BATAS HUBUNGAN AGAMA DAN POLITIK, Melerai Polemik ISLAM POLITIK, POLITIK ISLAM, POLITISASI ISLAM, MENUJU KESEPAKATAN MAKNA POLITISASI AGAMA

3 March 2018 at 09:06 Leave a comment

Fuad Amsyari PhD

Dewan Kehormatan ICMI Pusat

Cara hidup manusia itu bisa bermacam-macam. Secara umum dapat dibagi tiga alternatif:

  1. Hidup mengalir begitu saja sesuai dengan kebutuhan dan kenyataan yang dihadapi. Karena perlu makan maka mencari pekerjaan, apa saja asal mendapat hasil, diusahakan hasil yang didapat sebanyak-banyaknya dengan usaha sesedikit mungkin, cepat kaya kalau bisa sudah kaya raya sedini mungkin dengan cara apapun. Karena perlu kebutuhan seksual maka dicarilah pemenuhan seksualnya, cari pelampiasan nafsu seks yang disukainya, sesama jenis atau dengan lawan jenis, yang penting hasrat tersalurkan, tidak harus cantik asal menyenangkan, tidak harus repot melalui proses nikah/kawin. Karena mau  teman untuk diajak ngobrol, bersosial, maka cari siapa saja yang cocok bisa diajak membuang waktu luangnya, bisa bergembira-ria bersama.  Karena mau punya pengaruh, syukur jika dapat menjadi pemimpin maka dicarilah partai politik, mana saja asal bisa membuat dia mudah menduduki jabatan dan mendapat simpati orang,  lalu berhasil menjadi penguasa di wilayah, dipuji, ditakuti, dan ditaati perintahnya. Maka hiduplah dia di dunianya, bisa berhasil sesuai harapan, bisa juga gagal, dan ujungnya mati yang berarti selesailah segalanya.Namun kadang mendengar info bahwa sesudah mati nanti akan hidup kembali, maka lalu berkhayal bisa hidup nyaman pula di dunia lain itu, yang sering disebut sebagai surga melalui usaha seadanya, seperti memeluk suatu keyakinan dan berdoa. Apakah gerangan nama cara hidup yang seperti ini? Silahkan diberi nama apa saja, bisa pragmatisme, materialisme, humanisme, dll. Banyakkah manusia yang cara hidupnya seperti ini? Rasanya banyak, bahkan bisa jadi semakin banyak saja.

  1. Sebagian manusia cara hidupnya tidak sesederhana itu. Setelah dia merangkak keluar dari masa-masa kecilnya, bisa menggunakan akal pikirannya, dengan bekal berbagai arahan/nasehat orang tua yang bisa bermacam2, dia lalu bertanya-tanya sesungguhnya hidup ini apa, untuk apa. Hasil berfikirnya akan tiba pada berbagai kesimpulan yang masih bisa variatif, namun minimal hidupnya terbimbing oleh akal fikirannya yang panjang, tidak sederhana. Terlepas dari ada atau tidaknya jeratan emosional saat di bawah bimbingan orang tua atau walinya maka produk  berfikirnya dapat terbagi dua: 1). Alam semesta diyakininya terbentuk  dengan sendirinya, maka cara hidupnyapun lalu  sepenuhnya tergantung pada apa yang dimauinya bersandar pada kemampuan dirinya sendiri. Hidup adalah hari ini, di dunia ini, tidak ada hari nanti. Tuhan itu ciptaan manusia dan agama itu candu yang memabukkan. Akalnya bisa saja membimbing dia untuk berniat membawa kebaikan pada orang lain tapi apa dan cara membawa kebaikan itu sepenuhnya tergantung pada kemampuan akal fikirannya sendiri saja, yang di dapat dari sekolah dan pengalaman2 hidupnya. Kelompok ini dikategorikan kelompok ATHEIS, tidak bertuhan. 2). Mirip dengan  cara berfikir kelompok satu tapi ada sedikit variasi, yakni sepertinya ada yang menciptakan alam semesta yang hebat itu, namun alur berpikirnya hanya berhenti di sana. Sang   Pencipta dipikirnya tidak memberikan tuntunan apapun padanya untuk ditaati atau diikuti. Maka secara operasional cara hidupnya juga sama saja seperti atheis, bergantung sepenuhnya pada kemampuan akal sendiri. Kelompok ini bisa disebut bertuhan tanpa bimbingan tuhannya, atau disingkat BERTUHAN TANPA BERAGAMA.

 

  1. Selain dua kelompok manusia di atas maka kelompok yang ke tiga adalah manusia yang meyakini bahwa diri dan alam semesta itu ada penciptanya, dan sang pencipta memiliki tuntunan cara hidup yang harus diikuti oleh manusia agar hidupnya selamat di dunia dan di akherat sesudah matinya. Kelompok ini selanjutnya bisa disebut mereka yang bertuhan dan beragama atau disingkat BERAGAMA. Termasuk di kelompok ini  orang2 yang beragama namun tidak sepenuhnya taat akan ajaran tuhannya. Ada dua variabel utama pada kelompok ke tiga ini, yakni Identitas tuhan yang diyakini, dan Tuntunan tuhan tersebut.. Dari dua variabel itu bisa diidentifikasi beberapa macam agama, misalnya agama Islam di tandai dengan bertuhankan Allah SWT dengan segala sifat2Nya dan  Tuntunan cara hidup yang spesifik tercantum  dalam kitab suci al Qur’an dengan penjabarannya dalam bentuk Hadits Shohih, Ijma’ ulama, Qias, serta produk sains valid yang merupakan sunnatullah empiris. Pemeluk agama ini disebut muslim, pemeluk agama Islam. Selain agama Islam dengan pemeluknya maka di  dunia ini banyak didapati agama lain dengan ciri tuhan dan tuntunan  hidup yang berbeda pula.

Setelah  memahami pengelompokan  manusia seperti yang diuraikan di atas maka selanjutnya bisa dibahas bagaimana kaitan orang yang beragama itu  dengan politik. Bagi manusia yang tidak bertuhan atau bertuhan tanpa agama tentu berada di luar bahasan judul BATAS ANTARA AGAMA DAN  POLITIK walau nanti bisa disinggung sebagai percontohan. Sebagai titik masuk untuk menguraikan judul tersebut maka bahasan dimulai dengan kasus contoh agama Islam lalu bisa diextrapolasi untuk agama lainnya. Dengan pendekatan seperti itu diharapkan bisa dibuka cakrawala secara luas  bagaimana sesungguhnya pandangan agama selain Islam terhadap politik, tanpa harus menjadi pakar di agama yang bersangkutan, khususnya kaedah2 dasar tentang makna ‘Politisasi Agama’ yang menjadi tema seminar ini.

Dalam kasus agama Islam sudah ditegaskan bahwa sumber tuntunannya adalah Kitab suci al Qur’an dengan penjabarannya, termasuk percontohan cara hidup Nabi Muhammad SAW yang dipetik dari Hadits shohih. Pertanyaan yang esensial adalah ‘Apakah Politik itu ada di dalam tuntunan agama Islam’? Untuk menjelaskannya maka perlu difahami terlebih dahulu makna politik dari acuan yang diterima secara umum, apakah mereka yang tergolong pragmatis, atheis, agamis. Saya cuplik saja dari Webster Dictionary:

POLITICS (nouns): the arts or science of government, of guiding or influencing government policy, or of winning or holding control over a government”

Kalau definisi ini yang dipakai maka politik dalam makna sebagai kata benda atau ‘noun’ adalah segala sesuatu yang terkait dengan pemerintahan negara. Pertanyaan dasarnya adalah ADAKAH TUNTUNAN ISLAM TENTANG PEMERINTAHAN NEGARA? Jawaban obyektifnya, tidak emosional terdorong interes subyektif apapun, bisa dilihat dalam al Qur’an dan Sejarah hidup Nabi. Banyak ayat al Qur’an yang ternyata terkait dengan dengan masalah  negara, seperti Qs07:96, Qs34:15-16, Qs05:49-57, Qs03:28 dll. Percontohan kehidupan Nabi Muhammad SAW terkait dengan politik juga sangatlah gamblang karena beliau bahkan memberi tauladan sebagai Kepala Negara Madinah, bagaimana prosesnya sampai beliau bisa menjadi Kepala Negara, bagaimana kebijakan beliau saat mengelola negeri, suatu pemerintahan dengan penduduk negara yang plural. Kebijakan terkait hukum yang ditegakkan, birokrasi yang dipilih, budaya yang dikembangkan, ketertiban dan kebijakan pertahanan-keamanan yang dibuat. Semuanya dicontohkan oleh Nabi di saat menjadi Kepala Negara Madinah.  Maka secara ringkas dapat dinyatakan bahwa  Politik itu adalah bagian dari ajaran Islam, bukan sekedar teori, namun diberikan percontohannya oleh Nabi dan Sahabat2 utama beliau, Khulafaur Rasyidin. Acuan Politik dalam Islam sangatlah jelas.  Bahkan berpolitik praktis dalam membentuk sebuah Partai Politik juga disebutkan di dalam al Qur’an dengan sebutan HIZBULLAH, Partai Allah, kelompok politik yang berorientasi menegakkan syariat Allah dalam mengelola suatu negara. Lebih tegas lagi di dalam al Qu’an juga disebut lawannya, yakni keberadaan HIZBUSYAITON, Partai syetan, yakni kekuatan politik  yang berientasi mengikuti dan menerapkan ajaran syetan dalam berpolitik (Qs58:13&22).

Agama Islam itu memiliki penganut/pengikut yang namanya MUSLIM. Namun juga dijelaskan di dalam al Qur’an dan Hadits bahwa seorang muslim itu bisa memiliki kategori buruk, yang paling memprihatinkan disebut sebagai MUNAFIQ, berpura-pura menjadi muslim tapi hati nuraninya menolak mengakui bahwa Allah SWTsebagai tuhan dengan maksud melakukan tipu daya memusuhi Islam (Qs02:08-20). Sebaliknya ada pula muslim yang memiliki kualitas tinggi yang disebut MUKMIN, yang kuat keyakinannya akan Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW disertai ketaatan nyata pada tuntunan hidup dari Allah SWT (Syariat Islam) dan mau berjihad menyebarkan-membela agama Islam (Qs49:14-15). Ada lagi variasi lain dari muslim itu, yakni muslim yang mengikuti tuntunan Allah SWT itu secara pilih2, mau mengerjakan tuntunan yang disukai dan menolak tuntunan yang tidak disukainya oleh berbagai alasan. Umumnya yang disukai itu hal2 yang bersifat ghoib seperti ritual (ibadah mahdhah),  sedangkan yang tidak/kurang disukai adalah hal2 bersifat kehidupan bermasyarakat seperti ahlaq mulia, bisnis halal, dan politik. Mereka yang berislamnya seperti itu dinyatakan oleh Allah SWT akan terhinakan di dunia fananya, sedang di akherat akan dikenakan pada mereka siksa yang pedih (Qs02:85)

Dengan memahami kualitas muslim yang bisa bermacam2 seperti disebutkan di atas serta  mengerti makna politik secara universal maka kini bisa dianalisis lebih jauh bagaimana kiranya variasi sikap  muslim dalam dunia politiknya. Tema diskusi kali ini tentu dimaksudkan untuk menjelaskan berbagai fenomena politik dari berbagai sisinya, yang baik maupun yang buruk, bermanfaat maupun merusak, benar maupun salah. Untuk itu perlu dicermati tiga istilah yang kini sedang viral diberbagai medsos sebagai landasan berfikir sebelum membahas ’Batas Hubungan Agama dan Politik menuju kesepakatan tentang Makna Politisasi Agama’. Tiga istilah tersebut adalah ISLAM POLITIK, POLITIK ISLAM, dan POLITISASI ISLAM.

ISLAM POLITIK artinya adalah tuntunan Islam dalam berpolitik. Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa agama Islam  memiliki tuntunan tentang bagaimana seharusnya cara hidup politik seorang muslim. Islam mengajarkan dengan jelas bahwa setiap muslim wajib taat mengikuti tuntunan Allah SWT dan salah satu tuntunannya adalah bagaimana jika menghadapi permasalahan politik, antara lain di saat mau memilih Partai Politik yang didukung/dimasuki dan memilih Pemimpin dalam kehidupan politiknya. Muslim diperintahkan oleh al Qur’an untuk memilih atau bergabung dalam Hizbullah dan jika memilih pemimpin harus manusia yang berkualitas Mukmin, tidak cukup muslim secara umum apalagi yang berkualitas munafiq. Jika sorang Mukmin  terpilih menjadi Pemimpin Formal di dalam suatu negeri yang penduduknya plural, seperti Madinah misalnya, maka Pemimpin mukmin itu wajib melaksanakan perintah Allah SWT terkait dengan pengelolaan negeri seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW saat memimpin Madinah, yakni menerapkan syariat Allah SWT di bidang poleksosbudkumhankam, termasuk  kebijakan menghormati keyakinan penduduk yang beragama lain. Itulah makna Islam Politik.

POLITIK ISLAM memiliki makna yang lain sama sekali. Saya teringat desertasi doktornya Aqib Suminto dari IAIN Sunan Ampel (sekarang bernama UINSA) berjudul POLITIK ISLAM HINDIA BELANDA. Di dalamnya dijelaskan bagaimana Penjajah Belanda saat mengelola Indonesia (dulu bernama Hindia Belanda) menerapkan kebijakan politik sedemikian rupa agar penduduk terjajah yang umumnya beragama Islam tetap tenang walau dijajah, tidak memberontak. Kebijakan Pemerintah yang membuat penduduk muslim tetap terjajah,  terkungkung  terjauhkan dari ikut menentukan kebijakan mengelola negerinya sendiri itu disebut sebagai Politik Islam. Jadi makna Politik Islam adalah Kebijakan2 Pemerintah (manapun, kapanpun, di negara apapun) yang mengarah  agar umat Islam tetap terkendalikan dan terpuruk tidak berdaya, menyerah saja saat dikuasai/ dipimpin Penguasa yang sedang berkuasa. Bentuk kebijakan  yang diungkapkan dalam desertasi itu antara lain bahwa Pemerintah Hindia Belanda  membiarkan saja jika umat Islam mengerjakan ritual Islam, bahkan untuk itu pemerintah malah mau membantu  sekedarnya seperti membuatkan beberapa mesjid/surau. Di sisi lain jika umat Islam mau belajar menambah ilmu maka Pemerintah  lalu melakukan pengawasan, dikendalikan agar jangan sampai umat Islam menjadi pandai/ mengerti-menguasai sain-teknologi maju. Pendidikan umat Islam dibatasi untuk belajar ilmu agama terkait hal2 yang ghoib-ritual dan sejarah dahulu kala, dan boleh saja mengaji al Qur’an sebanyak2nya asal tidak tahu makna yang dibacanya dengan alasan sudah bisa memperoleh pahala untuk bekal masuk surga. Jangan lupa pahala dan surga itu termasuk hal2 ghoib, sesuatu yang memang boleh dikerjakan umat Islam yang terjajah untuk menenangkan hati umat. Sebaliknya jika ada aktifitas umat Islam yang mulai menyentuh  masalah politik pemerintahan, cara membuat kebijakan ekonomi, hukum, dll maka mereka harus segera diberantas habis tanpa ampun karena akan mengancam kekuasaan penjajah Belanda. Itulah makna Politik Islam, jauh sekali dari makna  Islam Politik.

POLITISASI ISLAM  adalah hal yang lain lagi. Istilah itu derivasi dari jargon ‘Politisasi Agama’ yang kini sedang sering digaungkan dan tentu terkait dengan umat Islam dan agama Islam pula. Dampak tehnis dari isu POLITISASI  AGAMA di Indonesia tentu akan amat berpengaruh pada perilaku politik umat Islam yang merupakan  mayoritas penduduk di sini. Oleh sebab itu dalam kacamata umat Islam jargon tersebut harus dicermati betul  maknanya.

Politisasi adalah kosa kata yang mengandung arti operasional sesuatu hal yang dikaitkan dengan politik namun disertai  konotasi ada unsur ‘memaksakan’ bahwa sesuatu yang dikait2kan politik itu tidak ada hubungannya dengan politik. Makna  konotasi seperti itu dan jika yang dimaksudkan dengan sesuatu itu adalah agama maka pesan yang terkandung dalam politisasi agama adalah  jangan memaksakan masalah agama yang tidak ada hubungannya dengan politik itu dikait-kaitkan dengan aktifitas politik. Dengan kata lain politisasi agama berarti membawa-bawa urusan agama ke dalam aktifitas politik padahal agama tidak ada hubungannya dengan politik. Benarkah pernyataan tersebut? Benar atau salahnya pernyataan tersebut tentu harus dilihat dari isi ajaran agama. Karena agama itu ada bermacam2 maka tinggal dicek saja mana agama yang didalam ajarannya mengandung tuntunan politik dan mana agama yang dalam ajarannya tidak mengajarkan apapun tentang politik. Agama tidak bisa disama ratakan, dianggap semua sama.

Pesan terselubung dengan diviralkannya istilah POLITISASI AGAMA adalah bahwa ada upaya yang disengaja oleh sekelompok orang tertentu untuk membawa bawa nama  agama yang tidak ada hubungannya dengan politik lalu dimanfaatkan untuk mencapai tujuan politik. Pesan jargon Politisasi Agama seperti itu memang bisa dibenarkan apabila yang dimaksud dengan agama di situ adalah ajaran sakral yang di dalamnya TIDAK MEMBERI TUNTUNAN BERPOLITIK. Masalah yang harus dikritisi adalah apakah pesan yang disiratkan tersebut berlaku bagi Agama Islam yang ajarannya bersumber dari Kitab Suci al Qur’an dengan  Percontohan Nabi Muhammad SAW?

Sebagaimana sudah disebut sebelumnya bahwa isi ajaran agama Islam tegas menunjukkan keberadaan ajaran berpolitik. Sangatlah disadari bahwa semua manusia di manapun dan kapanpun pada hakekatnya memiliki kehidupan politik. Agama Islam ternyata memenuhi kebutuhan manusia di bidang politik itu. Agama Islam tidak menabukan atau mengabaikan keberadaan kehidupan politik manusia. Agama Islam memberi tuntunan rinci bagaimana manusia harusnya berperilaku benar dalam berpolitik. Dengan kata lain agama Islam justru tegas mengajarkan bagaimana cara bepolitik ideal yang  harus ditaati oleh pemeluk2nya, antara lain prinsip memilih pemimpin di masyarakat majemuk, prinsip membuat kebijakan ekonomi, budaya, hukum, bahkan bagaimana prinsip berperang. Kandungan ayat-ayat politik di dalam Kitab Suci al Qur’an  yang juga   diberikan contoh pelaksanaanya oleh Nabi Muhammad SAW di saat beliau menjadi Kepala Negara Madinah memperjelas bagaimana harusnya tujuan dan aktifitas politik menurut agama Islam. Maka BATAS HUBUNGAN ANTARA AGAMA DAN POLITIK menurut Islam terletak pada adanya unsur keharaman dalam berperilaku, antara lain perilaku berniat PENGELABUHAN dalam beraktifitas politik. Katakanlah sebagai contoh sikap membawa-bawa nama Islam padahal tujuan dan aktifitas politik yang diemban oleh seseorang atau kelompok tidak ada hubungannya sama sekali dengan syariat Islam terkait politik. Sebaliknya jika ada aktifitas politik seseorang atau kelompok itu memang  membawa misi Syariat Islam tentang Politik maka harusnya malah diapresiasi karena menunjukkan kematangan mereka dalam mematuhi ajaran agamanya. Mereka yang seperti itu menjadi amatlah wajar jika  dalam melakukan aktifitas politiknya membawa simbul2 Islam seperti menyuplik ayat2 al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW.

Ditinjau dari adanya kewajiban bagi umat Islam untuk berislam secara utuh atau kaffah maka berpolitik sesuai dengan ajaran Islam adalah wajib bagi umat Islam untuk mematuhinya sebagaimana wajibnya mereka melakukan ritual dan amal sosial Islam. Berpolitik bagi umat Islam, termasuk  di dalamnya  bertindak syar’i sewaktu mendukung  partai politik, mencalonkan figur syar’i untuk menjadi Pemimpin Formal Negara, dan menerapkan syariat Islam di saat menyusun kebijakan mengelola negeri, jelas merupakan hal yang wajib bagi pemeluk agama Islam.

Sesudah memahami makna beragama dalam kehidupan manusia, mengerti pula apa yang dinamakan agama Islam, bisa membedaan antara Islam Politik dengan Politik Islam, memahami pesan yang tersembunyi dengan istilah Politisasi Agama, maka kini sampailah pada pertanyaan bagaimana BATAS HUBUNGAN AGAMA DAN POLITIK dalam praktek politik sehari-hari. Dari sisi agama Islam batas itu terletak apakah aktifitas politik seseorang atau kelompok itu untuk melaksanakan ajaran agama yang dipeluknya atau tidak. Politisasi agama akan terjadi jika ada maksud melakukan PENGELABUHAN TERHADAP  UMAT BERAGAMA TERTENTU PADAHAL TUJUAN BERPOLITIKNYA SAMA SEKALI TIDAK ADA KAITANNYA DENGAN ISI AJARAN AGAMA YANG DIIMANI SASARAN. Jika yang dimaksud dengan agama itu adalah agama Islam maka Politisasi Islam berarti adanya fihak tertentu (bisa dilakukan oleh orang Islam juga) yang berpolitik  menyimpang dari ajaran Islam namun mereka menggunakan simbol2 agama Islam untuk tujuan menipu umat Islam agar memilih mereka. Mungkin bisa dijelaskan dengan contoh yang mudah difahami sebagai berikut: “Apabila ada Partai Komunis yang tujuan dan aktifitas politiknya sama sekali  tidak ada kaitannya dengan agama apapun (termasuk agama Islam) namun dalam praktek berpolitiknya menggunakan simbul2 agama supaya  mendapat dukungan orang beragama. Katakanlah Caleg/Capresnya berpakaian seperti muslim-muslimah yang taat berislam, menyumbang dengan royal kebutuhan ritual Islam, meneriakkan simbul2 agama Islam seperti teriak Allahu Akbar, dll. Mereka tentunya juga melakukan hal yang sejenis itu untuk menarik simpati pemeluk agama lainnya. Bahkan partai tersebut tidak segan2  mencalonkan figur pemeluk agama tertentu menjadi calon pejabat publiknya padahal si calon tersebut tergolong orang yang beragamanya tidak benar”.

Dari uraian di atas maka kini mudah difahami bahwa BATAS HUBUNGAN AGAMA DAN POLITIK serta ada atau tidak adanya POLITISASI AGAMA tidak terlepas dari isi ajaran suatu agama itu sendiri dan ideologi yang diemban oleh suatu partai politik. Partai Politik yang tidak berbasis agama manapun tentu tidak dibenarkan memanfaatkan simbol2 agama dalam proses berpolitiknya hanya karena ingin memperoleh suara dari pemeluk agama. Bagi Partai berbasis Agama tentu dibenarkan menggunakan dalil2 agama terkait dengan masalah politik dalam mempromosikan partainya selama sesuai dengan ajaran agama yang dianut. Partai Islam misalnya amatlah rasional bila politisinya menyampaikan ayat2 al Qur’an dan Hadits shohih terkait pesan Islam tentang politik selama berkampanye. Politisi Partai Islam bahkan diwajibkan untuk menguraikan Solusi Islam dalam mengatasi problema bangsa dengan dalil al Qur’an dan Sunnah Nabi. Jika politisi Partai Islam terpilih menjadi Pemimpin Formal Negara maka wajib baginya membuat kebijakan2 yang bersumber dari tuntunan Islam karena berkeyakinan bahwa kebijakan bersumber agama yang dipeluknya tersebut akan  memberi efek positif bagi terwujudnya kejayaan negeri yang penduduknya plural. Sebaliknya untuk kasus Partai Komunis pendukung ideologi komunisme atau Partai Sekuler pendukung ideologi sekularisme yang tidak mengaitkan aktifitas politiknya dengan substansi politik dari agama Islam harusnya dilarang menggunakan ayat2 al Qur’an dan Hadits dalam berpolitik. Bagi Partai Komunis misalnya, mereka harusnya mencuplik dalil2 komunisme Karl Mark, Lenin-Stalin, Mao dan semacamnya dalam berkampanye  guna menarik simpati rakyat. Bagi Partai Sekuler yang umumnya memperlakukan agama hanya di ranah individu dan ritual, memisahkan agama dengan proses pengelolaan negara, juga tidak dbenarkan menggunakan ayat dan dalil agama apapun dalam berpolitik mereka karena sasaran akhir di saat mereka berkuasa juga akan menerapkan kebijakan tanpa acuan agama. Partai sekuler dalam berkampanye untuk menarik simpati rakyat seharusnya menggunakan simbol dan prinsip sekularisme seperti visi Harvey Cox misalnya. Sekali lagi perlu digaris bawahi, beragama bagi penganut sekularisme hanya untuk ranah pribadi dan ritual, bukan ranah publik atau kenegaraan. Dengan pertimbangan2 di atas maka Pengawas Pemilu harusnya memberi sanksi pada Partai Sekuler jika menggunakan simbul & ayat kitab suci. Pengawas Pemilu sebaliknya perlu  memberi apresiasi pada Partai berasas Agama, seperti misalnya Partai berasas Islam, jika mereka menunjukkan prinsip agama dalam menarik dukungan umat beragama karena hal itu menunjukkan komitmen mereka yang utuh dalam berpolitik. Sudah menjadi kewajiban Partai Islam untuk mendapat simpati umat Islam dengan mempromosikan  Solusi Islam dengan membawa dalil al Qur’an dan Haditsnya untuk mewujudkan  kejayaan dan  kesejahteraan bagi bangsa yang plural penduduknya seperti Indonesia.

Bagaimana batas hubungan Agama dan Politik menuju kesepakatan tentang Politisasi Agama? Bagi Agama Islam tidak ada batas antara agama dan Politik karena Politik adalah bagian integratif dari ajaran agama Islam. Yang terlarang dalam agama Islam adalah Politisasi Agama dalam makna memanfaatkan simbol agama dalam berpolitik padahal tujuan dan aktifitas politiknya tidak terkait sama sekali dengan tuntunan politik dari agama. Politisasi agama  semacam itu adalah bentuk pengelabuhan terhadap manusia yang dilarang  keras dalam ajaran Islam. Sebaliknya jika tujuan dan aktifitas politik seseorang atau kelompok memang untuk menerapkan ajaran politik dari agama yang diyakininya maka pengggunaan simbol2 agama sangatlah  rasional dan wajar, bahkan harus diapresiasi. Dengan ringkas bisa dinyatakan bahwa semua Partai yang bemisi “menegakkan ajaran politik dari agama yang diyakininya” tidak boleh dibatasi jika mereka menggunakan simbul2 agama dalam aktifitas politikntya. Adapun Partai Politik yang tidak bervisi agama amat tercela jika menggunakan simbul2 agama dalam berpolitiknya. Partai berasas Islam misalnya adalah representasi dari Partai yang bervisi mau menegakkan tuntunan politik dari ajaran agamanya sehingga layak dan harus diapresiasi jika menggunakan simbul2 Islam dalam aktifitas politikny. Sebaliknya Partai Komunis dan Partai Sekuler sangatlah keliru dan harusnya dilarang jika menggunakan simbul2 Agama, termasuk simbul2 Islam dalam aktifitas politik mereka.

Surabaya. Awal Maret 2018

*). Disampaikan dalam Seminar Nasional “MENCARI KESEPAKATAN TENTANG MAKNA POLITISASI AGAMA”, oleh Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, 4 Maret 2018.

Advertisements

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , .

BAGAIMANA ISLAM BISA MENGATASI KAPITALISME YG JAHAT TAPI CERDIK PAHALA, ITUKAH YANG DICARI DALAM BERISLAM?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 51 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2018
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Stats

  • 100,747 hits

Feeds


%d bloggers like this: