POSISI AL QUR’AN DALAM ISLAM, DAN PERAN ISLAM DALAM PERADABAN MANUSIA

25 December 2019 at 10:01 Leave a comment

DR. Fuad Amsyari *)

Kebanyakan orang melihat Islam terpancang pada statusnya di saat ini, yakni bahwa Islam adalah satu dari sekian banyak agama dan keyakinan yang hidup dalam masyarakat. Cara pandang seperti itu terlalu sempit dan berakibat menjadi sulit untuk memahami bagaimana hakekat peran Islam dalam dinamika peradaban manusia, peran Islam terhadap nasib manusia sebagai individu maupun sebagai tatanan sosial yang plural. Islam mudah dianggap tidak beda dengan agama lain, atau agama lain tidak beda dengan Islam. Maka terjadilah berbagai polemik dan diskusi tiada habisnya apa peran sesungguhnya agama Islam itu dalam kehidupan manusia, membawa kebaikankah, seberapa banyak, atau malah membawa kerugiankah, seberapa rusak. Perdebatan untuk menentukan apa hakekat peran Islam di dunia ini  rasanya tidak akan pernah selesai kapanpun dan di manapun, apalagi dengan pesatnya perkembangan kemampuan manusia dalam sains-teknologi termasuk kemampuan  membuat argumen/alasan yang luar biasa,  secara nalar maupun emosional.

Cara terbaik untuk memahami apa peran Islam di tengah umat manusia yang  bergerak dinamis, sebagai pribadi maupun kelompok sosial, haruslah ditinjau dari awal mula tumbuh dan berkembangnya agama Islam, di era kehidupan Nabi Muhammad SAW dengan masyarakatnya. Jangan lupa hakekat manusia itu sama saja dari dahulu sampai sekarang dan akan datang, yakni suatu mahluk hidup dengan kemampuan tinggi karena kondisi biologisnya, punya kecerdasan luar biasa namun juga punya hasrat untuk bertahan hidup dan ambisi besar memiliki-menguasai sekitarnya.

Sampai menjelang usia ke 40 tahunnya Nabi Muhammad, sebelum turun wahyu pertama, tinggal di Mekah di mana manusia memiliki keyakinan  yang variatif, termasuk cara memandang alam semesta dan  penciptanya. Di sana ada agama Yahudi dengan Uzair nya, Nasrani dengan Yesus nya, Majusi dengan Matahari nya, dan  penyembah berhala yang sering disebut sebagai kaum Musyrikin dengan berhalanya Latta, Uzza, dll.  Masyarakat Mekah tersebut juga melangsungkan kehidupannya dengan segala kebiasaan/tradisi mereka, termasuk peradaban yang dianut  dari waktu ke waktu mengikuti keyakinan yang mereka anut. Bagaimana kualitas kehidupan manusia di saat itu? Sejarah mencatat bahwa masyarakat Mekah saat itu sangat buruk kualitas tatanan sosialnya, kejahatan meraja lela, ketimpangan ekonomi yang tajam oleh eksploitasi si kaya kepada yang si lemah, laki2 bersikap kejam kepada perempuan bahkan sampai membunuh bayi perempuan karena si ayah merasa malu jika punya bayi perempuan, kekerasan-kekejaman di mana2, penyiksaan secara fisik menjadi suatu yang biasa apalagi terhadap manusia yang dijadikan budak, diperjual belikan dari tangan orang kaya satu ke lainnya ibaratkan hewan piaraan.Begitulah gambaran ringkas umat manusia yang hidup dalam tatanan yang belum mengenal Islam di saat itu.

Kondisi suatu tatanan sosial manusia umumnya disebut sebagai peradaban dari masyarakat itu. Komponen peradaban itu ada 3 macam, yakni: Pola Pikir, Perilaku, dan Karya manusia. Pola pikir adalah cara berpikir manusia untuk menilai segala sesuatu, apa yang hebat apa yang tidak, apa yang baik dan apa yang buruk dalam hidup ini. Perilaku  adalah tingkah laku manusia sehari-harinya, perbuatan-percakapan yang mereka perbuat, yang sudah menjadi kebiasaan maupun yang bukan, lalu diberi label perbuatan mana yang wajar dan boleh dilakukan dan perbuatan apa yang dianggap menyalahi kebiasaan dan tidak layak dilakukan orang. Sedangkan Karya adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh kerja manusia sebagai produk buah pikiran dan kerja nyata yang tertuang dalam materi/barang/ benda. Dengan kata lain masyarakat di Mekah saat itupun sudah punya peradaban dan dinilai sangatlah buruk atau rusak. Dalam peradaban rusak seperti itulah lalu lahir agama Islam yang diturunkan Allah SWT ke umat manusia melalui pemberian Wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Wahyu tersebut turun ke Nabi secara bertahap, sedikit demi sedikit mulai dari wahyu pertama sampai yang terakhir, berlangsung selama 23tahun lamanya sampai menjelang wafatnya Nabi. Wahyu2 itu dikumpulkan menjadi satu kesatuan dan itulah yang disebut al Qur’an. Tuntunan Allah SWT dalam bentuk wahyu ke Nabi disertai dengan percontohan Nabi dalam melaksanakannya itu disebut sebagai Agama Islam.

Dampak apa yang terjadi akibat dilaksanakannya agama Islam oleh manusia   itulah yang disebuat sebagai Peran Islam dalam perubahan peradaban manusia. Dengan pendekatan retrospektif seperti ini maka tidaklah sulit untuk menjelaskan apa hakekat Peran Agama Islam dalam dinamika peradaban manusia, dan apa pula Posisi Al Qur’an dalam agama Islam itu.

Dari catatan sejarah manusia telah terbukti bahwa dengan turunnya agama Islam dan diterapkannya tuntunan Wahyu ke Nabi Muhammad telah membuat peradaban manusia yang rusak menjadi peradaban yang mulia-terhormat. Jika diurai dari sisi komponen peradaban yang diubah oleh Islam maka kian menjadi mudah untuk difahami apa yang membuat agama Islam mampu mengubah peradaban manusia dari buruk ke baik itu. Pola pikir manusia oleh Islam diubah agar manusia bertuhankan Allah SWT yang dijelaskan dalam surat al Ikhlas bahwa nama tuhan itu Allah, yang Esa, tempat bergantung semua ciptaanNya, tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada apapun yang menyamaiNya. Itulah tuhan yang harusnya disembah dan  diikuti tuntunanNya, yang berturut2 lalu diketahui manusia melalui  wahyu2 yang turun ke Nabi, dari awal sampai akhir. Dari wahyu2 itulah diketahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik sehingga harus dikerjakan dan apa yang buruk sehingga harus ditinggalkan-dilarang dikerjakan. Dalam panduan Pola Pikir, Perilaku, dan Karya tertuntun Wahyu seperti itulah maka manusia lalu berubah dari berkualitas buruk-jahat menjadi berkualitas baik-bermanfaat. Dengan Pola pikir yang tertuntun baru itu, lalu Wahyu  juga menuntun cara Perilaku manusia agar terarah, mana perilaku mulia-terhormat yang harus dilakukan dan mana pula perilaku buruk /jahat/merusak  yang harus dibuang dan  dilarang dilakukan. Perilaku manusia dengan Islam lalu tertata, berstandard baru, tidak lagi seenak sendiri, tanpa kendali, tanpa panduan. Pola pikir yang benar dan perilaku yang tertuntun oleh wahyu itulah yang ujungnya membuat Karya manusia juga terarah menjadi produk2 yang bernilai manfaat tinggi untuk perikehidupan manusia, bukan karya atau produk yang akan merusak umat manusia, menghancurkan peradaban. Mari kini juga dibandingkan dengan Pola pikir, Perilaku, serta Karya manusia jaman sekarang yang tidak tertuntun Wahyu atau mengabaikan tuntunan Wahyu.

Wahyu yang turun di era Mekah dimulai dengan dengan surat al ‘Alaq ayat 1-5 yang isinya mengenalkan adanya tuhan yang menciptakan alam semesta termasuk manusia, tuhan yang akan mengajar manusia dari apa2 yang belum diketahuinya, bukan asal bertuhan. Dari wahyu pertama itupun manusia pemeluk Islam sudah diperintahkan menyampaikan ke manusia lain agar bertuhan secara benar dan mau belajar dan melaksanakan tuntunan tuhan. Dengan wahyu pertama itu saha sudah  bisa difahami bahwa solusi untuk kerusakan manusia sebagai pribadi dan tatanan sosial plural itu harus dimulai dengan mengenali dan mengidentifikasi tuhan yang benar, lalu  mengerti dan melaksanakan tuntunan tuhan tersebut. Jangan manusia menjadi iblis yang mengenal tuhan dengan benar namun menolak perintah tuhan. Wahyu ke dua yang datang tidak lama sesudah wahyu pertama adalah surat al Muadtsir ayat 1-7 yang isinya sudah menuntun manusia lebih rinci: yakni bahwa harus bangun bergerak bekerja nyata menyiarkan  keagungan Allah SWT, membersihkan dirinya, meninggalkan keburukan-kejahatan, bermentalitas ihlas yang jika melakukan kebaikan pada manusia tidak menghitung imbalan, dan bersikap sabar jika mendapat berbagai tantangan/kesulitan2 dari manapun. Wahyu ketiga adalah surat adh Dhuha ayat 1-11 yang intinya bahwa manusia harus berwawasan ke depan, selalu berupaya bersama Allah SWT, introspeksi diri bahwa mereka itu pernah dalam berkondisi lemah tidak berdaya dalam hidupnya lalu Allah SWT memberi perlindungan, mendidik, dan memberi rizki-harta, manusia juga harus menolong anak yatim, membantu orang miskin, dan berbagi terhadap apa2 yang dikaruniakan tuhan padanya. Wahyu2 berikutnya yang turun di Mekah selama sekitar 13 tahun utamanya untuk membenahi pribadi manusia sehingga disebut sebagai Syariat Syahshiyah yang intinya harus berTauhid mengesakan tuhan dan bertuhankan Allah SWT, berakhlaq mulia, beramal sosial, beribadah mahdhah, dan melakukan syiar Islam. Dengan wahyu2 yang menuntun syariat personal tersebut maka umat Islam di Mekah sudah merasakan kedamaian di hati, walau hidupnya masih miskin, bahkan masih ada yang menjadi budak, sering mendapat cemooh musuh Islam, bahkan sebagian disiksa secara fisik. Dengan melaksanakan syariat Islam lingkup pribadi/syahshiyah itu umat Islam di Mekah sudah teguh dan tenteram hatinya karena sudah benar dalam pola pikir-perilaku-karyanya, walau sebagai tatanan sosial plural  mereka masih dikendalikan oleh Penguasa Formal yang kafirin-musyrikin, hidupnya di dunia sangat tertekan, dan agamanya dilecehkan-dihinakan orang. Dengan berislam sebatas syariat personal/ syahshiyah sesuai isi wahyu yang turun di fase Mekah itu umat Islam ternyata  masih menderita hidupnya di dunia, sedang  tatanan sosial plural di Mekah tetaplah rusak, penuh kemungkaran, kejahatan, eksploitasi, dan ketidak adilan. Ternyata berislam sebatas melaksanakan syariat personal (bertauhid, akhlaq mulia, amal sosial, dan ritual) belum mampu mengubah peradaban manusia yang plural, sedangkan agama Islam dan umat Islam masih dihinakan orang.

Di penghujung fase Mekah itu Nabi dan umat Islam mulai mengkonsolidasi kekompakan umat Islam sebagai kelompok sosial yang solid khususnya sesudah adanya janji setia pemeluk Islam untuk membela Islam yang disebut sebagai  Baiat Aqobah 1 & 2. Umat Islam membangun kekuatan massa, yang kian membesar dan kokoh setelah Nabi hijrah ke Madinah. Di fase Medinah inilah lalu turun Wahyu2 yang memberikan panduan2 tentang cara hidup bermasyarakat yang benar. Umat Islam diperintah membangun HIZBULLAH, kekuatan politik Islam yang mau dan siap bersaing dengan kekuatan politik kafirin-musyrikin, yang dalam perjuangannya berujung  kemenangan umat Islam dengan disepakatinya Piagam Madinah di mana dicanangkan/disepakati oleh semua kelompok di Madinah yang plural bahwa Pimpinan Formal negara Madinah adalah Muhammad SAW.  Sebagai Kepala Negara lalu Nabi beserta timnya membuat kebijakan publik yang sejalan dengan isi Wahyu2 yang diturunkan Allah SWT  di era itu, seperti penunjukan pejabat yang benar, pembenahan perilaku penduduk yang plural agar berakhlak berbudi-terhormat tidak semau sendiri, hak asasi dibenahi bukan dibiarkan liar tanpa kendali wahyu, melarang eksploitasi dalam bisnis, melarang peredaran komoditas ekonomi yang merusak masyarakat, mengangkat derajat perempuan, mengatur hubungan laki-perempuan dalam budaya pernikahan, menghukum dengan hukuman berat pada kriminal pelaku kejahatan, membangun kedaulatan dan bela negara yang kompak-kokoh oleh semua warga. Begitulah isi Wahyu2 yang turun selama fase Madinah, bermuatan cara mengatur suatu Tatanan Sosial/kenegaraan selain juga tetap mengingatkan tentang pentingnya tauhid, akhlaq, amal sosial, ibadah ritual, dan syiar Islam.

Di era Madinah yang berpenduduk plural Nabi tetap melakukan syiar Islam bahkan sebagai Kepala Negara beliau memiliki jangkauan secara internasional dalam bentuk misi2 diplomatik. Misi syiar Islam itu  adalah untuk mengajak manusia, siapapun di manapun, sebagai apapun,  agar kembali kepada kebenaran dengan tanpa ada pemaksaan. Wahyu yang turun di era Madinah tegas menyatakan umat Islam hanya boleh berperang jika diperangi lebih dahulu, dan itupun tidak boleh berlebihan (lihat misalnya surat al Baqoroh ayat 190-196).  Dengan panduan Wahyu yang turun di Mekah dan Madinah itulah Islam kemudian mampu melakukan perubahan peradaban manusia dalam tatanan masyarakat yang plural. Tatanan negara Madinah yang plural lalu menjadi bangsa yang penuh keadilan, makmur, sejahtera, berkemajuan. Itulah hekakat misi Islam diturunkan oleh Allah SWT ke dunia yang rusak, memperbaiki manusia baik secara personal maupun tatanan sosial masyarakatnya, Itu pulalah makna bahwa Islam diturunkan untuk membawa  rahmat bagi alam semesta dengan manusia2 penghuninya yang plural. Tentu perlu difahami bahwa misi besar dan mulia Islam yang dijelaskan di atas  itu hanya tercapai jika Islam memimpin dunia plural. Islam hanya mampu menghadirkan kemuliaan-kesejahteraan bagi umat manusia jika Syariat Islam  diberlakukan secara keseluruhan, bukan sebatas syariat terkait Personal/Syahshiyah saja namun juga harus melaksanakan Syariat Islam berdimensi sosial-politiknya atau Syariat Jam’iyah wa Daulah. Berislam utuh atau kaffah berarti umat Islam melaksanakan syariat Personal/Syahshiyah dan syariat Politik/ Siyasiyah.

Wahyu yang turun berturut-turut di Mekan dan Madinah yang pesannya dilaksanakan oleh Nabi secara keseluruhan atau utuh/kaffah itulah al Qur’an. Agama Islam pada dasarnya adalah melaksanakan al Qur’an untuk memperbaiki kualitas hidup umat manusia baik sebagai individu maupun sebagai tatanan sosial yang plural. Syariat yang diajarkan al Qur’an baik yang berupa syariat personal seperti tauhid, ahlaq, amal sosial, ritual, dan syiar Islam maupun syariat sosial-politik/ siyasiyah atau jam’iah wa daulah seperti membangun Hizbullah, Kepemimpinan Islam di dunia plural atau Qiayadatul Islam, dan peyusunan-pelaksanaan Kebijakan Publik sejalan syariat atau Ahkamul Islam harus dilaksanakan keseluruhannya agar bisa menyelamatkan umat manusia dari kerusakan/kehancuran.

Sebagaimana diketahui dari catatan sejarah bahwa pelaksanaan al Qur’an di masa Nabi dilanjutkan oleh sahabat terpilih Khulafa ar Rosyidin sesudahnya  menunjukkan efek perbaikan peradaban manusia dari peradaban rusak ke peradaban mulia-terkemuka. Dunia berubah oleh al Qur’an, berubah ke arah kemuliaan, keadilan, kesejahteraan, dan kemajuan. Kejayaan-kemuliaan peradaban manusia itu lalu berlangsung ratusan tahun. Namun sayang sekali peradaban manusia tersebut  kemudian kembali terjun merosot berubah ke arah kerusakan dan kehancuran. Peradaban manusia kini bergerak ke arah sebaliknya, melemah jatuh yang terjadi setelah manusia mulai meninggalkan pesan al Qur’an, karena faktor kelalaian ataupun kesengajaan. Faktor kelalaian itu terkait  dengan umat Islam sendiri yang melupakan pesan2 pokok al Qur’an  dan bahkan kemudian banyak bertikai sesamanya tentang pesan al Qur’an yang tidak selayaknya dipertengkarkan. Pesan pokok dari al Qur’an yang diabaikan oleh umat adalah prinsip bahwa KEPEMIMPINAN TATANAN SOSIAL PLURAL ITU HARUS DI TANGAN MUKMIN TERBAIK (tidak asal Muslim dengan/tanpa pertimbangan keturunan) dan prinsip bahwa umat harus memiliki PENGUASAAN SAIN-TEKNOLOGI YANG MERUPAKAN SUNNATULLAH EMPIRIS/ SAHADAH, SUATU DETERMINAN/ FAKTOR PENENTU DALAM PERSAINGAN DI  DUNIA. Kekuatan sosial-politik Umat Islam menjadi lemah karena pertikaian terkait hal2 ghoib seperti cara beritual dan keakheratan, serta  fenomena masa silam seperti kejadian Adam, peristiwa Nuh dll yang tidak memiliki objektifikasi baik dari sisi hadis berkualitas shohih-mutawatir maupun dari pembuktian empiris/sahadah. Secara pelan namun pasti umat Islam kian tertinggal dalam Kepemimpinan Formal masyarakat plural dan terbelakang dalam penguasaan Sain teknologi. Umat juga tidak bisa membangun kekokohan politik karena bertikai dalam hal2 personal seperti cara beritual, opini akherat, dan pandangan pribadi tentang peristiwa  masa silam.

Inti agama Islam adalah melaksanakan pesan al Qur’an. Oleh karena itu al Qur’an wajib dimengerti makna pesannya. Ada 3 bentuk pesan al Qur’an, yakni: 1). Berupa ayat yang sudah jelas maknanya tanpa harus dijabarkan lagi, seperti keberadaan-identitas tuhan dan sifat Allah SWT, perilaku baku pribadi (antara lain jujur, benar, amanah, berbuat kebaikan) , pembagian harta waris, perempuan yang dilarang untuk dinikahi, kriteria Pemimpin yang wajib dicalonkan dan dipilih, Organisasi sosial-politik yang terlarang untuk dimasuki dan didukung, hukum bagi pidana kejahatan tertentu, dll; 2). Berupa ayat yang masih perlu dijelaskan aspek operasionalnya  oleh percontohan dan penjelasan Nabi, seperti cara shalat, puasa, haji, zakat, dan berbagai aspek ritual & keghoiban alam akherat; dan 3) Ayat al Qur’an yang berupa dorongan agar manusia dan umat Islam memahami seluk beluk atau prinsip2 dari alam semesta ciptaan Allah, seperti sunnatullah biologis, kedokteran, antariksa, geologi, kaidah2 sosial-menejemen dll. Pada bentuk terakhir ini ayat al Qur’an hanya memberi signal atau arahan umum yang rincian selebihnya harus didalami oleh manusia sendiri (yang memang diciptakan Allah SWT memiliki kondisi biologis prima) melalui proses keilmuan atau Sain-teknologi. Di zaman Nabi dan Khulafaur rasyidin ketiga bentuk informasi al Qur’an itu diterapkan  secara serius dan dengan begitu membuat Islam mampu menghantar manusia mencapai kemajuan peradaban yang sangat pesat dan maju. Sekali lagi sayang bahwa setelah era itu umat Islam lalu meninggalkan pesan2 al Qur’an yang tegas dan bernilai strategis, khususnya masalah Kepemimpinan Formal dalam bernegara dan lengah dalam pengembangan sain-teknologi, asyik berdebat hal2 ghoib dengan interpretasi subyektif personal tokoh2nya.

Walau al Qur’an diturunkan Allah SWT dalam bahasa Arab tidaklah boleh ada alasan untuk tidak bisa memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Bagi mereka yang lahir dan besar bukan dari ras Arab wajiblah secara bertahap memahami-mendalami pesan al Qur’an itu. Untuk mencapai tujuan tersebut  ada 3 tahap yang perlu dikerjakan umat manusia, yakni: 1). Belajar membaca al Qur’an sampai ke tingkat tartil mengikuti aturan tajwid, tidak boleh seenaknya membaca dan melagukan ayat al Qur’an sehingga  menabrak prinsip cara baku membaca  al Qur’an atau qira’atul Qur’an. Sangatlah dilarang dalam  Islam jika al Qur’an dibaca dengan tanpa aturan tajwid bahasa Arab karena bukan begitu bunyi Firman Allah SWT yang dibacakan ke Nabi Muhammad SAW; 2). Belajar mengartikan bahasa Arab dari aspek tata bahasa dan kosa katanya. Setiap bahasa memiliki tata bahasa yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai kaedah Nahwu-Sharaf. Dengan memahami tata bahasa itu dan memperkaya kosa kata dibantu kamus Arab tentu manusia kian mudah memahami makna pesan dalam al Qur’an. Pada saat ini di Amerika Serikat dan Inggris kian banyak orang asing itu belajar bahasa Arab karena mereka ingin memahami apa sesungguhnya isi pesan al Qur’an, bukan sekedar mendengar Islam dari katanya orang, kata ustad, kata ulama. Belajar Islam hanya berbekal kata orang walau orang itu disebut sebagai Ustad atau Ulama tetap berresiko salah karena mereka itu tidak mustahil memiliki kelemahan2, bahkan ada yang memang mau memanipulasi makna pesan al Qur’an untuk kepentingan kehidupan duniawinya; dan 3). Belajar lebih jauh tentang sejarah al Qur’an, sejarah Nabi, ilmu Hadis, dan perangkat2 pendukung lainnya. Dengan ketiga tahapan itulah manusia dan umat Islam akan mampu mengerti makna dari pesan al Qur’an yang secara bertahap akan bisa memahaminya kian menyeluruh atau sempurna.

Dalam proses belajar tersebut tidaklah bisa diabaikan keberadaan perbedaan persepsi terhadap pesan al Qur’an. Hal itu bahkan sudah dinyatakan oleh Allah SWT melalui surat Ali Imron ayat 7 bahwa di dalam al Qur’an tersebut ada ayat2 yang berkualifikasi Muhkam/jelas maknanya, dan yang berkualifikasi Mutasyabih/samar atau multi interpretasi. Allah berpesan agar mengutamakan memahami  ayat yang muhkam yang merupakan induk dari al Qur’an dan menghindari pertikaian terhadap makna ayat2 mutasyabih,  yang sesungguhnya hanya Allah SWT yang tahu takwilnya. Bahkan Allah memperingatkan bahwa mereka yang hatinya cenderung sesat  yang mengutamakan memaknai ayat mutasyabih dan mengabaikan makna ayat yang muhkam.

Pada sisi lain dalam al Qur’an juga ayat2 yang menyangkut hal2 pokok dalam berIslam atau Asholiyah, dan ada pula hal2 yang bersifat cabang-ranting yang disebut Furu’iyah. Mengutamakan pesan yang bernilai pokok, berpedoman pada ayat muhkam adalah kunci berislam yang benar. Umat Islam harus meninggalkan pertikaian karena berbeda terhadap hal2 yang bersifat cabang-ranting, secara personal memohon ampun jika salah persepsi, dan terus berupaya agar umat tetap bersatu sebagai kekuatan sosial-politik.  Ayat al Qur’an yang bersifat mutasyabih atau tuntunan Islam yang bernilai furu’iyah umumnya menyangkut peristiwa2 keghoiban dan kejadian2 masa silam yang tidak bisa diberikan objektifikasinya secara empiris/sahadah. Jika umat Islam mengutamakan pelaksanaan ayat al Qur’an yang bersifat muhkam serta berorientasi kepada hal2 yang bersifat pokok maka umat Islam akan bisa kokoh bersatu  mampu  memenangkan persaingan dalam kehidupan nyata di dunia ini.

Dalam proses belajar al Qur’an yang kadang memerlukan waktu relatif panjang, umat Islam tidak layak beralasan karena masih belajar lalu dengan ringan mengabaikan pelaksanaan perintah al Qur’an. Pada kasus seperti ini  umat Islam harus memanfaatkan buku terjemahan al Qur’an yang ditulis para ahli bahasa Arab ke dalam bahasa ibu yang dimengerti umat. Proses alih bahasa ini memang tidak mudah, maka sebaiknya dicari terjemahan oleh suatu Tim yang memiliki keahlian dari berbagai sisi saat proses penterjemahannya. Sekali lagi umat Islam itu wajib bisa membaca al Qur’an dan memahami makna ayat2 al Qur’an yang bisa dimulai dari membaca buku terjemahan oleh para ahli agar segera bisa memilah mana ayat yang dapat dimengerti langsung mana pula yang sulit/belum bisa difahami dengan mudah. Dari tahapan ini seorang muslim seharusnya sudah bisa hidup berbasis ayat al Qur’an yang sudah difahami dari terjemahan para ahli tadi. Pada era kemajuan sain-teknologi sekarang tidak pantas jika umat Islam masih belajar Islam berbekal hanya dari ceramah ustad-ulama tanpa penjelasan dalil ayat al Qur’an dan hadits shohihnya. Memahami Islam hanya dari katanya orang tanpa tahu dalil al Qur’an dan Hadis shohihnya disebut TAQLID, sedang memahami tuntunan Islam dari Ustad-ulama disertai dengan penjelasan dalil al Qur’an dan hadis shohihnya disebut ITTIBA’. Sambil belajar membaca al Qur’an secara tartil, belajar mengerti dasar2 nahwu sharaf dg kosa kata Arab maka  umat Islam sudah wajib menerapkan tuntunan Islam dalam kehidupannya dari hasil membaca terjemahan al Qur’an dan Hadits, serta belajar dari petunjuk ustad-ulama dengan pendekatan Ittiba’ bukan Taqlid.

Sesuatu yang pasti tidak boleh dilakukan umat Islam terhadap al Qur’an adalah menggunakan al Quran sebagai jimat atau bahan klenik kesyirikan karena hal itu akan menjerumuskan pelaku kepada murka Allah SWT. Sangatlah tidak masuk nalar jika sepotong ayat al Qur’an digantung di atas pintu rumah lalu rumah itu akan terbebas dari didatangi maling. Atau menuliskan sebuah ayat di sepotong kertas kemudian kertas itu dibakar dan abunya dicampur air dan airnya dimimun habis akan membuat orangnya terhindar dari penyakit. Untuk mengajarkan perbuatan mungkar seperti itu lalu dicari-cari dalil Islamnya,  dikatakan bahwa yang menjaga al Qur’an itu Allah SWT dan jika manusia itu ikut menjaga maka Allah akan menjaga orang tersebut. Namun ektrapolasinya yang salah, bahwa cara menjaga al Qur’an bukannya menghafalkan tapi ternyata menggantungkannya di atas pintu atau meminum/menelan abu tulisan ayatnya dikertas yang dibakar. Bagaimana umat bisa maju menang bersaing dari orang lain  jika cara berislamnya seperti itu?  Sikap keliru/konyol tersebut bisa disebabkan oleh dua kemungkinan, yang pertama karena kelemahan nalarnya atau yang kedua karena memang sengaja  mau memperbodoh umat Islam atas  suruhan  musuh Islam.

Akhir2 ini bergema pula upaya sistematis agar umat meninggalkan al Qur’an dengan argumentasi  bahwa sekarang ini eranya Ulama pewaris Nabi, setelah berahirnya era sahabat dan tabi’it tabi’it tabi’it3 tabii’in. Persoalan Islam apapun di masa kini solusinya ada di tangan  ulama, tidak perlu lagi menengok al Qur’an dan hadis dengan segala sanadnya. Pemikiran seperti itu jelas sesatnya. Lupakah umat akan keberadaan ulama syuk atau ulama jahat yang menjual Islam untuk kepentingan musuh Islam? Jangan percaya  pemikiran bahwa kini berislam itu eranya ulama-ustad sehingga tidak perlu lagi membaca al Qur’an itu sendiri. Sungguh banyak ulama-ustad yang pemahaman al Qur’annya juga amat terbatas, belum lagi munculnya ulama-ustad yang tidak jujur, memanfatkan  al Qur’an untuk kepentingan kehidupan pribadinya. Sebaik2 umat Islam masa kini adalah jika mau belajar acuan dasar agama Islam yakni al Qur’an dari bahasa aslinya, berbekal pemahaman tajwid, nahwu-sharaf-balaghah, ‘ulumul  qur’an dan sirah nabi.

Selamat belajar memahami al Qur’an dan mempraktekkan isinya baik yang terkait masalah individu maupun sosial-kenegaraan agar mampu menyelamatkan  diri dan masyarakat pluralnya. Aamien.

Surabaya, di Penghujung 2019

*) Disampaikan sebagai Ceramah Umum dalam Technical Meeting Lembaga Kursus al Qur’an, Mesjid al Falah, Surabaya, 30 Desember 2019

Entry filed under: khotbah, Pemikiran, Sosial Budaya. Tags: , , .

MEMAHAMI PERTARUNGAN POLITIK PASCA ORDE BARU Kaderisasi Islam Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 63 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

December 2019
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 132,558 hits

Feeds


%d bloggers like this: