BAGAIMANA ISLAM BISA MENGATASI KAPITALISME YG JAHAT TAPI CERDIK

14 February 2018 at 18:56 Leave a comment

(Oleh Fuad Amsyari PhD)

Seorang teman yg guru besar FK Unair mengirim artikel ke saya berjudul “Hebat dan Jahatnya Kapitalisme oleh Para Kapitalis”, disertai pertanyaan kepada saya bagaimana Islam bisa mengatasinya. Tulisan ini adalah jawaban saya akan pertanyaan tsb. Di akhir tulisan juga saya lampirkan artikel yg dikirimkan oleh teman saya tadi spy pembaca bisa memahami inti masalahnya. 

Begitulah memang KAPITALISME, menghisap SDA (Sumber Daya Alam) dunia melalui berbagai mekanisme/ rekayasa yg diuraikan dg cukup baik oleh penulis artikel yang saya terima.

Dari sejarah persaingan sistem ekonomi global praktek kapitalisme itu sempat dikritisi & diberi konsep alternatifnya oleh Karl Mark dg konsep baru yg diberi nama KOMUNISME. Inti dari sistem ini adalah bahwa PENGUASAAN & PENGELOLAAN EKONOMI HARUS OLEH ‘NEGARA’, YG AKAN DIWAKILI PENGUASA FORMALNYA. Ternyata konsep komunisme tsb   runtuh oleh 2 hambatan besar yg tidak diduga sebelumnya, yi 1). Kian kuatnya keinginan rakyat untuk memiliki hak milik sendiri; dan 2).  ternyata si Pemegang Amanah Kekuasaan Ngr juga melakukan berbagai kekeliruan termasuk manipulasi materialistik.  Maka lalu terjadi perubahan dalam konsep KOMUNISME yi secara politik tetap terkendali dlm bentuk negara dg Sistem Satu Partai, sedang dalam praktek ekonominya meniru model kapitalisme. Maka ujungnya ya sama saja, berebut kue SDA & REKAYASA MENGKOOPTASI PENGUASA NEGERI SASARAN YG KAYA SDA TAPI LEMAH MORAL & KEMAMPUAN IPTEK (cermati Indonesia dan banyak negara Muslim lain di dunia).

Nah kini bgmn solusinya dari pandangan Islam? Pertama hrs dicari titik kritisnya dulu, yi:  KEPEMIMPINAN NGR HARUS DIAMBIL ALIH OLEH FIGUR MUKMIN YG KUAT KEMAMPUAN   SAINS-TEKNOLOGI & MENEJEMEN. Bgmn figur spt itu bisa menjadi Pemimpin Formal di ngrinya?

Sayangnya sejauh ini blm banyak ulama, kyai, ustad, bahkan cendekiawan muslim yg sadar & faham akan jahatnya KAPITALISME dalam menghisap SDA BUMI. Kapitalisme itu dijalankan oleh sekelompok kecil manusia (para Kapitalis) dg berbagai instrumen rekayasa. Sikap mereka yg memulai aktifitas mengeruk harta melalui praktek perbankan dg sistem riba, dilanjutkan dg pasar modal, lalu bisnis korporasi skala global, dan ujungnya penguasaan negeri lemah melalui mekanisme politik, yi menjadikan antek mereka menjadi   Pimpinan Ngr dg rezim bonekanya sehingga membuat kekayaan ngr dg mudahnya habis terserap asing melalui kebijakan2 formal penguasa. Bgmn nasib rakyatnya? Rakyat akan kehabisan SDA dan hidup sebatas menjadi karyawan-buruh-budak bergaji pas2 an tanpa kemampuan untuk bangkit lagi. Astaghfirullah.

Agresifitas KAPITALISME dlm menghabiskan kekayaan bumi pada umumnya dilakukan dg perilaku rakus para kapitalis dg ketegaan tinggi pada nasib rakyat. Kapitalis itu umumnya manusia yg TIDAK MENJALANI HIDUPNYA SESUAI TUNTUNAN ALLAH SWT. Mereka bisa saja bertuhan tetapi salah mengidentifikasi tuhan, otomatis mereka lalu tidak terbimbing oleh tuntunan yg benar dlm hidup bermasyarakat. Atau mereka itu memang tidak bertuhan. Atau mereka bertuhan yg benar tapi mengabaikan tuntunan tuhan (ingat kasus Iblis), atau mengikuti tuntunan Allah SWT hanya yg terkait masalah ritual dan/ atau amal sosial belaka. Cara berislam spt itu memang banyak dianut oleh umat Islam di dunia termasuk, yg ada di Indonesia. Orang Islam seperti ini akan mudah terperosok ke dalam PERANGKAP KAPITALISME, MENJADI ANTEK PARA KAPITALIS, bahkan di saat mereka MENJADI PIMPINAN NEGARA SEKALIPUN.

Kompleksitas masalah kapitalisme yg menggurita secara global ini harus diatasi demi keselamatan umat masnusia pd umumnya. Untuk mengatasi KAPITALISME YG SDH MENGGURITA BERSKALA INTERNASIONAL, apakah berkedok agama ataupun atheis hanya akan bisa diatasi oleh suatu SATUAN NEGARA, bukan oleh perorangan atau kelompok yg tidak memiliki kemampuan kenegaraan. Seharusnya oleh suatu Negara Muslim tapi yg dipimpin oleh FIGUR PIMPINAN NEGARA YG BERKUALITAS MUKMIN, FAHAM KEJAHATAN KAPITALISME BERKEDOK APAPUN, KUAT DALAM SAIN-TEKNOLOGI, FAHAM & TRAMPIL DALAM ISLAM POLITIK. Figur Pimpinan seperti itu HARUS DIKEMBANGKAN/ DIPERBANYAK DI KALANGAN UMAT ISLAM. Pendidikan generasi muda muslim secara benar oleh semua orang Islam termasuk semua lembaga pendidikan Islam HARUS DIPROSES secara sadar terencana UNTUK MENGHASILKAN FIGUR MUSLIM SEKUALITAS ITU. Pada saat yg sama para Pejuang Islam yg sedang bergerak juga hrs fokus dlm gerakannya unt menjadikan FIGUR berkualitas Mukmin yg Intelektual yg faham Islam Politik supaya didukung bersama sama menjadi PEMIMPIN FORMAL NGR, bukan figur yg asal MUSLIM (bisa terpeleset memilih muslim yg munafiqiin, dholimin bergelimang kemungkaran) apalagi KAFIRIN. Bagaimana cita2 spt itu bisa berhasil?

Peluang target perjuangan ke arah itu unt berhasil akan amat besar jika ada perbaikan kesadaran umat unt berislam dg benar.  Kesadaran pertama yg harus diviralkan pd umat Islam adalah bahwa BERISLAM ITU TIDAK BOLEH EGOIS & TIDAK BOLEH SUBYEKTIF-SPEKULATIF EMOSIONAL.

Berislam secara EGOIS berarti berislam hanya memikirkan unt kepentingan diri sendiri, di dunia kaya dan matinya akan masuk surga. Padahal misi berislam yg benar tidak seperti itu tapi untuk menyelamatkan MASYARAKAT BANYAK & LINGKUNGAN YG RUSAK. Itulah makna ayat al-Qur’an bhw NABI DIUTUS UNT MENDATANGKAN RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA. Berislam tdk bermotif kepentingan personal seperti itu sudah tergambar oleh motif nabi ke gua Hira’ menyepi pdhal saat itu sebagai personal beliau sudah sangat berhasil: muda, sehat, kaya, klg hebat, populer, bangsawan lagi. Beliau sebagai individu yang berkondisi hebat spt itu justru berkontemplasi ke gua Hira’ unt mencari solusi bgmn mengatasi masyarakat Mekah yg rusak. Mari direnungkan bgmn bisa mendatangkan rahmat pd masy & lingkungan jika misi hidupnya egois agar bisa jaya diri-sendiri di dunia dan mati nanti diri-sendiri masuk surga. Bagaimana pula dia bisa menyelamatkan orang banyak jika dia berada di lingkungan yg dikendalikan oleh figur perusak masy & lingkungan?

Berislam SUBYEKTIF EMOSIONAL berarti berislamnya tidak diukur oleh obyektifitas tapi oleh khayalan2 bisa sukses hidup di dunia & mati masuk surga tanpa rasionalitas yg terukur secara obyektif.  Bagaimana bisa sukses di dunia, katakanlah hidup cukup jika sunnatullahnya tidak dipenuhi, misalnya tidak punya ketrampilan kerja atau keahlian. Apakah menganggap hidup itu asal bisa makan walau dari minta2, yg penting dekat Allah? Apa ukurannya bhw dia dekat Allah? Apa oleh perasaan sendiri yg subyektif? Atau berfikir bahwa dalam hidup itu yg penting mati nanti masuk surga. Apa jaminan bhw matinya masuk surga? Apa karena RITUAL (IBADAH MAHDHAH) nya TERATUR, termasuk ritual sunnah yg banyak? Apa karena merasa dosanya minim atau habis? Bgmn dia tahu? Apa karena tiap hari sdh minta ampun? Bgmn dia tahu mohon ampunnya dikabulkan pdhal dia terus saja melakukan pelanggaran thd tuntunan hidup yg diajarkan Allah SWT yang terkandung dalam al Qur’an? Sudahkah dia tahu tuntunan hidup dari Allah dalam al Qur’an itu ataukah dia sekedar membunyikannya tanpa tahu makna?

Jika umat Islam pada umumnya sudah berislam dengan benar & utuh jauh dr sikap egoisme, jauh dr subyektifitas-spekulatif- emosional maka mereka akan mudah mencetak kader calon Pemimpin Unggul Negara sesuai syarat syariat Islam. Umat juga akan menjadi lebih mudah dalam upaya memenangkan calon Pemimpin yg syar’i itu dlm bersaing dg kelompok kafirin-munafiqin di dunia plural.

Pemimpin Ngri yg berkualitas Mukmin Pejuang Islam, kuat dlm sain-teknologi, serta trampil dalam Islam Politik akan menerapkan kebijakan ekonomi nasional yg sesuai syariat. Kebijakan tsb berorientasi menghapus riba yg dimulai dari Bank Sentralnya, melarang bisnis spekulatif maya seperti bursa saham dan komoditas haram seperti seks-judi-miras, melindungi BUMN unt kesejahteraan rakyat, memberi prioritas anggaran belanja ngr guna pemberdayaan dhuafa / penduduk miskin, membangun sistem moneter berbasis emas sbg acuan dlm perdagangan internasional, bukan mata uang asing yang fluktuatif nilainya, dan mengembangkan sistem ekonomi waris unt ketahanan ekonomi keluarga di ngrinya. Dg kebijakan ekonomi nasional seperti itu maka akan bisa teratasilah infiltrasi KAPITALISME INTERNASIONAL di dalam negeri muslim. Nasionalisasi perusahaan asing yg curang akan membersihkan anasir busuk yg merusak ngr & bangsa. Kapitalisme akan terisolir kembali ke ngri asalnya dan ujungnya akan terkubur kehilangan SDA dlm skala global. Akhirnya mereka para kapitalis akan punah oleh kejahatan/ keburukan2 yg mereka kerjakan.

Semoga umat tersadarkan. Amien.

Ws Fuad Amsyari PhD

Lampiran:

HEBAT dan JAHAT nya KAPITALISME oleh para KAPITALIS.

(Artikel kiriman teman)

Sistem Ekonomi Kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan Ekonomi hanya akan terwujud, jika semua pelaku Ekonomi terfokus pada akumulasi Kapital (modal).

Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga Perbankan.

Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di Bank tersebut?

Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari Bank, yaitu:

Fix return dan Agunan.

Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini.

Siapakah mereka itu?

Mereka itu tidak lain adalah kaum Kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Nah, apakah adanya lembaga Perbankan ini sudah cukup?

Bagi kaum Kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar.

Dengan cara apa?

Yaitu dengan Pasar Modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas Saham untuk dijual kepada masyarakat, dengan iming-iming akan diberi Deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan Pasar Modal ini?

Dengan persyaratan untuk menjadi Emiten dan penilaian Investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja, yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.

Siapa mereka itu?

Kaum Kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Adanya tambahan Pasar Modal ini, apakah sudah cukup?

Bagi kaum Kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar.

Dengan cara apa lagi?

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”.

Bagaimana caranya?

Menurut Teori Karl Marx, dalam pasar Persaingan Bebas, ada Hukum Akumulasi Kapital (The Law Of Capital Accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil.

Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya?

Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Agar perusahaan Kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan Persaingan Pasar.

Persaingan Pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah.

Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb.

Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut?

Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika perusahaan Kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).

Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti:

Sektor Telekomunikasi, Transportasi, Pelabuhan, Keuangan, Pendidikan, Kesehatan, Pertambangan, Kehutanan, Energi, dsb.

Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi.

Lantas bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya:

Undang-Undang Privatisasi BUMN.

Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut.

Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika dengan cara ini kaum Kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan.

Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor Kekuasaan itu sendiri.

Kaum Kapitalis harus menjadi Penguasa, sekaligus tetap sebagai Pengusaha.

Untuk menjadi Penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya Kampanye itu tidak murah.

Bagi kaum Kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika kaum Kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka Hegemoni (pengaruh) Ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan Hegemoni ini.

Namun, apakah masalah dari kaum Kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata Hegemoni Ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup.

Mereka justru akan menghadapi problem baru.

Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses (kelebihan) produksi.

Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen.

Lantas, ke mana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya?

Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan Hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang, yang padat penduduknya.

Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya, tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum Kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika Kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya.

Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya.

Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah.

Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan Kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup?

Jawabnya tentu saja belum.

Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi.

Caranya?

Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, Kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya:

UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi).

Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah:

UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu.

Dengan cara apa?

Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah.

Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai Kurs Mata Uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan Sistem Kurs Mengambang Bebas (Floating Rate) bagi mata uang lokal tersebut.

Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh Pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas).

Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya.

Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya.

Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah.

Bagaimana caranya?

Yaitu dengan melakukan proses Liberalisasi Pendidikan di negara tersebut.

Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan Subsidi bagi pendidikannya.

Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi.

Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya.

Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah.

Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan Sarjana.

Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara, dan maunya digaji tinggi.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara Hegemoni Kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan Intervesi UU.

Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi.

Nah, cara inilah yang akan menjamin proses Intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus.

Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan menempatkan Penguasa Boneka.

Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum Kapitalis dunia.

Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi Boneka.

Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.

Nah, apakah ini sudah cukup?

Tentu saja belum cukup.

Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru.

Apa problemnya?

Jika Hegemoni kaum Kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru.

Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut.

Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat.

Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum Kapitalis itu sendiri.

Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka.

Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua?

Di sinilah diperlukan cara berikutnya.

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM.

Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan Pengembangan Masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil, maupun industri kreatif lainnya.

Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit.

Kaum Kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini.

Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu:

(1) Masyarakat akan tetap memiliki daya beli, (2) akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, (3) negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini Kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”.

Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi?

Jawabnya ternyata masih ada.

Apa itu?

Ancaman Krisis Ekonomi.

Sejarah panjang telah membuktikan bahwa Ekonomi Kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya Krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya.

Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya.

Apa itu?

Ternyata sangat sederhana.

Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bail-out) atau Stimulus Ekonomi.

Dananya berasal dari mana?

Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari Pajak rakyat.

Dengan demikian, jika terjadi Krisis Ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya?

Jawabnya adalah:

Rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana hasil akhir dari semua ini?

Kaum Kapitalis akan tetap jaya, dan rakyat selamanya akan tetap menderita.

Di manapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama.

Itulah produk dari Hegemoni Kapitalisme Dunia.

 

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , .

SUNNATULLAH CARA HIDUP MUSLIM DALAM DUNIA PLURAL BATAS HUBUNGAN AGAMA DAN POLITIK, Melerai Polemik ISLAM POLITIK, POLITIK ISLAM, POLITISASI ISLAM, MENUJU KESEPAKATAN MAKNA POLITISASI AGAMA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 62 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

February 2018
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Stats

  • 131,146 hits

Feeds


%d bloggers like this: