Posts filed under ‘Syariat Islam’

BAGAIMANA PENDEKATAN NON-EMPIRIS MENGATASI COVID19?

Pendekatan Empiris atau Syahadah untuk mengatasi covid19 sdh dikembangkan oleh seluruh dunia karena covid19 menjadi pandemi. WHO sbg badan kesehatan PBB langsung ambil peran pengarahan & koordinasi. Maka berkembanglah kiat2 seperti social distancing, lock-down, pencarian obat modern- tradisional, menemukan vaksinnya,  peningkatan imunitas non-spesifik, personal hygiene, dll. Upaya2 seperti itu tentu akan terus diproses, namun bgmn upaya2 yang bernilai Non-Empiris yg didalam agama Islam disebut sebagai pendekatan Ghoib atau Mahdhah? (more…)

26 March 2020 at 21:20 Leave a comment

Posting tentang “Mari Mengetuk Pintu Langit”

AWW, Saya sering dpt posting ajakan “Mari mengetuk pintu langit” yg dimaksud adalah shalat tahajud, atau ajaan berdoa “Semoga Alloh memberi kemenangan Islam di Indonesia dan menyelamatkan Indonesia n Pribumi”. Posting spt itu bahkan banyak muncul di WAG INTELEK MUSLIM YG RELATIF SDH DIKARUNIAI ALLAH HIDUP DUNIAWINYA MAPAN, spt KAHMI, ICMI.

Allah SWT memiliki hukum sebab-akibat yg disebut SUNNATULLAH. (more…)

8 October 2019 at 22:27 Leave a comment

BERISLAM BELUMLAH UTUH/ KAFFAH TANPA BERISLAM POLITIK, Umat akan terjajah, Manusia akan Celaka.

Oleh Fuad Amsyari

AWW, Saat banyak kali menjadi jamaah shalat Jum’ah maupun mendengar pengajian di kampung / tv saya sangat prihatin krn umumnya khotbah-ceramah oleh Khotib / Penceramah / Kyai-Ustadnya dlm menjelaskan berislam berhenti ttg masalah ritual & ghoib, maksimal berhenti pd perlunya berakhlaq baik, beramal sosial berbagi rizki pd fakir-miskin-yatim, termasuk korban ternak saat Iedul Adha. Mungkin saya kurang perhatian penuh namun blm terdengar oleh saya isi khotbah Jum’ah atau pengajian umum yg menjelaskan kewajiban jama’ah agar mau berIslam Politik, spt bgmn cara memilih Partai Politik & Pemimpin Formal yg benar sesuai tuntunan Islam terkait kehidupan di dunia pluralnya, serta Kebijakan2 poleksosbudkumhankam yg syar’i saat mengelola masy plural. (more…)

12 August 2019 at 11:32 Leave a comment

BAGAIMANA ISLAM MEMAKNAI “KNOWLEDGE BASED ECONOMY”?

(Sisi yg blm  didalami dlm Silaknas KAHMI: Prof-Dr bid Ekonomi)

Oleh Fuad Amsyari

Ahad 10feb yl, Forum KAHMI di hotel JW Mariot SBYA  memang terasa luar biasa dilihat dari jumlah yg hadir sktr 50 gubes-doktor bid ekonomi. Pembicr utamanya di sesi pertama  Ketua BPK Hari Ashar Azis, Pakar Ekonomi IPB Didin Samanhudi, dan Staf Khusus Presiden bid Ekonomi, serta dimoderatori oleh Rektor Unair sendiri yg ahli ekonomi. Alhamdulillah di forum itu saya sempat ketemu, foto2, dan bincang2 dg teman2 lama termasuk Bung Abdullah Hehamahua dll.

Saya cermati paparan teori & praktek ekonomi pembangunan skala nasional & internsional  dari ke tiga nara sumber utama tadi  sampai habis. Memang terasa menarik jika dipandang dr sisi  pergulatan pemikiran secara umum, spt uraian ukuran2 & fakta kondisi  ekonomi makro termasuk growth rate yg 5,1%, gini ratio yg katanya sktr 0,37 tapi itu tinjauan pengeluaran, yg jika diukur dari sisi pendapatan rakyat bisa nilainya di atas 0,50. Luar biasa memprihatinkn. (more…)

18 February 2019 at 18:51 Leave a comment

Catatan Akhir Tahun: MEMAHAMI PILPRES DARI SISI ISLAM POLITIK

Oleh Fuad Amsyari

 

Berbagai pendapat terkait Pilpres 2019 yad sdh  muncul di medsos, baik dr kubu Capres-Cawapres maupun oleh  pengamat yg belum memihak. Saya cuplik saja bbrp kasus yg menarik dan kemungkinan  akan terus muncul unt dibahas-dianalisis dari sisi Islam Politik:

  1. Posting yg mengkritisi upaya2 membuat Pencitraan diri agar dipilih rakyat, baik oleh Capres maupun Caleg (kritik2 sejenis itu sdh muncul di era Pemilu2  sebelumnya). Apa yg salah dg pencitraan?  Bukankah penampilan personal spt tampak lugu atau garang atau intelek dll, atau citra muncul krn  berprestasi bidang tertentu spt sains-olah raga-seni, dll adalah bagian dari budaya  manusia.  Publikasinyapun apakah  via media, cerita pinggir jalan/warung kopi, internet dll juga bagian wajar dari kehidupan ini.

Dalam persaingan di era  demokrasi masalah utamanya  terletak pd pertanyaan:  “Bgmn umat Islam bisa MENGENALI  MANUSIA YG BENAR UNTUK DIUSUNG/ DIPILIH MENJADI PEMIMPINNYA DI MASY/DUNIA PLURALnya”.  Itulah sesungguhnya kata  kunci untuk bisa menggapai  sukses agar Islam & umat Islam bisa menjadi  Pemimpin Formal, lalu membuat Kebijakan2 operasional sesuai Syariat yg diajarkan Allah SWT,  sehingga  berujung terwujudnya   kemuliaan-kesejahteraan-keadilan-kejayaan pd  bangsa yg plural/majemuk/bhineka.

Bgmn kenyataan perilaku umat Islam masa kini dlm memilih Pemimpin  di lapangan, baik saat PROSES PENGUSUNGAN CAPRES/CALEG maupun waktu coblosan di TPS?  Sudah FAHAMKAH  UMAT ISLAM (termasuk Pengurus Parpol) SIAPA YG SEHARUSNYA  DIUSUNG / DIPILIH JADI PEMIMPIN DI MASY/NGRI nya? Apa ulama, ustad, cendekiawan muslim di ngri ini sdh  intens-istqomah  mengajarkan hal itu saat tabligh-ceramah-seminar-dakwahnya? BELUM FOKUS KE PENGAJARAN ISLAM POLITIK ITU BUKAN? Itulah hakekat  SEBAB  mengapa  umat membuat  kesalahan besar/fatal saat mendpt kesempatan untuk  mengusung & memilih dalam proses demokrasi (katakan terkait pilihan KETUA RT-RW-REKTOR-LEGISLATOR-BUPATI-GUBERNUR-PRESIDEN).

Dengan kesadaran umat dalam  berkehidupan sosial-politik  selemah itu kini saatnya (walau sdh amat terlambat) umat dididik untuk berislam secara benar,  mengikuti yg dicontohkan Nabi, tdk dididik unt berislam Ritual & Amal Sosial belaka, tapi hrs  diajarkan juga  Islam Politik sedini mungkin.

  1. Seorang teman intelek yg saya kenal sbg aktifis Islam yg cukup merakyat, tiba2 saja di saat2 sibuk pilpres ini kirim posting ke japri saya bercerita bhw di Era Tabiit Tabiin (sekitar 100 th sesudah nabi)  adanya  seorang budak berpakaian kumuh namun ditengarahi  sepertinya punya posisi  teramat dekat dg  Allah SWT shg terjamin makbul tiap doanya. Budak itu bahkan jadi rebutan antara si pemilik semula dg tokoh Islam yg menginginkan memilikinya. Posting tsb membuat saya teramat heran,  lalu berkembang  jadi khawatir jangan2 unt memenangkan Pilpres nanti  akan ada KESIBUKAN  CARI2  MANUSIA  ‘SUCI/SETENGAH DEWA’ UNT DIMINTAI  BERDOA AGAR ALLAH SWT MEMBERI  KEMENANGAN PADA CALON YG DIUSUNG.  Oleh sebab itu pd teman intelek tadi  saya respon postingannya sbb:

“Semua hal yg  terkait  ke-GHOIB-an (spt cerita budak belian yg dianggap punya kemampuan ghoib doanya selalu makbul)  di dlm ajaran Islam HANYA boleh jadi pedoman jika bersumber HADITS SHOHIH saja. Cerita itu BUKAN HADITS (eranya tabiit tabiin),  jadi tdk boleh dipakai pegangan hidup berislam,  apalagi kini sedang berada di tengah2  perjuangan Islam Politik yg di dalamnya banyak sekali kaidah baku terkait interaksi antar manusia yg merupakan Sunnatullah empiris/ sahadah yg hrs diupayakan oleh umat Islam. Katakanlah masalah spt:  Cara kampanye, Materinya, Figur2 yg hrs  berkampanye,  Perilaku si Calon sendiri,  dll.

Urusan ghoib itu mutlak hak prerogatif Allah SWT yg di dlm al Qur’an disebutkan  boleh   diusahakan via  doa. Namun hrs difahami bhw  kemakbulan doa oleh seseorang tidak ada yg bisa menjamin. Berdoa itu juga dilakukan  SESUDAH ADA UPAYA SERIUS  EMPIRIS (lht Surat as Syarh: 7-8).

Dlm Islam TIDAK ADA PROFESI PENDOA YG PASTI  TERJAMIN  MAKBUL spt  cerita dlm posting tadi, bahkan hal itu dpt dinilai Syirik jika menjadikannya sbg suatu kepastian.

Jangan lupa perjalanan umat Islam memang banyak  dininabobokkan oleh musuh Islam lewat  Hadis2 lemah-palsu & dongeng2 ttg hal2 ghoib agar umat jadi sibuk dg dunia khayalan/mimpi dan  lupa unt memakai waktunya di dunia fana yg terbatas untuk  memahami SUNNATULLAH EMPIRIS via pendalaman  Sain-teknologi.

Coba dicermati bgmn Orang Lain yg kerja keras untuk  memahami  Sunnatullah empiris/sahadah dlm kehidupan dunia fana  (termasuk teknologi bom  nuklir, pengindraan, rekayasa sosial-politik)  dan lalu  digunakan unt MENEKUK  umat Islam yg mimpi2 keghoiban tanpa percontohan shohih dari  Nabi.

Ayo menangkan pilpres secara sahadah/ empiris tanpa mencari2 Dukun/orang suci/setengah dewa seperti dlm  cerita tadi.  SEMUA saja, apalagi si CALON sendiri, hrs  berdoa khusu’ memohon kemenangan oleh Allah SWT dlm Pilpres 2019 nanti     selain upaya2 empiris serius sesuai Sunnatullah dlm kompetisi politik oleh para pendukungnya.

  1. Ada pula posting yg bernuansa berbangga  hati  terkait hasil polling Medsos via tweeter, fb, instgr, dan semacamnya.

Saya beri komentar:

Kita hrs bersikap obyektif rasional, tdk emosional.  Polling medsos itu kelemahannya krn hanya menyentuh porsi kecil penduduk terpelajar saja,  pdhal mayoritas rakyat Indonesia itu umumnya belum banyak yg terpelajar sedang yg terdidikpun masih banyak yg tdk  tersentuh survey medsos. Oleh sebab itu unt bisa menang dlm Pilpres hrs kerja keras  PENYADARAN RAKYAT BANYAK DG  MEDIA/CARA  YG BISA SAMPAI/ MENYENTUH MEREKA. Bahan yg disampaikan juga hrs  BERISIKAN MATERI YG BERBOBOT, spt: Kembali pd ajaran Islam yg Benar  bukan Islam Buatan, materi ttg berbagai  kondisi obyektif seperti  Ekonomi yg kian susah, Kesejahteraan rendah & penuh ketimpangan tajam, Pekerjaan sulit didapat tapi malah dimasuki berbondong  pekerja asing,   Keadilan Hukum yg lemah termasuk maraknya korupsi & ketidak adilan, Rusaknya Kerukunan hidup rakyat bawah spt maraknya  persekusi, menderitanya banyak ulama-ustad krn berbagai tuduhan2 saat mereka berdakwah, dll.

Materi kembali ke berislam secara  benar  PERLU TERUS DISOSIALISASIKAN/DIGELORAKAN , termasuk nasehat jangan berislam hanya sebatas ritual-amal sosial, namun juga hrs proaktif meraih Kepemimpinan Islam dlm masy plural spy masy plural itu menjadi masy mulia-sejahtera dlm berkah Allah SWT. Manusia  juga hrs diajak kembali ke ajaran Tauhid, yi  beriman hanya pd Allah SWT.

Para Muslim Pemilih  sehrsnya dipandu dg  kaidah2 Islam dlm berPolitik oleh Ulama-Ustad,  khususnya ttg  dua prinsip Qaidah Ushul Fiqih :

  1. Fokuskan penilaian pd Kualitas  CAPRESnya,  bukan pd Wakil/ Pendamping krn ada  qaidah ushul: “At taabi’ut taabi’ / Pembantu itu mengikuti”.
  2. Penerapan Kaidah ushul: ‘Dar-ul mafaasid muqoddamu ‘ala jalbil masholih’, yi dahulukanlah pertimbangan bhw Kepemimpinan TIDAK   MEMBAWA KERUSAKAN pd Islam & umat-bangsa, drpd pertimbangan akan  kebaikan manusiawi secara  umum (bila memang ada prestasi kebaikan itu).  Menghindari Kedholiman hrs  jadi pertimbangan dlm memilih Pemimpin drpd mengharap2 ada kebaikan umum saja dari si calon pemimpin.

Dg kedua kaedah ushul di atas seharusnya UMAT ISLAM SDH TERBIMBING DLM SETIAP ADA  PERISTIWA DEMOKRASI APAPUN.

 

Sby, 31 Desember 2018

Ws Fuad Amsyari

31 December 2018 at 18:36 Leave a comment

Islam Politik, antara Ajaran vs Kenyataan

29 December 2018 at 22:50 Leave a comment

ISLAM POLITIK DALAM PERSPEKTIF KETELADANAN NABI

11 September 2018 at 21:17 Leave a comment

Older Posts


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 62 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

April 2020
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Stats

  • 131,142 hits

Feeds