BAGAIMANA PENDEKATAN NON-EMPIRIS MENGATASI COVID19?

26 March 2020 at 21:20 Leave a comment

Pendekatan Empiris atau Syahadah untuk mengatasi covid19 sdh dikembangkan oleh seluruh dunia karena covid19 menjadi pandemi. WHO sbg badan kesehatan PBB langsung ambil peran pengarahan & koordinasi. Maka berkembanglah kiat2 seperti social distancing, lock-down, pencarian obat modern- tradisional, menemukan vaksinnya,  peningkatan imunitas non-spesifik, personal hygiene, dll. Upaya2 seperti itu tentu akan terus diproses, namun bgmn upaya2 yang bernilai Non-Empiris yg didalam agama Islam disebut sebagai pendekatan Ghoib atau Mahdhah?

Memang telah ada aktifitas seperti pembatalan Shalat Jumat, bahkan meniadakan shalat berjamaah di mesjid. Benarkah itu tergolong pendekatan non-empiris atau hanya implikasi dari upaya empiris terkait sosial distancing yg masih menjadi polemik di kalangan intelektual muslim? Sepinya atau terhentinya orang thawaf di Mesjidil Haram Mekah juga jelas merupakan dampak internasional dari upaya empiris oleh lock-down negara Arab Saudi (yg itupun msh dipertanyakan oleh banyak Ulama). Maka bgmn sebenarnya bentuk pendekatan Non-Empiris atau Ghoib untuk  mengatasi pandemi covid19 itu dari pandangan ajaran Islam?

Makna operasional Pendekatan ghoib atau non-empiris itu  adalah  upaya2 untuk menjadikan manusia mendapat perlindungan ghoib atau non-empiris dari Allah SWT karena kedekatan manusia pdNya. Kedekatan itu tentu tidak bisa diukur secara empiris namun dapat diketahui dari adanya keberuntungan2 irrasional yg didapat manusia terkait masalah yg dihadapinya di dunia. Sebagai contoh misalnya bahwa seseorang atau sekelompok orang ternyata terhindar dari terinfeksi covid19 walau upaya2 empirisnya biasa2 saja seperti kebanyakan orang, atau ternyata sembuh dari serangan berat covid19 walau tanpa pengobatan istimewa. Ciri lain dari suatu upaya non-empiris atau ghoib itu adalah  ketiadaan hubungan sebab-akibat antara upaya tersebut dengan proses empiris dari masalahnya, yg dalam dunia kedokteran sering disebut sebagai “biological plausibility”, yakni mekanisme pathofisiologinya. Katakanlah tidak bisa diterangkannya bagaimana dengan berdoa maka suatu kanker stadium 4 ternyata sembuh tanpa upaya radiasi maupun sitostatika. Maka kini perlu difikirkan bagaimana mengembangkan Pendekatan Non-empiris atau Ghoib itu untuk bisa  mengatasi pandemi covid19.

Jika ditinjau dari prinsip2 dasar yg diajarkan Islam maka ada satu mekanisme yang bisa membuat hadirnya pertolongan Allah SWT secara ghoib itu, yi KUATNYA KECINTAAN ALLAH pada manusia tersebut. Kualitas kecintaan itu dlm al Qur’an disebut dlm surat Ali Imran ayat 31 yg artinya “Katakanlah (Muhammad) jika kalian ingin dicintai Allah maka taatilah aku (caraku berislam) tentu Allah akan mencintaimu dan mengampuni kesalahanmu”. Dari dasar inilah sesungguhnya manusia bisa mendapat berbagai pertolongan ghoib dari Allah untuk mengatasi masalah dlm kehidupannya, sebagai pribadi, keluarga, maupun tatanan sosialnya yg plural. Apakah dengan shalat tahajud atau qunut nazilah bisa mendapat pertolongan ghoib itu? Sepertinya tidak semudah itu karena berislamnya Nabi tidak sekedar beritual bukan? Nabi itu jelas berahlaq mulia, amal sosialnya luar biasa, berpolitik membangun kekuatan politik Islam Hizbullah sehingga memenangkan persaingan menjadikan Islam memimpin dunia pluralnya, membuat kebijakan publik poleksodbudkumhankam berbasis al Qur’an, berperang jika diperangi musuh, membela umat Islsm & agama Islam jika dihinakan orang. Itulah cara berislamnya Nabi selain beliau shalat dan beritual lain.

Ringkasnya, jika umat Islam ingin mendapat pertolongan ghoib Allah SWT mengatasi pandemi covid19 maka umat,  di manapun berada,   berperan sebagai apapun: Rakyat biasa, intelektual, Ulama, Ustad,  Legislator, Pejabat pemerintah, dll harus BERISLAM SEPERTI BERISLAMNYA NABI sesuai dengan kapasitas-kewenangan & kemampuan yg dimiliki  masing2nya.

Mari berislam secara utuh/kafah seperti berislamnya Nabi. Kita perlu segera lakukan  tuntunan Islam yg BELUM kita lakukan &/ dakwahkan, khususnya tuntunan yg sering diabaikan umat yakni  tuntunan ISLAM SIYASI/ISLAM POLITIK:  bersama-menguatkan Hizbullah/Partai Islam bukan Partai Sekuler,  memenangkan Qiyadatul Islam atau kepemimpinan Mukmin (bukan asal Muslim) dlm Tatanan Sosial Plural, menerapkan  Kebijakan2  publik berbasis al Qur’an-Hadits shohih-Sunnatullah dari Sains yg valid. Dengan berislam yg utuh insyaAllah umat Islam akan memperolah kecintaan Allah SWT dan datanglah pertolongan ghoibNya shg selamatlah kita dari adzab berupa covid19 dll yg menyengsarakan umat.

Semoga Allah SWT segera menolong umat Islam karena kembali menerapkan tuntunanNya secara utuh: berislam Syahshiyah/Personal dan berislam Siyasi/Politik berbasis al Qur’an dg penalaran Hadis shohih & Sunnatullah empiris dari Saintek yg valid. Aamiin.

Surabaya, 24 Maret 2020

Entry filed under: Pemikiran, Science, Syariat Islam. Tags: , , , , .

Aktualisasi Pendidikan Leadership SUMBANGAN PEMIKIRAN MENGHADAPI PENYEBARAN COVID19 YANG GANAS & AMAT SULIT TERBENDUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 63 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

March 2020
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Stats

  • 132,558 hits

Feeds


%d bloggers like this: