sering umat bertikai karena ‘claim’ bhw dirinyalah yg benar TANPA menunjukkan bukti dari jalur Wahyu (ayat al Qur’an yg muhkam & Hadits Shohih Mutawattir) ataupun dari jalur produk Saintek terkait sunnatullah empirik yg obyektif?  Katakanlah umat yg merasa sdh hebat berislamnya krn merasa sdh mendulang banyak   PAHALA melalui aktifitas RITUAL tanpa diimbangi dg hitungan akan besarnya DOSA yg diperbuatnya krn mengabaikan perintah Islam? Sering dengan entengnya menyatakan bhw dosanya sdh minim bahkan habis krn sdh mengerjakan bbrp aktifitas ritual belaka yg nilai efektifitasnya untuk mengurangi besar dosanya mustahil diukur. Pahala-Dosa itu variabel ghoib yg tdk akan pernah bisa diobyektifikasi secara empiris bukan?

Baru2 ini juga muncul diskusi ttg kualitas keimanan & kecintaan manusia pada tuhannya (kecintaan orang Islam kpd Allah SWT) dlm WAG intelektual muslim. Saya tegaskan bhw perlu ada obyektifikasi dlm menilai iman tsb, tdk cukup sekedar diukur dari bentuk perasaan diri atau adanya SUMPAH PERSONAL seseorang spt yg sering terjadi pd upacara pelantikan2. Coba dinalar dg jernih bukankah mustahil unt mengetahui isi hati orang (mencintai Allah / tdk) krn isi hati itu memang tergolong area ghoib, spt halnya jumlah pahala & dosa orang.  Lalu adakah cara obyektifikasinya? Karena tergolong masalah ghoib mari ditengok dari sumber Wahyu terkait ukuran iman & kecintaan pd Allah SWT itu, apakah ada sisi empiris yg bisa diukur. Ternyata unt iman & cinta pd Allah SWT itu ada ukuran empiriknya, yi   melalui 2 kelompok variabel:

1). Banyaknya tuntunan Islam yg dikerjakan dlm kehidupannya sehari2 sebgmn yg dicontohkan Nabi secara empirik (ahlaqnya, ritualnya, kegiatan berpolitiknya, dll). Lht Qs03:31. Kecintaan pd Allah bisa diukur secara nyata di dunia ini dg menghitung jumlah kebaikan yg dikerjakannya, seperti jumlah amalan sosialnya, amalan politiknya, amalan ritualnya yg benar (bukan ritual yg masuk kategori mengada-ada keluar dari tuntunan Nabi.

2). Banyaknya upaya ybs untuk beraktifitas jihad menyebar-luaskan & membela agama Islam. Lht Qs49:15. Jihad yg diniatkan dg sungguh-sungguh unt menebarkan kebenaran yg dituntun oleh agama Islam, di masa damai maupun di masa perang. Jihad tdk boleh hanya dimaknai berbentuk perang fisik atau disalah-artikan sekedar bersungguh2 memerangi hawa nafsu agar tdk berbuat maksiat. Jihad hrs bermakna upaya2 proaktif unt membuat agama Islam dipeluk & diterapkan tuntunannya dlm hidup pribadi, berklg, berbangsa-berngr. Jihad sbg upaya2 nyata yg membuat Islam tersebar luas, seluas-luasnya.

Nah, dari dua informasi bersumber Wahyu itulah kini bisa diobyektifikasi hal2 yg awalnya bersifat ghoib lalu menjadi terempirisasi, yi dilihat dari ahlaq orang, ritual yg dilakukan, cara berpolitik yg bersangkutan, dan aktifitas jihadnya.

Mari diberi contoh lain yg juga sering disalah fahami oleh umat Islam dlm memaknai hidup ini, yi kasus tentang harapan unt mendapat surga di akhir hayat nanti. Karena surga itu dunia ghoib maka unt bisa mendpt informasi ttgnya, termasuk bagaimana bisa mendptkannya, juga hrs ditinjau melalui jalur ghoib pula, yi wahyu al Qur’an dg ayat muhkamnya dan Hadits shohih yg otentik dari ajaran Nabi, bukan hadits palsu atau lemah/meragukan.  Jangan sampai umat mengentengkannya bhw hanya dg berbekal syahadat & berritual sdh merasa pasti akan masuk sorga. Bukankah banyak muslim yg bersyahadat tapi ternyata munafiq (Qs02:08-16)? Bukankah banyak yg shalat ternyata terancam neraka krn ‘riak/pamer’ serta tidak peduli pd orang miskin & anak yatim (lht al Qur’an surat al Ma’un)? Coba dicermati al Qur’an surat al Baqarah ayat 214 & surat Ali Imran ayat 142 yg tegas menegur umat jangan mengira bisa masuk surga jika belum menunjukkan berjihad & kesabarannya dlm menghadapi tantangan2 perjuangan.

Sudah saatnya kita berupaya seobyektif mungkin dlm berislam, baik dalam menilai diri sendiri maupun menilai orang lain, khususnya terkait bgmn hrsnya memperlakukan seseorang itu, apakah dijadikan teman, sahabat, pemimpin, atau dinilai sbg lawan yg hrs didakwahi/dihadapi dlm proses menegakkan kebenaran dlm kehidupan duniawi yg plural ini.

Semoga uraian ttg obyektifikasi dlm berislam ini bisa mencerahkan & bermanfaat untuk bekal melangkah ke depan. Amien. Untuk itu  Umat Islam sehrsnya didorong  memahami isi  kandungan sumber Wahyu yi: ayat2 al Qur’an (tdk cukup jika berhenti di aspek  membunyikan atau bahkan menghafalkannya sekalipun) &  Hadits (termasuk memilah mana yg Shohih mutawatir yg benar2 bersumber dari Nabi, mana   hadits palsu & lemah yg diragukan bukan dari Nabi,  spy tdk terjebak pd khayalan2 orang tentang hal2 yg bersifat GHOIB, termasuk  menghitung2  Pahala, Dosa, maupun mempraktekan aktifitas Ritual/Ibadah mahdah yg benar2  dikerjakan Nabi, bukan karangan orang).   Umat juga hrs berbanyak mendalami Sains-Teknologi supaya dpt mengerti isi SUNNATULLAH EMPIRIK ALAM SEMESTA sehingga dpt menentukan mana aktifitas hidup yg sesuai sunnatullah dan mana yg bukan, serta bisa melakukan proses obyektifikasi kegiatan2nya dg lebih baik, sehinga tidak mudah ditipu dan dipecundangi orang.

 

Ws Fuad Amsyari

Entry filed under: Pemikiran, Sosial Budaya, Syariat Islam. Tags: , , , , .

SUNNATULAH PEMENANGAN ISLAM POLITIK UNTUK KEJAYAAN BANGSA SUNNATULLAH CARA HIDUP MUSLIM DALAM DUNIA PLURAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 63 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2018
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Stats

  • 132,558 hits

Feeds


%d bloggers like this: