SOLUSI KEKALAHAN ISLAM DLM MEMIMPIN DUNIA PLURAL, Mencermati Kasus Indonesia yg Berpenduduk Besar (240 juta) & Mayoritasnya Muslim (87%)

8 October 2019 at 22:29 Leave a comment

Oleh Fuad Amsyari

Seorang teman japri ke saya suatu keluhan klasik tanpa solusi strategis-tehnis yg ujung2nya masalah TIDAK TERATASI. Aktifis Islam (A-Is) hrs bisa bergerak mengatasinya bukan? Japrinya sbb:

” Mengapa kita sulit bersatu,? Kalau kita pelajari hasil lemilu 1955 seandainya Masyumi, NU, PSII dan Perti bersatu dan sekarang hasil pemilu 2019, seandainya PKB, PAN, PKS, PPP bersatu bisa mengalahkan lawan lawannya.
Tahun 1955 bisa mengalahkan PNI dan PKI sedang tahun 2019 bisa mengalahkan PDIP, Golkar, Nasdem. Kenapa tidak mau bersatu?”

Nuansa japri itu klasik sekali, mengeluh & berharap umat bersatu. Apa makna bersatu? Mau semua lelaki shalat di mesjid, mengerjakan tahajud & dhuha tiap hari, semua mengaku muslim berpuasa Ramadhon, dll? Hrs Bersatu dlm hal apa?

Kembali ke harapan2, keluhan2 tanpa grand design & arah jelas. Jika begitu terus kapan selesainya? Apa A-Is itu sama saja perilaku berIslamnya dg muslim pada umumnya? Ya tdk kan, hrs proaktif, bergerak menjadi contoh, memberi arahan yg benar pd umat dlm berislam sesuai percontohn nabi.

Mari diperhatikan informasi kekuatan politik Islam saat ini di Indonesia:

Perolehan suara dan kursi partai politik, yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum, di Jakarta, Sabtu, 31 Agustus 2019 :

PDI Perjuangan – suara sah 27.053.961 (19,33%) mendapat 128 kursi
Partai Gerindra – suara sah 17.594.839 (12,57%) mendapat 75 kursi
Partai Golkar – suara sah 17.229.789, (12.31%) mendapat 85 kursi
PKB – suara sah 13.570.097 (9,69%) mendapat 58 kursi
Partai Nasdem – suara sah 12.661.798 (9,05%) mendapat 59 kursi
PKS – suara sah 11.493.663 (8,21%) mendapat 50 kursi
Partai Demokrat suara sah 10.876.057, (7,77%) mendapat 54 kursi
PAN – suara sah 9.572.623 (6,84%) mendapat 44 kursi
PPP – suara sah 6,323.147 (4,52%) mendapat 19 kursi.

Dari data itu bisa dianalisis sbg berikut:

Partai Asas Islam yg lolos hanya PKS+PPP dg total anggauta DPR nya 69 orang (13%). Misalnya keduanya bisa bersatu dlm berpolitik, bermisi sama yi mendukung Figur Eksekutif yg baik kualitas Islamnya, membuat-mendukung Materi Undang2 yg bernilai syar’i, bisakah menang/berhasil jika hanya keciiil perolehan suarah? Apa lagi jika unt itu saja keduanya tdk satu pandangan Islam Politik .

Jika Partai asas Islam + Partai Berbasis Ormas Islam walau tdk berasas Islam (PKS+PPP & PKB+PAN): 50+19+58+44=171kursi DprRI (32% total kursi DprRI). Bandingkan dg Partai Sekuler (Non-Islam).
vs
Partai2 Non-Islam; 68%

Coba disandingkan dg hasil Pemilu 1955:
Partai asas Islam (Masyumi+NU+PSII+PERTI) = hampir 60%
vs
Partai2 Non-Islam (mis PNI-PKI-Murba dkk) hanya 40%.

Jauh sekali perolehan suara Partai Islam vs Partai Non-Islam di Pemilu 1955 jika dibanding Pemilu 2019 bukan?

Mengapa? Jawabnya TUNGGAL saja: ‘Kesadaran umat Islam unt berIslam Politik (mau memilih Partai asas Islam) sdh jatuh berantakan”.
Bgmn penjelasan rasionalnya? Karena dakwah Islam sejak pemilu 1955 (Orde Lama + Orde Baru) telah diskenario/ diproses oleh LAWAN ISLAM agar fokusnya sebatas pd Ibadah mahdhah saja,maksimal agar orang Islam itu berAhlaq baik-berAmal sosial yg buaanyaak. Persis seperti design Snouck Hugronje unt penyesatan umat Islam di era penjajahan.

Coba dinalar jernih “SIAPA MAYORITAS PEMILIH PARTAI2 SEKULER (NON-ISLAM) spt
PDIP-GOLKAR-NASDEM- dll? Jawabnya amat mudah: ya muslim, orang yg mengidentitas dirinya beragama Islam bukan?

Maka solusi untuk kekalahan Islam dlm kepemimpinan di negeri muslim sendiri menjadi jelas, yakni;
“Aktifis Islam hrs gencar sosialisasi ISLAM POLITIK dalam dakwah2nya. Setiap jengkal langkah aktifitasnya hrs bernuansa membawa misi Islam Politik (Menjadi Muslim itu WAJIB SYAR’I / HARUS MEMILIH-MEMBESARKAN PARTAI ASAS ISLAM dlm kehidupan di dunia pluralnya). Disitulah solusi bagi kekalahan demi kekalahan Islam dlm PEREBUTAN KEPEMIMPINAN DI DUNIA PLURALnya.

Maka marilah umat digerakkan terlebih para aktifis Islam di segala bidang agar tdk pasif saja, spy tdk memperoleh Teguran atau bahkan bisa mendpt Sanksi Allah SWT di dunia & akherat. NA’UDHUBILLAH.

Sby, 5 Oktober 2019

Entry filed under: Pemikiran, Politik. Tags: , , , .

Posting tentang “Mari Mengetuk Pintu Langit” MEMAHAMI PERTARUNGAN POLITIK PASCA ORDE BARU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 63 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

October 2019
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Stats

  • 132,558 hits

Feeds


%d bloggers like this: