Posts filed under ‘Syariat Islam’

JANGAN CEROBOH TERHADAP COVID19 DAN TETAP FOKUS BERDAKWAH ISLAM POLITIK

Oleh Fuad Amsyari

Assalaamu’alaikum Wr Wb.

Saat ini kian ramai saja  polemik terkait masalah umat Islam, seperti Mesjid ditutup, Haji 2020 batal, RUU HIP,  Perppu 01/2020, New Normal unt Covid19, dll.  Sayangnya banyak polemik yg  tidak menyentuh/masuk ke inti/SUMBER  permasalahan umat sehingga selain membuat umat jadi tambah bingung juga terlupa untuk membuat langkah kunci/BENAR  dalam berislam & berdakwah. (more…)

10 June 2020 at 09:32 Leave a comment

TETAP PRODUKTIF DALAM BERISLAM YG BENAR & KAFAH DI TENGAH GEJOLAK COVID19

Oleh Fuad Amsyari PhD

Dlm kondisi apapun kita hrs tetap hidup produktif  ditinjau dari ukuran agama Islam supaya sukses & selamat dunia-akherat.

Di saat kita dlm kondisi  pembatasan sosial / social distancing dll krn pandemi covid19   hendaknya masing2 kita tetap bisa produktif dlm berislam, termasuk dlm beIslam Siyasi/Politik, mengikuti percontohan Nabi dlm berislam. Bgmn bentuk operasionalnya  tentu amatlah variatif sesuai kondisi diri & lingkungan masing2.

Mengapa kita hrs tetap produktif dlm berislam walau di tengah pandemi covid19 yg dinilai amat mengerikan? Jawaban dari tinjauan  aqidah Islam amatlah jelas  yakni jika umat terus & bahkan tambah produktif dlm berislamnya tentu akan kian dekat dg Allah SWT shg semakin besar pula berkah yg kita terima dlm berbagai bentuk yg tdk bisa dikirakan. Berkah itu bisa  berupa misalnya  ketenteraman hati, rizki yg lancar, kehormatan sosial, bahkan dapat  berupa perlindungan dari infeksi covid19. Bukankah hal2 spt itu  menjadi harapan setiap muslim di dunia saat ini,  di samping nanti di akherat masuk surga? (more…)

2 June 2020 at 11:55 Leave a comment

HIZBULLAH ADALAH KUNCI KEMENANGAN ISLAM DI DUNIA PLURAL

Al Qur’an surat al Ma’idah (05) ayat 55 & 56 adalah Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW saat di Madinah, yg artinya:

“Sesungguhnya Pemimpin kalian itu hanyalah Allah, RasulNya, dan Orang yg berkategori Mukmin, yakni orang yg menegakkan shalat, membayar zakat, dan mereka yg tunduk (pd tuntunan Allah)”

“Dan barang-siapa yg mengambil sebagai Pemimpinnya itu Allah, RasulNya, dan Orang yg  berkategori mukmin maka sungguh Hizbullah,  mereks itulah yg berhasil (menang dalam perebutan kepemimpinan di dunia pluralnya)”

Dalam suatu posting ada seorang ustad yg memaknai Hizbullah itu  hanya sebagai ‘golongan Allah” secara umum, atau malah disebut sebagai ‘pasukan perang Allah’. Padahal ayat ttg Hizbullah dalam al Qur’an itu terkait dg persaingan kepemimpinan orang Islam dg orang kafir (Qs05:51-57).

Hizb itu jelas mengacu pada kelompok bermisi memimpin suatu tatanan masyarakat plural, bukan asal kelompok/golongan secara umum, juga bukan pasukan perang. Wahyu ttg hizbullah itu turun di fase  Madinah, yg sudah menyangkut masalah sosial-politik/ syariat syiyasiyah,  tdk di fase Mekah di mana isi wahyu di fase Mekah terkait tentang syariat syahshiyah/personal.

Dalam sejarah di dunia Islam yang panjang banyak orang lalu mengubah/ mengaburkan makna Hizb sebagai kekuatan politik karena mereka sedang di bawah sistem kesultanan/kerajaan krn dlm sistem tersebut  masalah kepemimpinan di dunia plural sdh dianggap selesai. Raja/Sultan dengan keturunannya itulah  Pemimpin tatanan sosial plural, tdk diperlukan adanya kekuatan politik yg berkaitan dg pemilihan Pemimpin Formal di sana.

Seperti yg sudah banyak  diketahui bahwa Wahyu Allah SWT yg disampaikan kepada RasulNya itu sesudah turun akan berlaku pd era kapanpun dan di manapun terkait makna misi keIslamannya. Dalam Era demokrasi di mana umat Islam hrs bersaing dlm masalah kepemimpinan di dunia plural maka Hizb hrs dikembalikan ke makna yg benar, yakni kelompok politik Islam untuk  memenangkan Kepemimpinan oleh Islam dlm tatanan sosial plural, seperti era Nabi beserta para sahabat di fase Madinah.

Umat Islam harus mewaspadai adanya upaya pembodohan oleh orang lain (lawan/musuh  Islam)  dg memaknai salah terhadap istilah2 di dalam ayat2 al Qur’an. Sebagai  contoh yg kini juga sedang marak dipopulerkan adalah misalnya istilah JIHAD dimaknai  ‘bersungguh-sungguh’ belaka. Juga istilah ‘Rahmatan lil ‘alamin’  dimaknai asal berbuat baik pd seseorang, atau bahkan sikap ‘diam’ saja saat Islam dihina orang.

Dari isi ayat al Qur’an dan sejarah Perjuangan Nabi dg para sahabat beliau makna HIZBULLAH adalah KEKUATAN POLITIK UMAT ISLAM, bukan asal golongan/kelompok umat Islam.

Kewajiban umat Islam di era modern sekarang ini harusnya memerinci ciri Hizbullah sehingga bernilai operasional bisa jadi panduan untuk  dikerjakan umat Islam dlm kehidupan nyata. Di jaman demokrasi di mana manusia lalu membuat kelompok2 politik beraneka ragam maka Hizbullah perlu memiliki ciri spesifik yg membedakannya dg kelompok politik yg memperjuangkan agenda yg berbeda dg umat Islam. Berikut ini minimal   karakter Hizbullah yg akan dikenali oleh umat Islam dg mudah. Partai Islam, bila sudah ada,  diharapkan menyesuaikannya.

Ciri2 operasional HIZBULLAH, kekuatan politik Islam yg kini dikenal sebagai Partai Politik Islam,  adalah:

  1. Asas Partai harus Islam
  2. Kekuasaan tertinggi Partai adalah Majelis Syuro, yg terdiri dari sejumlah ‘Ulama” dalam artian Mukmin pejuang Islam berkemampuan memahami sumber acuan Wahyu & Sains terkait seluk beluk kepemimpinan dalam masyarakat plural.
  3. Majelis Syura dipilih

dlm suatu forum musyawarah berupa   ‘Muktamar Ulama Partai Islam’ representasi ulama dalam lingkup  Nasional.

  1. Kepemimpinan Exekutif Inti Partai di semua tingkatan (seperti Ketua umum & Sekjen di tingkat Nasional) harus berkategori Mukmin aktifis Islam, yang  diangkat-diberhentikn oleh Majelis Syuro
  2. Semua Calon Pejabat Publik (Exekutif, Legislatif, Yudikatif) yg diusung Partai unt semua tingkatan hrs berkategori Mukmin aktifis Islam & ditetapkan MjSy
  3. Jika diperlukan ada Aliansi dg Partai lain maka akan dilakukan hanya JIKA untuk mengusung Calon dari Partai Islam. Partai lain yg akan dipilih untuk aliansi itu ditetapkan oleh MjSy.
  4. Pejabat Publik Formal dari Partai Islam harus mengikuti arahan kebijakan2 yg disiapkan oleh MjSy. Pejabat publik tsb hanya dpt diganti/diberhentikn oleh MjSy
  5. Hizbullah/Partai Islam harus bersikap OPOSISI tatkala kekuasaan Exekutif (Nasional & Daerah) bukan oleh Kader Partai Islam
  6. Program2 Partai Islam hrs menyentuh kebutuhan rakyat, namun berorientasi Solusi Syar’i berbasis Qur’an-Hadis shohih-Sains valid unt mengatasi masalah2 Bangsa-Negara
  7. Aktifitas2 Partai Islam hrs bersifat proaktif & vokal untuk memuliakan Islam dan membela-membantu umat Islam di dalam & luar negeri
  8. Manajemen harta-benda Partai hrs Syar’i, dengan prinsip dasar sbb:
  9. Pemisahan tegas milik Individu Pengurus vs milik Partai (harta Partai bukan milik Pengurus, dan sebaliknya)
  10. Kebijakan umum terkait Pemasukan & Pengeluaran harta partai oleh MjSy. Exekutif berperan  melaksanakan sesuai dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Partai (APBP).  Tdk perlu ada organ lain terkait  pengendalian aset, spt dibuatnya yayasan dll
  11. Pendapatan Fungsionaris partai yg menjadi Pejabst Formal Negara masuk ke kas partai. Pejabat ybs digaji oleh partai sesuai kebijakan APBP
  12. APBP ditetapkan MjSy, diketahui oleh Exekutif Partai (Ketua-Sekr) sampai di tingkat Kabupaten/Kota
  13. Program Strategis Hizbullah adalah:

GERAKAN PENYADARAN UMAT bhw  MENDUKUNG PARTAI SEKULER ITU HARAM, MELANGGAR AL QUR’AN, akan berdampak KERUSAKAN UMAT &  ISLAM, DOSANYA TERAMAT BESAR, BISA  MELAMPAUI PAHALA YG DIDAPAT dari IBADAH MAHDHOH sehingga terancam Neraka

 

Surabaya, 23 Ramadhan 1441 H

17 May 2020 at 11:20 Leave a comment

ISLAM PERLU MENJADI PENGENDALI TATANAN SOSIAL PLURAL UNTUK MENGHADIRKAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM.

Oleh Fuad Amsyari

 

Saya menulis artikel ini karena tersentak membaca posting seorang Ustad senior di media sosial berikut ini :

“Umat ini harus di tarbiyah (dididik) untuk menjadi mujahid (pejuang) bukan jadi “penguasa”.

Kekuasaan itu adalah buah.  Allah telah berjanji kepada orang-orang yg beriman dan beramal sholeh akan memberikan “kekuasaan” di muka bumi.

Jikalau yg berkuasa itu aktifis ormas,  mahasiswa,  partai islam, tapi jika spiritnya bukan iman,  maka kekuasaan itu tidak memberikan manfaat kepada islam dan umat islam.  Sebagaimana yg kita saksikan di negeri ini…”

Jelas pandangan di atas  tdk berdasar fakta di Indonesia saat ini. Kurang banyak apa jumlah PEJUANG ISLAM  DI NGRI INI. Apa ada yg menafikan bhw ustad2, mubaligh2 di pelosok2 ngri itu bukan Pejuang Islam? Astaghfirullah.

Untuk bisa berkuasa memimpin tatanan sosial plural itu PERLU PROSES POLITIK SESUAI SUNNATULLAH SOSIAL-POLITIK, tidak otomatis tiba2 menjadi pemimpin. (more…)

14 May 2020 at 14:56 Leave a comment

BAGAIMANA PENDEKATAN NON-EMPIRIS MENGATASI COVID19?

Pendekatan Empiris atau Syahadah untuk mengatasi covid19 sdh dikembangkan oleh seluruh dunia karena covid19 menjadi pandemi. WHO sbg badan kesehatan PBB langsung ambil peran pengarahan & koordinasi. Maka berkembanglah kiat2 seperti social distancing, lock-down, pencarian obat modern- tradisional, menemukan vaksinnya,  peningkatan imunitas non-spesifik, personal hygiene, dll. Upaya2 seperti itu tentu akan terus diproses, namun bgmn upaya2 yang bernilai Non-Empiris yg didalam agama Islam disebut sebagai pendekatan Ghoib atau Mahdhah? (more…)

26 March 2020 at 21:20 Leave a comment

Posting tentang “Mari Mengetuk Pintu Langit”

AWW, Saya sering dpt posting ajakan “Mari mengetuk pintu langit” yg dimaksud adalah shalat tahajud, atau ajaan berdoa “Semoga Alloh memberi kemenangan Islam di Indonesia dan menyelamatkan Indonesia n Pribumi”. Posting spt itu bahkan banyak muncul di WAG INTELEK MUSLIM YG RELATIF SDH DIKARUNIAI ALLAH HIDUP DUNIAWINYA MAPAN, spt KAHMI, ICMI.

Allah SWT memiliki hukum sebab-akibat yg disebut SUNNATULLAH. (more…)

8 October 2019 at 22:27 Leave a comment

BERISLAM BELUMLAH UTUH/ KAFFAH TANPA BERISLAM POLITIK, Umat akan terjajah, Manusia akan Celaka.

Oleh Fuad Amsyari

AWW, Saat banyak kali menjadi jamaah shalat Jum’ah maupun mendengar pengajian di kampung / tv saya sangat prihatin krn umumnya khotbah-ceramah oleh Khotib / Penceramah / Kyai-Ustadnya dlm menjelaskan berislam berhenti ttg masalah ritual & ghoib, maksimal berhenti pd perlunya berakhlaq baik, beramal sosial berbagi rizki pd fakir-miskin-yatim, termasuk korban ternak saat Iedul Adha. Mungkin saya kurang perhatian penuh namun blm terdengar oleh saya isi khotbah Jum’ah atau pengajian umum yg menjelaskan kewajiban jama’ah agar mau berIslam Politik, spt bgmn cara memilih Partai Politik & Pemimpin Formal yg benar sesuai tuntunan Islam terkait kehidupan di dunia pluralnya, serta Kebijakan2 poleksosbudkumhankam yg syar’i saat mengelola masy plural. (more…)

12 August 2019 at 11:32 Leave a comment

BAGAIMANA ISLAM MEMAKNAI “KNOWLEDGE BASED ECONOMY”?

(Sisi yg blm  didalami dlm Silaknas KAHMI: Prof-Dr bid Ekonomi)

Oleh Fuad Amsyari

Ahad 10feb yl, Forum KAHMI di hotel JW Mariot SBYA  memang terasa luar biasa dilihat dari jumlah yg hadir sktr 50 gubes-doktor bid ekonomi. Pembicr utamanya di sesi pertama  Ketua BPK Hari Ashar Azis, Pakar Ekonomi IPB Didin Samanhudi, dan Staf Khusus Presiden bid Ekonomi, serta dimoderatori oleh Rektor Unair sendiri yg ahli ekonomi. Alhamdulillah di forum itu saya sempat ketemu, foto2, dan bincang2 dg teman2 lama termasuk Bung Abdullah Hehamahua dll.

Saya cermati paparan teori & praktek ekonomi pembangunan skala nasional & internsional  dari ke tiga nara sumber utama tadi  sampai habis. Memang terasa menarik jika dipandang dr sisi  pergulatan pemikiran secara umum, spt uraian ukuran2 & fakta kondisi  ekonomi makro termasuk growth rate yg 5,1%, gini ratio yg katanya sktr 0,37 tapi itu tinjauan pengeluaran, yg jika diukur dari sisi pendapatan rakyat bisa nilainya di atas 0,50. Luar biasa memprihatinkn. (more…)

18 February 2019 at 18:51 Leave a comment

Catatan Akhir Tahun: MEMAHAMI PILPRES DARI SISI ISLAM POLITIK

Oleh Fuad Amsyari

 

Berbagai pendapat terkait Pilpres 2019 yad sdh  muncul di medsos, baik dr kubu Capres-Cawapres maupun oleh  pengamat yg belum memihak. Saya cuplik saja bbrp kasus yg menarik dan kemungkinan  akan terus muncul unt dibahas-dianalisis dari sisi Islam Politik:

  1. Posting yg mengkritisi upaya2 membuat Pencitraan diri agar dipilih rakyat, baik oleh Capres maupun Caleg (kritik2 sejenis itu sdh muncul di era Pemilu2  sebelumnya). Apa yg salah dg pencitraan?  Bukankah penampilan personal spt tampak lugu atau garang atau intelek dll, atau citra muncul krn  berprestasi bidang tertentu spt sains-olah raga-seni, dll adalah bagian dari budaya  manusia.  Publikasinyapun apakah  via media, cerita pinggir jalan/warung kopi, internet dll juga bagian wajar dari kehidupan ini.

Dalam persaingan di era  demokrasi masalah utamanya  terletak pd pertanyaan:  “Bgmn umat Islam bisa MENGENALI  MANUSIA YG BENAR UNTUK DIUSUNG/ DIPILIH MENJADI PEMIMPINNYA DI MASY/DUNIA PLURALnya”.  Itulah sesungguhnya kata  kunci untuk bisa menggapai  sukses agar Islam & umat Islam bisa menjadi  Pemimpin Formal, lalu membuat Kebijakan2 operasional sesuai Syariat yg diajarkan Allah SWT,  sehingga  berujung terwujudnya   kemuliaan-kesejahteraan-keadilan-kejayaan pd  bangsa yg plural/majemuk/bhineka.

Bgmn kenyataan perilaku umat Islam masa kini dlm memilih Pemimpin  di lapangan, baik saat PROSES PENGUSUNGAN CAPRES/CALEG maupun waktu coblosan di TPS?  Sudah FAHAMKAH  UMAT ISLAM (termasuk Pengurus Parpol) SIAPA YG SEHARUSNYA  DIUSUNG / DIPILIH JADI PEMIMPIN DI MASY/NGRI nya? Apa ulama, ustad, cendekiawan muslim di ngri ini sdh  intens-istqomah  mengajarkan hal itu saat tabligh-ceramah-seminar-dakwahnya? BELUM FOKUS KE PENGAJARAN ISLAM POLITIK ITU BUKAN? Itulah hakekat  SEBAB  mengapa  umat membuat  kesalahan besar/fatal saat mendpt kesempatan untuk  mengusung & memilih dalam proses demokrasi (katakan terkait pilihan KETUA RT-RW-REKTOR-LEGISLATOR-BUPATI-GUBERNUR-PRESIDEN).

Dengan kesadaran umat dalam  berkehidupan sosial-politik  selemah itu kini saatnya (walau sdh amat terlambat) umat dididik untuk berislam secara benar,  mengikuti yg dicontohkan Nabi, tdk dididik unt berislam Ritual & Amal Sosial belaka, tapi hrs  diajarkan juga  Islam Politik sedini mungkin.

  1. Seorang teman intelek yg saya kenal sbg aktifis Islam yg cukup merakyat, tiba2 saja di saat2 sibuk pilpres ini kirim posting ke japri saya bercerita bhw di Era Tabiit Tabiin (sekitar 100 th sesudah nabi)  adanya  seorang budak berpakaian kumuh namun ditengarahi  sepertinya punya posisi  teramat dekat dg  Allah SWT shg terjamin makbul tiap doanya. Budak itu bahkan jadi rebutan antara si pemilik semula dg tokoh Islam yg menginginkan memilikinya. Posting tsb membuat saya teramat heran,  lalu berkembang  jadi khawatir jangan2 unt memenangkan Pilpres nanti  akan ada KESIBUKAN  CARI2  MANUSIA  ‘SUCI/SETENGAH DEWA’ UNT DIMINTAI  BERDOA AGAR ALLAH SWT MEMBERI  KEMENANGAN PADA CALON YG DIUSUNG.  Oleh sebab itu pd teman intelek tadi  saya respon postingannya sbb:

“Semua hal yg  terkait  ke-GHOIB-an (spt cerita budak belian yg dianggap punya kemampuan ghoib doanya selalu makbul)  di dlm ajaran Islam HANYA boleh jadi pedoman jika bersumber HADITS SHOHIH saja. Cerita itu BUKAN HADITS (eranya tabiit tabiin),  jadi tdk boleh dipakai pegangan hidup berislam,  apalagi kini sedang berada di tengah2  perjuangan Islam Politik yg di dalamnya banyak sekali kaidah baku terkait interaksi antar manusia yg merupakan Sunnatullah empiris/ sahadah yg hrs diupayakan oleh umat Islam. Katakanlah masalah spt:  Cara kampanye, Materinya, Figur2 yg hrs  berkampanye,  Perilaku si Calon sendiri,  dll.

Urusan ghoib itu mutlak hak prerogatif Allah SWT yg di dlm al Qur’an disebutkan  boleh   diusahakan via  doa. Namun hrs difahami bhw  kemakbulan doa oleh seseorang tidak ada yg bisa menjamin. Berdoa itu juga dilakukan  SESUDAH ADA UPAYA SERIUS  EMPIRIS (lht Surat as Syarh: 7-8).

Dlm Islam TIDAK ADA PROFESI PENDOA YG PASTI  TERJAMIN  MAKBUL spt  cerita dlm posting tadi, bahkan hal itu dpt dinilai Syirik jika menjadikannya sbg suatu kepastian.

Jangan lupa perjalanan umat Islam memang banyak  dininabobokkan oleh musuh Islam lewat  Hadis2 lemah-palsu & dongeng2 ttg hal2 ghoib agar umat jadi sibuk dg dunia khayalan/mimpi dan  lupa unt memakai waktunya di dunia fana yg terbatas untuk  memahami SUNNATULLAH EMPIRIS via pendalaman  Sain-teknologi.

Coba dicermati bgmn Orang Lain yg kerja keras untuk  memahami  Sunnatullah empiris/sahadah dlm kehidupan dunia fana  (termasuk teknologi bom  nuklir, pengindraan, rekayasa sosial-politik)  dan lalu  digunakan unt MENEKUK  umat Islam yg mimpi2 keghoiban tanpa percontohan shohih dari  Nabi.

Ayo menangkan pilpres secara sahadah/ empiris tanpa mencari2 Dukun/orang suci/setengah dewa seperti dlm  cerita tadi.  SEMUA saja, apalagi si CALON sendiri, hrs  berdoa khusu’ memohon kemenangan oleh Allah SWT dlm Pilpres 2019 nanti     selain upaya2 empiris serius sesuai Sunnatullah dlm kompetisi politik oleh para pendukungnya.

  1. Ada pula posting yg bernuansa berbangga  hati  terkait hasil polling Medsos via tweeter, fb, instgr, dan semacamnya.

Saya beri komentar:

Kita hrs bersikap obyektif rasional, tdk emosional.  Polling medsos itu kelemahannya krn hanya menyentuh porsi kecil penduduk terpelajar saja,  pdhal mayoritas rakyat Indonesia itu umumnya belum banyak yg terpelajar sedang yg terdidikpun masih banyak yg tdk  tersentuh survey medsos. Oleh sebab itu unt bisa menang dlm Pilpres hrs kerja keras  PENYADARAN RAKYAT BANYAK DG  MEDIA/CARA  YG BISA SAMPAI/ MENYENTUH MEREKA. Bahan yg disampaikan juga hrs  BERISIKAN MATERI YG BERBOBOT, spt: Kembali pd ajaran Islam yg Benar  bukan Islam Buatan, materi ttg berbagai  kondisi obyektif seperti  Ekonomi yg kian susah, Kesejahteraan rendah & penuh ketimpangan tajam, Pekerjaan sulit didapat tapi malah dimasuki berbondong  pekerja asing,   Keadilan Hukum yg lemah termasuk maraknya korupsi & ketidak adilan, Rusaknya Kerukunan hidup rakyat bawah spt maraknya  persekusi, menderitanya banyak ulama-ustad krn berbagai tuduhan2 saat mereka berdakwah, dll.

Materi kembali ke berislam secara  benar  PERLU TERUS DISOSIALISASIKAN/DIGELORAKAN , termasuk nasehat jangan berislam hanya sebatas ritual-amal sosial, namun juga hrs proaktif meraih Kepemimpinan Islam dlm masy plural spy masy plural itu menjadi masy mulia-sejahtera dlm berkah Allah SWT. Manusia  juga hrs diajak kembali ke ajaran Tauhid, yi  beriman hanya pd Allah SWT.

Para Muslim Pemilih  sehrsnya dipandu dg  kaidah2 Islam dlm berPolitik oleh Ulama-Ustad,  khususnya ttg  dua prinsip Qaidah Ushul Fiqih :

  1. Fokuskan penilaian pd Kualitas  CAPRESnya,  bukan pd Wakil/ Pendamping krn ada  qaidah ushul: “At taabi’ut taabi’ / Pembantu itu mengikuti”.
  2. Penerapan Kaidah ushul: ‘Dar-ul mafaasid muqoddamu ‘ala jalbil masholih’, yi dahulukanlah pertimbangan bhw Kepemimpinan TIDAK   MEMBAWA KERUSAKAN pd Islam & umat-bangsa, drpd pertimbangan akan  kebaikan manusiawi secara  umum (bila memang ada prestasi kebaikan itu).  Menghindari Kedholiman hrs  jadi pertimbangan dlm memilih Pemimpin drpd mengharap2 ada kebaikan umum saja dari si calon pemimpin.

Dg kedua kaedah ushul di atas seharusnya UMAT ISLAM SDH TERBIMBING DLM SETIAP ADA  PERISTIWA DEMOKRASI APAPUN.

 

Sby, 31 Desember 2018

Ws Fuad Amsyari

31 December 2018 at 18:36 Leave a comment

Islam Politik, antara Ajaran vs Kenyataan

29 December 2018 at 22:50 Leave a comment

Older Posts


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 62 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2020
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 132,945 hits

Feeds