BUDAYA LUHUR vs BUDAYA RUSAK, Mana yang Berkembang di Indonesia?

18 September 2010 at 08:52 1 comment

PENGANTAR

Sebuah negara akan runtuh jika akhlak penduduknya rendah. Sebuah bangsa akan hancur jika budayanya rusak. Sebaliknya suatu bangsa-negara akan jaya berkesinambungan jika akhlak penduduknya mulia dan luhur budaya bangsanya. Keunggulam ekonomi tidak akan menghantar kejayaan bangsa berskala panjang, karena kekayaan ekonomi akan cepat habis jika bangsa itu rusak budayanya. Tatanan politik yang canggihpun tidak menolong karena tetap akan ambruk oleh ulah manusianya yang rusak. Membangun bangsa dengan mengutamakan aspek ekonomi dan menelantarkan akhlak mulia dan budaya luhur bangsa akan meruntuhkan bangsa-negara itu sendiri.

Dunia akhir-akhir ini memang sedang dihadapkan pada krisis akhlak manusia dan budaya bangsa. Pola pikir, perilaku, dan produk yang dihasilkan sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai kemuliaan harkat manusia. Agama sudah diabaikan substansi ajarannya, tersisa hanya sebagai factor segregasi sosial yang harus dikelola dan dikendalikan penguasa sebagaimana adanya segregasi kesukuan atau ras dan semacamnya. Agama tidak lagi dipakai sebagai bagian integral dari proses berpikir, tidak dijadikan  pertimbangan dalam pemecahan masalah, diabaikan sebagai  variable dalam membuat keputusan, dan dibuang sebagai pedoman dalam melangkah dan berprestasi. Manusia berperilaku umumnya hanya mengejar materi (atau menyiapkan diri agar memiliki bekal untuk mengejar materi) memenuhi kebutuhan/kenyamanan hidup di dunia fana. Manusia berproduksi juga dalam rangka menghasilkan materi untuk dijual-belikan agar mendapat keuntungan tiada habis-habisnya, tidak memperhatikan aspek akhlak mulia  dan keluhuran budaya. Ilmu juga dicari dan teknologi dikejar umumnya oleh motif ekonomi, bagaimana income naik,  pertumbuhan bisa meningkat, pendapatan negara bertambah, dan semacamnya, bukan motif mencerdaskan bangsa untuk menaikkan harkat manusia yang nantinya mengabdi melalui cara santun penuh keikhlasan menuju keadilan sosial.

Kasus pertikaian antar manusia dan antar bangsa yang sudah banyak terjadi umumnya menunjukkan adanya orientasi manusia yang keliru dalam menjalani kehidupannya, mengabaikan kemuliaan akhlak dan keluhuran budaya. Menyerang negara lain secara militer dan memporak-porandakan negara tersebut ternyata ujungnya untuk mendapat sumber daya alam. Menuduh kelompok tertentu mau menyerang negerinya padahal tidak introspeksi mengapa kelompok itu mau melawan mereka yang ternyata karena dirinya sendiri yang memulai berbuat dhalim. Ajaran agama jelas diabaikan, begitu pula kecintaan pada sesama. Bagaimana bisa dimengerti oleh akal sehat jika pelaku penghujatan Kitab Suci suatu agama besar di dunia (merobek-membakar dimuka umum) dibiarkan bebas oleh pemerintah setempat atas nama kebebasan berpendapat. Budaya apa yang dibawa oleh Negara-bangsa tersebut? Pelecehan terhadap seorang Nabi dalam berbagai bentuk termasuk mengkartunkannya  juga dibiarkan berlalu oleh Penguasa setempat. Budaya apa yang dibawa oleh Negara-bangsa tersebut? Surau dibakar berkali-kali sampai akhirnya habis juga tidak diproses  tuntas dan terbuka.   Budaya apa yang dibawa oleh Negara-bangsa tersebut? Memaksakan mendirikan rumah ibadah dengan melanggar peraturan yang berlaku lalu dicampuradukkan dengan kebebasan orang untuk beribadat, kemudian secara demonstratif sepertinya mau beribadat menuju tempat yang bukan rumah ibadah dan mengganggu ketenteraman masyarakat sekitar yang tidak seagama. Begitu ada  perkelahian antar pemeluk agama yang berbeda tidak diproses secara adil oleh aparat dan mediapun tidak memberitakan kasusnya secara proporsional. Budaya apa yang dibawa oleh Negara-bangsa tersebut? Persoalan yang kemudian dikemukakan ternyata sekedar bagaimana menjaga ‘kerukukan’ beragama, bagaimana tidak berbuat anarkhis, bagaimana hidup bersama yang akur, tanpa disertai penghargaan memadai terhadap ajaran agama terutama dalam membawa rakyat untuk taat beragama, dalam membuat kebijakan nasional yang bervisi agamis, dalam menjaga kehormatan agama di depan mata para pemeluknya?

Akhlak dan budaya yang benar memang harus dibangun agar bangsa-negara selamat dari kehancuran dan berubah menjadi bangsa-negara yang terhormat di tengah dunia internasional yang lagi menghadapi kemelut krisis kebudayaan. Bagaimana caranya??? Jawabannya jelas dan mudah: “Kebijakan Pemerintah yang mendukung kemuliaan agama, kebijakan Pemerintah yang dituntun ajaran Tuhan Yang Maha Esa!! Jangan meniru orang atau bangsa lain yang membangun negaranya dengan merusak kehormatan agama atau mengabaikan tuntunan agama”.

APA HAKEKAT BUDAYA ITU

Budaya pada dasarnya semua aktifitas dan produk manusia yang bersumber dari proses belajarnya. Budaya dibagi dalam tiga kelompok:

  1. Budaya Ide, meliputi semua pemikiran manusia mulai dari pola pikir, tata-nilai, norma, materi hukum-perundangan-peraturan.
  2. Budaya Perilaku, meliputi semua kelakuan manusia dari cara hidup secara umum sampai ke perilaku khusus.
  3. Budaya Produk, meliputi semua hasil karya manusia, mulai dari hasil prestasi sain-teknologi seperti literatur dan instrumen, kelembagaan sosial,  sampai ke hasil karya seni seperti arsitektur dan lukisan.

Manusia selalu hidup dalam lingkungan budaya ini. Dari ke tiga kelompok budaya tersebut tentulah yang amat menentukan adalah Budaya Ide karena dari ide itulah berproses seluruh aspek kehidupan lainnya.

Budaya manusia bersifat dinamik, berubah dari waktu ke waktu. Perubahan budaya umumnya berjalan secara bertahap memakan waktu relatif panjang karena terkait masalah keyakinan, kebiasaan, serta menyangkut banyak orang. Walaupun demikian budaya manusia tetap bisa berubah yang perubahannya itu umumnya disebabkan oleh dua faktor besar, yakni:

1) Keyakinan Agama;

2)     Pemahaman akan Sains-Teknologi.

Agama jelas membawa perubahan budaya manusia, mulai dari keyakinan apa yang benar dan salah dalam menjalani kehidupan ini, sampai ke perubahan kebiasaan hidup seperti makan-minuman-pakaian, serta perubahan institusi sosial seperti kekuasaan, kelembagaan sosial-kenegaraan, hukum, dan struktur sosial kemasyarakatan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga membawa perubahan budaya manusia seperti perubahan cara berfikir yang semula penuh emosi dan spekulasi ke arah pemikiran yang lebih sistematis, rasional, dan obyektif. Perubahan pola pikir oleh perkembangan ilmu ini kemudian berpengaruh pada budaya lebih luas seperti kebiasaan hidup, pengembangan  peralatan dalam menunjang kehidupan seperti peralatan masak-memasak, cara berkomunikasi, serta instrumen untuk melakukan pemantauan dan evakuasi pekerjaan.

Walaupun keyakinan agama dan perkembangan ilmu pengetahuan merupakan sumber pokok perubahan budaya namun ada Penggerak Perubahan Budaya  yang akan amat menentukan berubah atau tidaknya budaya masyarakat. Penggerak budaya manusia umumnya ada tiga kelompok, yakni:

1)        Penguasa yang memiliki otoritas formal untuk menentukan kebijakan sosial-kenegaraan yang mengikat kehidupan masyarakat;

2)        Pemilik modal yang mampu menyebarkan ide perubahannya melalui proses pemasaran yang gencar dan intensif; seperti menekan para pekerjanya agar mengikuti aturannya, menentukan berita/info apa yang dimuat atau yang tidak dimuat di Media Masa.

3)        Para ulama-cendekiawan yang mengajar-mendidik masyarakat tentang  prinsip-nilai-petunjuk agama dan produk sains-teknologi.

Dari ketiga kelompok tersebut tentu ada yang lebih dominan dalam proses  merubah budaya masyarakat, yakni PENGUASA NEGARA apalagi bila penguasa itu ide-idenya ditunjang oleh Pemilik Modal Raksasa. Nasehat atau ceramah ulama dan cendekiawan umumnya akan kalah pengaruh dalam merubah budaya masyarakat dibanding dengan peraturan-kebijakan dan perundangan-undangan yang dikeluarkan oleh Penguasa, serta  promosi besar-besaran oleh Pemilik modal menuju  bentuk budaya baru.

Walau Penguasa dan Pemilik Modal mampu melakukan perubahan budaya manusia namun perubahan itu memiliki dua alternatif dampak atau efek sosial, yakni:

1) Masyarakat bisa menjadi lebih baik nasibnya, atau

2)     Masyarakat malah bisa menjadi lebih terpuruk, jatuh kelembah kerusakan-kenistaan hidup.

Budaya yang berkembang oleh datangnya seorang Nabi akan membawa masyarakat menjadi tercerahkan dan memiliki kehidupan yang menjadi lebih baik di dunia. Sebaliknya budaya materialisme-hedonisme yang mengutamakan penumpukan materi dan mengabaikan akhlak akan membuat kehidupan masyarakat menjadi timpang, kesenjangan kualitas hidup antar sesama semakin lebar, mendorong tumbuhnya keserakahan, membuat disharmoni sosial, dan akhirnya menjadikan  masyarakat yang selalu gelisah penuh konflik. Nasib manusia dan masyarakat manusia memang dipertaruhkan melalui arah perubahan budaya yang sedang berjalan di lingkungannya. Para Penguasa dan Pemilik Modal harusnya introspeksi apakah perilakunya memberi arahan budaya yang berdampak baik atau buruk pada masyarakatnya (atau mereka tidak peduli, yang penting tetap bisa berkuasa atau tetap kaya raya?).

Dalam kehidupan sosial manusia yang heterogen akan selalu ada perbedaan visi budaya. Oleh perbedaaan visi itulah maka masing-masing penganut budaya tertentu akan berusaha keras mempengaruhi masyarakatnya agar masyarakat berubah sesuai dengan visi budayanya. Ada persaingan nyata dari para pembawa misi budaya:

1)     Pembawa budaya tradisional akan berkompetisi dengan pengusung budaya modern. Ini terkait penerimaan pada perubahan.

2)     Pembawa budaya agamis akan bersaing keras dengan penganut budaya sekular-atheis. Ini terkait dengan ketaatan dalam beragama.

3)     Pembawa budaya ilmiah-akademik akan berkutat melawan penganut budaya spekulatif-feodal. Ini terkait tingkat pendidikan.

Persaingan budaya antar sesama anggauta masyarakat umumnya juga akan masuk ke arena kekuasaan dan menjadi pertarungan ideologi yang berskala nasional-internasional.

TANTANGAN PADA PEMBAWA “BUDAYA LUHUR” BANGSA

Dari arti budaya yang telah di uraikan sebelumnya maka kini akan mudah mengartikan apa yang dimaksud dengan ‘Budaya Luhur/Utama’. Ciri  pokok  Budaya Luhur bangsa ditandai dengan kualitas masyarakat yang hidup secara rasional, tidak emosional, tidak klenik, mengikuti ajaran agama yang baku seperti taat beribadah dan berakhlak mulia, selaras dengan sikap keilmuan yang obyektif, kritis, argumentatif, kreatif, dan disiplin, serta berani-teguh berpegang kebenaran baik dari acuan ajaran agama maupun kajian keilmuan. Budaya Luhur tidak bersandar pada warisan nenek moyang yang menyalahi tuntunan agama dan kaedah ilmu-teknologi.  Budaya Luhur/Utama itulah yang akan menjamin manusia dan masyarakat menjadi sukses kehidupannya di dunia, apakah sebagai pribadi, keluarga, maupun bangsa dalam percaturan internasional.

Dalam upaya membawa manusia dan masyarakat untuk hidup dalam budaya luhur itu maka pengusung budaya luhur ini akan menghadapi berbagai tantangan dan kendala. Ada dua sumber penghalang utama, yakni:

1)     Pendukung faham sekuler-hedonis-materialistik yang visi budayanya pasti berbeda dengan umat yang taat beragama;

2)     Pendukung faham tradionalis yang antipati pada temuan ilmu dan teknologi maju sehingga mereka umumnya berpandangan fanatik buta, feodalistik, dan emosional.

Dalam kasus Indonesia, tantangan terhadap pembentukan budaya luhur/utama bukan hal yang ringan. Tantangan dari Kelompok Pertama (sekuler-hedonis-materialistik) memang berat karena mereka sudah memiliki kekuatan besar berskala internasional. Visi budaya mereka memang khas, yakni mengabaikan ajaran agama dalam rana sosial/publik, mengutamakan kepemilikan materi dan kenikmatan duniawi yang untuk itu sering berperilaku eksploitatif pada sesamanya. Kekuatan budaya sekuler-hedonis-materialistik ini umumnya  dimotori dan dikembangkan bangsa Penjajah. Pada sisi lain, tantangan dari Kelompok Kedua juga tidak ringan dan mereka jumlahnya juga besar karena negeri ini sempat dijajah, dibodohkan, dan dimiskinkan dalam semua bidang kehidupan oleh penjajahan selama ratusan tahun. Pendidikan masyarakat umumnya  juga relatif masih lemah, ditambah kondisi sosial-ekonomi penduduk secara makro masih memprihatinkan oleh kebijakan pemerintahan pribumi yang keliru serta maraknya ajaran ‘klenik’ yang ditebarkan oleh media masa secara intensif. Budaya mana yang berkembang di Indonesia? Ke mana diarahkannya budaya Indonesia?

STRATEGI EFEKTIF  PEMBANGUNAN BUDAYA BANGSA

Pembangunan budaya harus memiliki perencanaan, pelaksanaan, evaluasi yang jelas, ditunjang oleh pendanaan yang cukup. Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa Pemeran Utama penggerak budaya bangsa adalah Penguasa, Pemilik Modal, dan Agamawan-Ilmuan. Oleh sebab itu ‘strategic design’ yang digunakan harusnya bertolak dari mengefektifkan peran tehnis ketiga Pelaku di atas. Program Aksi Pembangunan Budaya Luhur Bangsa secepatnya harus dimulai dengan mengutamakan hal-hal berikut:

  1. Pemanfaatan maksimal substansi hukum positif yang sudah ada melalui bentuk penyusunan pedoman pelaksanaan maupun kebijakan nasional lain mengarah sosialisasi budaya luhur bangsa dan menindak tegas pelaku yang menghadirkan budaya rusak. UU Hukum Pidana-Perdata, UU anti Pornografi dan semacamnya mengandung banyak substansi hukum yang mendukung pengembangan budaya luhur dan menangkal terjadinya budaya rusak di negeri ini. Tinggal apakah Kepala Negara dan jajarannya MAU melakukannya.
  2. Secepatnya disusun Pedoman Nasional  ‘Keteladanan Berbudaya Luhur’ bagi para Petinggi Negara dimulai dari fihak eksekutif yakni Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan jajaran birokrasi lain, juga oleh Pejabat Lembaga Legislatif dan Yudikatifnya. Mereka harus benar-benar berperilaku bersih, jujur, rasional-ilmiah, biasa hidup sederhana tidak bermegah-bermewah dengan pemberian fasilitas dan gaji negara secukupnya (karena rakyat umumnya masih miskin), taat pada ajaran agama seperti misalnya beribadah ritual secara teratur dan berakhlak mulia.
  3. Kebijakan Nasional termasuk Undang-Undang yang dibuat tidak menyalahi ajaran agama yang hidup dalam masayarakat Indonesia. Segera mengoreksi perundang-undangan dan kebijakan nasional yang bertentangan dengan substansi ajaran agama agar tidak terjadi efek pendangkalan agama pada rakyat.
  4. Negara memantau kualitas akhlak rakyat pada umumnya dan pada pejabat pada khususnya, termasuk tingkat ketaatan beragama dan kematangan keilmuan mereka karena kedua hal itu akan menginduksi terbentuknya budaya luhur bangsa.
  5. Pemilik Modal harus berperilaku ekonomi/bisnis  yang jujur, berfihak/membantu rakyat lemah, tidak malah eksploitatif dan  mempromosikan budaya rusak hanya untuk mengejar keuntungan materi sebesar mungkin. Kegiatan mereka harus dikendalikan oleh Negara agar perilaku bisnis para pemodal tidak melanggar budaya luhur bangsa.
  6. Media masa harus proaktif menyebarkan prinsip budaya luhur yang bercirikan selaras dengan ajaran agama dan kaedah ilmu. Media yang bertindak sebaliknya, menebar budaya rusak, harus ditindak tegas oleh negara karena hal itu akan menghancurkan masa depan bangsa.
  7. Agamawan, khususnya ulama Islam yang umatnya memang mayoritas di negeri ini, harus benar dalam memberi pengajaran agama pada umatnya, tidak hanya mengajar sisi ritual namun juga sisi ketaqwaan sosialnya. Negara harus mendukung Ulama dalam bentuk komitmen mengikuti petunjuk ulama dalam menyusun kebijakan, dana-fasilitas cukup bagi ulama untuk menbawa umatnya agar taat beragama secara benar-menyeluruh. Penodaan agama dan penghujatan/pelecehan pada ulama dan lembaga ulama  harus diberantas agar tidak membuat umat bingung dalam beragama yang lalu cenderung bersikap munafik bahkan menjadi atheis terselubung yang merusak kehidupan beragama.
  8. Para ilmuan-tekonolog harus aktif mengajarkan ilmu-teknologi pada rakyat di samping terus mengembangkan keilmuan dan teknologi setinggi mungkin. Mereka harus turun ke gelanggang mencerdaskan masyarakat luas melalui berbagai media seperti TV, Radio, dll, tidak hanya duduk di menara gading sibuk dengan kepentingan karier pribadi dan posisi elitisnya. Negara harus mendukung terbentuknya masyarakat Indonesia yang berkualitas di bidang ilmu-teknologi melalui dorongan, penghargaan, fasilitas, dan gaji layak agar ilmuan tercukupi kebutuhan hidupnya.
  9. Keseluruhan Program Aksi tersebut harus dikerjakan simultan, terencana sistematik, terkoordinasi rapi pelaksanaaannya, terpantau ketat perkembangannya, serta dilaksanakan dalam naungan sistim hukum yang tegas lugas dan adil pelaksanaannya.

Mengingat bahwa dalam upaya membawa bangsa ini menjadi bangsa yang berbudaya luhur akan menghadapi tantangan yang berat oleh adanya tarikan ke arah sebaliknya dari musuh-musuh bangsa maka perlu dicanangkan Gerakan Nasional Peduli Budaya Luhur Bangsa oleh Pemerintah.  Pendukung Budaya Luhur Bangsa harus kokoh dalam segala hal, kokoh dalam berprinsip, konsisten dengan perjuangannya, membentuk barisan dari seluruh komponen sosial, melakukan konsolidasi, dan terus mengembangkan strategi baru agar secepatnya bangsa ini berbudaya luhur.

InsyaAllah dengan program aksi dan tekad kemauan baja maka budaya luhur bangsa Indonesia akan segera terwujud dan mampu membawa anak bangsa bersaing dalam kehidupan internasional, bahkan bisa menjadi pemimpin peradaban manusia di dunia yang sedang dilanda krisis budaya.

Surabaya, medio September 2010

Entry filed under: Budaya. Tags: , , , , , , .

DIALOG SOLUSI MENJAWAB TANTANGAN PADA ISLAM DAN UMAT ISLAM DAKWAH DI INDONESIA, Ulama-Ustad Merajut di ‘Siang Hari’ tapi Diurai Orang di ‘Malam Hari’?

1 Comment Add your own

  • 1. muhsin mk  |  19 September 2010 at 18:13

    assalamualaikum ww. Sy sependapat dg mas fuad, kita perlu memelihara budaya leluhur yg berasal dari islam, bukan dari jaman animisme. Tapi kita juga tidak menolak budaya modern yg sejalan dengan islam. Meskipun demikian budaya islam harus digali agar bisa jadi rujukan dalam meluruskan kehidupan pragmatisme sekarang ini. Orang seperti mas fuad diperlukan dalam masalah ini, khususnya dalam membangun budaya berpartai yg islami dalam pbb sebagai partai ideologis. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


"tatkala mayoritas penduduk maju, maka minoritas terikut maju (TIDAK SEBALIKNYA), dan negara pun menjadi kokoh-kuat..."

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other followers

Recent Posts

Archives

Calendar

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Stats

  • 86,658 hits

Feeds


%d bloggers like this: