Posts tagged ‘pemilu’

Pendidikan Islam di Tengah Politik Bangsa

29 March 2014 at 13:53 Leave a comment

KEPANIKAN ATAU PENGALIHAN PERHATIAN

Beberapa bulan terahir ini terasa ada berbagai ‘kehebohan’ berita di media, baik cetak maupun elektronik. Pemberitaannya sepertinya berlebihan sehingga terkesan ada ‘kepanikan‘ dalam  politik atau memang memiliki  suatu skenario politik tertentu. Berikut dialog saya dengan beberapa teman terkait itu. (more…)

4 January 2013 at 19:41 1 comment

MENAKAR DENGAN BENAR CALON PRESIDEN RI PENYELAMAT NEGERI

Mulai sekitar pertengahan tahun ini dan rasanya akan terus berkelanjutan, media ramai menayangkan hasil-hasil survey beserta analisisnya tentang sosok  Pemimpin/Presiden negeri ini di masa mendatang, setelah SBY tidak lagi bisa dipilih menjadi Presiden RI dalam pilpres 2014 karena ketentuan UUD. Lembaga2 survey sepertinya berlomba  menampilkan hasil-hasil surveynya tokoh mana yang kiranya akan menjadi Presiden RI. Survey mereka umumnya  dilakukan melalui pertanyaan pada sampel penduduk siapa yang akan mereka pilih atau siapa yang menurut mereka layak menjadi Presiden RI. Dengan metoda seperti itu maka jelas akan dihasilkan figur yang ‘populer’ saat ini, sering nampang di media, karena rakyat kenalnya memang figur yang itu itu belaka. Tentu survey seperti itu yang hasilnya kemudian ditayangkan luas di media akan semakin membuat figur-figur yang sama kian berkibar, mungkin urutannya saja yang berganti-ganti. Jelas dari model pencarian semacam ini  tidak akan ditemukan figur yang benar-benar berkualitas tinggi untuk menyelamatkan bangsa-negara. Seharusnya uang tidak perlu dibelanjakan untuk pencarian figur penyelamat bangsa melalui bentuk survey di atas. (more…)

12 December 2012 at 16:41 Leave a comment

DEMOKRASI ATAU REVOLUSI (Sanggahan terhadap Pemikiran Abdul Qadim Zallum yang mengharamkan Demokrasi)

DAMPAK SIKAP ANTI DEMOKRASI PADA KONDISI UMAT

Banyak kelompok Islam mengharamkan demokrasi yang berakibat umat  terpecah dalam politik praktis sehingga kalah dalam memperebutkan kepemimpinan negara. Mengapa bisa begitu? Jawabannya: “Karena banyak umat  (baca: tokohnya) yang keliru menafsirkan pokok permasalahan kehidupan berbangsa-bernegara dari tinjauan Islam”. Karena kalah dalam berebut kekuasaan formal negara maka umat (sebut: tokohnya) gagal mencontoh Rasul yang berhasil mengelola sebuah negara (dengan penduduk plural) secara Islami dan mewujudkan kejayaan Islam,  kemuliaan kaum muslimin, serta mendatangkan kerahmatan pada alam. Salah satu  kekeliruan terbesar dalam pemahaman Islam terkait dengan berbagai permasalahan berbangsa-bernegara adalah “kesalahan memaknai demokrasi, termasuk pemilu(more…)

10 September 2012 at 19:04 7 comments

MEWASPADAI ‘DEMOKRASI’ SEBAGAI SELUBUNG MENEBAR KEKUASAAN BUKAN KESEJAHTERAAN.

Tatkala Putin mendapat tantangan di negerinya melalui demo besar-besaran anti kepemimpinannya maka dia membuka secara terang-terangan ‘cacat  demokrasi’ dengan suara lantang. Demonstrasi anti Putin itu dinyatakan dipicu oleh Menlu AS Hilary Clinton melalui pernyataan2nya di media, antara lain melalui tuduhan adanya kecurangan dalam pemilu legislatif yang baru saja berjalan. Pernyataan formal pejabat AS itu ditengarai olehnya berperan memberi SINYAK untuk mulai diadakannya gerakan terhadap kepemimpinan dirinya oleh fihak AS dengan agenda agar bisa tetap menjadi kekuatan nomor satu dunia. Dia juga membuka bahwa AS telah mengalokasikan dana beratus juta US DOLLAR membeayai kelompok LSM2 di Rusia untuk mengembangkan sentimen anti dirinya. Ringkasnya Putin menunjukkan bahwa kehidupan ala demokrasi dalam bentuk protes2 ‘damai’ khususnya demo besar-besaran anti suatu rezim ternyata BUKAN SESUATU YANG ALAMIAH. Di dalamnya terselubung proses rekayasa politik, bisa berjangka pendek atau panjang, tergantung resistensi negara yang menjadi sasaran. Barat. Dunia Barat, pengusung demokrasi,  sebagai fihak yang berkepentingan, tidak segan2 menghabiskan dana jutaan dolar demi mengegolkan targetnya yakni memasuki kedaulatan negeri lain MELALUI TANGAN2 KELOMPOK DALAM NEGERI YANG TERBELI. Jelas bahwa belanja dengan dolar tersebut terkait kepetintangan Barat sendiri untuk memetik keuntungan besar dalam berhubungan dengan rezim di negeri sasaran nanti. Mana ada gerakan sosial-politik yang berjalan alamiah? Waspadalah wahai umat Islam. (more…)

13 March 2012 at 19:31 Leave a comment

‘ISLAM YES, PARTAI ISLAM NO’ Dihidupkan lagi? Mau Balik ke Orba yang Gagal? REFORMASI HARUSNYA KEMBALI KE JALAN ISLAMNYA RASULULLAH

Saya terpana membaca artikel yang dikemas khusus sedemikian rupa, lengkap dengan foto idolanya, sehingga tampak menyolok di halaman 8 harian soreSurabaya Post, 5 Agustus kemarin. Seketika saya siapkan sms untuk meresponnya sebagai berikut: (more…)

6 August 2011 at 17:35 Leave a comment

MEMAHAMI KEHADIRAN DAN PROSPEK CERAH PARTAI BerAsas ISLAM DI INDONESIA. Adakah Rasional Bagi Ulama-Tokoh Umat Untuk Ikut-Ikutan Mengkerdilkannya?

  1. Perlu diherankan bahwa selalu saja muncul di media massa secara rutin adanya ulasan atau  pernyataan bahwa ‘Partai Islam akan kalah’ atau menurun suaranya di pemilu. Belum ada satupun pernyataan bahwa Partai Islam (Partai BerAsas Isam) di Indonesia itu memiliki prospek cerah dan akan menang dalam pemilu sehingga membuat umat lalu bersemangat untuk memilihnya. Tokoh yang dicuplik pernyataannya nampak bergantian, dan sering juga dipilih tokoh Ormas Islam. Pemberitaan tersebut sepertinya dicicil, berkala, dan diperkirakan akan terus diulang sampai menjelang pemilu 2014 nanti. Ada apa ini? Suatu yang obyektif-rasional ataukah SKENARIO PESANAN untuk membuat umat Islam ‘ngeri’ mendukung-berjuang di Partai Islam. Banyak figur Ormas Islam ikut-ikutan terseret. Janganlah kiranya tokoh Islam mudah terjebak. Mari dilihat fakta obyektifnya!!
  2. Read more >>>

19 January 2011 at 18:54 2 comments

HAM TANPA PANDUAN SYARIAT ISLAM AKAN MERUSAK TATANAN SOSIAL UMAT MANUSIA

Sabtu, 18 Desember 2010 kemarin saya diundang sebagai pembicara dalam forum Talkshow “HAM: Pembebasan atau Penjajahan” oleh Moslem Students Association of Economic and Business Faculty (MoSAIC)  Universitas Airlangga. Pada saya diminta membahas judul ‘HAM: Bukan dari Islam’ dengan kisi-kisi pembahasan terdiri tiga materi: 1). ISLAM: Sistem aturan kehidupan yang sempurna; 2). HAM: Menjadikan nafsu sebagai Tuhan; dan 3). Islam tidak mengakui HAM dalam makna tidak ada kebebasan yang tanpa batas, Syariat Islam adalah Pembatas yang jelas atas semua aktifitas seorang muslim.

Saya hadir dengan menyiapkan materi (bentuk power-point) yang sebagiannya saya ambil dari penyajian saya dalam Seminar Internasional Ekonomi dan Hukum Islam di IAIN Jambi bulan sebelumnya untuk menerangkan: Apa itu Islam, Ukuran Kualitas Orang Islam, dan Masalah Umat Islam di Indonesia. Kemudian saya lanjutkan dengan materi: HAM dalam pandangan Islam, HAM di UUD ’45, dan terakhir tentang HAM yang berkembang tanpa panduan Syariat dan berakibat merusak tatanan sosial di manapun manusia itu hidup, termasuk di Indonesia.

Pada ujung pembahasan saya meminta umat Islam Indonesia waspada bahwa salah satu Strategi besar musuh Islam untuk menghancurkan umat adalah pemanfaatan isu HAM, bukan propaganda melakukan Pemilu yang demokratis karena ternyata banyak negeri muslim dengan sistem Pemilu justru membuat Ideologi Islam memenangkan pemilu sehingga musuh Islam menjadi kelabakan.

Peserta diskusi umumnya dosen dan mahasiswa yang cukup kritis.  Di antara mereka ada yang menanyakan mengapa justru banyak orang Islam di Indonesia sendiri yang ikut berusaha merusak prinsip Islam, termasuk menggunakan isu HAM secara salah sehingga membuat sebagian umat jadi tersesat memilih cara hidup di luar Syariat dalam perilaku sosialnya. Saya menyatakan bahwa hal itu mudah difahami karena Kualitas Keislaman banyak umat Islam Indonesia, khususnya tentang masalah sosial politik, amat lemah karena Dakwah Islam oleh para Ulama dan Muballigh jarang, kalau tidak dikatakan, nihil dalam memberikan materi sosial-politik. Di samping itu bisa saja orang Islam yang agresif menjadi corong HAM ala Non-Islam itu memang sudah menjadi bagian propaganda musuh Islam, disadari (karena dibayar) atau tidak disadari (karena lengahnya dia dalam memandang mana cara hidup yang benar).

Penanya lain menyimpulkan bahwa masalah HAM memang sudah masuk ranah sosial-politik, bukan ranah pribadi sehingga untuk mengatasi isu  tentang HAM yang salah tidak bisa dilakukan oleh individu per individu tapi harus oleh muslim yang sadar sebagai Kekuatan Kelompok. Saya menjawab bahwa pendapat itu benar karena substansi nilai non-Islam yang dimuat dalam HAM sudah dipropagandakan dengan gencar disertai Dana besar tidak hanya berskala nasional Indonesia namun sudah skala dunia, di mana PBB sebagai lembaga internasional sudah menjadi sasaran dalam jaringan mereka. Umat Islam hanya akan bisa mengatasinya secara efektif jika BERSATU, baik skala nasional dalam negeri maupun internasional sesama negara muslim untuk mengoreksi substansi HAM yang merugikan umat manusia. Silahkan melihat artikel sebelumnya di blog ini tentang makna HIJRAH.

Semoga Allah SWT membuka hati umat Islam terutama TOKOH Islam yang di Ormas-LSM Islam dan Parpol Islam untuk sadar dan teguh membentengi umatnya dengan mendakwakan Islam tidak hanya aspek Ritual-Akhlak Islam belaka tapi juga POLITIK ISLAM agar bisa  memenangkan pertarungan politik dalam skala nasional dan internasional sehingga bisa menangkal nilai yang merusak kehidupan umat manusia.

Power Point penyajian saya bisa dilihat dalam lanjutan pengantar ini.
Read more >>>

19 December 2010 at 21:40 1 comment

DISIPLIN, PRINSIP ISLAM YANG SERING DIABAIKAN UMAT, Satu Determinan Kekalahan Umat dalam Persaingan di Dunia Plural

  1. Dunia Islam sering mengeluh bahwa umat Islam terus mengalami kekalahan dengan fihak luar dalam berbagai bidang kehidupan nyata, seperti ekonomi, teknologi, sosial-budaya, politik, militer, dan lainnya. Penyebab kekalahan besar tersebut jelas banyak unsurnya, dan sering ulama maupun tokoh Islam menimpakannya pada faktor besar yakni kurangnya keimanan-ketaqwaan umat. Memang benar keimanan-ketaqwaan menjadi sumber utama kekalahan umat, namun jika dirinci lebih mendalam umat banyak menjadi keliru dalam menentukan aspek mana dari keimanan-ketaqwaan itu yang merupakan penentu (determinan) kekalahan umat dalam urusan keduniaan ini (ekonomi-sosial-politik-militer-sain-teknologi). Apakah ritualnya (jangan lupa orang kafir malah bisa lebih parah lagi dalam hal ketaatan menjalankan ritual agama mereka), atau akhlaknya (orang kafir juga nampak tidak lebih unggul kualitas akhlak mereka)?  Mari disimak sikap hidup manusia yang lebih spesifik dan amat strategis dalam menentukan keberhasilan hidup: DISIPLIN.
  2. Read more >>>

21 July 2010 at 19:28 1 comment

“JIKA TOKOH UMAT BICARA-DAKWAHNYA TIDAK LUGAS, MAKA UMATNYA AKAN TERLEPAS, DAN NEGARA PUN RUSAK KARENA DIPERAS”

Judul tulisan yang mirip puisi di atas adalah ungkapan keprihatinan saya tentang kondisi umat Islam dan tokoh-tokohnya di negeri ini. Saya jadi sedih setelah mengamati dalam perjalanan waktu yang relatif panjang betapa ‘tokoh-tokoh’ umat yang sudah punya pendidikan keislaman mumpuni, bekal dukungan ‘virtual’ umat Islam cukup besar di belakangnya, namun ujung-ujungnya tokoh-tokoh Islam itu hilang tidak berbekas dalam proses menentukan nasib bangsa-negaranya. Negeripun lalu dipimpin oleh orang yang tidak mengerti Islam karena umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk lalu terperangkap orang lain melalui isu politik menyesatkan dari musuh Islam karena pidato-pidato si tokoh tentang masalah bangsa-negara masih abstrak, tidak tegas memberi arahan keislaman dalam kehidupan berbangsa-bernegara yang harus diikuti umatnya.

Kita mungkin sering menyaksikan bagaimana seorang tokoh Islam sepertinya amat populer, dipuja-puji oleh umat Islam akan kehebatan ilmu Islamnya namun akhirnya dia  tidak banyak berperan dalam menentukan nasib bangsanya karena dia tidak memiliki kewenangan formal membuat kebijakan nasional yang begitu desisif terhadap nasib bangsa-negara. Kita perlu selalu ingat bahwa nasib  bangsa-negara  di mana umat Islam berada di dalamnya amat bergantung pada keputusan yang dibuat oleh pemilik kekuasaan formal negara. Tokoh Islam umumnya masih saja hanya  bermain di lahan ritual-spiritual karena dikiranya dengan dakwah  seperti itu otomatis akan membuat kebijakan negeri oleh para pejabat negara berobah menjadi sesuai dengan tuntunan Islam.

Read more>>>

28 November 2009 at 10:34 4 comments

Older Posts


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 62 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

July 2020
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Stats

  • 132,945 hits

Feeds