Notes


JILBAB DAN MASALAH BUNGKUS VS ESENSI (ISI)

[6/06/09]

Seorang teman menulis e-mail, yang setelah salam isinya  sebagai berikut:

“Ada pertanyaan yang mendasar untuk Anda, mengapa kita masih sering ribut pada tataran bungkus dan (mungkin yang dimaksud ada kata –tidak-) masuk ke tataran esensi? Pada hal Islam mempunyai ajaran yang (mungkin  dimaksud ada awal –rahmatan-) lillalamin.Terima kasih”.

Karena saya pikir komentar itu ditulis setelah membaca artikel tentang Jilbab dan Pilpres (lihat 2 artikel tentang jilbab di ‘HOME’ atau ‘INDEX’) maka saya jawab sebagai berikut (setelah salam):

“Wah, perlu tahu mana yang dimaksud bungkus dan mana yang dimaksud isi (saya maksudkan gantinya –esensi– seperti yang dia tulis). Jilbab bukan bungkus, shalat juga bukan bungkus karena semua itu perintah Allah swt. Bungkus bisa diketahui jika apapun yang dilakukan ternyata melakukannya dengan maksud lain, bukan karena Allah swt. Dalam Islam tidak boleh menganak tirikan sesuatu sebagai bungkus dan isi, semua perlu dilakukan sesuai dengan kemampuan dan wewenang masing2.

Salam pada keluarga”

Indonesia, 6 juni 2009

BAGAIMANA “FORMAT BARU PERJUANGAN ISLAM” ITU?

[11/5/09]

Seorang Rektor Universitas Islam Negeri di suatu kota besar di Indonesia kirim sms ke saya. Nada sms tersebut tersebut sepertinya amat prihatin melihat perilaku pemimpin Islam di partai2 Islam di negeri ini. Dibawah ini saya cuplikkan smsnya dan jawaban sms saya ke beliau.

REKTOR: “… perilaku politik tokoh Islam saat ini sudah tidak seperti (tokoh Islam) dulu, (yakni) mereka membela ideologi (Islam) hingga titik darah penghabisan. Tokoh (Islam) saat ini sudah banyak yang turun kelas, hingga kalau kalah (lalu) lari, cari jago baru. Itupun kadang ngawur, bukan jago dianggap jago. Makanya kita harus bangun “Format Baru dalam Perjuangan Islam” ini, masih ada waktu, tidak ada kata terlambat. Selamat berjuang…”

SAYA: “Setelah berpuluh tahun (perjuangan Islam) HANYA dengan cara KULTURAL, maka Format Baru Perjuangan Islam itu adalah cara POLITIK supaya RI dipimpin muslim KAFFAH. Rusaknya umat-bangsa (Indonesia) karena RI dipimpin muslim SEKULER, yang menyerah ke Orang-Pola Kafir dalam mengelola negara. Kini sudah ada Parpol Islam maka aktivis-aktivis Islam yang BAIK harus terjun untuk mengurus parpol ISLAM itu agar (parpol Islam  menjadi) maju, tidak dimanipulasi. Sikap APOLITIK atau lari ke Figur-Parpol Sekuler sungguh Salah Fatal”.

Bagaimana Pendapat Anda tentang Format Baru itu?

PENDAPAT LAIN TENTANG MAKNA DEMOKRASI

[10/5/09]

Saya mendapat sms dari seseorang (saya ringkas namanya dengan inisial SA) di Malang yang menyangkut masalah demokrasi. Mungkin saja ybs habis merenung tentang berbagai masalah pemilu. Berikut ini dialognya (yang di dalam kurung itu sisipan tambahan saya untuk kejelasan kalimat sms tersebut):

  1. SA: “Demokrasi (yang dipraktekkan) hampir di (seluruh) dunia adalah sekuler, apalagi UUD 1945 yang sudah diamandemen yang dipakai dasar hukum (dari) Pemilu 09”
  2. SAYA: “Coba antum renungkan: ‘Kita ini (nyatanya) hidup di negara yang dinilai (orang) memakai sistem demokrasi yang tidak Islami, tapi toh kita (sudah) ikut (dalam prektek) kebijakan-kebijakan nasionalnya yang berlaku, termasuk perbankan, pendidikan, bahkan hukumnya (seperti terhadap pemabuk, pezina, pencuri). Mengapa (untuk praktek) Pemilunya ditolak-diharamkan (lalu tidak diikuti) padahal justru (melalui pemilu) itu yang berpeluang (bisa) mengubah (kebijakan) poleksosbud yang ada, termasuk tatanan hukumnya?”
  3. SA: “Rosul (Nabi Muhammad SAW) pada fase Makiyah hidup pada jaman kekuasaan Quraisy jahiliyah, yang lebih buruk dari demokrasi, tapi tidak larut ke dalamnya, bahkan ditawari menjadi Kepala Negara atau Raja ditolak. Lalu bagaimana kita? Masih mau memadukan antara yang hak dengan yang bathil di suatu kekuasaan yang sangat menentukan dan tidak Islami”.
  4. SAYA: “(Sewaktu Rasulullah) Di Mekah tidak mau (menjadi Kepala Negara) karena disyaratkan (harus ber) gantian (sehari menyembah Allah dan) sehari menyembah (berhala) Latta-Uzza. (Sewaktu Rasulullah) Di Madinah kan (beliau) siap, via lobi-nego dengan (kaum) kafirin yang lagi berkuasa  yang (berarti dengan cara) demokrasi, jadilah (Rasulullah) Kepala Negara (Madinah).”
  5. SA: “… nanti akan diteruskan jika nanti ketemu dalam silaturahmi”

Sampai saat upload dialog ini SA belum ketemu saya. Sebagaimana diketahui sebagian umat Islam di Indonesia (mungkin banyak juga jumlahnya) menolak ikut pemilu (menjadi Golput) karena berpendapat bahwa pemilu itu bagian dari Sistem Demokrasi yang tidak Islami sehingga haram jika ikut memilih. Pendapat dan sikap tersebut tentu berakibat mengecilnya suara yang diperoleh Partai Islam dan memperbesar peluang menangnya Partai Sekuler di pemilu itu. Sikap golput mereka itu jelas bertentangan dengan Fatwa MUI yang mengharamkan Golput jika di dalam pemilu itu ada calon yang sesuai dengan kriteria kepemimpinan Islam (lihat artkel “Fatwa MUI”). Ada komentar?

Agenda Tasyakuran dan Orasi Ilmiah Dr. Adian Husaini di Pesantren Hidayatullah Surabaya

[6/4/09]

Pada hari Saptu, 2 Mei lalu saya diundang dalam acara tasyakuran di atas. Dr Adian Husaini dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “INDONESIA MASA DEPAN, Perspektif Peradaban Islam” memaparkan banyak hal, termasuk pengalamannya menjadi mahasiswa S3 di Malaysia dan suka-duka tentang ujian disertasinya. Selain itu juga banyak mengungkapkan hal yang terkait dengan upaya-upaya pihak lain untuk mengubah peradaban Islam bagi umat Islam di Indonesia. Beberapa contoh menarik yang diuraikan adalah: upaya menyerang Islam tentang masalah poligami padahal poligami adalah salah satu nilai dasar dari sistem sosial Islam yang akan membawa keharmonisan sosial; propaganda feminisme yang merusak sendi-sendi keluarga muslim seperti menyusui anak selama dua tahun itu tidak harus oleh ibu tapi juga oleh pihak bapak (dengan susu botol) agar karir sosial perempuan tidak terganggu, mahar tidak harus diberikan ke pihak pengantin perempuan tetapi bisa diterima oleh pihak laki-laki tergantung kebiasaan setempat; gencarnya memasarkan pluralisme agama di mana antara lain disebar-luaskan bahwa kaum Katolik sudah menjadi ‘dewasa’ dengan menjadi inklusif sedangkan kaum muslimin masih konservatif karena bertahan eksklusif, padahal dari kajian disertasinya menunjukkan bahwa sampai sekarang kaum Katolik masih tetap eksklusif; ada upaya untuk menghilangkan status agama dalam KTP sehingga nanti terbentuklah agama-agama lokal yang melegalisasi bentuk-bentuk pernikahan; dikembangkan pula lembaga pernikahan lintas agama yang akan memformalkan pernikahan antara perempuan muslim dengan lelaki non-muslim dan lalu akan didaftarkan ke pengadilan negeri.

Saat saya diberi kesempatan untuk menyampaikan tanggapan terhadap orasi ilmiah tersebut dengan waktu amat terbatas, maka saya sampaikan prinsip-prinsip berikut:

  1. Indonesia masa depan ditinjau dari perspektif peradaban Islam jelas menggambarkan kondisi yang semakin terpuruk. Budaya Islam makin tersisih dari kehidupan bangsa Indonesia walaupun mayoritas bangsa ini muslim. Kondisi budaya bangsa di masa muda saya masih Islami, sedangkan pada saat sekarang budaya bangsa sudah sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Prospek ke depan jelas akan semakin gawat/buruk jika tidak ada perubahan mendasar.
  2. Kita sering dikatakan pandai membuat daftar keinginan dan berslogan, misalnya ‘mari selamatkan Indonesia dengan syariat’. Saya juga tambahkan bahwa kita kini juga pandai membuat daftar keluhan. Kalau mau memerinci tentang rusaknya budaya umat-bangsa Indonesia tentu akan ditemukan banyak sekali bentuk-bentuk kebobrokan. Begitu pula berbagai macam rekayasa musuh Islam untuk menghancurkan peradaban Islam di Indonesia. Oleh sebab itu tidaklah cukup jika hanya membuat daftar keluhan, tetapi sudah harus bisa membuat solusi untuk mengatasi tren kehancuran peradaban Islam dan membaliknya mengembalikan bangsa Indonesia ke peradaban Islam yang luhur dan bermartabat. Bagaimana bentuk solusi itu?
  3. Faktor utama penyebab rusaknya peradaban Islam di Indonesia dan berganti dengan peradaban non-Islam yang meniru budaya Barat adalah kekuasaan. Sejak Indonesia berdiri yang umumnya masih berperadaban Islam, kekuasaan itu dipegang oleh orang yang walaupun statusnya muslim tetapi tidak paham prinsip-prinsip Islam secara mendalam. Maka akibatnya banyaklah kebijakan nasional oleh penguasa yang bersifat mengusung budaya asing dan mendorong terjadinya pergantian dari peradaban Islam ke peradaban non-Islam. Oleh sebab itu, kalau selama berpuluh tahun ini kita membiarkan (faktor keterpaksaan atau ketidak sadaran) kekuasaan itu dipegang oleh orang yang tidak paham tentang Islam, maka sudah saatnya kekuasaan itu dipegang oleh orang yang memahami Islam secara utuh atau kaffah, termasuk paham tentang pentingnya peradaban Islam bagi nilai kemanusiaan agar bangsa Indonesia menjadi luhur budayanya dan bermartabat di dunia internasional. Pendekatan Kultural dalam perjuangan Islam yang selama ini menjadi prioritas utama (karena ketidakberdayaan umat dalam berpolitik?), sudah saatnya dalam era reformasi ini di mana Partai Politik berasas Islam sudah berdiri dan memiliki hak untuk bersaing dalam kehidupan sosial, maka perjuangan Islam seharusnya diprioritaskan pada pendekatan Politik/Struktural agar Indonesia segera bisa dipimpin oleh Muslim yang memahami Islam secara kaffah. Dari pemimpin formal semacam itu barulah akan lahir kebijakan-kebijakan nasional yang mampu menyelamatkan umat dan bangsa Indonesia dari kebobrokan sosial menuju keluhuran budaya bangsa yang dijiwai oleh peradaban Islam.

Ada Peran Ulama-Mubaligh dalam Kemenangan Partai Sekuler di Pemilu

[4/4/09]

Setelah membaca blog saya, ada seorang mubaligh sms karena belum paham mana ulama-mubaligh yang mendukung kemenangan partai sekuler.

Jawab saya: “Ulama-mubaligh yang pada umumnya hanya menceramahkan ketakwaan ritual saja dan tidak pernah berdakwah kepada umat untuk mematuhi perintah ketakwaan sosial, sehingga umat terperosok medukung partai sekuler yang bervisi mengelola negara tidak berpedoman pada tuntunan Allah SWT bidang sosial-kenegaraan.”

Kemudian masuk sms berikutnya dari yang bersangkutan: “Saya sekarang mengerti, terima kasih.”

Masih tentang Partai Sekuler dan Partai Islam

[5/5/09]

Seorang pejabat negara dan tokoh cendekiawan muslim mengirim sms kepada saya: “Untuk Indonesia, saya tidak percaya pada klasifikasi partai agama dan partai sekuler. Semua partai sama saja, yang disebut partai sekuler ada ulamanya yang tawadhu’; sebaliknya, yang disebut partai agama banyak tokohnya yang tidak berprinsip, asal dapat kue politik. Lihatlah ribut-ribut koalisi sekarang, yang disebut partai agama lari ke sana kemari tanpa menghitung prinsip apa yang bisa atau tidak bisa dikoalisikan. Jadi, parpol ya parpol. Saya merasa sangat Islam meski tidak ikut parpol Islam.”

Saya berikan jawaban sms sebagai berikut: “Definisi operasional partai Islam dan partai sekuler sudah saya tulis dalam banyak artikel di blog saya, yang keduanya amat berbeda secara ideologis. Seorang teman memberi komentar juga yang bunyinya: Benar, kita harus mengislamkan orang Islam, mengulamakan ulama, dan memubalighkan mubaligh.”

3 Comments Add your own

  • 2. LUTHFI BASHORI  |  22 May 2009 at 08:07

    Sejak Indonesia merdeka sampai detik ini, rasanya belum ada seorangpun dari Presiden dan Wakilnya bahkan Capres-Cawapres yang muncul dewasa ini yang mengerti syariat Islam dengan baik dan benar. Jadi bagaimana mungkin mereka akan melaksanakan ekonomi syariat ? Uniknya sebagaian tokoh-tokoh Islam malah berharap banyak kepada para Pres-Wapres, Capres-Cawapres agar Indonesia dikelolah dengan syariat. Menurut kami, terwujudnya harapan itu adalah hal yang mustahil bin hil yang mustahal. Jadi, jika ingin mengetahui secara ringkas apakah Capres-Cawapres beserta calon perangkatnya mendatang akan melaksanakan ekonomi syariat atau tidak? yaa coba saja disodorka kepada mereka kitab fiqih babul buyuu’ (pasal jual-beli), apakah jika terpilih mereka mau mengamandemen UU Perekonomian Indonesia untuk disesuaikan dengan kitab fiqih itu. Jika tidak, yaa memang mereka itu orang-orang yang anti syariat. Demikianlah metode paling ringkas yang mudah dilakukan untuk mengetahui barometer mereka dalam kaitannya dengan ekonomi syariat. Mudah-mudahan Pak Fuad semakin semangat dalam berjuang melawan penyakit SEPILIS yang terus berkembang di tengah masyarakat khususnya jajaran tokoh-tokoh nasional. Bravooo !

    (Pengasuh situs http://www.pejuangislam.com)

  • 3. Kisundawi  |  12 June 2009 at 23:58

    Menanggapi tulisan bapak berkenaan dengan dialog tentang “PENDAPAT LAIN TENTANG MAKNA DEMOKRASI” antara bapak dengan seseorang yang berinisial “AS” .

    Pendapat saya :

    1. Tidak boleh semajelis dengan kaum kuffar (QS 4:140)

    2. Tidak boleh bermusyawarah dengan yang tidak seidiologi islam (QS 42;38, 3;159)

    3. Tidak boleh mengikuti / memilih kepemimpinan yang kufur (QS 5:55, 5:50, 9:23, 60:1)

    4. Harus mencontoh rasulullah (QS 33:21), sementara rasulullah tidak mencontohkan masuk berparlemen dalam darun nadwah Quraisy

    5. Harus berbarao’ah (berlepas diri) dari sistem kuffur (60:4)

    6. Tidak boleh Ta’awun dalam ismun dan udwan

    7. Tidak boleh tasyabbuh pada kaum kuffar

    Apabila ada kesalahan di dalam pendapat yang sy tuliskan mohon di koreksi. Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: