Profile

Fuad Amsyari

Fuad Amsyari lahir di Sidayu Gresik, sebuah kota santri, pada Oktober 1943. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1969, dia memperoleh gelar Master of Public Health dari Royal Tropical Institute, Amsterdam. Kemudian dilanjutkan dengan Studi S3 di New York University dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1979.

Dalam dunia politik Fuad Amsyari pernah memimpin Partai Bulan Bintang Wilayah Jawa Timur tahun 1997-1998 dan ditetapkan sebagai salah satu calon Presiden oleh partai tersebut pada pemilu 1999 lalu. Tahun 2004 dan 2009 dicalonkan sebagai anggota DPR RI oleh partai yang sama dari daerah pilihan Surabaya-Sidoarjo. Dalam Muktamar Partai Bulan Bintang tahun 2010 lalu Fuad terpilih sebagai  Ketua Badan Kehormatan Pusat (BKP) di samping Yusril sebagai Ketua Majelis Syuro dan MS Kaban sebagai Ketua Umum PBB. Di organisasi sosial, Fuad Amsyari pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Penasihat MUI Pusat (2005-2010), dan saat ini menjadi  anggota Dewan Pembina ICMI  Pusat dan anggauta Dewan Penasehat KAHMI Nasional. Fuad juga mengembangkan ‘lsm non-profit’ yang fokusnya untuk pemberdayaan masyarakat muslim yang dinamakan ‘Fuad Amsyari Center (FA Center)’.

###

Fuad Amsyari was born in a rural Muslim society Sedayu, Gresik Regency, East Java Province, Indonesia. His basic profession is a medical doctor from AirlanggaUniversity, School of Medicine, one of leading medical schools in Indonesia. He got a Master degree from Royal Tropical Institute, Amsterdam, and PhD from Graduated School of Arts and Science, New YorkUniversity.

In his political activities, Fuad Amsyari was the Head of Star-Crescent Islamic Party of East Java Province from 1998-1999. At the National Congress of the Party in 2010 he was elected as the Chairman of Central Dignitary Board (Yudicative Body), together with Yusril as Chairman of  Majelis Syuro (Legislative Body) and Kaban as General Chairman (Executive Body) of the party.

In addition to a member of political party he also active in non-political organization in which his positions was Vice Chairman of Advisory Board of Indonesia Council of Ulama (2005-2010), and a member of Advisory Council of Intellectual Moslem Society of Indonesia and Alumni Corps of Indonesian Moslem Student Association (2010-2015).  Starting 2009 Fuad has also been promoting a non-profit NGO, namely ‘Fuad Amsyari Center (FA Center)’, focusing on Moslem Society Empowerment.

During his career as a scientist and social-political activist, he had also ever been a member of various Government teams in Ministry of Environment, National Planning Board, and non-permanent member of Indonesian Defend and Security Council. He has also published quite numbers of articles and books on Islamic and scientific subjects, and participated in various national-international seminar as speakers.

17 Comments Add your own

  • 1. arya wirayuda  |  2 February 2009 at 17:46

    siap pak…
    semoga sukses
    Islam memang paling baik untuk manusia dalam segala hal

  • 2. farhan  |  27 February 2009 at 20:46

    pertanyaan untuk Anda. adakah cara yang lebih baik dari mengikuti sistem Demokrasi ini? Syukron katsir. Alloh yu barik fik

  • 3. Hafid Algristian  |  27 February 2009 at 21:37

    beginilah seorang muslim yang dokter yang ingin menyembuhkan masyarakat di seluruh aspek kehidupan.
    sukses, dok…😉

  • 4. Qodar  |  17 March 2009 at 00:19

    semoga sukses pak.
    kami tunggu anda turun ke jajaran akar rumput

  • 5. Rasyid Emilly  |  29 March 2009 at 06:41

    Pada periode 2004 s/d 2009 status Dr Fuad Amsyari pada Majelis Nasional KAHMI adalah sebagai anggota Dewan Penasehat. Insya Allah pada periode 2009 s/d 2014 beliau berkenan menjadi anggota Presidium Majelis Nasional KAHMI.

  • 6. Endang Abdurrahman  |  2 May 2009 at 17:35

    Selamat berjuang Pak, ummat menunggu kiprah cendikiawan muslim. Salah satunya adalah Anda. Saya berdo’a semoga Anda dapat menjadi tauladan kaum muda Indonesia. Amiin…

  • 7. Suhartono Taat utra  |  11 May 2009 at 08:34

    Assalamu’alaikum wr wb

    Mana yang efektif-efisien memperjuangkan nilai moral Islam secara vulgar atau dikemas dalam bentuk yang mudah diterima oleh semua pihak? Wali songo ketika berjuang melalui tahapan yang tidak terlalu menimbulkan gejolak namun berhasil

    Wassalamualaikum wr wb

    Taat

  • 8. fuadamsyari  |  11 May 2009 at 17:12

    Vulgar atau tidak, sesungguhnya masih relatif (itu umumnya dimensi pendekatan kultural), yang penting adalah bisa mengubah dari yang buruk menjadi baik. Wali Songo berhasil secara efektif-efisien setelah beliau-beliau itu bekerja di bawah naungan Kepala Negara yang juga meyakini benarnya nilai-nilai Islam dalam menyejahterakan bangsanya (Kesultanan Demak). Bandingkan efektivitas itu dengan sebelum berdirinya Demak, di mana ratusan tahun Islam di Jawa dan di Nusantara amat terhambat oleh kekuasaan yang anti Islam.

  • 9. ashwan haidi  |  2 June 2009 at 13:45

    saran kami, perjuang terus syariat Islam ini paska Pemiliu. kerahkan masyarakat untuk tetap berpihak kepada kebenaran

  • 10. syahrul ed  |  22 August 2009 at 16:54

    Pak Fuad, sesegeranya orang-orang seperti bapak bikin sindikasi penulis. Saya siap mendukung. Penulis-penulis seperti kita determinan di dalam pembentukan opini. Biarlah partai bekerja di areanya.

  • 11. H.Jasran  |  2 January 2010 at 11:56

    Saya sangat salut dengan Ceramah serta Tulisan Ustad,saya Selamat berjuang di jalan Allah.

  • 12. latief  |  19 January 2010 at 18:21

    sebar dan gerakkan menjadi masyarakat islami

  • 13. dedi mulyasana  |  29 June 2010 at 21:52

    jalan terus biar pikiran masyarakat menjadi sehat

  • 14. Mohammad  |  16 September 2010 at 08:11

    Pak Fuad, mungkin gak Bapak menginisiasi persatuan partai-partai Islam, karena kondisi partai Islam masih scater/remah menjadi kecil-kecil dan tidak kompak/solid serta saling silang bukan saling membantu (solidarity). Selain itu perlu disusun integrity of conduct, komitmen diantara pimpinannya sehingga tidak tersandung ke hal-hal yang malah merusak citra Islam. Serta dikembangkan budaya berorganisasi secara Islam diantara pemimpin dan pengikutnya. Terimakasih Pak. Wassalam.

  • 15. A. Fatichuddin  |  8 November 2010 at 13:56

    Perlu ada gerakan sistematis dan konsisten untuk menelaah hasil terapan yang berlandaskan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kalau kemudian ternyata mengalami kegagalan, perlu ada pencuatan paradigma ‘baru’, sebagai upaya untuk penyelamatan dunia. Dan bagi kita tentu sangat yakin bahwa paradigma ‘baru’ itu adalah Islam. Soalnya tinggal bagaimana membangun gerakan itu.

  • 16. Susu Kedelai Kintamani  |  6 January 2012 at 20:38

    Masyarakat indonesia yg mayoritas adalah muslim, mestinya amat mudah untuk menentukan arah negeri ini. Akan tetapi realitanya tidak demikian. Dulu ketika jaman orba yg hanya 3 partai dan partai Islam cuma 1, kalah. Ketika kini dgn multi partai dgn beberapa partai Islam, masih kalah juga. Apa yg terjadi dgn dgn masyarakat kita ?

  • 17. noorhamid  |  8 September 2015 at 12:59

    alhamdulillah masih ada intelektual islam yg merasa terjajah di era global ini ( yang penjajahanya menggunakan strategi new lib ini .dengan stratetgi canggih penguasaan media masa,budaya ,ekonomi,dan baru politik ,baru isme2.yg di sembunyikan ) .sy sangat menghargai Bapak berani mengungkapkan adalah suatau hal yang langka di hari gini,karena kalau dak salah sesuai Hadist tentang munculnya dajjal berarti antek2 dajjal sudah merata di belahan wilayah dunia ,hampir tidak ada wilayah didunia yg tidak tercemari dajjal yahudi.karena umat islam tertidur nyenyak ,atau minum minuman duniawi sepuas puasnya .minumannya berupa kekuasaan duniawi,kekayaan duniawi (sekulersm,pluralism,liberalisme,materialisme,sinkretisme,hedonisme,kapitalisme,.dll.).tetapi mereka tidak merasa .memang membangunkan otak tidur sungguh lebih sulit dari membangunkan tubuh tidur.memang mereka scara ktp islam,ritual islam ,tetapi ideologiny alergi islam .istilahnya islam untuk pribadi bukan untuk sosial, ,sy pikir ada kelemahan juga di kita umat islam yaitu perlunya pembenaan silaby di sekolah,dan univ islam agar ada kurikulum hafalan qur’an,hafalan hadits,nahwu sharaf ,sekaligus matematika,politik islam,sejarah islam.sekaligus interfreneusif islam.teknik,jadi tiap2 fakultas di beri hafidhul qura’n dan hadits.dan budaya islam.matematika,dan ipa.ips.sehingga ketika lulus sekolah.kuliyah.tetap tidak lupa pada islamnya.dan penting lagi kurikulum berenterfreneur islami,krikulum menguasai teknologi canggih.kurikulum( TIK,teknik dan lain2) karena kekalahan kita.kita terjebak pada sistem sekuler.sehingga manyoritas tokoh dan annggota masyarakat islam polapikirnya /minsetnya sekuler. nampaknya ini peninggalan proyek penjajahan masa lalu .lalu kita menjadi inlander terus menerus.tatapi tak merasa.ibarat minum racun di dalam roti dan sprait.tetapi rasa terasa roti.dan sprait. tau tau ketika suatu saat racun sudah banyak kita tidak bisa apa2…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: