ISLAM PERLU MENJADI PENGENDALI TATANAN SOSIAL PLURAL UNTUK MENGHADIRKAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM.

14 May 2020 at 14:56 Leave a comment

Oleh Fuad Amsyari

 

Saya menulis artikel ini karena tersentak membaca posting seorang Ustad senior di media sosial berikut ini :

“Umat ini harus di tarbiyah (dididik) untuk menjadi mujahid (pejuang) bukan jadi “penguasa”.

Kekuasaan itu adalah buah.  Allah telah berjanji kepada orang-orang yg beriman dan beramal sholeh akan memberikan “kekuasaan” di muka bumi.

Jikalau yg berkuasa itu aktifis ormas,  mahasiswa,  partai islam, tapi jika spiritnya bukan iman,  maka kekuasaan itu tidak memberikan manfaat kepada islam dan umat islam.  Sebagaimana yg kita saksikan di negeri ini…”

Jelas pandangan di atas  tdk berdasar fakta di Indonesia saat ini. Kurang banyak apa jumlah PEJUANG ISLAM  DI NGRI INI. Apa ada yg menafikan bhw ustad2, mubaligh2 di pelosok2 ngri itu bukan Pejuang Islam? Astaghfirullah.

Untuk bisa berkuasa memimpin tatanan sosial plural itu PERLU PROSES POLITIK SESUAI SUNNATULLAH SOSIAL-POLITIK, tidak otomatis tiba2 menjadi pemimpin.

Sunnatullahnya adalah ADANYA HIZBULLAH / PARTAI ISLAM IDEOLOGIS YG BESAR & KUAT untuk menang bersaing dari Partai Sekuler dukungan kaafirin-munafiqin-dholimin-jaahilin. Tidak ada yg otomatis dlm pertarungan di dunia plural.

Posting berikutnya dari ustad itu membuka jawaban mengapa pendapatnya seperti yg diuraikan sebelumnya. Ustad  tsb menulis :

“Coba lihat dalam sirah nabawi (sejarah Nabi)… Sewaktu di Mekah,  meskipun Rasulullah tidak berkuasa,  tapi pengikut Rasulullah di Mekah terus bertambah…  Begitupun keimanan para sahabat terus meningkat…

Coba renungkan dengan baik… Sewaktu di Mekkah,  Rasulullah di tawari kekuasan oleh kafir Quraisy Mekah,  tapi Rasulullah menolak.  Kalau mengikuti pemikiran logika politik  seharusnya Rasulullah menerima tawaran kekuasaan itu, karena dg berkuasa,  maka Rasulullah akan bisa melakukan apa saja.  Faktanya Rasullullah menolak tawaran tersebut.”

Pandangan tersebut jelas menunjukkan bahwa ybs hanya melihat sepotong perjuangan Nabi saat di fase Mekah saja, padahal Nabi sesudah berjuang di Mekah lalu melanjutkan perjuangan beliau di Madinah. Saya luruskan pendpt tsb sbg berikut:

Sewaktu fase Mekah yg 13 th, wahyu2 yg turun adalah terkait Syariat Syahshiyah/Persona,l spt tauhid, ritual, ahlaq, amal sosial, syiar Islam. Umat Islam dituntun tentang ajaran tersebut dlm berislamnya. Umumnya mereka taat melaksanakannya. Namun mari kini  dievaluasi apa yg terjadi/dialami umat Islam  semasa di Mekah tsb.  Umat Islam memang bertambah (dari seorang menjadi max sktr 300 orang dalam periode 13 tahun itu), dg kualitas keislamannya katakan  bagus/prima krn dipandu Nabi sendiri langsung. Tentu masalah kualitas keislaman hrs dikaitkan ketaatan pd isi wahyu yg sudah turun saja di masa itu yg substansinya msh terkait Syariat Syhshiyah/personal. Selanjutnya mari diperiksa apa yg terjadi pd umat Islam di Mekah tsb & bgmn kualitas Tatanan sosial plural di sana? Umat Islam kondisinya terhinakan, terpuruk hidupnya, bahkan banyak yg murtad. Bgmn pula dg tata kehidupan masy plural Mekah? Tetap rusak bukan? Kejahatan, kesewenangan, eksploitasi ekonomi, kesenjangan sosial, dan tetap kerdil menjadi serpihan kelompok sosial di tengah adikuasa Romawi & Persia. Itu nyata kondisi Islam & umat di fase Mekah.

Lalu bagaimana kondisi itu bisa berubah, dari terbelakang-tertindas menjadi umat yg dihormati sesama manusia, dan mampu membuat tatanan sosial pluralnya menjadi teradilkan-tersejahterakan? Di sanalah berperan  sunnatullah yg di tunjukkan oleh Allah SWT  melalui rentetan wahyu2 Madaniyah. Isi ajaran Islam tidak lagi hanya berkutat dlm syariat syahshiyah/personal tapi wahyu Allah lalu mengajarkan agar umat Islam membangun  HIZBULLAH/Kekuatan Politik yg akan BERTARUNG DG HIZBUSYAITON, yg ujungnya menang dlm pertarungan dan  mengambil Kekuasaan Formal Ngr Madinah yg plural. Maka selanjutnya Nabi mencontohkan bhw  sebagai Pemimpin Formal ngri lalu mengelola sesuai syariat Allah dlm bidang kenegaraan  poleksosbudkumhsnkam. Dari pengelolaan ngri secara BENAR/SYAR’I itulah lalu terjadi perubahan kondisi  tatanan sosial plural Madinah-Mekah, menjadi tatanan ngr yg unggul dlm segala hal sampai2 membuat Romawi & Persia berada dlm kendalinya. Dan jangan lupa dicatat bhw dg penerapan tuntunan ISLAM POLITIK maka hanya perlu 10 tahun dakwah-perjuangan Nabi bisa menyelamatkan umat manusia dg menjadi muslim di seluruh jasirah Arab dan sekitarnya. Diteruskan oleh kepemimpinan 4 sahabat beliau, Khulafaur Rasyidin, maka Islam dipeluk oleh manusia2  dari seantero benua.

Ringkasnya, baru dengan penerapan syariat Siyasiyah/ Islam Politik maka Islam menjadi jaya, umat Islam berkembang pesat & terhormat, dan  tatanan sosial plural  berkeadilan & tersejahterakan.

Pertanyaan yg aktual bagi kita sekarang ini, apakah di fase Mekah atau Madinah? Jangan keliru persepsi bhw kita kini TIDAK BOLEH BERASUMSI berada  di fase Mekah yg isi wahyu2 yg turun masih aspek syahshiyah/personal. Al Qur’an saat ini sdh utuh 30 juz, di dalamnya berisikan wahyu Makiyah & Madaniyah. Wajib bagi umat Islam untuk melaksanakan SEMUA ISI WAHYU tdk hanya yg syariat Syahshiyah/Personal saja namun juga WAJIB melaksanakan syariat Siyasiyah/Politik. Ajaran ISLAM POLITIK itu intinya  meliputi 3 hal, yakni bhw umat Islam wajib syar’i:

  1. MEMBENTUK- BERGABUNG-MENGUATKAN HIZBULLAH/PARTAI ISLAM IDEOLOGIS, haram bergabung pd Partai Sekuler dukungan kafirin-munafiqin-dholimin-jahilin
  2. MENGUSUNG & MEMILIH MUKMIN PEJUANG ISLAM YG CERDAS INTELEKTUAL dari kalangan Hizbullah sebagai Pemimpin Formal dlm Tatanan Sosial pluralnya. Haram mengusung & memilih Pemimpin Formal yg bukan Mukmin walau sepertinya cerdas-intelek dari Partai Sekuler.
  3. PENGELOLAAN TATANAN SOSIAL PLURAL HARUS SESUAI SYARIAT ALLAH SWT TERKAIT POLEKSOSBUDKUMHANKAM. Haram hukumnya mengelola ngri tdk berbasis syariat.

Kesimpulannya, umat Islam di msnapun & kapanpun wajib melaksanakan syariat syahshiyah/personal & siasiyah/politik secara simultan. Dan hanya jika mau  melaksanakan ISLAM POLITIK di atas selain umat ini berislam personal maka Islam & umat akan jaya, tidak terpuruk dihinakan orang, dan mampu mewujudkan Rahmat bagi semesta yg plural.

Hal terakhir  yg perlu dijelaskan supaya umat Islam tdk keliru faham lalu menjadi SALAH dalam berislamnya,  adalah terkait mengapa Nabi menolak saat ditawari sebagai Penguasa di Mekah. Saya ingatkan secara khusus sebab2 ideologisnya:

  1. NABI MENOLAK MENJADI PENGUASA SAAT DI MEKAH KARENA DISYARATKAN SEHARI MENYEMBAH ALLAH SWT, SEHARI MENYEMBAH BERHALA. NABI MAU MEREKA UNTUK DIJADIKAN PEMIMPIN BONEKA.
  2. NABI BERSEDIA MENJADI PENGUASA MADINAH KARENA TIDAK ADA SYARAT TSB, DAN BEBAS MEMBUAT KEBIJAKAN SENDIRI YG LALU DIKAITKAN DG TUNTUNAN/ SYARIAT ALLAH SWT TERKAIT PENGELOLAAN NGR.

 

Surabaya, 13 Ramadhan 1441H

Entry filed under: Pemikiran, Politik, Syariat Islam.

SUMBANGAN PEMIKIRAN BAGI PEMBUAT KEBIJAKAN TERKAIT MASALAH TEORI HERD IMMUNITY HIZBULLAH ADALAH KUNCI KEMENANGAN ISLAM DI DUNIA PLURAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 62 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

May 2020
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Stats

  • 132,945 hits

Feeds


%d bloggers like this: